Bagi jutaan penggemar sepak bola di seluruh dunia, ajang Piala Dunia tahun 1986 menjadi panggung lahirnya salah satu legenda terbesar sepanjang masa, Diego Armando Maradona alias Maradona. Di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, Piala Dunia 1986 juga meninggalkan kenangan tersendiri. Pada masa itu, masyarakat hanya mengandalkan TVRI sebagai satu-satunya stasiun televisi nasional yang menyiarkan pertandingan. Keterbatasan teknologi justru menciptakan kebersamaan dan antusiasme yang sulit ditemukan pada era modern saat ini.
Ketika itu Si Hebat dari Argentina Maradona datang ke Piala Dunia 1986 dengan beban segunung. Argentina sangat berharap kepadanya setelah penampilanya tidak memuaskan pada Piala Dunia sebelumnya tahun 1982. Maradona harus keluar lapangan pada menit ke-85 di pertandingan putaran kedua Piala Dunia 1982 itu saat menghadapi musuh bebuyutannya Brasil yang sudah unggul 3-1. Maradona menerima kartu merah akibat menendang paha pemain Brasil Joao Batista.
Lebih dari sekadar sepak bola, Argentina secara bangsa sedang tersayat. Negara tersebut baru saja keluar dari masa kediktatoran militer yang kelam dan masih merasakan kepedihan mendalam akibat kalah dalam Perang Malvinas atau Falkland melawan Inggris pada tahun 1982. Maradona datang ke Meksiko bukan hanya untuk bermain bola. Ia membawa beban sejarah, harga diri bangsa, dan dendam kolektif sebuah negara di pundaknya.Pertandingan perempat final melawan Inggris di Stadion Azteca bukan lagi sekadar laga sepak bola; itu adalah pertempuran geopolitik yang dipindahkan ke atas lapangan hijau. Dan dalam durasi empat menit di babak kedua, Diego Maradona menciptakan dua momen paling ikonik dalam sejarah olahraga sejagat.
Tampil lagi di Piala Dunia tahun 1986 dengan emosi yang stabil, Maradona mengggebrak semua keraguan penyuka sepak bola dengan permainan luar biasa, licin dan cepat seperti singa laut di Malvinas yang membuat dunia berdecak kagum. Sebagai kapten tim, Maradona tidak hanya menjadi pengatur serangan, tetapi juga motor permainan Argentina. Kemampuannya menggiring bola, membaca permainan, mengoper umpan dengan akurat, dan mencetak gol membuatnya menjadi pemain yang sangat sulit dihentikan lawan.
Sepanjang turnamen tersebut , Maradona tampil konsisten dan menjadi inspirasi bagi rekan-rekannya seperti Jorge Burruchaga, Jorge Valdano dan N Pumpindo. Ia mampu membawa Argentina melewati berbagai rintangan hingga mencapai partai final. Banyak pengamat sepak bola menyebut penampilan Maradona di Piala Dunia 1986 sebagai salah satu performa individu terbaik dalam sejarah sepakbola.
Pertandingan bersejarah melawan Inggris merupakan salah satu pertandingan yang paling dikenang dalam sejarah Piala Dunia terjadi pada babak perempat final ketika Argentina menghadapi Inggris. Laga ini memiliki muatan emosional yang tinggi karena hubungan kedua negara masih dipengaruhi oleh konflik Perang Falkland dimana tentara Argentina menyerah bulan Juni tahun 1982.
Dalam pertandingan tersebut, Maradona menciptakan dua gol yang sangat terkenal. Gol pertama dikenal sebagai "Tangan Tuhan" atau "Hand of God". Dalam situasi perebutan bola di depan gawang Inggris, Maradona menggunakan tangan kirinya untuk menyentuh bola ke gawang. Wasit tidak melihat pelanggaran tersebut sehingga gol dinyatakan sah. Setelah pertandingan, Maradona mengatakan bahwa gol itu dicetak "sedikit dengan kepala Maradona dan sedikit dengan tangan Tuhan."
Namun, gol kedua jauh lebih mengagumkan. Maradona menerima bola dari tengah lapangan lalu menggiringnya melewati lima pemain Inggris sebelum mengecoh penjaga gawang dan mencetak gol. Aksi tersebut memperlihatkan kecepatan, keseimbangan, teknik, dan keberanian yang luar biasa. FIFA kemudian menyebut gol tersebut sebagai "Goal of the Century" atau Gol Abad Ini. Gol itu menjadi simbol kehebatan Maradona yang sulit ditandingi oleh pemain lain. Hingga kini, rekaman gol tersebut masih sering diputar dan dipelajari oleh pecinta sepak bola di seluruh dunia.
Argentina terus meluncur sampai ke final. Pada pertandingan puncak, mereka menghadapi Jerman Barat yang dikenal memiliki mental juara dan organisasi permainan yang kuat. Final berlangsung sangat menegangkan saling mengejar skor. Argentina sempat unggul 2-0, tetapi Jerman Barat berhasil menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan, Maradona menunjukkan kualitasnya sebagai jenderal lapangan. Ia memberikan umpan matang kepada Jorge Burruchaga yang menjadi gol kemenangan Argentina dengan skor 3-2 dan resmi menjadi juara dunia tahun 1986. Maradona mengangkat trofi Piala Dunia sebagai kapten tim dan namanya langsung masuk dalam daftar pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.

Diego Maradona, pemain Argentina menjadi pemain terbaik dalam turnamen edisi ini, dan Gary Lineker, pemain Inggris menjadi pencetak gol terbanyak dengan 6 gol. Bola resmi pertandingan untuk edisi ini adalah bola buatan Adidas, yang diberi nama Azteca, yang dalam disesuaikan dengan budaya masyarakat setempat, sementara maskot resmi adalah Pique. Lagu resmi turnamen kali ini adalah lagu yang dibawakan penyanyi Stephanie Lawrence, berjudul A Special Kind of Hero.
Saat TVRI menjadi media elektronik satu-satunyanya di Indonesia, khususnya di Kota Bandung, Piala Dunia 1986 menjadi peristiwa yang sangat dinantikan masyarakat termasuk oleh penulis yang baru benar-benar serius menonton Pila Dunia sejak tahun tersebut. Pada masa itu belum ada televisi swasta seperti sekarang. TVRI menjadi satu-satunya saluran televisi yang dapat dinikmati masyarakat. Tidak semua keluarga memiliki televisi. Harga televisi masih relatif mahal bagi sebagian besar masyarakat. Akibatnya, banyak warga berkumpul di rumah tetangga, balai warga, pos ronda, atau tempat umum yang memiliki televisi atau menonton di toko elektronik seperti di kawasan Cicadas, Kosambi dan Sukajadi.
Suara komentator TVRI sering menjadi pusat perhatian. Meskipun kualitas siaran tidak setajam televisi modern, masyarakat tetap menikmati setiap momen pertandingan. Bahkan gangguan teknis justru menjadi bagian dari kenangan yang selalu diceritakan kembali oleh generasi yang mengalaminya. Di beberapa kampung di Bandung, warga membawa tikar dan makanan ringan untuk dinikmati bersama selama pertandingan berlangsung. Suasana kebersamaan seperti ini memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu menyatukan berbagai kalangan masyarakat.

Teknologi penyiaran telah berkembang pesat. Kini pertandingan dapat ditonton melalui televisi digital, internet, telepon pintar, bahkan layanan streaming berkualitas tinggi. Namun bagi masyarakat Bandung yang mengalami era tersebut, kenangan menonton Maradona di layar TVRI tetap memiliki tempat istimewa. Suasana berkumpul bersama tetangga, menunggu siaran dimulai, memperbaiki antena, hingga bersorak ketika Argentina mencetak gol adalah pengalaman yang sulit tergantikan. Piala Dunia 1986 bukan hanya tentang kemenangan Argentina atau kehebatan Maradona. Turnamen itu juga menjadi bagian dari sejarah sosial masyarakat Indonesia, ketika satu saluran televisi mampu menyatukan jutaan penonton dalam kegembiraan yang sama.
Penampilan gemilang Maradona membuat banyak anak muda Bandung menjadikannya sebagai idola. Di lapangan-lapangan sepak bola kampung, banyak anak yang mencoba meniru gaya menggiring bola dan gerakan khas pemain Argentina tersebut. Nama Maradona sering terdengar dalam pertandingan antar kampung. Banyak pemain muda yang bercita-cita menjadi "Maradona Bandung". Bahkan ada yang sengaja membiarkan rambutnya sedikit panjang atau mengenakan nomor punggung 10 seperti sang legenda. Bagi generasi muda saat itu, Maradona bukan hanya seorang pesepak bola. Ia adalah simbol keberanian, kreativitas, dan semangat pantang menyerah. Kehebatannya menginspirasi banyak orang untuk mencintai sepak bola lebih dalam. (*)
