Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

5 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)

Acapkali di ruang publik, ketika narasi tentang pajak diberitakan, hampir sebagian besar masyarakat cenderung melihatnya sebagai stigma negatif. Kenapa hal ini menjadi sangat sensitif bagi masyarakat? Bisa jadi, karena pandangan sebagian besar masyarakat masih berpikir stereotip dan instan.

Pajak merupakan salah satu instrumen utama yang menopang keberlangsungan negara. Jalan raya, sekolah, rumah sakit, subsidi pendidikan, layanan kesehatan, hingga pembangunan infrastruktur daerah sebagian besar dibiayai oleh penerimaan pajak. Namun, di banyak negara berkembang, termasuk Indonesia, pajak masih sering dipandang sebagai beban, bukan sebagai bentuk partisipasi warga negara dalam pembangunan.

Stigma negatif ini muncul akibat berbagai faktor, mulai dari rendahnya literasi perpajakan, ketidakpercayaan terhadap pengelolaan keuangan negara, hingga kasus penyalahgunaan wewenang yang pernah terjadi. Mengapa stigma negatif terhadap pajak muncul?

Dalam rangka peringatan Hari Pajak, yang diperingati setiap tanggal 14 Juli, kita berharap menjadi momentum yang tepat bagi masyarakat untuk menumbuhkan kesadaran kolektif, betapa pentingnya pajak dalam kelangsungan negara. Karena dengan penerimaan pajak negara, pembangunan pelbagai sektor dapat direalisasikan.

Sebaliknya, pemerintah sebagai pengelola sumber-sumber keuangan negara, harus mengutamakan prinsip-prinsip kredibilitas dan profesionalitas dalam mengelola keuangan negara tersebut. Harus disadari, bahwa pajak yang dibayarkan oleh masyarakat kepada pemerintah adalah sebuah amanah, sebagaimana tercermin dalam sumber-sumber tertib hukum negara, yakni Pancasila dan UUD Negara RI Tahun 1945.

Jika kita melihat pertumbuhan pajak dalam kurun tiga tahun terakhir (2022-2024), berikut keterangan yang telah dirilis Direktorat Jenderal Pajak: Data realisasi penerimaan pajak Indonesia dalam tiga tahun terakhir (2022–2024) berdasarkan publikasi resmi Kementerian Keuangan dan Direktorat Jenderal Pajak. Sumber data menunjukkan bahwa penerimaan pajak terus meningkat secara nominal selama tiga tahun berturut-turut, meskipun laju pertumbuhannya melambat pada 2024. Pada 2023, penerimaan pajak berhasil melampaui target APBN sebesar 108,8%, sedangkan pada 2024 realisasi hanya mencapai sekitar 97,2% dari target yang ditetapkan.

Dari sudut pandang fiskal, tren ini menunjukkan bahwa kapasitas negara dalam menghimpun penerimaan pajak semakin kuat. Namun, jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi (tax ratio), Indonesia masih tergolong rendah dibanding banyak negara ASEAN dan anggota OECD. Tantangan utamanya adalah perluasan basis pajak, peningkatan kepatuhan wajib pajak, pengurangan ekonomi informal, serta peningkatan kepercayaan publik terhadap tata kelola keuangan negara.

Secara sosiologis, masyarakat cenderung enggan membayar pajak ketika mereka tidak merasakan manfaat yang nyata dari kontribusinya. Ketika pelayanan publik dianggap belum optimal, muncul pertanyaan: “Ke mana uang pajak kami pergi?”

Ekonom dan peraih Nobel Joseph Stiglitz menjelaskan bahwa legitimasi sistem perpajakan sangat bergantung pada kepercayaan publik terhadap institusi negara. Ketika masyarakat percaya bahwa pemerintah mengelola dana secara efektif dan adil, tingkat kepatuhan pajak cenderung meningkat.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)

Sementara itu, Richard Musgrave menegaskan bahwa fungsi utama pajak bukan hanya mengumpulkan pendapatan negara, tetapi juga menciptakan distribusi kesejahteraan yang lebih adil melalui penyediaan barang dan jasa publik.

Dengan kata lain, masalah utama sering kali bukan pajaknya, melainkan persepsi tentang pengelolaan hasil pajak tersebut.

Untuk menghilangkan stigma negatif terhadap pajak, negara harus menerapkan prinsip-prinsip tata kelola yang baik (good governance), yaitu:

Transparansi: masyarakat harus dapat mengetahui secara jelas bagaimana uang pajak digunakan. Laporan anggaran perlu disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami, bukan hanya dalam bentuk dokumen teknis. Transparansi menciptakan rasa memiliki. Ketika warga mengetahui bahwa pajak mereka digunakan untuk membangun sekolah, memperbaiki jalan desa, atau menyediakan layanan kesehatan, kepercayaan akan tumbuh.

Akuntabilitas: setiap pejabat publik harus bertanggung jawab atas penggunaan anggaran. Mekanisme pengawasan internal dan eksternal harus berjalan efektif agar tidak terjadi penyimpangan. Akuntabilitas publik merupakan kewajiban pemerintah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan maupun kegagalan pelaksanaan program kepada masyarakat sebagai pemegang kedaulatan.

Efektivitas dan Efisiensi: anggaran negara harus menghasilkan manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat. Program yang tidak produktif perlu dievaluasi agar dana publik tidak terbuang sia-sia.

Partisipasi Publik: masyarakat perlu dilibatkan dalam proses perencanaan dan pengawasan pembangunan. Ketika warga merasa memiliki ruang untuk menyampaikan aspirasi, mereka akan lebih memahami hubungan antara pajak dan pembangunan.

Penegakan Hukum: pelanggaran dalam pengelolaan keuangan negara harus ditindak tanpa pandang bulu. Kepastian hukum merupakan fondasi utama dalam membangun kepercayaan publik.

Dalam frame komunikasi politik, pajak merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kepercayaan rakyat. (Sumber: Unsplash/Artful Homes)
Dalam frame komunikasi politik, pajak merupakan salah satu strategi untuk meningkatkan kepercayaan rakyat. (Sumber: Unsplash/Artful Homes)

Ekonom Inggris John Maynard Keynes berpendapat bahwa keuangan negara bukan sekadar alat administrasi, tetapi instrumen untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Negara memiliki peran aktif dalam mengelola sumber daya agar pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara luas.

Di Indonesia, Sri Mulyani Indrawati berulang kali menegaskan bahwa pajak adalah gotong royong modern. Melalui pajak, kelompok yang memiliki kemampuan ekonomi lebih besar turut membantu menyediakan layanan publik yang dapat dinikmati seluruh masyarakat.

Pandangan ini sejalan dengan semangat keadilan sosial yang menjadi salah satu tujuan bernegara. Pajak bukan sekadar kewajiban hukum, melainkan bentuk solidaritas sosial.

Kesadaran kolektif tidak lahir dari paksaan, tetapi dari pemahaman dan kepercayaan. Oleh karena itu, terdapat beberapa langkah yang perlu dilakukan:

Sekolah dan perguruan tinggi perlu mengenalkan konsep pajak sebagai bagian dari pendidikan kewarganegaraan. Generasi muda harus memahami bahwa pembangunan tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan dibiayai oleh kontribusi bersama (literasi pajak).

Pemerintah perlu lebih aktif menunjukkan proyek-proyek yang dibiayai pajak. Ketika masyarakat melihat hasil konkret, hubungan antara pajak dan kesejahteraan menjadi lebih mudah dipahami (dampak nyata).

Kesadaran pajak harus berjalan beriringan dengan integritas aparatur negara. Masyarakat akan lebih rela berkontribusi ketika melihat pejabat publik memberikan teladan yang baik (budaya integritas).

Bangsa Indonesia memiliki tradisi gotong royong yang kuat. Pajak dapat dipahami sebagai bentuk gotong royong dalam skala nasional. Jika dahulu masyarakat bergotong royong membangun jembatan desa, kini pajak menjadi sarana gotong royong untuk membangun negara (semangat gotong royong).

Pajak bukanlah musuh masyarakat. Pajak adalah jembatan yang menghubungkan kepentingan individu dengan kesejahteraan bersama. Namun, kepercayaan publik tidak dapat dibangun hanya melalui slogan. Transparansi, akuntabilitas, efektivitas anggaran, dan penegakan hukum harus menjadi praktik nyata dalam tata kelola negara.

Ketika pemerintah mampu menunjukkan bahwa setiap rupiah pajak dikelola secara jujur dan memberikan manfaat yang dirasakan masyarakat, stigma negatif akan perlahan memudar. Pada saat yang sama, warga negara perlu menyadari bahwa pembangunan bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan hasil kerja bersama seluruh elemen bangsa.

Kesadaran kolektif tentang pajak pada akhirnya adalah kesadaran bahwa masa depan bangsa dibangun bukan oleh segelintir orang, melainkan oleh jutaan warga yang bersedia berkontribusi demi kepentingan bersama. Di situlah pajak menemukan makna terdalamnya: bukan sekadar pungutan, melainkan wujud solidaritas dan tanggung jawab sosial dalam kehidupan bernegara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)