Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

4 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)

Pajak untuk sebuah negara memang sangat berarti karena menjadi salah satu sumber utama negara dalam membiayai belanja rutin dan infrastruktur. Beberapa program besar yang diciptakan oleh para pemimpin pun tak luput dari penggunaan pajak. Bahkan mereka yang duduk di kursi kepemimpinan pun digaji oleh uang pajak. Jika dipikir kembali para pemimpin justru bukan pelayan bagi rakyat karena sebagian besar dari mereka hanya merongrong kekuasaan tanpa memperdulikan kepentingan rakyat.

Dalam sebuah jurnal yang ditulis oleh Gazali dan berjudul "Pajak dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Positif" dikatakan bahwa pajak dikenal dengan istilah Adh-Dharibah atau AL-Maks yang artinya pungutan yang ditarik dari masyarakat oleh para penarik pajak. Berbeda halnya ketika negara memandang bahwa pajak adalah kewajiban yang harus ditunaikan seumur hidup. Justru pajak menurut pandangan islam tidak bersifat kontinyue dan hanya boleh dipungut ketika baitul mal tidak ada harta atau kekurangan harta. Namun ketika baitul mal sudah terisi kembali maka kewajiban pajak wajib dihapuskan. Tentu kita bisa melihat perbedaan antara karakteristik pemimpin era ini dengan masa lampau.

Negara kita memang paling mahir jika berurusan dengan pemungutan pajak dari mulai karyawan, pemilik perusahaan, pelaku UMKM hingga pegiat seni dan entertaiment seperti artis dan selebgram. Bahkan baru-baru ini pelaku usaha yang menggunakan media sosial sebagai medianya juga sudah mulai diminta melaporkan perolehan omset dalam satu tahun dengan tarif 0.5%.

Sebetulnya jika uang pajak yang dikumpulkan dipergunakan untuk kepentingan masyarakat luas yang bermanfaat, maka saya rasa negara ini tidak akan memiliki ketimpangan sosial yang melekat antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. Dengan jumlah bangsa dan sumber daya alam yang besar saya rasa seharusnya negeri makmur dan sejahtera.

Lucunya negara kita sangat ketat untuk pelaporan dan pembayaran pajak tapi seringkali petugasnya malas untuk mengedukasi dan jika dikerjakan melalui aplikasi biasanya stepnya terlalu rumit bagi mereka wajib pajak yang bukan berasal dari background lulusan ekonomi. Mereka sangat gencar untuk menarik dan menghamburkan uang pajak tapi sangat sedikit keterbukaan kepada warganya. Sejauh ini sebagai masyarakat kita hanya mendengar data-data statistik fiktif tentang penggunaan pajak untuk program yang tidak begitu penting esensinya. Namun kita tidak pernah tau berapa banyak jumlah pajak yang diterima negara setiap tahunnya.

Saya rasa banyak masyarakat yang bingung ketika hidup di negeri ini. Remaja yang ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi banyak yang terkendala karena biaya. Tapi untuk mencari pekerjaan pun bukanlah hal yang mudah. Jika dahulu permasalahan kerja hanya dialami oleh mereka yang memiliki pendidikan rendah, umur yang terlalu tua dan pengalaman. Hari ini timbul masalah baru ketika para mahasiswa pun kesulitan mencari lapangan pekerjaan. Banyak dari mereka yang menganggur tapi banyak pula yang memiliki pekerjaan tapi dibawah ekspektasi ilmu yang telah dicarinya.

Lewat permasalahan itu muncul narasi bahwa seharusnya bangsa indonesia jangan hanya mau jadi pekerja tapi harus berani menjadi pelaku usaha. Narasi itu memang tidak langsung menyadarkan masyarakat tapi perlahan banyak yang sudah mulai mencoba dan berkonstribusi bagi negara sebagai pembuka lapangan pekerjaan.

Tapi bukan Indonesia jika tidak muncul tantangan baru. Setelah masyarakat mulai berjuang meningkatkan taraf hidup sejahtera tiba-tiba dirjen pajak mengendus aroma uang dan langsung menagih kepada pemilik usaha. Saya juga merasa tidak rela, ketika masyarakat mencari jalan keluar sendiri karena tidak tersedianya lapangan kerja. Tapi setelah mereka sukses pemungut pajak tiba-tiba lupa bahwa ia tak berkontribusi bagi kehidupan rakyat.

Di tengah ekonomi yang semakin semrawut, pajak terus mencekik dan harga-harga barang serta kebutuhan pokok semakin melonjak. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan "Apakah menjadi pengusaha di negeri ini masih worth it ?" atau justru menjadi karyawan lebih menguntungkan?

Baca Juga: Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Saya rasa kedua-duanya juga bukan menjadi pilihan yang ideal karena memiliki konsekuensi yang kadang tidak menguntungkan. Bagi mereka yang menjadi pengusaha tantangannya adalah pemungutan pajak dan rongrongan dari para preman yang meminta jatah uang keamanan. Dan kejadian ini baru saja menimpa Bolosego salah satu pemilik kuliner viral asal Jogja yang ditagih pajak sebanyak 1.5 Milyar hingga dugaan pungli yang dilakukan oleh oknum preman.

Sementara menjadi karyawan juga bukan menjadi satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Karena selain lapangan pekerjaan yang menyempit. Menjadi karyawan di Indonesia juga kerap mendapat upah yang mungil. Namun jika berputar lagi pada mereka pemilik usaha memang sulit menghadapi regulasi usaha dan perdagangan di Indonesia yang pada ujungnya menekan keputusan untuk memberikan upah.

Pada akhirnya cukup menghela napas saja karena kita terlahir sebagai Warga Negara Indonesia yang dipaksa untuk terus survive. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 19:02

Pengalaman Mengikuti Lomba Baca Puisi Sunda 'Wangsit Siliwangi' (1964) Karya Wahyu Wibisana

Pengalaman berharga mengikuti lomba baca puisi Sunda membawakan karya legendaris Wahyu Wibisana, "Wangsit Silwangi" (1964). Menghayati setiap bait sastra penuh makna dan nuansa perjuangan budaya.

Ilustrasi penulis sedang membacakan puisi Bahasa Sunda "Wangsit Siliwangi" karya Wahyu Wibisana (1964). (Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan ChatGPT)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 17:34

5 Mahasiswa Digital Public Relations Telkom University Harumkan Nama Indonesia di ICIC 2026

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

Lima mahasiswa Program Studi S1 Digital Public Relations Telkom University berhasil mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 15:25

Hari Lansia Internasional, sebagai Momen Kebersamaan bagi para Lansia

Tanggal 1 Oktober diperingati sebagai Hari Lansia Internasional, apakah ini hanya momen peringatan? Ada sejarah yang tidak pernah dibaca generasi muda, tetapi ingatan para lansia tetap menyimpannya.

Diproyeksikan jumlah lansia terus meningkat dan pada tahun 2045 akan mencapai 20 persen atau hampir satu per lima dari total penduduk. (Sumber: Freepik/Jcomp)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 14:09

Perbedaan Antara Cara Penyangraian Torrefacto dengan Kopi Tiam

Perbedaan utama kopi torrefacto dan kopi tiam terletak pada proses karamelisasinya. Torrefacto menyangrai biji dengan gula, sementara kopi tiam menambahkan margarin atau mentega dan gula.

Proses penyangraian metode Torrefacto (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 11:26

Revitalisasi Kereta Api: Tulang Punggung Transportasi di Jawa Barat

Bagaimanapun juga hadirnya kereta api ini membuka oase panjang, transportasi yang setiap hari menjadi perbincangan di tengah masyarakat, transportasi yang ditunggu-tunggu di era kemacetan

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 08:24

Bandung Benahi Drainase, Jangan Lupakan Pompa dan Kolam Retensi

Pembangunan drainase dan pompa tidak boleh hanya berdasarkan perkiraan. Kota membutuhkan data spasial yang akurat.

Sistem pencegahan banjir di kota Bandung dengan perbaikan drainase, pompa dan kolam retensi (Sumber: dokpri - dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 01 Okt 2026, 07:55

Masa Depan Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum

Kapasitas SDM pengelola museum dan pelaku seni di Bandung harus digenjot secara total.

Ilustrasi Kebudayaan Kota Bandung dan Kunci Menghidupkan Museum (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 20:36

Sarapan Pagi Estetik di Dapoer Pagi Cianjur

Menyambangi Cianjur tidak lengkap jika tidak mengeksplor kulinernya. Dapoer Pagi menjadi salah satu tempat yang bisa dicoba bagi mereka yang mencari tempat kuliner yang estetik

Menu Bubur Mandarin Dapoer Pagi Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 19:12

Kerancuan dalam Penamaan Geografi Lokal antara Gunung dan Bukit di Indonesia Khususnya di Jawa Barat

Artikel ini mengulas fenomena kerancuan penamaan geografi lokal di Indonesia, di mana perbukitan sering kali salah kaprah disebut sebagai gunung, serta dampaknya terhadap aspek pemetaan wilayah.

Potret bangunan yang menduduku perbukitan di Kawasan Bandung Utara (KBU) (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 17:32

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan Perspektif Fikih Lingkungan Muhammadiyah

Membandingkan perspektif Thanos dengan Muhammadiyah dalam isu lingkungan.

Meneropong Avengers Endgame: Encore dengan perspektif fikih lingkungan Muhammadiyah.  (Sumber: Gemini AI)
Beranda 30 Sep 2026, 15:19

Manusia Bisa Hidup Tanpa AI, Tapi Bagaimana Bila Tanpa Air?

Manusia masih bisa hidup tanpa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Namun, manusia tidak bisa hidup tanpa air.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 11:40

Mempertahankan Tata Kelola Kota Kebanggaan Warga Bandung

Seringkali kita temukan pada saat pemilihan umum, data ganda ini penyebabnya dari perubahan data kependudukan yang belum terbarui dengan baik di dalam sistem pusat.

Kawasan padat penduduk di Tamansari, Kota Bandung, Senin 5 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Sep 2026, 10:39

Pergumulan Bandung Menjelang Magrib

Dibalik wajah cantiknya Bandung yang gemerlap ada mereka yang datang pada waktu menjelang magrib untuk mencari toko tutup sebagai tempat tidur sementara.

Sejumlah ruas di Kota Bandung masih dipenuhi tunawisma saat malam tiba (Sumber: pexels)