Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

6 menit baca
Vito Prasetyo
Ditulis oleh Vito Prasetyo diterbitkan
Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)

Bagaimanapun juga, sejarah akan mencatat kisah-kisah inspiratif manusia, meski yang dikenang hanya suaranya. Ada masa ketika sebuah rumah belum benar-benar terjaga sebelum suara radio terdengar dari ruang tengah.

Pagi dimulai dengan suara penyiar. Berita dibacakan dengan artikulasi yang terukur. Musik mengalun dari pengeras suara yang kadang berdesis. Di antara suara berita, musik dan pengumuman, ada satu unsur yang membuat radio menjadi begitu manusiawi: suara penyiar.

Suara itu tidak memiliki wajah. Pendengar mungkin tidak pernah bertemu dengan orang yang berbicara di balik mikrofon. Tetapi suara tersebut masuk ke ruang keluarga, menemani sarapan, perjalanan ke sekolah, pekerjaan di sawah, warung kopi, hingga malam ketika seseorang duduk sendirian mendengarkan radio.

Pada dekade 1970-an dan 1980-an, Radio Republik Indonesia atau RRI berada dalam posisi yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Televisi memang sudah hadir melalui TVRI, tetapi jangkauan dan pola konsumsi radio membuat RRI tetap menjadi salah satu sumber informasi utama masyarakat.

Di zaman itu, menjadi penyiar bukan sekadar memiliki suara bagus. Seorang penyiar harus memiliki kemampuan berbicara, penguasaan bahasa, wawasan, disiplin, pengetahuan jurnalistik, kemampuan membaca naskah, serta kepekaan terhadap situasi. Suara menjadi identitas. Intonasi menjadi karakter. Bahkan cara mengucapkan satu kalimat dapat membuat pendengar langsung mengetahui siapa yang sedang berbicara.

Salah satu nama yang sangat kuat dalam sejarah penyiaran Indonesia adalah Sambas Mangundikarta. Ia mulai dikenal sejak era 1950-an dan suaranya kemudian menjadi bagian dari kehidupan pendengar RRI pada dekade-dekade berikutnya. Sambas bukan hanya penyiar. Ia juga reporter olahraga, pembaca berita televisi dan seniman. Ia meliput berbagai pertandingan olahraga internasional, termasuk Thomas Cup 1970, All England, Pre World Cup dan Piala Uber.

Karena itu, suara Sambas tidak hanya terdengar di ruang keluarga. Suaranya ikut hadir dalam kegembiraan dan ketegangan ketika masyarakat mengikuti pertandingan olahraga. Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, radio olahraga memiliki kekuatan yang sekarang sulit dibayangkan.

Ketika seorang reporter berteriak karena sebuah gol, atau ketika pertandingan bulu tangkis memasuki poin-poin terakhir, imajinasi pendengar bekerja menciptakan gambar sendiri. Itulah kehebatan radio.

Sambas kemudian dikenang sebagai salah satu figur penting dalam sejarah penyiaran Indonesia. Komisi Penyiaran Indonesia bahkan memberikan penghargaan lifetime achievement kepadanya dalam Anugerah KPI 2022.

Nama lain yang penting adalah Hasan Azhari Oramahi. Hasan bergabung dengan RRI pada 1965 sebagai penyiar dan menjalani karier panjang hingga pensiun pada 1992. Ia juga pernah diperbantukan di TVRI dan menjadi salah satu suara yang dikenal dalam penyiaran berita Indonesia.

Ada karakter tertentu dalam suara penyiar berita zaman dahulu: tenang, tidak tergesa-gesa, tetapi tegas. Berita tidak dibacakan seperti orang sedang bercakap-cakap di warung. Setiap kata memiliki bobot. Setiap jeda memiliki fungsi. Seorang penyiar harus mampu membuat pendengar percaya bahwa informasi yang disampaikan memang layak dipercaya.

Dalam dunia yang belum mengenal notifikasi telepon genggam, kecepatan informasi sangat bergantung pada kemampuan radio menyampaikan berita kepada masyarakat.

Ada pula Yul Chaidir, yang bergabung dengan RRI sejak 1956. Kariernya menarik karena ia tidak hanya bekerja di dalam ekosistem RRI. Ia pernah bekerja di BBC London pada 1971–1975. Setelah kembali, ia dipercaya menjadi Kepala Produser RRI Jakarta, kemudian memimpin RRI Bukittinggi dan Voice of Indonesia.

Perjalanan Yul menunjukkan bahwa penyiaran RRI pada masa itu sebenarnya memiliki tradisi profesional yang panjang. RRI tidak sekadar radio domestik. Melalui Voice of Indonesia, suara Indonesia juga diarahkan kepada pendengar internasional. Radio menjadi diplomasi melalui udara.

Radio tidak membutuhkan wajah untuk membangun kedekatan. Justru karena tidak ada wajah, suara dapat menjadi lebih intim. Seorang perempuan yang mendengarkan radio sendirian di dapur, seorang ibu yang menyelesaikan pekerjaan rumah, atau seorang gadis yang belajar pada malam hari dapat merasa bahwa suara penyiar sedang berbicara langsung kepadanya.

Nama Poppy Tiendas juga layak disebut. Ia memulai karier sebagai penyiar RRI Jakarta pada Juli 1966. Pada 1981 ia dipercaya sebagai Kepala Subdivisi Siaran Nontradisional RRI dan kemudian diperbantukan ke TVRI pada 1982.

Poppy memperlihatkan bahwa dunia penyiaran bukan hanya tentang laki-laki dengan suara berat dan berwibawa. Perempuan juga memiliki ruang penting dalam membentuk karakter penyiaran Indonesia.

RRI berdiri pada 11 September 1945, hanya beberapa minggu setelah Proklamasi Kemerdekaan. Delapan tokoh radio bertemu dan merumuskan pembentukan RRI sebagai jaringan penyiaran nasional. Abdulrahman Saleh kemudian menjadi pemimpin pertama RRI.

Sejak awal, radio bukan sekadar hiburan. Radio adalah persoalan komunikasi negara. Dalam situasi Indonesia yang baru merdeka, informasi merupakan bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Karena itulah RRI memiliki sejarah yang jauh lebih tua daripada sekadar sejarah industri radio.

Dari sinilah muncul semboyan yang sangat terkenal: “Sekali di udara, tetap di udara.” Semboyan itu bukan sekadar slogan. Ia merupakan metafora tentang ketahanan perjalanan stasiun penyiaran. Dan RRI memang membuktikannya.

Memasuki 1970-an dan 1980-an, RRI telah menjadi institusi yang sangat akrab dengan masyarakat. Pada era 1980-an, stasiun-stasiun radio di Indonesia bahkan memiliki keterkaitan kuat dengan siaran RRI Jakarta. Salah satu program yang sangat diminati masyarakat adalah olahraga, terutama sepak bola dan bulu tangkis.

Tetapi yang membuat radio begitu berkesan bukan hanya programnya. Adalah ritual mendengarkan. Radio dinyalakan pada pagi hari. Radio menyala ketika seseorang bekerja. Radio menemani perjalanan. Radio menjadi teman ketika listrik belum menjadi sesuatu yang sepenuhnya dapat diandalkan.

Dan pada malam hari, radio menjadi semacam sahabat yang tidak pernah meminta perhatian, tetapi selalu tersedia. Suara penyiar akhirnya menjadi bagian dari suasana rumah. Orang mungkin lupa judul acaranya. Orang mungkin lupa tanggalnya. Tetapi mereka sering masih mengingat suara. Itulah kekuatan seorang penyiar.

Perjalanan RRI dari radio analog menuju era digital memperlihatkan perubahan besar dalam cara lembaga ini menyampaikan informasi. Dari lembaga yang dahulu mengandalkan frekuensi dan pemancar, RRI kini juga hadir melalui platform digital dan berbagai kanal informasi.

Ini penting. Sebab mempertahankan radio bukan berarti mempertahankan teknologi lama. Yang harus dipertahankan adalah fungsi publiknya. Teknologi boleh berubah. Frekuensi boleh berubah. Cara orang mendengarkan boleh berubah. Tetapi kebutuhan masyarakat terhadap informasi yang dapat dipercaya, pendidikan, kebudayaan, hiburan dan ruang publik tetap ada. Di situlah RRI menemukan alasan untuk terus hidup.

Dari suara Sambas menuju suara generasi baru, RRI tetap bertahan meski para pendengar berganti generasi. Mungkin suatu hari nanti tidak banyak orang lagi yang memiliki radio transistor di rumah. Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar hilang hanya karena bendanya hilang.

Suara Sambas Mangundikarta, Hasan Azhari Oramahi, Sazli Rais, Yul Chaidir, Hastin Atas Asih, Poppy Tiendas dan banyak penyiar lainnya tetap menjadi bagian dari sejarah penyiaran Indonesia.

Mereka berasal dari zaman ketika penyiar harus membuat gambar melalui suara. Mereka bekerja ketika teknologi masih sederhana, tetapi tuntutan profesionalisme sangat besar. Mereka mengajarkan satu hal yang mungkin justru semakin penting di zaman digital: bahwa komunikasi bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan membangun kepercayaan.

Hari ini RRI telah berusia lebih dari delapan dekade. Ia melewati zaman perjuangan, Orde Lama, Orde Baru, Reformasi hingga zaman internet dan kecerdasan buatan. Perjalanannya bukan perjalanan yang selalu mudah. Tetapi ada sesuatu yang tetap bertahan. Suara. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)