Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

4 menit baca
Muh Husen Arifin
Ditulis oleh Muh Husen Arifin diterbitkan
Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)

Akhir-akhir ini masyarakat mengalami musibah berkepanjangan. Dari musibah ini kemudian masyarakat mengalami penurunan kepercayaan kepada kebijakan yang belum selesai. Sementara masyarakat menunggu kepastian di bawah musibah yang terus menerus.

Masyarakat tidak menginginkan musibah terjadi. Masyarakat terlalu banyak menanggung kebijakan yang tak menentu. Hingga masyarakat bergotong royong dalam menanggulangi musibah.

Lain masyarakat lain influencer. Masyarakat tidak mampu menyelesaikan musibah sendiri. Masyarakat membutuhkan uluran tangan dan bantuan yang konkrit. Sedangkan kehadiran influencer justru seharusnya membantu kondisi yang terjadi.

Keberadaan influencer memberikan pengaruh yang signifikan kepada masyarakat dalam menyelesaikan musibah demi musibah. Kekuatan influencer justru seharusnya menjadi senjata ampuh dalam bentuk apapun menggendong bahkan menyelesaikan secara tuntas atas musibah di negeri ini.

Masyarakat pun menggantungkan kehadiran influencer di tengah suntuknya masalah ini.

Bagian dari influencer tentu berhubungan dengan kemampuannya membentuk gerakan yang dilakukan. Gerakan ini adalah upaya untuk mewujudkan keadilan bagi masyarakat untuk musibah yang menimpanya.

Jutaan pengikut atau audiens di media sosial Instagram, Tiktok, YouTube, Facebook dan Twitter menjadikan kekuatan yang saling berkaitan. Influencer menjadikan platform digitalnya memberikan dampak yang besar. Ajakan influencer kepada pengikutnya untuk menjadi bagian dari programnya sangat mudah dan berpotensi menjadi gerakan masif dan bekerja serentak.

Maka sudah seharusnya influencer menggagas program positif dalam lingkup nasional melalui langkah yang tepat untuk melakukan kontribusinya. Entah di program pendidikan atau kemanusiaan, sebagaimana yang terjadi pada masyarakat saat ini.

Kehadiran influencer di sini juga terdapat sebuah andil yang besar namun demikian perlu strategi jitu agar influencer memaknai gagasannya tentang pendidikan empati dan simpati kepada masyarakat.

Bukan sekadar mencari untung dan membesarkan pengaruhnya semata, melainkan benar-benar menjadikan posisinya sebagai salah satu pilihan baginya bermanfaat kepada masyarakat.

Krisis Empati

Jauh sebelum munculnya influencer yang mengacak-acak konten yang tak etis. Krisis empati dari tokoh publik sering menyakiti masyarakat. Tetapi eksposurnya tidak viral.

Namun setelah platform digital diciptakan, marak konten nirempati menghiasi layar gawai setiap hari. Keniscayaan muncul. Masyarakat memiliki kubu berbeda. Pendukungnya membela. Yang menolak pun tak berdaya. Hanya saja klarifikasi demi klarifikasi bermunculan.

Krisis empati ini dapat ditelusuri, pertama, berkaitan eksploitasi kemiskinan dan musibah, nyatanya mereka membuat konten bantuan sosial namun lebih fokus mengeksploitasi kesedihan atau tangisan penerima bantuan demi dramatisasi konten, bukan murni mengedukasi kepedulian dan seperti membanggakan atas kontennya semata.

Kedua, mereka melakukan aksi usil yang merugikan, mempermalukan, atau membahayakan fisik dan mental orang asing demi memancing reaksi komedi. Amarah masyarakat pun tak terbendung.

Ketiga, merendahkan kelompok rentan dengan membuat humor atau parodi yang menjadikan penyandang disabilitas, ras, atau kelompok marginal sebagai lelucon. Tindakan ini rentan dalam hal mengolok-olok disabilitas.

Keempat, yang viral minggu ini dengan adanya ajakan mindfulness tetapi mengabaikan realitas kesulitan hidup masyarakat bawah. Fenomena ini tidak selalu lahir dari niat buruk, melainkan dari kebutaan terhadap hak istimewa (privilege). Yang dilakukan oknum lulusan kampus ternama di luar negeri dengan beasiswa namun membuat konten nirempati terhadap masyarakat yang sedang menghadapi krisis bencana asap dan kesulitan ekonomi yang tidak bisa dihindari hanya dengan mematikan gawai.

Krisis empati inilah yang mencemari aktivitas masyarakat dalam keadaan menderita.

Urgensi Pendidikan Empati

Segala gerak gerik influencer memberikan pengaruh antara positif dan negatif. Setiap konten yang diunggah sebagai pertimbangan bukan hanya mengejar target. Influencer memiliki tim kreatif. Dan kreativitasnya dalam bentuk konten mesti diarahkan.

Jika tidak, maka konten yang dihasilkan hanya mengejar target audiens dan penghasilan. Bukan mengedukasi kepada masyarakat. Buktinya tidak sedikit influencer justru bertindak gegabah, jika tidak mau disebut kekhilafan.

Konten yang muncul dikonsumsi masyarakat menjadi kontroversi. Viral. Tidak membawa kepada identitas konten yang mendidik.

Sedangkan masyarakat memiliki akses yang bisa diartikan berbeda-beda. Konten dari influencer menjadi lebih menunjukkan bahwa konten asal dibuat dan memiliki koneksi luas tanpa membatasi isi kontennya. Nirempati dalam membuat konten.

Dari hal tersebut, urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya. Seperti yang muncul pada salah influencer yang tidak mengetahui nasib masyarakat hanya penggiringan opini.

Pendidikan empati ini memiliki kaitannya dengan figur publik, notabene sebagai seseorang yang bertindak sebagai agen pembentuk karakter bagi generasi muda di era digital.

Ketika seorang influencer menunjukkan perilaku empati seperti mendengarkan cerita orang lain tanpa menghakimi atau menghargai perbedaan, memahami kondisi sosial di masyarakat, pada dasarnya mereka sedang mempraktikkan pendidikan empati.

Influencer yang menggunakan bahasa yang santun, inklusif, dan tidak merendahkan kelompok lain membantu menciptakan standar baru bahwa berempati itu mudah, peduli sesama itu mewah.

Tanpa harus menunjukkan kemewahan duniawi, atau membuat konten atas pencapaian bertujuan demi pengkauan audiensnya.

Pendidikan empati yang sederhana dapat ditunjukkan. Influencer yang memberi dukungan moril dan materil kepada masyarakat dari beragam program yang sesuai dengan kondisinya.

Tidak melulu berbunga-bunga dengan kata yang tidak relevan, ajakan yang tidak konsisten. Bahkan cenderung melukai masyarakat.

Pada dasarnya, pendidikan empati selalu disematkan pada diri kita. Bahkan kita diajarkan untuk selalu menghargai dan menghormati, saling mencintai, saling mendukung satu sama lainnya.

Peranan pendidikan empati tidak sekadar di sekolah, pelaksanaannya harus diwujudkan secara nyata untuk masyarakat. Salah satunya melatih empati digital, adanya prinsip kesadaran dan nurani di balik layar gawai yang dikomentari adalah manusia nyata dengan perasaan mendalam.

Nilai-nilai empati juga berkaitan dengan kecerdasan emosional. Maka dari itulah kehidupan bermasyarakat mengharuskan untuk menjunjung kedamaian, mau merasakan penderitaan masyarakat.

Wabil khusus, kita selalu belajar berempati terhadap isu sosial, kita meniti jalan empati dalam arus sosial dengan membawa identitas diri dan budaya. Beradab dengan empati lebih mulia, mari menyelami makna empati yang penuh cinta untuk masyarakat dan dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)