Awal kata, tulisan ini bukan ditujukan untuk mendiskreditkan perjuangan–perjuangan kawan mahasiswa. Melainkan, sebagai bentuk refleksi bagi penulis pribadi dan mudah–mudahan kawan–kawan lainnya.
Sebagai mahasiswa, tentunya menjadi agent of change adalah bagian dari tanggung jawab kita. Pengabdian kepada masyarakat, salah satu dari tiga Tri Dharma mahasiswa. Tak mengherankan apabila mahasiswa seringkali menjadi garda terdepan dalam demonstrasi membela kaum tertindas. Dari aksi Tritura sampai aksi solidaritas dengan Warga Pati, dari Orde Lama sampai Rezim Prabowo. Selalu muncul “Mesias” yang bergiliran mengambil peran sebagai juru penyelamat kaum tertindas dan menentang penindasan. Namun, terdapat siklus setan yang sudah lumrah di kalangan juru penyelamat tersebut. Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.
Jika saya tarik dari aspek historis, keironisan ini sudah berlangsung sejak Aksi Tritura pada tahun 1966. Dimana dinamika aksi tersebut melahirkan tokoh–tokoh perjuangan seperti Akbar Tandjung ( Mantan Menpora 1988–1933, Menpera 1998, Mensetneg 1998–1999, Ketua DPR RI 1999–2004) , Fahmi Idris ( Mantan Kemnakertrans 1998–1999 dan 2004–2005, Kemenperin 2005–2009, Ketua Fraksi Partai Golkar di MPR RI) , Cosmas Batubara( Mantan anggota DPR RI 1967–1978,Menmuda Pera 1978–1983, Kemenperkim 1983–1988, Kemenaker 1988 – 1993), Mar’ie Muhammad ( Mantan birokrat Direktorat Jenderal Pengawasan Keuangan Negara 1969–1972, Direktur Persero dan BUMN 1972–1988, Menkeu 1993–1998).
Terlihat pola yang sama, mereka menentang rezim Orde Lama dan menduduki kursi jabatan dalam pemerintahan Orde Baru. Terdapat Pro - Kontra dalam perihal tersebut, ada yang berpandangan keputusan tersebut sebagai upaya “memperbaiki dari dalam”, adapula yang mengecap fenomena tersebut sebagai sebuah pengkhianatan terhadap perjuangan.
Dinamika politik pada masa Orde Baru juga melahirkan banyak tokoh perjuangan seperti Hariman Siregar, Harun Alrasyid, Fadjroel Rachman, Nezar Patria, dan lainnya. Setelah Reformasi, mereka semua menikmati kursi di Senayan sampai Istana. Namun, puncak dari keironisan tersebut adalah Budiman Sudjatmiko, seorang yang dianggap revolusioner pada masanya, mendirikan dan memimpin Partai Rakyat Demokratik (PRD), sebuah partai yang secara terbuka menentang dominasi politik Orde Baru dan memperjuangkan demokrasi serta keadilan sosial, divonis 13 tahun penjara atas tuduhan menjadi dalang peristiwa Kudatuli, incaran utama Tim Mawar yang dikepalai oleh Prabowo Subianto, bahkan pernah mengatakan Prabowo sebagai produk gagal manusia Indonesia dan syarat menjadi pendukung Prabowo harus bodoh dalam unggahan media sosialnya. Sekarang menjadi garda paling depan menjadi tim sukses Prabowo – Gibran dalam pemilihan presiden 2024 lalu dan duduk dalam lingkaran elit rezim menjadi Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Perlu dipertanyakan, apakah prinsip setiap orang ada harganya?
Perihal di atas dijabarkan bukan dengan maksud menggeneralisasi melainkan sebagai bahan refleksi dan pertimbangan. Dibuktikan dengan adanya segelintir dari mereka yang dikenal dari prestasinya selama menjabat seperti Mar’ie Muhammad dengan julukan ‘Mr. Clean’ karena dikatakan gigih dalam memberantas praktik KKN selama Orde Baru, di sisi lain ada Akbar Tandjung yang terseret kasus korupsi dana nonbudgeter Bulog senilai Rp40 miliar di akhir pemerintahan Orde Baru.
Hal yang harus menjadi pertimbangan adalah bagaimana dinamika politik sekarang melahirkan tokoh–tokoh ‘revolusioner’ baru seperti Tiyo Ardianto (Ketua BEM KM UGM 2025–2026), Fathimah Azzahra (Wakil Ketua BEM UI 2026), Yatalathof Ma’shum Imawan (Ketua BEM UI 2026), dan yang lainnya. Konflik horizontal adalah hal yang sangat perlu kita hindari dengan kondisi sosial – politik sekarang. Namun, fungsi sejarah sebagai ilmu yang mempelajari masa lalu sebagai pembelajaran masa kini harus ditegakkan. Bukan hanya sebagai sarana rekreasi, melainkan menjadi sarana pembelajaran. Tegakkan sikap kritis sebagai mahasiswa, hindari adu domba, dan kepentingan dari luar. Akhir kata, jadikan pergerakan mahasiswa dengan tujuan yang seyogianya, kepentingan bersama. (8)