Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Sejak Jumat 4 September 2026 pukul 22.03 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi intensif, dan letusan susulan terus terekam oleh seismograf.

  • Kondisi itu membuat kewaspadaan menjadi penting. Masker, kacamata pelindung, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah menjadi bagian dari langkah mitigasi yang dianjurkan.

  • Tentunya, MBG tidak harus berhenti hanya karena terjadi erupsi. Tetapi mekanisme distribusinya semestinya dapat beradaptasi.

Pagi yang cerah untuk daerah Babakan Dangdeur Cibiru dan Bandung itu, masker bukan sekadar penutup hidung dan mulut. Justru menjadi tanda sederhana tentang bagaimana keluarga berusaha menjaga anak dari abu vulkanik yang tak kasatmata.

Kakang, anak ketiga (5 tahun), bangun sendiri tanpa drama tangis. Setelah terjaga, bocil memanggil Bah yang sedang mandi untuk membersihkan badannya. Sebelum selesai mandi, ikut membersihkan diri, membasuh rambut dengan sampo.

Selesai mandi, bubur yang sudah disiapkan Ibu segera disantap. Tak banyak basa-basi. Bubur itu dilahap karena sebentar lagi Kakang akan diantar ke PAUD Al-Hidayah Kebonterong, Cibiru, sekalian menemani Babah berangkat kerja.

Tapi, sebelum berangkat, Mbu istri memanggil Kakang. “Pakai masker, Kang.”

Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sedang menjadi perhatian. Masker yang biasanya identik dengan sakit, debu jalanan, sekadar perlengkapan kesehatan, pagi itu memiliki makna tersendiri untuk berjaga-jaga.

Sesampainya di Masjid Al-Hidayah, seorang kawan Kakang memanggilnya. “Faqih kok pakai masker, sakit, ya?” ujar bocah perempuan berjilbab yang kebetulan membawa omprengan Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Hente, pan jaga-jaga abu vulkanik,” jawabku. Bocah itu mengajak Kakang naik ke kelas sambil membawa omprengan MBG.

Adegan sederhana itu sempat lewat begitu saja. Ada anak memakai masker. Seorang anak lain membawa makanan. Mereka tetap menuju sekolah seperti hari-hari biasa.

Selang sepuluh menit, setibanya di ruang kerja, saat membaca koran, baru menyadari ternyata di balik pemandangan sederhana itu tersimpan persoalan yang lebih besar.

Kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung. (Sumber: Instagram @agresputri)
Kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung. (Sumber: Instagram @agresputri)

Jabar Terpapar, Menggelepar

Sejak Jumat 4 September 2026 pukul 22.03 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi intensif, dan letusan susulan terus terekam oleh seismograf, termasuk pada Minggu 6 September 2026 pukul 03.53 WIB dengan durasi 30 detik. Sebaran abu vulkanik menjangkau wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Erupsi disertai semburan lava pijar kontinyu yang me­nyerupai air mancur lava (lava fountain) serta suara ge­muruh dan dentuman. Abu vulkanik Gunung Anaka Ka­rakatau memapari sejumlah kawasan di Jawa Barat hingga menyebabkan penutupan sementara Operasional Bandara Internasional Husein Sastranegara di Kota Bandung, Minggu 6 September 2026.

Material abu vulkanik ber­warna gelap dan bertekstur licin dilaporkan mengotori permukiman warga serta me­micu gangguan kesehatan berupa mata perih di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, hingga Ka­bupaten Bekasi.

Kondisi itu membuat kewaspadaan menjadi penting. Masker, kacamata pelindung, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah menjadi bagian dari langkah mitigasi yang dianjurkan.

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sekolah (Diizinkan) Belajar Daring

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengizinkan seluruh satuan pendidikan di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mene­rapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau secara daring. Para kepala sekolah diimbau tidak ragu mengambil tindakan diskresi demi menjaga kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan para peserta didik serta tenaga pendidik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kebijakan pembelajaran daring tersebut mulai berlaku pada Senin 7 September 2026, terutama bagi daerah yang mencatatkan intensitas sebaran abu vulkanik tinggi seperti Kabupaten dan Kota Bogor, Sukabumi, serta wilayah terdampak lainnya.

Pertimbangan utama da­­­lam pengambilan keputus­an di tingkat sekolah adalah keselamatan jiwa dan pencegahan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 yang dirilis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, sebar­an abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi te­lah melingkupi sebagian wi­layah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejak Minggu 6 September 2026 pukul 09.00.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD) Jawa Barat, Teten Ali mengimbau masya­rakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan disiplin me­nerapkan protokol kesehatan mandiri saat beraktivitas.

Masyarakat diminta me­ngenakan masker pelindung saluran pernapasan, menggunakan kacamata pelindung saat berkendara, membatasi mobilitas di luar ruangan, serta menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi rumah guna meminimalkan masuknya partikel abu.

BPBD Jawa Barat me­ngingatkan warga agar tidak mengemudikan kendaraan saat jarak pandang terganggu, membersihkan endapan abu secara hati-hati tanpa mengibaskannya, serta terus memantau pembaruan informasi resmi dari PVMBG/­Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat. (Koran Pikiran Rakyat, Senin 7 September 2026).

Berbeda dengan PAUD Al-Hidayah dan SD Islam Al-Amanah tempat anak-anak belajar tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa.

Malam harinya, selepas salat Isya dan belajar mengaji di Komunitas Belajar Musi, saat asyik membaca koran. Kali ini Aa yang bertanya. “Emang kalau tidak pakai masker akibat abu vulkanik paru-paru akan robek?”

Pertanyaan polos itu membuat tersenyum. Anak-anak sering kali memahami bahaya melalui bahasa mereka sendiri. Bukan tentang paru-paru yang serta-merta “robek”, melainkan soal bagaimana partikel abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan kesehatan.

Sambil menunjuk berita mengenai sebaran abu dan dampaknya terhadap kesehatan warga. Aa memperhatikan sebentar. “Pantesan tadi di sekolah pada pakai masker. Hanya Aa yang tidak,” katanya sambil tersenyum.

Dalam suasana itu pikiran melayang pada masker yang begitu akrab saat pandemic melanda. Ya, masker memang kecil. Harganya tidak seberapa. Tetapi dalam situasi bencana, benda sederhana itu menjadi simbol kesadaran bahwa ada ancaman yang tidak selalu terlihat oleh kasat mata.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. (Sumber: www.lampungprov.go.id)

Ironi Negeri Bedebah

Di tengah-tengah kewaspadaan terhadap abu vulkanik, muncul ironi lain yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Betapak tidak, ketika sekolah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah demi mengurangi risiko paparan abu, ternyata tidak dan bagaimana mekanisme distribusi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat kondisi lingkungan sedang tidak aman untuk mobilitas anak.

Persoalannya bukan pada penting atau tidak pentingnya makanan bergizi bagi anak. Justru sebaliknya, pemenuhan gizi anak tetap berharga (penting), termasuk dalam situasi bencana.

Bila peserta didik diminta belajar dari rumah karena kualitas udara dan paparan abu vulkanik, tetapi pada saat yang sama harus datang ke sekolah untuk mengambil paket MBG, di situlah muncul pertanyaan tentang konsistensi mitigasi.

Parahnya, anak diminta menjauhi paparan abu, tetapi untuk mendapatkan makanan bergizi harus kembali mendatangi lokasi yang sama. Perdebatan publik muncul. Salah satunya datang dari akun Ahmad Tsauri yang diunggahan dalam media sosial 5 jam lalu dan melewat beranda yang mempertanyakan kondisi “Paradoks Negeri Sarang Penyamun”.

Unggahan itu mendapat ribuan (3,6 rb) penayangan, ratusan (629) komentar, dan dibagikan ulang oleh 373 pengguna facebook. “Banyak sekolah di Jabar yang daring, belajar dari rumah. Tapi MBG harus tetap diambil. Siswa bisa menghindari bahaya abu vulkanik tapi tidak bisa menghindari bahaya MBG,” 

Komentar lain justru mempertanyakan mengapa pengambilan MBG masih harus dilakukan di sekolah ketika pembelajaran sudah diarahkan dari rumah.  "Ngambil MBG masih harus kesekolah ⁉ Aturan makin aneh,, MBG harus tetap berjalan meski gunung meletus, dan apapun itu tidak boleh MBG di stop" dari akun Muarif

Terlepas dari pro dan kontra itu persoalan mendasarnya jangan sampai kebijakan yang baik berjalan tanpa menyesuaikan keadaan di lapangan. Pendidikan, gizi anak penting dan keselamatan jauh lebih penting.

Siswa menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disalah satu SD Negeri Kota Cimahi, Selasa 14 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Siswa menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disalah satu SD Negeri Kota Cimahi, Selasa 14 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Walhasil, saat bencana datang, yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan program, melainkan memastikan cara pelaksanaannya tetap aman, nyaman dan bermanfaat.

Tentunya, MBG tidak harus berhenti hanya karena terjadi erupsi. Tetapi mekanisme distribusinya semestinya dapat beradaptasi. Bila anak harus belajar dari rumah, distribusi makanan bergizi idealnya dipikirkan agar tidak mengharuskan anak pergi ke lingkungan yang sedang terpapar abu.

Ingat, substansi dari kebijakan publik itu menghadirkan perlindungan, bukan sekadar memastikan program tetap berjalan aman dan terkendali.

Pagi itu Kakang hanya tahu masker dipakai karena ada abu vulkanik dan belum memahami bagaimana abu bisa masuk ke saluran pernapasan. Tak mengerti soal pemerintah mengambil keputusan ketika bencana terjadi. Belum memahami perdebatan alot tentang PJJ dan MBG.

Rupanya, dari segala pertanyaan sederhananya, orang dewasa justru mendapatkan pelajaran berharga. Setiap bencana mengajarkan ihwal keselamatan tidak boleh berhenti pada imbauan semata. Justru harus hadir dalam keputusan sehari-hari.

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik harus selalu bertemu dengan kenyataan di lapangan.

Dengan demikian, dalam keadaan normal, membawa anak ke sekolah untuk belajar dan menerima makanan bergizi menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan generai terbaik. Di antara abu vulkanik, masker, sekolah, dan MBG itu sesungguhnya kita sedang belajar tentang keselamatan manusia harus menjadi pusat dari setiap kebijakan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Saat asyik mencari referensi soal ini, tiba-tiba Aa Akil memanggil, "Bah, kalau masker untuk dipakai sekolah besok disimpan di mana, ya?"

“Eta di rak buku, A!” Cag ah

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 17:03

Dari Layar ke Media Sosial: Cara Film Animasi Membangun Percakapan

Disney dan Pixar menerapkan strategi komunikasi pemasaran terpadu melalui berbagai platform digital untuk memaksimalkan publikasi global dari film animasi Inside Out 2.

Film animasi "Inside Out 2". (Sumber: Walt Disney Studios Motion Pictures)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 16:00

Mengulas Strategi Komunikasi Digital Pembentukan Opini Publik pada Publikasi Produk Fashion

Strategi komunikasi digital menyesuaikan karakter setiap platform, tetapi tetap menjaga konsistensi pesan untuk membentuk identitas produk dan pemahaman publik.

Ilustrasi produk fashion.
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 15:20

Menyusuri Jejak Peristiwa Era 80-an dalam Lembaran Majalah Zaman

Majalah Zaman edisi 1984 bukan sekadar bacaan lama, melainkan rekaman suasana, budaya, dan cara pandang masyarakat Indonesia pada sebuah masa yang kini telah berlalu.

Majalah Zaman edisi September 1984, terbit sekitar 42 tahun silam. Sampul mukanya menampilkan lukisan bergaya airbrush penyanyi asal Cimahi, Ria Angelina, yang menjadi salah satu wajah hiburan populer pada era 1980-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 13:11

R. Ipik Gandamana Sumawinata Layak sebagai Pahlawan Nasional dari Jawa Barat asal Purwakarta

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional.

R. Ipik Gandamana Sumawinata, tokoh pejuang asal Purwakarta, mantan Gubernur Jawa Barat dan Menteri Dalam, layak menyandang gelar Pahlawan Nasional. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 10:29

Spiderman, Perdamaian, dan Pahlawan

Segala penghargaan bisa disimpan di lemari. Piala bisa berdebu. Piagam bisa menguning. Justru nilai-nilai kebaikan yang diwariskan kepada generasi berikutnya bisa hidup jauh lebih lama. Selamat Kang!

Spider-Man: No Way Home menjadi tonggak baru penayangan film di era pandemi Covid-19 dengan memecahkan rekor penjualan di pekan debutnya. (Sumber: Columbia Pictures/Marvel Studios/Matt Kennedy)