Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

3 menit baca
Nenah Haryati
Ditulis oleh Nenah Haryati diterbitkan Rabu 17 Jun 2026, 15:27 WIB
Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)

Satu bulan yang lalu, saya mendarat di tanah air setelah merampungkan tugas KKN di Malaysia. Satu hal yang paling saya nantikan adalah suasana hangat di rumah. Malam itu, bersama beberapa mahasiswa lain, kami berkumpul di Masjid Palagan, menanti penjemputan keluarga. Waktu terus merambat larut, hingga seorang tukang ojek pangkalan mendekat.

"Neng, bade ngojek atau dijemput?" tanyanya ramah.

"Moal Mang, nuju ngantosan jemputan," jawabku sopan.

Bapak itu lantas bertanya ke mana tujuan rumah saya. "Itu di Pakuwon, Mang," jawab saya. Seketika, dia tertawa kecil—bukan tawa yang mengejek, namun tawa penuh pemakluman. "Oh, Pakuwon ... anu jalana rusak téa, nya?" Bapak itu kemudian pergi, seakan memang tak mau mengantar ke jalanan yang rusak. Bukan hanya itu, bahkan kalau saya pulang-pergi kuliah, pengemudi ojek online lebih memilih jalan lain dibanding harus melewati jalan yang kondisinya seperti kubangan itu. Mereka rela memutar melalui jalan sempit dibanding harus merusak kendaraan mereka.

Ada rasa sesak yang tertahan di dada. Saya ingin marah, ingin membela diri, namun saya sadar itu adalah fakta yang tak terbantahkan. Jalan menuju Pakuwon memang bukan lagi sekadar akses transportasi; ia telah menjadi simbol pengabaian. Ia bukan sekadar lubang, melainkan rintangan ekonomi yang memaksa warga untuk mencari jalan memutar yang lebih jauh.

Bukan Sekadar Rusak, Tapi Ancaman Nyawa

Lebih dari sekadar kendaraan yang rusak, ada ancaman yang jauh lebih nyata bagi kami yaitu keselamatan jiwa. Jalanan yang hancur membuat kita tidak bisa melaju cepat, apalagi di malam hari dengan minim penerangan. Kondisi inilah yang sering dimanfaatkan pelaku kriminal. Sudah bukan rahasia lagi kalau jalan rusak di Pakuwon ini sering menjadi tempat begal beraksi. Mereka menunggu pengendara yang melambat karena menghindari lubang, lalu menjadikan kami mangsa di tengah kegelapan.

Padahal, ingatan kami masih sangat segar. Pada tanggal 9 Mei 2026, Bupati Sukabumi datang meninjau langsung ke lokasi. Dengan langkah pasti, beliau menyusuri titik demi titik kerusakan, mendengarkan keluh kesah warga, dan memberikan pernyataan yang sempat memercikkan harapan: "Pembangunan ruas jalan ini akan dilaksanakan dua bulan ke depan."

Kini, sudah sebulan berlalu sejak janji itu terucap. Namun, alih-alih melihat alat berat yang mulai bekerja, yang kami temukan hanyalah "penelitian titik ruas" yang entah sudah sampai di mana progresnya. Mungkin, durasi dua bulan yang dijanjikan itu memang menjadi waktu yang dibutuhkan untuk matangnya perencanaan. Namun, sebagai warga, kami berharap waktu tersebut tidak habis terbuang di atas kertas saja.

Spanduk yang dibuat oleh warga sebagai pengingat terhadap janji bupati. (Sumber: Google)
Spanduk yang dibuat oleh warga sebagai pengingat terhadap janji bupati. (Sumber: Google)

Beban Industri dan Tambal Sulam yang Sia-sia

Kita harus realistis melihat penyebabnya. Jalanan ini tiap hari dilewati truk-truk besar dari pabrik sekitar, sementara konstruksi jalannya sendiri sudah tidak kuat menahan beban seberat itu. Sayangnya, selama ini perbaikan yang dilakukan hanya sebatas tambal sulam. Aspalnya tipis, tidak dibeton dengan benar, dan sistem saluran airnya juga bermasalah. Hasilnya sudah bisa ditebak. Baru saja diperbaiki, kena hujan deras sedikit dan dilewati truk lagi, aspalnya langsung terkelupas dan lubang jalan muncul lagi di tempat yang sama. Kalau begini terus, dana yang dipakai untuk tambal sulam seolah terbuang sia-sia.

Sebagai warga, kita juga perlu mengingat bahwa sesuai UU No. 40 Tahun 2007, setiap perusahaan yang beroperasi dan berdampak pada lingkungan memiliki kewajiban menyalurkan dana CSR. Harusnya, sinergi antara pemerintah dan sektor industri bisa membuahkan solusi yang lebih permanen daripada sekadar tambal sulam yang memboroskan anggaran.

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Sebagai warga yang terdampak langsung, kita akan terus memantau pergerakannya. Semoga janji dua bulan itu benar-benar menjadi awal dari perubahan, bukan sekadar penantian yang hilang ditelan debu jalanan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Nenah Haryati
Tentang Nenah Haryati
Mahasiswa yang hobi mengamati sisi lain kehidupan sehari-hari, terutama yang dialami Generasi Z.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jun 2026, 20:29

Di Balik Publikasi Digital Program Operasi Katarak Gratis

Analisis publikasi digital program operasi katarak gratis Summarecon Agung dalam melihat konsistensi pesan, strategi komunikasi, dan pengelolaan citra perusahaan melalui berbagai media

Penulis sedang menganalisis teknik penulisan Summarecon Agung Tbk dari tiga platform.
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 20:09

Tamasya ke Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih, Oase Hijau di Tengah Kota Surabaya

Taman Harmoni dan Hutan Bambu Keputih Surabaya merupakan bekas TPA yang disulap menjadi ruang terbuka hijau dengan taman tematik dan fasilitas rekreasi.

Taman Harmoni & Hutan Bambu Keputih jadi tempat wisata favorit di Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Linimasa 17 Jun 2026, 19:12

Hikayat Taman Alun-alun Regol, Dari Bantaran Sungai Tempat Pembuangan Sampah Menjadi Tumpuan UMKM Hingga Tak Terawat

Kisah Alun-alun Regol Bandung yang berubah dari bantaran sungai penuh sampah menjadi ruang publik lalu mulai meredup.

Alun-alun Regol, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 19:09

Toponimi Lembang (Bagian 2)

Dengan mempelajari ilmu Toponimi kita jadi lebih tahu akar sejarah sebuah kawasan, termasuk sejarah Lembang.

Kartu pos yang memperlihatkan suasana Lembang tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 18:01

Mampukah Mahasiswa Menjaga Konsentrasi Belajar dari Distraksi Media Sosial?

Media sosial bisa jadi teman belajar atau justru pengganggu konsentrasi. Tulisan ini membahas cara mahasiswa tetap fokus dan produktif tanpa harus meninggalkan dunia digital.

Ilustrasi gangguan media sosial. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 17:30

Rupiah Melemah, BBM Naik: Ibulah yang Paling Dulu Merasakan Dampaknya

Rupiah melemah, BBM naik, dan biaya hidup kian mencekik. Ibulah yang paling dulu merasakan dampaknya. Lalu, apa akar persoalan sebenarnya?

Ilustrasi pasar kaget. (Sumber: Pexels | Foto: AHMAD GHANI)
Wisata & Kuliner 17 Jun 2026, 17:05

Itinerary 1–2 Hari Surabaya: Telusur Sejarah, Kuliner Legendaris, dan Wajah Baru Kota Pahlawan

Rekomendasi itinerary Surabaya untuk 1–2 hari, mulai Tugu Pahlawan, Ampel, hingga kuliner legendaris.

Balai Kota Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:58

Seni sebagai Perlawanan: Dari Raden Saleh ke Era Digital

Peran seni sebagai perlawanan, baik pada masa Raden Saleh maupun era digital saat ini.

Ilustrasi lukisan karya Raden Saleh dan seni modern. (Sumber: istimewa)
Bandung 17 Jun 2026, 16:44

Menghidupkan Ekosistem F&B Lewat Industry Night 2026, Saat Komunitas dan Kolaborasi Menjadi Kunci Bertahan

Dinamika industri F&B kini tidak lagi sekadar bicara soal persaingan menu viral atau estetika visual semata, melainkan bergeser ke arah kekuatan kolektif yang digerakkan oleh komunitas.

Di Industry Night, batas-batas kompetisi dilebur menjadi energi positif yang mendorong lahirnya koneksi, inspirasi baru, serta pertumbuhan usaha yang berkelanjutan secara bersama-sama. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 16:33

Hubungan Dagang Banten dan Lampung dalam Perniagaan Lada Abad ke-17

Menengok kembali sejarah perdagangan lada abad ke-17 di Banten dan Lampung.

Ilustrasi gambar lada. (Sumber: disbun.kaltimprov.go.id)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:47

Topeng Banjet : Warisan Budaya yang Mulai Tergerus Waktu

Kesenian Topeng Banjet yang ada sejak awal abad ke-20 merupakan kesenian tradisional yang berasal dari Karawang.

Topeng Banjet merupakan kesenian tradisional khas Karawang, Jawa Barat. (Sumber: Wonderful Indonesia)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 15:27

Geliat Industri vs Infrastruktur Sukabumi Utara: Jalan Pakuwon Mendesak untuk Dibenahi

Kami memahami bahwa perbaikan total membutuhkan waktu, namun kami tidak bisa terus hidup dalam ketidakpastian dan ancaman bahaya.

Ilustrasi peta Kabupaten Sukabumi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:48

Membangun Stigma Positif Kesadaran Kolektif dalam Pajak

Narasi tentang pajak, sering kali menjadi stigma negatif dalam kehidupan sosial. Apa karena masyarakat masih berpikir stereotip, atau tata kelola pajak yang dianggap kurang adil.

Ilustrasi mengurus pajak. (Sumber: Pexels/Mikhail Nilov)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 13:27

Sebelum Selebgram Ada Japanisasi: Propaganda Kecantikan dari 1943

Ketika iklan makeup dijadikan daya tarik propaganda pada masa Pendudukan Jepang 1942-1945.

Iklan Bedak Virgin dalam majalah Djawa Baroe edisi 15 Juli 1945 (Sumber: Website : universiteitleiden.nl)
Beranda 17 Jun 2026, 08:59

Cerita Pekerja Informal yang Ngalong di Tengah Cuaca Dingin Kota Bandung yang Kian Menggigit

Cerita para pekerja informal di Bandung yang terpaksa "ngalong" demi mencari nafkah di tengah cuaca Kota Bandung yang kian menggigit.

Di tengah udara dingin yang menggigit, Raja tetap setia berjualan cilok kuah hingga menjelang subuh di kawasan Dago Cikapayang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 08:01

Maradona, Malvinas, Juni dan Bandung

Sebuah memori siaran pertandingan Piala Dunia 1986 yang memunculkan legenda sepak bola dunia Maradona serta serunya masyarakat Bandung menonton saat itu

Ilustrasi Maradona. (Sumber: Flickr | Foto: Diego3336)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 07:12

Ambisi di Balik Coretax

Sistem Coretax dirilis untuk menyatukan 19 proses bisnis pajak lama.

Ilustrasi web coretax DJP. (Sumber: Pexels | Foto: Cottonbro Studio)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:34

Nama Geografis yang Bersumber dari Alat dan Cara Memasak

Toponimi telah mengabadikan kata yang produktif digunakan di suatu daerah, pada saat nama geografis itu diberikan.

Gentong untuk menampung air bersih masih terus dibuat oleh para pembuat gerabah. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 17 Jun 2026, 06:05

Maraknya Juru Parkir Liar di Minimarket: Cermin Lemahnya Manajemen Parkir di Perkotaan

Maraknya juru parkir liar di minimarket bukan sekadar soal uang parkir, tetapi cerminan lemahnya manajemen parkir, kepastian hukum, dan pelayanan publik di perkotaan.

Ilustrasi Juru Parkir. (Sumber: Pemkot Bandung)
Ayo Biz 16 Jun 2026, 18:21

Kausalitas Daring yang Menggerakkan Dapur KebabFactory.id

Dinamika digitalisasi perbankan yang menjaga dapur UMKM tetap ngebul.

Pegawai sedang menyiapkan pesanan konsumen kedai KebabFactory.id di Jalan Kihiur 4, Cihapit, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)