Badai Belum Berlalu, Nasib Kelas Menengah Kian Pilu

5 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Mahasiswa di berbagai kota bergerak serentak karena prihatin dengan kondisi bangsanya yang sarat dengan salah urus tata kelola pemerintahan. Menjamurnya korupsi dan perilaku boros penyelenggara negara dari tingkat pusat hingga daerah semakin membuat kecewa mahasiswa. Kondisinya semakin diperparah oleh nilai tukar rupiah yang merosot dan kenaikan harga-harga yang kian mencekik masyarakat.

Merebaknya aksi unjuk rasa mahasiswa pada prinsipnya merupakan bentuk keresahan kelas menengah di negeri ini. Mereka resah karena nasibnya berada di ujung tanduk dan bisa jatuh masuk jurang kemiskinan. Apalagi kelas menengah di negeri ini tidak mendapatkan insentif apapun, berbeda dengan kelompok miskin yang setidaknya sudah masuk dalam program jaring pengaman sosial dan mendapatkan bantuan sosial

Berbagai penyesuaian kebijakan seperti suku bunga acuan dan harga energi memicu tekanan tambahan bagi daya beli kelompok ini.Kondisi kelas menengah kini banyak yang dikategorikan rentan sejahtera alias tidak berada di bawah garis kemiskinan, namun memiliki risiko tinggi untuk turun kelas.

Akar masalah karena kegagalan pemerintah untuk menciptakan pasar tenaga kerja untuk kelas menengah yang berkualitas. Ironisnya semakin banyak kelas menengah yang profesinya merebut lapangan kerja kelas bawah. Akibatnya banyak kelas menengah yang penghasilannya di tepi jurang kemiskinan.

Jumlah kelas menengah di Indonesia pada tahun 2025 tercatat sebanyak 46,7 juta jiwa. Angka ini menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya karena banyaknya masyarakat yang mengalami penurunan kesejahteraan.

Secara makro, sejumlah proyek infrastruktur nasional ternyata tidak banyak menyerap lapangan kerja formal yang mestinya menjadi segmen kelas menengah. Bahkan, investasi yang tercatat lebih besar ke sektor padat modal.Kondisi lima tahun terakhir masih memprihatinkan. Elastisitas serapan tenaga kerja untuk kelas menengah per satu persen pertumbuhan ekonomi Indonesia, menurut Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya menyerap kurang dari 250 ribu tenaga kerja. Ironisnya, angka ini jauh lebih rendah dibandingkan elastisitas serapan tenaga kerja untuk kelas menengah pada 10 tahun lalu yang mencapai 500 ribu tenaga kerja.

Berdasarkan laporan Mandiri Institute bertajuk "Demographic Insights: Dinamika Kelas Menengah di 2025" terjadi penurunan jumlah kelas menengah berkurang sekitar 1,1 hingga 1,2 juta jiwa, dari yang sebelumnya 47,9 juta orang pada tahun 2024 menjadi 46,7 juta orang pada tahun 2025.

Persentase kelas menengah terhadap total penduduk nasional ikut tergerus dari 17,1 persen  pada tahun 2024 menjadi 16,6 persen pada tahun 2025. Jika ditarik sejak tahun 2019 (saat jumlahnya mencapai 57,33 juta jiwa), populasi kelas menengah Indonesia telah menyusut lebih dari 10 juta orang dalam waktu 6 tahun terakhir.

Pertumbuhan Ekonomi Kurang Berkualitas

Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Kota Bandung, Senin 15 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Kenaikan harga kebutuhan dasar, perumahan, kesehatan, serta biaya pendidikan yang tidak sebanding dengan pertumbuhan pendapatan merupakan penyebab utama. Tingginya jumlah pekerja di sektor informal tanpa adanya bantalan risiko (seperti jaminan kehilangan pekerjaan) membuat masyarakat rentan langsung jatuh miskin saat terjadi guncangan ekonomi.

Tidak sedikit angkutan online yakni tukang ojek online, sopir taksi dan logistik online yang tergolong kelas menengah karena berpendidikan tinggi. Masih banyak jenis lapangan kerja kelas bawah yang direbut oleh kelas menengah. Hal ini merupakan indikator bahwa pertumbuhan ekonomi selama ini tidak berkualitas karena tidak mampu mencetak lapisan kelas menengah yang tangguh dalam jumlah yang banyak.

Kondisinya semakin mengenaskan karena pemerintah telah menghapus ketentuan tentang upah sektoral lewat omnibus law Undang-Undang Cipta Kerja. Dengan dihapuskannya ketentuan tentang upah sektoral, maka jenis-jenis pekerjaan upahnya dipukul rata untuk semua daerah.  Akibatnya jenis-jenis pekerjaan kelas menengah yang selama ini boleh dikata adalah primadona lapangan kerja kondisinya terdegradasi. Seperti misalnya upah pekerja sektor pertambangan, manufaktur padat teknologi,dan industri kreatif.

Menurut ketentuan yang dianut dunia, Indonesia bisa menjadi negara maju pada 2030 jika memiliki klasifikasi sebagai negara berpendapatan tinggi (High Income Country/HIC) dengan pendapatan perkapita 15 ribu dollar AS. Untuk itu dibutuhkan kelas menengah yang mampu mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang stabil tinggi dengan sumber pertumbuhan yaitu sektor manufaktur yang tangguh dan bernilai tambah tinggi.

Nyatanya, kondisi industri pengolahan besar dan senang akhir-akhir ini mengalami stagnasi bahkan ada yang terjadi pertumbuhan negatif. Padahal Sektor industri pengolahan atau manufacturing industry mestinya menjadi andalan dalam perekonomian Indonesia dan bisa menyerap lapangan kerja kelas menengah secara signifikan.

Sangat menyedihkan ternyata pasar tenaga kerja di Indonesia untuk jenjang pekerja profesional menengah hingga tinggi juga tidak membaik. Berdasarkan laporan Salary Survey yang dilansir Robert Walters Indonesia, periode pemerintahan Jokowi mestinya bisa mendorong masuknya berbagai investasi asing yang akhirnya melahirkan banyak perusahaan baru yang menyerap tenaga kerja dengan job yang layak, termasuk perusahaan rintisan (startup) di berbasis teknologi digital. Namun itu tidak terjadi. Pengangguran berlatar pendidikan tinggi semakin banyak, SDM berpendidikan tinggi yang notabene adalah kelas menengah justru banyak merebut lapangan kerja kelas bawah.

Untuk mencetak kelas menengah yang tangguh perlu belajar dari Tiongkok yang jumlah penduduknya mencapai 1,4 miliar jiwa, jauh lebih besar ketimbang jumlah penduduk negeri kita. Padahal, neraca sumber daya alamnya masih dibawah Indonesia. Dunia mengakui bahwa keadilan sosial bagi bangsa Tiongkok hampir terwujud. Hal itu ditandai dengan dinamika  dan pertumbuhan kelas menengah yang luar biasa. Kelas menengah di sana punya peran signifikan untuk mewujudkan keadilan sosial. Sekitar tahun 2000-an Tiongkok memiliki sekitar 350 juta warga kelas menengah, dan saat ini sudah tumbuh berkali lipat jumlahnya.

Padahal, pada tahun 1990-an Cina masih tergolong miskin dengan produk domestic bruto (PDB) per kapita di bawah 1.000 dollar AS. Kini keadilan sosial bangsa Tiongkok telah terwujud. Menempatkan negeri itu menjadi pasar terbesar dunia mengalahkan Amerika Serikat.  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Totok Siswantara
Penulis lepas, pemulia tanaman, lulusan Program Profesi Insinyur
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 17:07

Mengapa Kampanye Mi Nyemek Jogja Mudah Diingat?

Menganalisis bagaimana Mi Nyemek Ala Jogja Rasa Rendang dipublikasikan dengan pesan yang konsisten, sehingga informasi produk dapat diterima publik secara luas dan jelas.

Ilustrasi mie nyemek Jogja. (Sumber: Youtube | Foto: DewiRistiyaniKitchen)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 16:00

Dari Kasus Penebangan Pohon hingga Persib-Persija, Isu Menarik Pekan Ini untuk Ayo Netizen

Bagi penulis Ayo Netizen yang masih mencari ide segar, berikut beberapa isu yang layak diangkat dalam beberapa hari ke depan.

Lokasi pohon-pohon yang diduga ditebang tanpa izin pemerintah. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 15:02

Mengapa Kampanye Jumbo Mudah Diingat? Jawabannya Ada pada Konsistensi Pesan

Kolaborasi antara Fore Coffe dan film animasi Jumbo menjadi salah satu strategi pemasaran yang menarik untuk di teliti karena menghadirkan pengalaman yang baru bagi konsumen.

Ilustrasi kampanye film Jumbo yang masih tetap konsisten sampai saat ini. (Istimewa)
Sejarah 03 Agu 2026, 13:10

Sejarah Peuyeum Ketan Kuningan, Tradisi Fermentasi yang jadi Identitas Daerah

Peuyeum ketan Kuningan lahir dari tradisi kampung, berkembang menjadi oleh-oleh populer, dan tetap mempertahankan proses fermentasi tradisional.

Peuyeum atau tape ketan Kuningan.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 12:38

Momentum Agustus 2026: Saatnya Menggali Cerita dari Kemerdekaan hingga Budaya Bandung

Bulan Agustus selalu menghadirkan banyak momentum yang layak dijadikan bahan tulisan.

Sejumlah ibu rumah tangga mengikuti berbagai lomba 17 Agustus di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 10:05

Mengenang Acara Radio Favorit GANESHA IWAN FALS (GIF)

Lagu-lagu Iwan Fals menyebar dari kaset, panggung konser, hingga gelombang radio.

Sosok musisi legendaris Iwan Fals menghiasi berbagai halaman depan tabloid dan majalah musik populer sepanjang era 1990-an. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)