Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)

Bencana abu vulkanik, kabut asap karhutla dan polusi udara lainnya membutuhkan alat pelindung diri (APD) dengan standar yang baik. Prospek Bandung sebagai produsen APD sangat mendukung karena kota ini memiliki potensi industri yang kompatibel.

Terlebih untuk produsen APD untuk mata bisa bekerja sama dengan Rumah Sakit Mata Nasional Cicendo. Bencana alam silih berganti, belum lagi jika terjadi pandemi lagi, dibutuhkan alat pelindung yang multi fungsi yakni Full face Respirator. Sebagai solusi teknologi melindungi kesehatan mata dan organ pernafasan dari debu vulkanik dan bencana lainnya.

Terlebih hubungan antara kesehatan mata dan abu vulkanik sangat kritis dan berbahaya karena abu vulkanik bukanlah debu biasa, melainkan serpihan kaca vulkanik, silika, dan mineral tajam yang bersifat abrasif (mengikis) serta korosif.

Ketika partikel halus dan tajam ini berinteraksi dengan organ mata yang sensitif, dampaknya bisa berkisar dari iritasi ringan hingga kerusakan permanen pada penglihatan.

Dampak klinis abu vulkanik pada mata menyebabkan abrasi kornea atau luka gores pada kornea.  Serpihan silika yang tajam dapat menggores lapisan kornea. Kondisi ini memicu rasa nyeri hebat, sensasi mengganjal seperti pasir, dan beresiko menyebabkan infeksi serius.

Paparan abu juga bisa memicu peradangan pada konjungtiva atau selaput lendir mata. Gejalanya meliputi mata merah, gatal, bengkak, perih, dan berair secara berlebihan, Abu vulkanik segar seringkali diselimuti lapisan asam sulfat yang dapat menambah efek iritasi dan rasa terbakar yang menyengat saat mengenai air mata,

Perlindungan kesehatan mata terhadap bencana tidak bisa asal-asalan. Perlu teknologi perlindungan yang menggabungkan kacamata anti-debu vulkanik sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem dikenal dengan nama Full Face Respirator (Respirator Wajah Penuh) atau sistem PAPR (Powered Air-Purifying Respirator). Teknologi ini dirancang khusus untuk lingkungan ekstrim dengan tingkat paparan partikel abrasif serta terjadinya polusi hingga gas beracun.

Semua orang tidak menghendaki terjadinya bencana, namun mitigasi atau siap sedia jika terjadi bencana sangat penting.

Teknologi full face respirator dilengkapi dengan lensa anti gores polikarbonat standar militer. Lapisan ini mencegah permukaan kaca menjadi buram atau tergores akibat hantaman partikel silika vulkanik yang tajam. Dilengkapi dengan segel silikon kedap udara (Positive Pressure Seal) yang mengelilingi seluruh wajah (mata, hidung, dan mulut). Segel ini memastikan tidak ada celah mikro bagi abu halus untuk menyusup masuk akibat hembusan angin.

Dilengkapi katup buang ganda yang mengarahkan kelembaban nafas langsung ke bawah untuk mencegah pengembunan di dalam lensa pelindung mata. Sistem filter cartridge ganda menggunakan filter partikulat efisiensi tinggi (seperti standar P100 atau N95/N100) yang mampu menyaring hingga 99,97 persen partikel debu vulkanik yang paling halus sekalipun,

Untuk penggunaan jangka panjang di zona terdampak parah, terdapat teknologi Powered Air Purifying Respirator (PAPR). Teknologi ini berbentuk seperti helm astronot atau tudung wajah penuh yang terhubung ke mesin pompa udara mini di pinggang.

Mesin menyedot udara luar, menyaringnya dengan filter HEPA, lalu meniupkan udara bersih ke dalam ruang wajah secara konstan. Karena udara terus ditiupkan, mata tetap sejuk, lensa tidak akan mengembun, dan pengguna tidak perlu bersusah payah menarik napas secara manual seperti pada masker biasa.

Sungguh amat disayangkan semua alat diatas kini masih di impor. Padahal potensi dalam negeri mestinya bisa memproduksi sendiri. Khususnya kota Bandung yang banyak lembaga riset, tentunya bisa.

Selama ini alat dan APD yang diimpor memiliki merek dan standar yang valid di pasaran. Teknologi ini diproduksi oleh produsen alat keselamatan kerja (Safety PPE) global dengan sertifikasi standar internasional seperti NIOSH (Amerika) atau EN (Eropa)

Contohnya 3M Full Facepiece Respirator (Seri 6000 atau 7000) dan Honeywell North 5400 / 7600 Series.

Penjelasan terkait kesehatan mata (Foto: RSMN Cicendo)
Penjelasan terkait kesehatan mata (Foto: RSMN Cicendo)

Wilayah Indonesia sebagian besar masih dalam Kondisi cuaca panas akibat El Nino yang disertai dengan bencana kabut asap dan juga abu vulkanik akibat erupsi gunung api. Perlu dicatat dalam sebulan terakhir terjadi terjadi peristiwa enam gunung api meletus dengan waktu yang hampir bersamaan.

Perlu mitigasi ke depan agar kita tidak terjebak dalam situasi buruk yang mempengaruhi kesehatan mata dan pernafasan secara parah.

Ketika mata cedera, tidak jarang warga melakukan penanganan medis dengan cara yang salah. Bahkan kurang responsif untuk berobat ke rumah sakit mata.

Perlu dicatat penggunaan kacamata hitam biasa masih memiliki celah di samping. Jika memakai lensa kontak mesti segera dilepas karena partikel asap dapat terjebak di bawah lensa, menyebabkan luka gores pada kornea, dan memicu infeksi bakteri yang parah.

Jangan menggunakan air keran mentah karena berisiko membawa bakteri ke mata yang sedang terluka. Setelah terjebak dalam cuaca panas dan kabut asap, lakukan kompres mata dengan kain bersih yang dibasahi air es selama 10--15 menit untuk menurunkan peradangan dan meredakan perih.

Jika terjebak di dalam bangunan, tutup rapat semua celah. Nyalakan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA, dan hindari menyalakan lilin, merokok, atau aktivitas yang menambah asap di dalam ruangan.Gunakan Masker Respirator: Selalu pakai masker N95 atau KN95.

Cara mengecek kesehatan mata akibat paparan debu atau abu dilakukan melalui deteksi mandiri gejala awal di rumah, yang kemudian divalidasi lewat pemeriksaan klinis oleh dokter spesialis mata (oftalmolog).

Suhu tinggi dan radiasi UV yang kuat juga dapat memicu sindrom mata kering akut hingga luka bakar pada kornea. Pemeriksaan medis oleh dokter mata jika gejala dan gangguan mata  menetap lebih dari 1--2 hari.

Paparan panas ekstrim pada pekerja merupakan masalah yang sering dijumpai dan dapat berakibat buruk bila tidak diantisipasi. Pemakaian APD yang tepat, pembatasan lamanya waktu paparan panas, desain ruangan, dan cek kesehatan rutin, diperlukan untuk mencegah kelainan akibat panas. Bahaya yang jelas akibat panas adalah dehidrasi, maka itu konsumsi cairan secara rutin dalam jumlah yang cukup banyak, harus dilakukan.

 Kondisi udara panas dan paparan kabut asap dan debu yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan mata masyarakat perlu program penanganan darurat oleh rumah sakit mata yang didukung oleh dokter yang cukup.

Kini peran Rumah Sakit Mata Cicendo di Bandung telah ditetapkan sebagai Pusat Mata Nasional (PMN), mempunyai tanggung jawab yang besar untuk meningkatkan derajat kesehatan mata masyarakat di Indonesia.

Sebagai PMN, Rumah Sakit Mata Cicendo memiliki peran vital dan komprehensif dalam mengatasi gangguan kesehatan mata akibat kabut asap dan polusi udara.

Peran ini mencakup penanganan medis tingkat lanjut, edukasi publik, hingga perumusan kebijakan kesehatan mata nasional.

Kontribusi dan peran nyata PMN RS Mata Cicendo dalam menghadapi dampak kabut asap  dan abu vulkanik antara lain pelayanan klinis khusus untuk pasien yang terpapar yang pekat memicu peradangan permukaan mata (konjungtivitis) hingga sindrom mata kering akut.

Menggunakan pemeriksaan canggih seperti IDRA (analisis lapisan air mata) serta terapi mutakhir seperti Intense Pulsed Light (IPL) untuk mengembalikan fungsi kelenjar air mata yang terganggu.

RS juga menangani kasus-kasus infeksi sekunder pada mata yang terjadi ketika selaput lendir mata melemah dan terluka akibat partikel mikro kabut asap (PM2.5). Oleh sebab itu perlu IGD Mata 24 Jam yang mampu menyediakan penanganan darurat bagi pasien yang mengalami trauma kimia akut, iritasi parah, atau masuknya partikel asing tajam ke kornea mata akibat polusi udara.  (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)