Optimis atau Oportunis

3 menit baca
Paduka Narapati Pandya
Ditulis oleh Paduka Narapati Pandya diterbitkan
Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)

Awal kata, tulisan ini bukan ditujukan untuk mendiskreditkan perjuangan–perjuangan kawan mahasiswa. Melainkan, sebagai bentuk refleksi bagi penulis pribadi dan mudah–mudahan kawan–kawan lainnya.

Sebagai mahasiswa, tentunya menjadi agent of change adalah bagian dari tanggung jawab kita. Pengabdian kepada masyarakat, salah satu dari tiga Tri Dharma mahasiswa. Tak mengherankan apabila mahasiswa seringkali menjadi garda terdepan dalam demonstrasi membela kaum tertindas. Dari aksi Tritura sampai aksi solidaritas dengan Warga Pati, dari Orde Lama sampai Rezim Prabowo. Selalu muncul “Mesias” yang bergiliran mengambil peran sebagai juru penyelamat kaum tertindas dan menentang penindasan. Namun, terdapat siklus setan yang sudah lumrah di kalangan juru penyelamat tersebut. Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Jika saya tarik dari aspek historis, keironisan ini sudah berlangsung sejak Aksi Tritura pada tahun 1966. Dimana dinamika aksi tersebut melahirkan tokoh–tokoh perjuangan seperti Akbar Tandjung ( Mantan Menpora 1988–1933, Menpera 1998, Mensetneg 1998–1999, Ketua DPR RI 1999–2004) , Fahmi Idris ( Mantan Kemnakertrans 1998–1999 dan 2004–2005, Kemenperin 2005–2009, Ketua Fraksi Partai Golkar di MPR RI) , Cosmas Batubara( Mantan anggota DPR RI 1967–1978,Menmuda Pera 1978–1983, Kemenperkim 1983–1988, Kemenaker 1988 – 1993), Mar’ie Muhammad ( Mantan birokrat Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara 1969–1972, Direktur Persero dan BUMN 1972–1988, Menkeu 1993–1998).

Terlihat pola yang sama, mereka menentang rezim Orde Lama dan menduduki kursi jabatan dalam pemerintahan Orde Baru. Terdapat Pro - Kontra dalam perihal tersebut, ada yang berpandangan keputusan tersebut sebagai upaya “memperbaiki dari dalam”, adapula yang mengecap fenomena tersebut sebagai sebuah pengkhianatan terhadap perjuangan.

 Dinamika politik pada masa Orde Baru juga melahirkan banyak tokoh perjuangan seperti Hariman Siregar, Harun Alrasyid, Fadjroel Rachman, Nezar Patria, dan lainnya. Setelah Reformasi, mereka semua menikmati kursi di Senayan sampai Istana. Namun, puncak dari keironisan tersebut adalah Budiman Sudjatmiko, seorang yang dianggap revolusioner pada masanya, mendirikan dan memimpin Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah partai yang secara terbuka menentang dominasi politik Orde Baru dan memperjuangkan demokrasi serta keadilan sosial, divonis 13 tahun penjara atas tuduhan menjadi dalang peristiwa Kudatuli, incaran utama Tim Mawar yang dikepalai oleh Prabowo Subianto, bahkan pernah mengatakan Prabowo sebagai produk gagal manusia Indonesia dan syarat menjadi pendukung Prabowo harus bodoh dalam unggahan media sosialnya. Sekarang menjadi garda paling depan menjadi tim sukses Prabowo – Gibran dalam pemilihan presiden 2024 lalu dan duduk dalam lingkaran elit rezim menjadi Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Perlu dipertanyakan, apakah prinsip setiap orang ada harganya?

Perihal di atas dijabarkan bukan dengan maksud menggeneralisasi melainkan sebagai bahan refleksi dan pertimbangan. Dibuktikan dengan adanya segelintir dari mereka yang dikenal dari prestasinya selama menjabat seperti Mar’ie Muhammad dengan julukan ‘Mr. Clean’ karena dikatakan gigih dalam memberantas praktik KKN selama Orde Baru, di sisi lain ada Akbar Tandjung yang terseret kasus korupsi dana nonbudgeter Bulog senilai Rp40 miliar di akhir pemerintahan Orde Baru.

Hal yang harus menjadi pertimbangan adalah bagaimana dinamika politik sekarang melahirkan tokoh–tokoh ‘revolusioner’ baru seperti Tiyo Ardianto (Ketua BEM KM UGM 2025–2026), Fathimah Azzahra (Wakil Ketua BEM UI 2026), Yatalathof Ma’shum Imawan (Ketua BEM UI 2026), dan yang lainnya. Konflik horizontal adalah hal yang sangat perlu kita hindari dengan kondisi sosial – politik sekarang. Namun, fungsi sejarah sebagai ilmu yang mempelajari masa lalu sebagai pembelajaran masa kini harus ditegakkan. Bukan hanya sebagai sarana rekreasi, melainkan menjadi sarana pembelajaran. Tegakkan sikap kritis sebagai mahasiswa, hindari adu domba, dan kepentingan dari luar. Akhir kata, jadikan pergerakan mahasiswa dengan tujuan yang seyogianya, kepentingan bersama. (8)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Paduka Narapati Pandya
Mahasiswa

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)