Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka bersama Dr. Riefky Krisnayana, S.Sos., M.Sn. (Akademisi/Dosen Universitas Langlang Buana) , Drs. Ono Haryono, M.P. (Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Majalengka), Rahmat Kartono, S.STP., M.Si., dan Bapak Ridwan Lubis dari perwakilan Lapas Kelas II B Majalengka.
Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman. Kata-kata tersusun dalam suara yang tulus memberikan pesan terhadap orang-orang tersayang karena ada senyuman manis. Naskah Antologi Esai Warga Binaan Pemasyarakatan dalat memberikan pemahaman yang komprehensif kepada masyarakat, serta mampu menggelorakan inovasi yang produktif dan terus berdampak.
Kelas Menulis WBP berjalan selama tiga kali pertemuan. Buku yang di lahirkan memuat 116 halaman dan 30 penulis terbaik diterbitkan oleh : Mumtaz Cirebon, 2026. Kegiatan Bedah Buku merupakan rangkaian program Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya : Kaum Marginal Membangun Masa Depan yang di dalamnya memuat kegiatan WBP Majalengka Menulis, Suara Tionghoa Majalengka, dan Daur Ulang Sampah Kaum Pinggiran digagas oleh Yayasan Padepokan Kirik Nguyuh di Girimukti, Majalengka telah terlaksana dengan penuh kebermafaatan. Dalam acara bedah buku memuat sebuah Karya Daur Ulang Sampah Kaum Pinggiran, Art Zine dari Siswa/Siswi SMPN 1 Kasokandel, Buku "Antara Mesin dan Buku" Transformasi Hidup Seorang Buruh Pabrik Untuk Masa Depan, dan Buku Prajurit Yang Tenggelam.
Sabtu, 12 September 2026. Acara di hadiri oleh Karang Taruna Leuwikidang, Pegiat Literasi, Komunitas Sepeda Bike-Bike Sunday, Majelis Manisan, dan masih banyak lagi. Acara bedah buku masuk ke dalam sesi pertama, sesi kedua ada MAMPUS (Malam Minggu Puisi) penampilan pembacaan puisi dari anak-anak Kandang Pustaka sebagai ruang untuk melatih publik speaking di depan umum melalui Kelas Sastra yang dibaca melalui karyanya sendiri, dan sesi ketiga ada Kandang Show sebagai ruang kreativitas bermain musik hingga ada Kandang Sora dalam melatih sebuah potensi sejak dini mulai dari belajar Vokal, Gitar, serta Drum. Kegiatan MAMPUS dan Kandang Show biasa dilaksanakan satu bulan sekali.
Tinta Kaum Marginal
Kaum marginal seringkali dijadikan sebagai manusia terpinggirkan, apalagi WBP yang kerapa dipandang negatif dengan berbagai perspekrif. Tinta merupakan implementasi kata, menggelorakan suara di balik jeruji. Bapak Ridwan Lubis mengatakan "Yang di Penjara belum tentu hina, yang di Istana belum tentu mulia" gurindam yang sangat tegas dan menusuk ini bukan sekadar, melainkan konteks yang membuat orang gentar.

Dari karya tulis tercipta, WBP mempunyai esensi lewat kata. Terkadang masyarakat WBP di pandang sebagai orang jahat oleh masyarakat, namun menurut Rahmat Kartono sebagai Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Majalengka bahwa : "Dari segi gerak langkah hidupnya manusia antara afektif, kognitif, dan psikomotorik harus sinkron. Karena manusia senantiasa berbicara dengan rasa, ingatan, dan tindakan yang erat dalam konteks budaya erat dengan kemanusiaan bahwa kesalahan tidak akan terjadi pada ruang kosong. Setiap warga binaan di balik jeruji mengalami banyak faktor, faktor-faktor itu kemudian menjawab dari yang tidak mungkin menjadi kemungkinan.
Esensi Prajurit Yang Tenggelam
Secara keadaannya mereka sulit melahirkan suara di balik penjara dalam ruang hampa, kelas menulis membentuk esensi WPB melalui tinta yang tergores di kertas putih untuk memberikan kabar baik lewat kata-kata. Karena esok adalah hari ini, harapan tulus WBP setelah bebas semuanya ingin memberikan kabar baik terlepas dari apa yang di derita cerita ini sebagai bentuk perlawanan untuk merdeka dan berdaya.

Perawatan kali ini menggering esai itu menjadi bahasa kesusastraan yang di reka hingga penuh estetika. Riefky Krisnayana mengungkap "tekad , ucap, dan tingkah laku" pandangan negatif warga binaan ketika bebas dari tahanan, history itu memang terus melekat di masyarakat. Setiap manusia harus memiliki rasa untuk memanusiakan, implementasi karya ini bukan sebatas di bedah tapi ke depan mungkin saja bisa menjadi lagu, atau video klip sehingga warga binaan ini tidak dipandang sebelah mata oleh masyarakat, kita bisa berkreasi untuk saling memberikan apresiasi.
Drs. Ono Haryono sebagai Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Majalengka, menegaskan audiens untuk mengajak mereka agar masuk ke dalam ruang pembelajaran positif untuk mengekspresikan sesuatu, dilatih berpikir kritis mengenai konteks literasi. Literasi membuka imajinasi agar tidak mudah di profokasi, berkarya mempersiapkan diri untuk masa depan.
Kini, kita melihat WBP sebagai seseorang yang mampu berkarya, melalui buku "Prajurit Yang Tenggelam" karya ini akan tetap hidup dan utuh sebagai masyarakat yang baik dan saling memanusiakan. (*)