Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan
Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)

Satu bulan yang lalu, saya mendarat di tanah air setelah merampungkan tugas KKN di Malaysia. Satu hal yang paling saya nantikan adalah suasana hangat di rumah. Malam itu, bersama beberapa mahasiswa lain, kami berkumpul di Masjid Palagan, menanti penjemputan keluarga. Waktu terus merambat larut, hingga seorang tukang ojek pangkalan mendekat.

"Neng, bade ngojek atau dijemput?" tanyanya ramah.

"Moal Mang, nuju ngantosan jemputan," jawabku sopan.

Bapak itu lantas bertanya ke mana tujuan rumah saya. "Itu di Pakuwon, Mang," jawab saya. Seketika, dia tertawa kecil—bukan tawa yang mengejek, namun tawa penuh pemakluman. "Oh, Pakuwon ... anu jalana rusak téa, nya?" Bapak itu kemudian pergi, seakan memang tak mau mengantar ke jalanan yang rusak. Bukan hanya itu, bahkan kalau saya pulang-pergi kuliah, pengemudi ojek online lebih memilih jalan lain dibanding harus melewati jalan yang kondisinya seperti kubangan itu. Mereka rela memutar melalui jalan sempit dibanding harus merusak kendaraan mereka.

Ada rasa sesak yang tertahan di dada. Saya ingin marah, ingin membela diri, namun saya sadar itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Jalan menuju Pakuwon memang bukan lagi sekadar akses transportasi; ia telah menjadi simbol pengabaian. Ia bukan sekadar lubang, melainkan rintangan ekonomi yang memaksa warga untuk mencari jalan memutar yang lebih jauh.

Bukan Sekadar Rusak, Tapi Ancaman Nyawa

Lebih dari sekadar kendaraan yang rusak, ada ancaman yang jauh lebih nyata bagi kami yaitu keselamatan jiwa. Jalanan yang hancur membuat kita tidak bisa melaju cepat, apalagi di malam hari dengan minim penerangan. Kondisi inilah yang sering dimanfaatkan pelaku kriminal. Sudah bukan rahasia lagi kalau jalan rusak di Pakuwon ini sering menjadi tempat begal beraksi. Mereka menunggu pengendara yang melambat karena menghindari lubang, lalu menjadikan kami mangsa di tengah kegelapan.

Padahal, ingatan kami masih sangat segar. Pada tanggal 9 Mei 2026, Bupati Sukabumi datang meninjau langsung ke lokasi. Dengan langkah pasti, beliau menyusuri titik demi titik kerusakan, mendengarkan keluh kesah warga, dan memberikan pernyataan yang sempat memercikkan harapan: "Pembangunan ruas jalan ini akan dilaksanakan dua bulan ke depan."

Kini, sudah sebulan berlalu sejak janji itu terucap. Namun, alih-alih melihat alat berat yang mulai bekerja, yang kami temukan hanyalah "penelitian titik ruas" yang entah sudah sampai di mana progresnya. Mungkin, durasi dua bulan yang dijanjikan itu memang menjadi waktu yang dibutuhkan untuk matangnya perencanaan. Namun, sebagai warga, kami berharap waktu tersebut tidak habis terbuang di atas kertas saja.

Spanduk yang dibuat oleh warga sebagai pengingat terhadap janji bupati. (Sumber: Google)
Spanduk yang dibuat oleh warga sebagai pengingat terhadap janji bupati. (Sumber: Google)

Beban Industri dan Tambal Sulam yang Sia-sia

Kita harus realistis melihat penyebabnya. Jalanan ini tiap hari dilewati truk-truk besar dari pabrik sekitar, sementara konstruksi jalannya sendiri sudah tidak kuat menahan beban seberat itu. Sayangnya, selama ini perbaikan yang dilakukan hanya sebatas tambal sulam. Aspalnya tipis, tidak dibeton dengan benar, dan sistem saluran airnya juga bermasalah. Hasilnya sudah bisa ditebak. Baru saja diperbaiki, kena hujan deras sedikit dan dilewati truk lagi, aspalnya langsung terkelupas dan lubang jalan muncul lagi di tempat yang sama. Kalau begini terus, dana yang dipakai untuk tambal sulam seolah terbuang sia-sia.

Sebagai warga, kita juga perlu mengingat bahwa sesuai UU No. 40 Tahun 2007, setiap perusahaan yang beroperasi dan berdampak pada lingkungan memiliki kewajiban menyalurkan dana CSR. Harusnya, sinergi antara pemerintah dan sektor industri bisa membuahkan solusi yang lebih permanen daripada sekadar tambal sulam yang memboroskan anggaran.

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Sebagai warga yang terdampak langsung, kita akan terus memantau pergerakannya. Semoga janji dua bulan itu benar-benar menjadi awal dari perubahan, bukan sekadar penantian yang hilang ditelan debu jalanan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)