KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

GUBERNUR Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pesan khusus kepada wartawan di Gedung Merdeka, Bandung, Jumat, 2 Oktober 2026 -- saat menghadiri pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026-2031.

KDM meminta pers tetap independen, berpihak pada fakta, dan -- meminjam ungkapannya sendiri -- “tidak menambah, tidak mengurangi”. 

Pesan KDM itu terdengar basajan. Tetapi, justru karena basajan itulah, ia membuka pertanyaan yang malah tidak basajan. Kalau pers harus independen dari kekuasaan, siapa yang memastikan kekuasaan tetap mau mendengar pers yang independen?

Apungan tanya itu penting sebab dalam demokrasi relasi pemerintah dan pers memang agak aneh. Keduanya tidak boleh menjadi musuh, tetapi juga tidak boleh terlalu akrab. 

Pemerintah membutuhkan pers untuk menjelaskan kebijakannya kepada masyarakat. Pers membutuhkan pemerintah sebagai sumber informasi. Namun, pada saat yang sama, pemerintah adalah salah satu objek yang harus diperiksa oleh pers. 

Dalam kondisi seperti itulah, demokrasi seperti membutuhkan dua orang yang duduk berhadapan di satu meja: mereka boleh saling berbicara, tetapi jangan sampai salah satunya lupa bahwa mereka tidak sedang membuat perjanjian keluarga.

KDM sendiri menyebut fungsi pers sebagai bagian dari check and balance terhadap pemerintahan yang dipimpinnya. Ini kalimat yang layak dicatat. Sebab ukuran penting dari sebuah kekuasaan bukan hanya apakah ia mampu menghasilkan kebijakan, melainkan apakah ia masih menyediakan ruang bagi orang lain untuk mengatakan bahwa kebijakan itu keliru. 

Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang selalu mendapatkan pemberitaan baik. Pemerintahan yang kuat justru yang tidak runtuh hanya karena menerima berita buruk.

Di titik ini, pertanyaan “siapa yang mengingatkan KDM?” bukanlah sindiran kepada KDM. Justru sebaliknya, ia merupakan konsekuensi logis dari pesan KDM sendiri. 

Kalau wartawan diminta independen, maka hasil kerja wartawan yang independen harus diterima bahkan ketika isinya tidak menyenangkan gubernur. Kalau pers hanya dianggap baik ketika memberitakan keberhasilan pemerintah, maka independensi berhenti menjadi prinsip dan berubah menjadi dekorasi.

Masalahnya, pers hari ini tidak hanya berhadapan dengan pemerintah. Ia menghadapi pula pasar perhatian yang jauh lebih rakus. Satu berita harus berebut perhatian dengan TikTok, YouTube, influencer, buzzer, potongan video, komentar, meme, dan kini mesin kecerdasan buatan.

KDM sendiri menyinggung perubahan itu ketika berbicara tentang derasnya informasi digital dan penggiringan opini. 

Alhasil, wartawan zaman kiwari bukan cuma bertanya, “Apa yang benar?” tetapi juga dipaksa oleh ekosistem bisnis untuk bertanya, “Apa yang akan diklik?”

Tingkat kepercayaan

Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat tingkat kepercayaan terhadap berita di Indonesia turun dari 36 persen pada tahun 2025 menjadi 32 persen pada tahun 2026. 

Angka tersebut bukan sekadar statistik media. Ia menunjukkan sesuatu yang lebih dalam ihwal semakin banyak informasi tidak otomatis membuat masyarakat semakin percaya kepada informasi. Kita mungkin hidup dalam zaman ketika berita demikian ceuyah, tetapi kepastian justru kian langka.

Ironisnya, penelitian Reuters Institute menunjukkan bahwa ketika orang ingin memeriksa apakah sesuatu yang mereka temukan di internet benar atau palsu, sumber berita yang dipercaya dan sumber resmi pemerintah tetap termasuk tempat yang paling sering mereka datangi.

Artinya, pers belum kehilangan kegunaannya. Yang sedang dipertaruhkan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari seberapa sering sebuah media mengatakan hal yang ingin kita dengar. Kepercayaan lahir ketika media berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kita dengar, tetapi dapat dibuktikan.

Karena itu, independensi pers sesungguhnya bukan sekadar tidak menerima telepon dari pejabat. Ia juga bukan sekadar tidak mendapat uang dari pemerintah. Independensi adalah kemampuan untuk mempertahankan penilaian ketika berbagai kepentingan datang dari banyak arah. 

Pemerintah punya kepentingan. Pemilik media punya kepentingan. Pengiklan punya kepentingan. Pembaca punya selera. Algoritma punya logika sendiri. Bahkan, wartawan memiliki bias manusiawinya sendiri. 

Maka, independensi bukan keadaan suci tanpa kepentingan, melainkan disiplin untuk tidak membiarkan kepentingan mengambil alih proses penilaian.

Di sinilah pernyataan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat, Tantan Sulthon, juga menarik. Ia menyebut PWI ingin menjadi mitra Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tetapi tetap menjalankan fungsi kontrol, menyampaikan kritik, dan membawa aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Jaringan tidak kecil

Dengan sekitar seribu anggota yang tersebar di kabupaten dan kota, PWI Jawa Barat memiliki jaringan yang tidak kecil. Persoalannya tentu saja bukan apakah wartawan boleh menjadi mitra pemerintah, melainkan apakah seorang mitra masih bisa mengatakan tidak?

Kemitraan yang sehat bukan hubungan antara orang yang selalu sepakat. Dalam banyak bidang kehidupan, justru orang yang paling berguna adalah orang yang berani mengatakan, “Menurut saya, ini tidak benar.” 

Dokter yang selalu mengiyakan pasien bukan dokter yang baik. Teman yang selalu membenarkan kita juga belum tentu teman yang baik. Demikian pula pers yang selalu membuat pemerintah merasa nyaman mungkin memang menyenangkan, tetapi belum tentu berguna bagi publik.

Maka, barangkali KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit. Cermin itu kadang memperlihatkan wajah yang tampak gagah, kadang memperlihatkan rambut yang awut-awutan serta wajah yang kucem. 

Pers tidak bertugas membuat wajah kekuasaan selalu tampak tampan. Pers bertugas membuat masyarakat dapat melihat wajah kekuasaan sebagaimana adanya.

Sebaliknya, wartawan juga tidak boleh merasa bahwa setiap kritik otomatis merupakan tanda keberanian. Kritik tetap harus tunduk kepada fakta. Data harus diperiksa. Sumber harus diverifikasi. Pihak yang dituduh harus diberi ruang menjawab. Kesalahan harus dikoreksi. 

Dalam kaitan ini, pesan KDM tentang “tidak menambah, tidak mengurangi” justru bertemu dengan prinsip dasar jurnalistik, yakni kebebasan tanpa disiplin mudah berubah menjadi kebisingan. Dan kebisingan, betapapun kerasnya, bukan selalu informasi.

Publik sendiri membutuhkan pemerintah dan pers yang sehat, yaitu pemerintah yang tidak alergi terhadap pengawasan dan pers yang tidak mabuk oleh kedekatan dengan kekuasaan. 

KDM membutuhkan pers yang bisa mengoreksinya. Pers membutuhkan gubernur yang tidak membalas kritik dengan menutup pintu. Masyarakat membutuhkan keduanya, sebab tanpa pemerintah yang dapat diawasi dan pers yang dapat dipercaya, ruang publik mudah berubah menjadi pasar suara paling keras.

Sekali lagi, KDM sudah mengingatkan pers. Sekarang siapa yang akan mengingatkan KDM ketika pemerintahannya keliru? 

Jawabannya terletak pada pers yang tahu kapan harus masuk, kapan harus terus mengetuk, dan kapan harus bekerja tanpa menunggu pintu dibukakan. Sebab tugas pers bukan memastikan gubernur selalu senang membaca berita, melainkan memastikan publik mengetahui apa yang memang layak diketahui.

Pada ujungnya, independensi pers bukan hadiah dari pemerintah kepada wartawan. Ia juga bukan senjata wartawan untuk melawan pemerintah. Ia adalah kebutuhan masyarakat. Dan mungkin di situlah makna terdalam dari check and balance. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)