Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

7 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pagi yang cerah untuk daerah Babakan Dangdeur Cibiru dan Bandung itu, masker bukan sekadar penutup hidung dan mulut. Justru menjadi tanda sederhana tentang bagaimana keluarga berusaha menjaga anak dari abu vulkanik yang tak kasatmata.

Kakang, anak ketiga (5 tahun), bangun sendiri tanpa drama tangis. Setelah terjaga, bocil memanggil Bah yang sedang mandi untuk membersihkan badannya. Sebelum selesai mandi, ikut membersihkan diri, membasuh rambut dengan sampo.

Selesai mandi, bubur yang sudah disiapkan Ibu segera disantap. Tak banyak basa-basi. Bubur itu dilahap karena sebentar lagi Kakang akan diantar ke PAUD Al-Hidayah Kebonterong, Cibiru, sekalian menemani Babah berangkat kerja.

Tapi, sebelum berangkat, Mbu istri memanggil Kakang. “Pakai masker, Kang.”

Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau sedang menjadi perhatian. Masker yang biasanya identik dengan sakit, debu jalanan, sekadar perlengkapan kesehatan, pagi itu memiliki makna tersendiri untuk berjaga-jaga.

Sesampainya di Masjid Al-Hidayah, seorang kawan Kakang memanggilnya. “Faqih kok pakai masker, sakit, ya?” ujar bocah perempuan berjilbab yang kebetulan membawa omprengan Makan Bergizi Gratis (MBG).

“Hente, pan jaga-jaga abu vulkanik,” jawabku. Bocah itu mengajak Kakang naik ke kelas sambil membawa omprengan MBG.

Adegan sederhana itu sempat lewat begitu saja. Ada anak memakai masker. Seorang anak lain membawa makanan. Mereka tetap menuju sekolah seperti hari-hari biasa.

Selang sepuluh menit, setibanya di ruang kerja, saat membaca koran, baru menyadari ternyata di balik pemandangan sederhana itu tersimpan persoalan yang lebih besar.

Kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung. (Sumber: Instagram @agresputri)
Kondisi abu vulkanik Gunung Anak Krakatau di Bandar Lampung. (Sumber: Instagram @agresputri)

Jabar Terpapar, Menggelepar

Sejak Jumat 4 September 2026 pukul 22.03 WIB, Gunung Anak Krakatau mengalami rangkaian erupsi intensif, dan letusan susulan terus terekam oleh seismograf, termasuk pada Minggu 6 September 2026 pukul 03.53 WIB dengan durasi 30 detik. Sebaran abu vulkanik menjangkau wilayah Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Erupsi disertai semburan lava pijar kontinyu yang me­nyerupai air mancur lava (lava fountain) serta suara ge­muruh dan dentuman. Abu vulkanik Gunung Anaka Ka­rakatau memapari sejumlah kawasan di Jawa Barat hingga menyebabkan penutupan sementara Operasional Bandara Internasional Husein Sastranegara di Kota Bandung, Minggu 6 September 2026.

Material abu vulkanik ber­warna gelap dan bertekstur licin dilaporkan mengotori permukiman warga serta me­micu gangguan kesehatan berupa mata perih di Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, Kabupaten Bogor, Kota Sukabumi, hingga Ka­bupaten Bekasi.

Kondisi itu membuat kewaspadaan menjadi penting. Masker, kacamata pelindung, pembatasan aktivitas di luar ruangan, serta menutup pintu, jendela, dan ventilasi rumah menjadi bagian dari langkah mitigasi yang dianjurkan.

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sekolah (Diizinkan) Belajar Daring

Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengizinkan seluruh satuan pendidikan di wilayah yang terdampak paparan abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau untuk mene­rapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau secara daring. Para kepala sekolah diimbau tidak ragu mengambil tindakan diskresi demi menjaga kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan para peserta didik serta tenaga pendidik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi mengatakan, kebijakan pembelajaran daring tersebut mulai berlaku pada Senin 7 September 2026, terutama bagi daerah yang mencatatkan intensitas sebaran abu vulkanik tinggi seperti Kabupaten dan Kota Bogor, Sukabumi, serta wilayah terdampak lainnya.

Pertimbangan utama da­­­lam pengambilan keputus­an di tingkat sekolah adalah keselamatan jiwa dan pencegahan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik.

Berdasarkan analisis citra satelit RGB Himawari-9 yang dirilis Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah II, sebar­an abu vulkanik Gunung Anak Krakatau terdeteksi te­lah melingkupi sebagian wi­layah DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat sejak Minggu 6 September 2026 pukul 09.00.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Dae­rah (BPBD) Jawa Barat, Teten Ali mengimbau masya­rakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan disiplin me­nerapkan protokol kesehatan mandiri saat beraktivitas.

Masyarakat diminta me­ngenakan masker pelindung saluran pernapasan, menggunakan kacamata pelindung saat berkendara, membatasi mobilitas di luar ruangan, serta menutup rapat pintu, jendela, dan ventilasi rumah guna meminimalkan masuknya partikel abu.

BPBD Jawa Barat me­ngingatkan warga agar tidak mengemudikan kendaraan saat jarak pandang terganggu, membersihkan endapan abu secara hati-hati tanpa mengibaskannya, serta terus memantau pembaruan informasi resmi dari PVMBG/­Badan Geologi, BMKG, dan BPBD setempat. (Koran Pikiran Rakyat, Senin 7 September 2026).

Berbeda dengan PAUD Al-Hidayah dan SD Islam Al-Amanah tempat anak-anak belajar tetap melaksanakan pembelajaran seperti biasa.

Malam harinya, selepas salat Isya dan belajar mengaji di Komunitas Belajar Musi, saat asyik membaca koran. Kali ini Aa yang bertanya. “Emang kalau tidak pakai masker akibat abu vulkanik paru-paru akan robek?”

Pertanyaan polos itu membuat tersenyum. Anak-anak sering kali memahami bahaya melalui bahasa mereka sendiri. Bukan tentang paru-paru yang serta-merta “robek”, melainkan soal bagaimana partikel abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan dan kesehatan.

Sambil menunjuk berita mengenai sebaran abu dan dampaknya terhadap kesehatan warga. Aa memperhatikan sebentar. “Pantesan tadi di sekolah pada pakai masker. Hanya Aa yang tidak,” katanya sambil tersenyum.

Dalam suasana itu pikiran melayang pada masker yang begitu akrab saat pandemic melanda. Ya, masker memang kecil. Harganya tidak seberapa. Tetapi dalam situasi bencana, benda sederhana itu menjadi simbol kesadaran bahwa ada ancaman yang tidak selalu terlihat oleh kasat mata.

Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi. (Sumber: www.lampungprov.go.id)

Ironi Negeri Bedebah

Di tengah-tengah kewaspadaan terhadap abu vulkanik, muncul ironi lain yang tak kalah menarik untuk direnungkan. Betapak tidak, ketika sekolah dapat menerapkan pembelajaran dari rumah demi mengurangi risiko paparan abu, ternyata tidak dan bagaimana mekanisme distribusi dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) saat kondisi lingkungan sedang tidak aman untuk mobilitas anak.

Persoalannya bukan pada penting atau tidak pentingnya makanan bergizi bagi anak. Justru sebaliknya, pemenuhan gizi anak tetap berharga (penting), termasuk dalam situasi bencana.

Bila peserta didik diminta belajar dari rumah karena kualitas udara dan paparan abu vulkanik, tetapi pada saat yang sama harus datang ke sekolah untuk mengambil paket MBG, di situlah muncul pertanyaan tentang konsistensi mitigasi.

Parahnya, anak diminta menjauhi paparan abu, tetapi untuk mendapatkan makanan bergizi harus kembali mendatangi lokasi yang sama. Perdebatan publik muncul. Salah satunya datang dari akun Ahmad Tsauri yang diunggahan dalam media sosial 5 jam lalu dan melewat beranda yang mempertanyakan kondisi “Paradoks Negeri Sarang Penyamun”.

Unggahan itu mendapat ribuan (3,6 rb) penayangan, ratusan (629) komentar, dan dibagikan ulang oleh 373 pengguna facebook. “Banyak sekolah di Jabar yang daring, belajar dari rumah. Tapi MBG harus tetap diambil. Siswa bisa menghindari bahaya abu vulkanik tapi tidak bisa menghindari bahaya MBG,” 

Komentar lain justru mempertanyakan mengapa pengambilan MBG masih harus dilakukan di sekolah ketika pembelajaran sudah diarahkan dari rumah.  "Ngambil MBG masih harus kesekolah ⁉ Aturan makin aneh,, MBG harus tetap berjalan meski gunung meletus, dan apapun itu tidak boleh MBG di stop" dari akun Muarif

Terlepas dari pro dan kontra itu persoalan mendasarnya jangan sampai kebijakan yang baik berjalan tanpa menyesuaikan keadaan di lapangan. Pendidikan, gizi anak penting dan keselamatan jauh lebih penting.

Siswa menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disalah satu SD Negeri Kota Cimahi, Selasa 14 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Siswa menyantap hidangan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disalah satu SD Negeri Kota Cimahi, Selasa 14 Juli 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Walhasil, saat bencana datang, yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankan program, melainkan memastikan cara pelaksanaannya tetap aman, nyaman dan bermanfaat.

Tentunya, MBG tidak harus berhenti hanya karena terjadi erupsi. Tetapi mekanisme distribusinya semestinya dapat beradaptasi. Bila anak harus belajar dari rumah, distribusi makanan bergizi idealnya dipikirkan agar tidak mengharuskan anak pergi ke lingkungan yang sedang terpapar abu.

Ingat, substansi dari kebijakan publik itu menghadirkan perlindungan, bukan sekadar memastikan program tetap berjalan aman dan terkendali.

Pagi itu Kakang hanya tahu masker dipakai karena ada abu vulkanik dan belum memahami bagaimana abu bisa masuk ke saluran pernapasan. Tak mengerti soal pemerintah mengambil keputusan ketika bencana terjadi. Belum memahami perdebatan alot tentang PJJ dan MBG.

Rupanya, dari segala pertanyaan sederhananya, orang dewasa justru mendapatkan pelajaran berharga. Setiap bencana mengajarkan ihwal keselamatan tidak boleh berhenti pada imbauan semata. Justru harus hadir dalam keputusan sehari-hari.

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik harus selalu bertemu dengan kenyataan di lapangan.

Dengan demikian, dalam keadaan normal, membawa anak ke sekolah untuk belajar dan menerima makanan bergizi menjadi bagian dari ikhtiar bersama menghadirkan generai terbaik. Di antara abu vulkanik, masker, sekolah, dan MBG itu sesungguhnya kita sedang belajar tentang keselamatan manusia harus menjadi pusat dari setiap kebijakan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Saat asyik mencari referensi soal ini, tiba-tiba Aa Akil memanggil, "Bah, kalau masker untuk dipakai sekolah besok disimpan di mana, ya?"

“Eta di rak buku, A!” Cag ah

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)