Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

5 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)

Api di Cihanja, Punclut, memang akhirnya padam. Tetapi barangkali persoalannya belum.

Kebakaran yang berlangsung sejak Senin sore hingga Selasa, 14–15 September 2026 itu menghanguskan timbunan lahan sekitar 2,2 hektare di Kampung Cihanja. Api bertahan lebih dari 13 jam. Asap dan bau menyengat tidak hanya dirasakan warga di sekitar lokasi, tetapi juga dilaporkan mencapai kawasan Ciumbuleuit. Aktivitas sekolah di sekitar lokasi turut terganggu, sementara sejumlah warga mengalami gangguan pernapasan.

Respons cepat Dinas Kebakaran Pemerintah Kota Bandung patut diapresiasi. Beberapa unit dikerahkan untuk menangani api hingga akhirnya berhasil dipadamkan. Namun, sebagaimana disampaikan Lukman Nurhakim, pengamat kebijakan publik yang menyoroti peristiwa ini, persoalan tidak semestinya berhenti ketika api sudah tidak terlihat.

Sebab berdasarkan temuan lapangan yang ia catat, di bawah timbunan berangkal diduga terdapat material seperti kayu, plastik, karpet, dan sampah kering. Material semacam itu, apabila benar berada di bawah permukaan, tidak serta-merta kehilangan risikonya hanya karena api di permukaan telah padam.
Di sinilah penanganan pascakebakaran menjadi penting.

Apakah timbunan tersebut cukup dinyatakan aman setelah api padam? Apakah material yang berpotensi mudah terbakar di bawahnya sudah diperiksa? Dan jika memang terdapat material berisiko, bagaimana seharusnya material tersebut dikeluarkan, dipilah, dan ditangani?

Pertanyaan-pertanyaan itu semakin penting karena lokasi tersebut, menurut catatan Lukman, bukan pertama kali mengalami kebakaran. Sebelumnya aktivitas di lokasi pernah dihentikan dan terdapat larangan untuk kembali menyimpan atau membuang berangkal di tempat tersebut.

Jika demikian, kebakaran kali ini semestinya tidak hanya dibaca sebagai sebuah kejadian yang membutuhkan pemadaman, tetapi juga sebagai peringatan bahwa ada persoalan yang perlu diperiksa lebih dalam.

Api memang terlihat di permukaan. Tetapi risiko lingkungan kadang justru bersembunyi di bawahnya.
Punclut Bukan Sekadar Lahan.

Persoalan Cihanja membawa kita pada persoalan yang lebih besar: Punclut.

Kawasan ini tidak dapat dipandang semata-mata sebagai hamparan lahan yang tersedia untuk berbagai kegiatan. Punclut berada dalam kawasan Bandung Utara yang memiliki fungsi ekologis penting bagi kehidupan di Cekungan Bandung.

Kawasan Bandung Utara bukan sekadar wilayah yang memiliki pemandangan hijau dari kejauhan. Ia memiliki fungsi sebagai bagian dari sistem ekologis, terutama berkaitan dengan tata air, vegetasi, tanah, dan keseimbangan lingkungan.

Karena itu, ketika berbicara mengenai Punclut, kita sesungguhnya sedang berbicara mengenai salah satu bagian dari sistem penyangga kehidupan kota.

Kita sering mengenal infrastruktur sebagai jalan, jembatan, gedung, saluran air, atau berbagai bangunan yang mudah dilihat. Tetapi tanah yang mampu menyerap air, pepohonan yang menjaga kelembapan, ruang terbuka yang mempertahankan resapan, dan kontur alam yang tidak dipaksa berubah juga merupakan infrastruktur ekologis.

Ia tidak memiliki papan nama proyek.

Tidak ada seremoni peresmian.

Tetapi ketika fungsi itu hilang, kota akan merasakan akibatnya.

Karena itu, persoalan pembangunan di kawasan seperti Punclut seharusnya tidak ditempatkan secara sederhana sebagai pertentangan antara pembangunan dan lingkungan. Pertanyaannya bukan apakah pembangunan boleh berlangsung, melainkan pembangunan seperti apa yang masih berada dalam daya dukung lingkungan.

Sebab sebuah kota tidak hanya dibangun dari apa yang kita tambahkan kepadanya. Kota juga dibentuk oleh apa yang masih kita sisakan untuk bekerja secara alami.

Ketika Kawasan Penyangga Mengalami Tekanan

Di satu sisi, pembangunan adalah kebutuhan. Kota berkembang, jumlah penduduk bertambah, kebutuhan ruang meningkat, dan berbagai kepentingan ekonomi terus bergerak.

Namun di sisi lain, ruang ekologis memiliki batas.

Persoalannya menjadi serius ketika kawasan yang semestinya berfungsi sebagai penyangga ekologis terus diperlakukan terutama sebagai ruang pengembangan.

Kita perlu bertanya dengan jujur: apakah kita sedang membangun kota di atas kawasan penyangga, atau justru sedang menghabiskan penyangga yang membuat kota itu mungkin untuk dihuni?

Pertanyaan ini bukan berarti menuduh bahwa kebakaran Cihanja terjadi akibat pembangunan. Tidak ada dasar untuk menyimpulkan demikian hanya dari peristiwa kebakaran.

Tetapi kebakaran tersebut memberikan kesempatan untuk melihat kembali bagaimana sebuah kawasan diperlakukan setelah persoalan lingkungan sebelumnya sudah diketahui.

Di sinilah kebijakan tata ruang seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen administratif. Perlindungan kawasan ekologis harus terlihat dalam keputusan sehari-hari: bagaimana izin diberikan, bagaimana aktivitas diawasi, bagaimana pelanggaran ditindak, dan bagaimana kawasan dipulihkan ketika kerusakan telah terjadi.

Sebab perlindungan lingkungan tidak cukup hanya dengan menetapkan suatu kawasan sebagai kawasan yang harus dilindungi.

Perlindungan baru memiliki arti ketika fungsi ekologisnya benar-benar dipertahankan.

Belajar dari Cihanja

Apa yang terjadi di Cihanja semestinya menjadi momentum untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap lokasi, bukan hanya memastikan bahwa api sudah padam.

Jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya material mudah terbakar atau berbahaya yang tertimbun di bawah permukaan, langkah teknis untuk membongkar dan memilah material tersebut patut dipertimbangkan. Tentu dengan memperhatikan kondisi teknis, status lahan, ketentuan tata ruang, aspek hukum, dan kondisi geologis kawasan.

Gagasan untuk mengembalikan kawasan menjadi ruang terbuka hijau juga layak dikaji apabila memang sesuai dengan status lahan dan ketentuan yang berlaku.

Bukan sekadar untuk membuat Punclut kembali tampak hijau.

Lebih jauh dari itu, untuk mengembalikan fungsi ekologis yang semestinya bekerja bagi kawasan sekitarnya.

Di sinilah pemerintah tidak cukup hanya hadir ketika bencana terjadi. Pemerintah juga harus hadir sebelum bencana, melalui pencegahan dan pengawasan, serta setelah bencana melalui pemulihan dan evaluasi.
Warga pun membutuhkan informasi yang jelas. Apa yang sebenarnya terjadi di bawah timbunan? Apakah kawasan tersebut aman? Apa yang akan dilakukan setelah kebakaran? Dan siapa yang bertanggung jawab memastikan persoalan tidak kembali terjadi?

Pertanyaan seperti ini bukan bentuk permusuhan kepada pemerintah.

Justru sebaliknya, pertanyaan publik adalah bagian dari cara sebuah kota menjaga dirinya sendiri.

Jangan Menunggu Lingkungan Memberi Peringatan Lebih Keras

Kebakaran Cihanja seharusnya tidak berhenti sebagai berita tentang api yang berhasil dipadamkan.
Ia adalah alarm.

Alarm bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa lebih jauh. Alarm bahwa persoalan lingkungan tidak selalu selesai ketika gejalanya sudah tidak terlihat. Dan alarm bahwa kawasan penyangga ekologis membutuhkan perhatian yang lebih serius ketika tekanan terhadap ruang terus meningkat.
Kita mungkin dapat memadamkan api dengan mobil pemadam.

Tetapi tidak semua persoalan ekologis dapat diselesaikan dengan selang air.

Ada tanah yang perlu dipulihkan. Ada vegetasi yang harus dikembalikan. Ada tata ruang yang harus ditegakkan. Ada keputusan pembangunan yang perlu dipertanyakan. Dan ada keberanian untuk mengatakan bahwa tidak semua ruang harus dipaksakan menjadi ruang yang menghasilkan secara ekonomi.

Sebab pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya Punclut.

Yang dipertaruhkan adalah kemampuan Bandung mempertahankan ruang-ruang yang membuat kota ini tetap layak dihuni.

Api di Cihanja sudah padam.

Semoga peringatannya tidak ikut padam. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)