Pagi yang cerah untuk daerah Babakan Dangdeur Cibiru dan Bandung itu, masker bukan sekadar penutup hidung dan mulut. Justru menjadi tanda sederhana tentang bagaimana keluarga berusaha menjaga anak dari abu vulkanik yang tak kasatmata.
Kakang, anak ketiga (5 tahun), bangun sendiri tanpa drama tangis. Setelah terjaga, bocil memanggil Bah yang sedang mandi untuk membersihkan badannya. Sebelum selesai mandi, ikut membersihkan diri, membasuh rambut dengan sampo.
Selesai mandi, bubur yang sudah disiapkan Ibu segera disantap. Tak banyak basa-basi. Bubur itu dilahap karena sebentar lagi Kakang akan diantar ke PAUD Al-Hidayah Kebonterong, Cibiru, sekalian menemani Babah berangkat kerja.
Tapi, sebelum berangkat, Mbu istri memanggil Kakang. “Pakai masker, Kang.”
Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sedang menjadi perhatian. Masker yang biasanya identik dengan sakit, debu jalanan, sekadar perlengkapan kesehatan, pagi itu memiliki makna tersendiri untuk berjaga-jaga.
Sesampainya di Masjid Al-Hidayah, seorang kawan Kakang memanggilnya. “Faqih kok pakai masker, sakit, ya?” ujar bocah perempuan berjilbab yang kebetulan membawa omprengan Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Hente, pan jaga-jaga abu vulkanik,” jawabku. Bocah itu mengajak Kakang naik ke kelas sambil membawa omprengan MBG.
Adegan sederhana itu sempat lewat begitu saja. Ada anak memakai masker. Seorang anak lain membawa makanan. Mereka tetap menuju sekolah seperti hari-hari biasa.
Selang sepuluh menit, setibanya di ruang kerja, saat membaca koran, baru menyadari ternyata di balik pemandangan sederhana itu tersimpan persoalan yang lebih besar.

Jabar Terpapar, Menggelepar
Sejak Jumat 4 September 2026 pukul 22.03 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi intensif, dan letusan susulan terus terekam oleh seismograf, termasuk pada Minggu 6 September 2026 pukul 03.53 WIB dengan durasi 30 detik. Sebaran abu vulkanik menjangkau wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.
Erupsi disertai semburan lava pijar kontinyu yang menyerupai air mancur lava (lava fountain) serta suara gemuruh dan dentuman. Abu vulkanik Gunung Anaka Karakatau memapari sejumlah kawasan di Jawa Barat hingga menyebabkan penutupan sementara Operasional Bandara Internasional Husein Sastranegara di Kota Bandung, Minggu 6 September 2026.
Material abu vulkanik berwarna gelap dan bertekstur licin dilaporkan mengotori permukiman warga serta memicu gangguan kesehatan berupa mata perih di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, hingga Kabupaten Bekasi.
Kondisi itu membuat kewaspadaan menjadi penting. Masker, kacamata pelindung, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah menjadi bagian dari langkah mitigasi yang dianjurkan.

Sekolah (Diizinkan) Belajar Daring
Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengizinkan seluruh satuan pendidikan di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau secara daring. Para kepala sekolah diimbau tidak ragu mengambil tindakan diskresi demi menjaga kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan para peserta didik serta tenaga pendidik.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kebijakan pembelajaran daring tersebut mulai berlaku pada Senin 7 September 2026, terutama bagi daerah yang mencatatkan intensitas sebaran abu vulkanik tinggi seperti Kabupaten dan Kota Bogor, Sukabumi, serta wilayah terdampak lainnya.
Pertimbangan utama dalam pengambilan keputusan di tingkat sekolah adalah keselamatan jiwa dan pencegahan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.
Berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 yang dirilis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, sebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi telah melingkupi sebagian wilayah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejak Minggu 6 September 2026 pukul 09.00.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat, Teten Ali mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan disiplin menerapkan protokol kesehatan mandiri saat beraktivitas.
Masyarakat diminta mengenakan masker pelindung saluran pernapasan, menggunakan kacamata pelindung saat berkendara, membatasi mobilitas di luar ruangan, serta menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi rumah guna meminimalkan masuknya partikel abu.
BPBD Jawa Barat mengingatkan warga agar tidak mengemudikan kendaraan saat jarak pandang terganggu, membersihkan endapan abu secara hati-hati tanpa mengibaskannya, serta terus memantau pembaruan informasi resmi dari PVMBG/Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat. (Koran Pikiran Rakyat, Senin 7 September 2026).
Berbeda dengan PAUD Al-Hidayah dan SD Islam Al-Amanah tempat anak-anak belajar tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa.
Malam harinya, selepas salat Isya dan belajar mengaji di Komunitas Belajar Musi, saat asyik membaca koran. Kali ini Aa yang bertanya. “Emang kalau tidak pakai masker akibat abu vulkanik paru-paru akan robek?”
Pertanyaan polos itu membuat tersenyum. Anak-anak sering kali memahami bahaya melalui bahasa mereka sendiri. Bukan tentang paru-paru yang serta-merta “robek”, melainkan soal bagaimana partikel abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan kesehatan.
Sambil menunjuk berita mengenai sebaran abu dan dampaknya terhadap kesehatan warga. Aa memperhatikan sebentar. “Pantesan tadi di sekolah pada pakai masker. Hanya Aa yang tidak,” katanya sambil tersenyum.
Dalam suasana itu pikiran melayang pada masker yang begitu akrab saat pandemic melanda. Ya, masker memang kecil. Harganya tidak seberapa. Tetapi dalam situasi bencana, benda sederhana itu menjadi simbol kesadaran bahwa ada ancaman yang tidak selalu terlihat oleh kasat mata.

Ironi Negeri Bedebah
Di tengah-tengah kewaspadaan terhadap abu vulkanik, muncul ironi lain yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Betapak tidak, ketika sekolah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah demi mengurangi risiko paparan abu, ternyata tidak dan bagaimana mekanisme distribusi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat kondisi lingkungan sedang tidak aman untuk mobilitas anak.
Persoalannya bukan pada penting atau tidak pentingnya makanan bergizi bagi anak. Justru sebaliknya, pemenuhan gizi anak tetap berharga (penting), termasuk dalam situasi bencana.
Bila peserta didik diminta belajar dari rumah karena kualitas udara dan paparan abu vulkanik, tetapi pada saat yang sama harus datang ke sekolah untuk mengambil paket MBG, di situlah muncul pertanyaan tentang konsistensi mitigasi.
Parahnya, anak diminta menjauhi paparan abu, tetapi untuk mendapatkan makanan bergizi harus kembali mendatangi lokasi yang sama. Perdebatan publik muncul. Salah satunya datang dari akun Ahmad Tsauri yang diunggahan dalam media sosial 5 jam lalu dan melewat beranda yang mempertanyakan kondisi “Paradoks Negeri Sarang Penyamun”.
Unggahan itu mendapat ribuan (3,6 rb) penayangan, ratusan (629) komentar, dan dibagikan ulang oleh 373 pengguna facebook. “Banyak sekolah di Jabar yang daring, belajar dari rumah. Tapi MBG harus tetap diambil. Siswa bisa menghindari bahaya abu vulkanik tapi tidak bisa menghindari bahaya MBG,”
Komentar lain justru mempertanyakan mengapa pengambilan MBG masih harus dilakukan di sekolah ketika pembelajaran sudah diarahkan dari rumah. "Ngambil MBG masih harus kesekolah ⁉ Aturan makin aneh,, MBG harus tetap berjalan meski gunung meletus, dan apapun itu tidak boleh MBG di stop" dari akun Muarif
Terlepas dari pro dan kontra itu persoalan mendasarnya jangan sampai kebijakan yang baik berjalan tanpa menyesuaikan keadaan di lapangan. Pendidikan, gizi anak penting dan keselamatan jauh lebih penting.

Walhasil, saat bencana datang, yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan program, melainkan memastikan cara pelaksanaannya tetap aman, nyaman dan bermanfaat.
Tentunya, MBG tidak harus berhenti hanya karena terjadi erupsi. Tetapi mekanisme distribusinya semestinya dapat beradaptasi. Bila anak harus belajar dari rumah, distribusi makanan bergizi idealnya dipikirkan agar tidak mengharuskan anak pergi ke lingkungan yang sedang terpapar abu.
Ingat, substansi dari kebijakan publik itu menghadirkan perlindungan, bukan sekadar memastikan program tetap berjalan aman dan terkendali.
Pagi itu Kakang hanya tahu masker dipakai karena ada abu vulkanik dan belum memahami bagaimana abu bisa masuk ke saluran pernapasan. Tak mengerti soal pemerintah mengambil keputusan ketika bencana terjadi. Belum memahami perdebatan alot tentang PJJ dan MBG.
Rupanya, dari segala pertanyaan sederhananya, orang dewasa justru mendapatkan pelajaran berharga. Setiap bencana mengajarkan ihwal keselamatan tidak boleh berhenti pada imbauan semata. Justru harus hadir dalam keputusan sehari-hari.
Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik harus selalu bertemu dengan kenyataan di lapangan.
Dengan demikian, dalam keadaan normal, membawa anak ke sekolah untuk belajar dan menerima makanan bergizi menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan generai terbaik. Di antara abu vulkanik, masker, sekolah, dan MBG itu sesungguhnya kita sedang belajar tentang keselamatan manusia harus menjadi pusat dari setiap kebijakan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Saat asyik mencari referensi soal ini, tiba-tiba Aa Akil memanggil, "Bah, kalau masker untuk dipakai sekolah besok disimpan di mana, ya?"
“Eta di rak buku, A!” Cag ah