Manusia Gerobak, Manusia Statistik, Manusia Bandung

3 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)
Manusia gerobak. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ANTARA via ayobandung.com)

BISA dibilang bahasa selalu datang lebih dulu sebelum kebijakan. Dan sering kali, bahasa menentukan apakah seseorang masih manusia atau sudah berubah menjadi kategori. Mau contoh?

Dalam laporan Dinas Sosial, mereka disebut Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS). Terdengar netral dan administratif. Di jalanan Bandung, mereka lebih pendek namanya: manusia gerobak, manusia karung, manusia yang tidur di bawah flyover. 

Banyak kota besar dunia melakukan pengkategorian seperti itu pula. Studi UN-Habitat mencatat, kota dengan tekanan urban tinggi cenderung mengubah kemiskinan menjadi “kategori teknis”, semisal  homeless, rough sleeper, street population. 

Cilakanya, manakala  sudah jadi kategori, empati tak jarang ikut mengecil.

Seperti deskripsi visual

Istilah manusia gerobak mungkin terdengar seperti deskripsi visual. Padahal, ia membawa beban moral yang tidak enteng.

Gerobak bukan sekadar alat, tapi tanda bahwa seseorang tidak punya ruang privat lagi di kota yang notabene adalah kawasan publik. Para manusia gerobak tinggal di ruang transisi, yakni antara jalan, trotoar, dan juga ketidakpastian.

Di sisi lain, istilah PPKS adalah bahasa negara yang lebih modern. Ia lahir dari niat baik untuk menghindari stigma. Tetapi, dalam praktik, istilah ini kadang justru menjadi sebuah jarak baru. Manusia berubah menjadi objek layanan.

Para pakar ilmu sosial menyebut hal tersebut sebagai bureaucratic abstraction. Semakin jauh bahasa dari pengalaman tubuh manusia, semakin mudah kebijakan dijalankan tanpa rasa bersalah. Statistik menggantikan wajah.

Di dayeuh Bandung, operasi penertiban PPKS dilakukan di ruas-ruas jalan ikonik. Antara lain di Pasteur, Pasirkaliki, Pajajaran, sampai jalanan sekitar Gedong Sate. Ruang-ruang ini adalah etalase Kota Bandung. Tampaknya ada korelasi sederhana yang sering luput dibahas, yaitu semakin penting suatu jalan secara simbolik, semakin besar tekanan untuk “membersihkannya”.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun terakhir menunjukkan tren urbanisasi yang stabil di Jawa Barat. Tekanan ekonomi desa-kota tetap menjadi faktor utama. Namun, angka statistik idak pernah “tidur” di kolong flyover. Yang tidur adalah tubuh manusia yang tidak tertampung dalam sistem kerja formal.

Pendekatan penertiban sendiri biasanya bersifat event-based. Singkatnya, lakukan razia, jangkau, bawa ke rumah singgah, lalu dikembalikan ke daerah asal. Secara logika operasional, ini efisien. Tetapi, secara sistem sosial, ini seperti memadamkan api tanpa mematikan sumber panas.

Kembali ke titik awal

Studi kebijakan sosial di banyak kota menunjukkan pola serupa. Sayangnya, tanpa intervensi struktural yang menyentuh aspek pekerjaan, perumahan, kesehatan mental, dan keluarga, tingkat kekambuhan orang jalanan sangat tinggi. Mereka biasannya bakal kembali menggelandang di jalanan dalam hitungan minggu atau bulan.

Maka, istilah “dikembalikan ke daerah asal” bisa terdengar sederhana, tetapi sebenarnya kompleks. Karena kemiskinan tidak selalu punya alamat yang bisa diselesaikan dengan ongkos kirim balik.

Ada pula aspek lain yang jarang dibicarakan, yakni kota juga punya kebutuhan simbolik. Kota ingin terlihat bersih. Juga tertib. Serta modern. Para sosiolog kota menyebut hal ini sebagai aesthetic governance atau bahasa sederhananya tata kelola berbasis citra.

Masalahnya, estetika kota sering tidak netral. Ia memilih siapa yang boleh terlihat dan siapa yang harus dipindahkan dari pandangan. Dalam konteks ini, manusia gerobak dinilai menjadi “gangguan visual” sebelum menjadi “masalah sosial”.

Bahasa media lalu ikut memperkuatnya. Judul berita, misalnya, sering fokus pada jumlah yang terjaring, bukan pada cerita di baliknya. Statistik menjadi headline, sementara manusia menjadi footnote.

Padahal, dari sisi sains sosial, PPKS bukan kelompok tunggal. Ada yang mengalami kemiskinan kronis, ada yang gangguan kesehatan mental, ada yang korban disfungsi keluarga, ada yang migrasi ekonomi tapi gagal.

Apungan tanya pun muncul: apakah kita sedang menyelesaikan masalah sosial, atau sedang mengelola visibilitas kemiskinan?

Dua dunia sekaligus

Kota modern sering berada di dua dunia sekaligus. Di satu sisi, kota ingin inklusif. Tapi, di sisi lain, ia juga ingin kelihatan rapi.

Ketegangan antara dua hal tersebut tidak bisa diselesaikan hanya dengan operasi lapangan menjaring para PPKS semata, melainkan juga perlu dengan desain kebijakan jangka panjang.

Karenanya, mungkin yang perlu ditata ulang bukan cuma trotoar atau flyover, tetapi cara kita menyebut manusia. Karena sebelum seseorang menjadi “PPKS” atau “manusia gerobak”, atau kategori-kategori lainnya yang selevel, mereka mungkin lebih dulu adalah manusia Bandung, yang kebetulan kalah dalam sistem. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)