KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

5 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

  • Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat tingkat kepercayaan terhadap berita di Indonesia turun dari 36 persen pada tahun 2025 menjadi 32 persen pada tahun 2026. 

  • KDM membutuhkan pers yang bisa mengoreksinya. Pers membutuhkan gubernur yang tidak membalas kritik dengan menutup pintu.

GUBERNUR Jawa Barat, Kang Dedi Mulyadi (KDM), menyampaikan pesan khusus kepada wartawan di Gedung Merdeka, Bandung, Jumat, 2 Oktober 2026 -- saat menghadiri pengukuhan Pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat periode 2026-2031.

KDM meminta pers tetap independen, berpihak pada fakta, dan -- meminjam ungkapannya sendiri -- “tidak menambah, tidak mengurangi”. 

Pesan KDM itu terdengar basajan. Tetapi, justru karena basajan itulah, ia membuka pertanyaan yang malah tidak basajan. Kalau pers harus independen dari kekuasaan, siapa yang memastikan kekuasaan tetap mau mendengar pers yang independen?

Apungan tanya itu penting sebab dalam demokrasi relasi pemerintah dan pers memang agak aneh. Keduanya tidak boleh menjadi musuh, tetapi juga tidak boleh terlalu akrab. 

Pemerintah membutuhkan pers untuk menjelaskan kebijakannya kepada masyarakat. Pers membutuhkan pemerintah sebagai sumber informasi. Namun, pada saat yang sama, pemerintah adalah salah satu objek yang harus diperiksa oleh pers. 

Dalam kondisi seperti itulah, demokrasi seperti membutuhkan dua orang yang duduk berhadapan di satu meja: mereka boleh saling berbicara, tetapi jangan sampai salah satunya lupa bahwa mereka tidak sedang membuat perjanjian keluarga.

KDM sendiri menyebut fungsi pers sebagai bagian dari check and balance terhadap pemerintahan yang dipimpinnya. Ini kalimat yang layak dicatat. Sebab ukuran penting dari sebuah kekuasaan bukan hanya apakah ia mampu menghasilkan kebijakan, melainkan apakah ia masih menyediakan ruang bagi orang lain untuk mengatakan bahwa kebijakan itu keliru. 

Pemerintahan yang kuat bukan pemerintahan yang selalu mendapatkan pemberitaan baik. Pemerintahan yang kuat justru yang tidak runtuh hanya karena menerima berita buruk.

Di titik ini, pertanyaan “siapa yang mengingatkan KDM?” bukanlah sindiran kepada KDM. Justru sebaliknya, ia merupakan konsekuensi logis dari pesan KDM sendiri. 

Kalau wartawan diminta independen, maka hasil kerja wartawan yang independen harus diterima bahkan ketika isinya tidak menyenangkan gubernur. Kalau pers hanya dianggap baik ketika memberitakan keberhasilan pemerintah, maka independensi berhenti menjadi prinsip dan berubah menjadi dekorasi.

Masalahnya, pers hari ini tidak hanya berhadapan dengan pemerintah. Ia menghadapi pula pasar perhatian yang jauh lebih rakus. Satu berita harus berebut perhatian dengan TikTok, YouTube, influencer, buzzer, potongan video, komentar, meme, dan kini mesin kecerdasan buatan.

KDM sendiri menyinggung perubahan itu ketika berbicara tentang derasnya informasi digital dan penggiringan opini. 

Alhasil, wartawan zaman kiwari bukan cuma bertanya, “Apa yang benar?” tetapi juga dipaksa oleh ekosistem bisnis untuk bertanya, “Apa yang akan diklik?”

Tingkat kepercayaan

Digital News Report 2026 dari Reuters Institute mencatat tingkat kepercayaan terhadap berita di Indonesia turun dari 36 persen pada tahun 2025 menjadi 32 persen pada tahun 2026. 

Angka tersebut bukan sekadar statistik media. Ia menunjukkan sesuatu yang lebih dalam ihwal semakin banyak informasi tidak otomatis membuat masyarakat semakin percaya kepada informasi. Kita mungkin hidup dalam zaman ketika berita demikian ceuyah, tetapi kepastian justru kian langka.

Ironisnya, penelitian Reuters Institute menunjukkan bahwa ketika orang ingin memeriksa apakah sesuatu yang mereka temukan di internet benar atau palsu, sumber berita yang dipercaya dan sumber resmi pemerintah tetap termasuk tempat yang paling sering mereka datangi.

Artinya, pers belum kehilangan kegunaannya. Yang sedang dipertaruhkan adalah kepercayaan. Dan kepercayaan tidak lahir dari seberapa sering sebuah media mengatakan hal yang ingin kita dengar. Kepercayaan lahir ketika media berani mengatakan sesuatu yang mungkin tidak ingin kita dengar, tetapi dapat dibuktikan.

Karena itu, independensi pers sesungguhnya bukan sekadar tidak menerima telepon dari pejabat. Ia juga bukan sekadar tidak mendapat uang dari pemerintah. Independensi adalah kemampuan untuk mempertahankan penilaian ketika berbagai kepentingan datang dari banyak arah. 

Pemerintah punya kepentingan. Pemilik media punya kepentingan. Pengiklan punya kepentingan. Pembaca punya selera. Algoritma punya logika sendiri. Bahkan, wartawan memiliki bias manusiawinya sendiri. 

Maka, independensi bukan keadaan suci tanpa kepentingan, melainkan disiplin untuk tidak membiarkan kepentingan mengambil alih proses penilaian.

Di sinilah pernyataan Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat, Tantan Sulthon, juga menarik. Ia menyebut PWI ingin menjadi mitra Pemerintah Provinsi Jawa Barat, tetapi tetap menjalankan fungsi kontrol, menyampaikan kritik, dan membawa aspirasi masyarakat.

Baca Juga: Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Jaringan tidak kecil

Dengan sekitar seribu anggota yang tersebar di kabupaten dan kota, PWI Jawa Barat memiliki jaringan yang tidak kecil. Persoalannya tentu saja bukan apakah wartawan boleh menjadi mitra pemerintah, melainkan apakah seorang mitra masih bisa mengatakan tidak?

Kemitraan yang sehat bukan hubungan antara orang yang selalu sepakat. Dalam banyak bidang kehidupan, justru orang yang paling berguna adalah orang yang berani mengatakan, “Menurut saya, ini tidak benar.” 

Dokter yang selalu mengiyakan pasien bukan dokter yang baik. Teman yang selalu membenarkan kita juga belum tentu teman yang baik. Demikian pula pers yang selalu membuat pemerintah merasa nyaman mungkin memang menyenangkan, tetapi belum tentu berguna bagi publik.

Maka, barangkali KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit. Cermin itu kadang memperlihatkan wajah yang tampak gagah, kadang memperlihatkan rambut yang awut-awutan serta wajah yang kucem. 

Pers tidak bertugas membuat wajah kekuasaan selalu tampak tampan. Pers bertugas membuat masyarakat dapat melihat wajah kekuasaan sebagaimana adanya.

Sebaliknya, wartawan juga tidak boleh merasa bahwa setiap kritik otomatis merupakan tanda keberanian. Kritik tetap harus tunduk kepada fakta. Data harus diperiksa. Sumber harus diverifikasi. Pihak yang dituduh harus diberi ruang menjawab. Kesalahan harus dikoreksi. 

Dalam kaitan ini, pesan KDM tentang “tidak menambah, tidak mengurangi” justru bertemu dengan prinsip dasar jurnalistik, yakni kebebasan tanpa disiplin mudah berubah menjadi kebisingan. Dan kebisingan, betapapun kerasnya, bukan selalu informasi.

Publik sendiri membutuhkan pemerintah dan pers yang sehat, yaitu pemerintah yang tidak alergi terhadap pengawasan dan pers yang tidak mabuk oleh kedekatan dengan kekuasaan. 

KDM membutuhkan pers yang bisa mengoreksinya. Pers membutuhkan gubernur yang tidak membalas kritik dengan menutup pintu. Masyarakat membutuhkan keduanya, sebab tanpa pemerintah yang dapat diawasi dan pers yang dapat dipercaya, ruang publik mudah berubah menjadi pasar suara paling keras.

Sekali lagi, KDM sudah mengingatkan pers. Sekarang siapa yang akan mengingatkan KDM ketika pemerintahannya keliru? 

Jawabannya terletak pada pers yang tahu kapan harus masuk, kapan harus terus mengetuk, dan kapan harus bekerja tanpa menunggu pintu dibukakan. Sebab tugas pers bukan memastikan gubernur selalu senang membaca berita, melainkan memastikan publik mengetahui apa yang memang layak diketahui.

Pada ujungnya, independensi pers bukan hadiah dari pemerintah kepada wartawan. Ia juga bukan senjata wartawan untuk melawan pemerintah. Ia adalah kebutuhan masyarakat. Dan mungkin di situlah makna terdalam dari check and balance. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)