Karya Purbakala di Hari Purbakala: Sambung Menyambung Tentang Kota Bandung

7 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan
Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)
Sebuah gua alami yang menyimpan situs purbakala, Gua Pawon. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Nuryahya64)

Tanggal berdirinya Oudheidkundige Dienst (Dinas Purbakala) pada 14 Juni 1913 diperingati sebagai Hari Purbakala. Artinya, kita telah terlewat satu hari untuk merayakan Hari Purbakala ke-113 tahun. Katanya sih, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, ya kan? Sebagai seorang yang menepuk dada dan mengaku purbakalawan atau yang dikenal juga sebagai arkeolog, peringatan ini terasa relevan untuk meninjau kembali sejauh mana sebuah kota dapat dibaca melalui kacamata ilmu purbakala atau arkeologi ini.

Hampir 30 tahun tinggal di Bandung dan empat tahun di antaranya dihabiskan untuk bekerja mengurusi kebudayaan di pemerintahan kota, saya masih bisa merasakan adanya stigma lama dalam memandang arkeologi. Seolah ada garis yang menentukan bahwa arkeologi hanya terpaku pada candi-candi megah di pedalaman atau situs hunian prasejarah di gua-gua terpencil. Di ranah publik pun, pemahaman kita sering kali masih terjebak pada stereotip budaya populer: apakah arkeologi itu seputar dinosaurus, fosil, atau sekadar petualang bertopi koboi dengan pecut ala Indiana Jones? Asumsi-asumsi ini keliru dan mencerminkan bahwa jarak pengetahuan masih begitu lebar.

Kenyataannya, Bandung dengan segala dinamika urban dan lanskap sejarahnya sebenarnya telah lama menjadi lokus bagi kajian arkeologi perkotaan, industri, publik, hingga lanskap. Dan itulah pokok bahasan tulisan ini.

Latar belakang saya yang berkuliah di Arkeologi UI membuat akses pada karya ilmiah dari para mahasiswanya lebih mudah saya himpun. Oleh karenanya dalam tulisan ini saya memfokuskan diri untuk menguraikan berbagai karya mahasiswa Arkeologi UI yang berlokus di Kota Bandung. Berdasarkan penelusuran yang saya lakukan dari basis data tersebut, setidaknya terdapat 23 karya dari tingkat S-1 maupun pascasarjana yang menjadikan wilayah Bandung Raya sebagai lokus penelitian mereka. Namun, agar sesuai dengan wilayah kerja kantor saya, beberapa hasil penelitian tersebut tidak dibahas lebih dalam karena lokus geografisnya berada di luar wilayah administratif Kota Bandung.

Karya-karya tersebut meliputi tesis Lutfi Yondri (2005) berjudul “Kubur Prasejarah Temuan Dari Gua Pawon Desa Gunung Masigit, Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat”, skripsi Anton Ferdianto (2009) berjudul “Artefak Obsidian Dari Gua Pawon, Kabupaten Bandung, Jawa Barat”, skripsi Amdi Ariefianto (2013) berjudul “Perkebunan Teh Malabar, Pangalengan, Bandung Tahun 1890-1942, Sebagai Kajian Arkeologi Industri”, serta skripsi saya sendiri, Garbi Cipta Perdana (2019), berjudul “Rekonstruksi Lanskap Kabuyutan Bandung Utara”. Sementara itu, 19 sisa karya lainnya menunjukkan keragaman tema yang membuktikan bahwa tinggalan masa lalu di Kota Bandung dapat dilihat dengan berbagai sudut pandang arkeologis.

Keragaman tema tersebut masuk dalam subdisiplin arkeologi perkotaan (urban archaeology) yang memandang kota sebagai palimpses—sebuah ruang hidup yang terus-menerus ditulis ulang di atas jejak fisik masa lalunya. Kajian arkeologi perkotaan berupaya mengupas lapisan demi lapisan materialitas tersebut. Di Kota Bandung sendiri, studi mengenai arsitektur kolonial menjadi salah satu tema yang mendominasi deretan karya yang berhasil dihimpun.

Firman Ahadi (2005) melalui skripsinya yang berjudul “Bangunan-Bangunan Pendidikan Di Kota Bandung Periode 1906-1942: Kajian Arkeologi Perkotaan” memetakan materialisasi politik etis dalam wujud ruang-ruang kelas secara mikro hingga hubungannya dengan wilayah permukiman secara semi-mikro. Ruang institusional bersejarah ditelaah lebih dalam oleh Ratna Yuli Wulandari (1991) lewat skripsi berjudul “Gedung Merdeka Bandung: Sebuah Telaah Sejarah Dan Arsitektural 1991”. Penelitian kni melacak sejarah gedung sejak masa Societeit Concordia sekaligus membuktikannya sebagai salah satu basis eksperimen gaya seni bangunan Indo-Eropa yang dirancang oleh Wolff Schoemaker pada era Parijs Van Java.

Aspek spasial dan morfologi bangunan juga mendapat perhatian dalam beberapa studi. Maharani Qadarsih (2009) menulis skripsi berjudul “Bangunan-Bangunan Sudut Di Bandung: Tinjauan Keletakan Dan Bentuk” yang secara kuantitatif mengelompokkan lima puluh bangunan sudut berdasarkan bentuk dan keletakannya di persimpangan jalan kota. Sementara itu, Dian Melur (2002) melakukan studi komparatif arsitektur melalui skripsi berjudul “Gedung Javansche Bank Batavia Dan Bandung Suatu Perbandingan Bentuk” yang melihat bagaimana perbedaan desain dilakukan pada wilayah berbeda.

Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Penanda lokasi Gua Pawon di kawasan Karst Citatah, Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Skripsi Albertus Napitupulu (2009) berjudul “Bentuk Dan Gaya GPIB Bethel Di Bandung” menyimpulkan bangunan sakral tersebut sebagai perpaduan gaya Eropa dan Nusantara yang dikenal sebagai arsitektur Indis. Pada objek rumah ibadah lain, Tommy Pratomo (2009) dengan skripsi berjudul “Gereja Tujuh Kedukaan Bunda Maria (Gereja Pandu) Bandung, Gaya Bangunan” secara spesifik mengidentifikasi penerapan gaya Neo-Gothic Eropa pada bangunan tersebut. Kajian menara ini diperluas dalam konteks regional oleh Febrika Widharini Widyaka (2015) melalui skripsi berjudul “Menara Gereja Protestan Tahun 1901-1942 Di Jakarta, Bandung, Semarang, Dan Surabaya” yang membandingkan menara berkarakteristik Indis dan Art Deco dari segi dimensi, ornamen, hingga keberadaan jam atau lonceng.

Arkeologi juga tidak hanya berbicara tentang monumen atau gedung besar milik negara, tetapi juga menyentuh ruang domestik, hiburan, dan transportasi masyarakat urban. Perkembangan ruang permukiman komersial dibahas oleh Melati Cahya Pratiwi (2020) dalam skripsi berjudul “Perkembangan Pemukiman Kolonial Kawasan Jalan Braga Bandung (1894-1938)” yang memetakan pengaruh letak strategis kawasan di antara stasiun dan Jalan Raya Pos terhadap persebaran bangunan pertokoan hingga pabrik.

Lebih spesifik pada tipologi hunian privat, Nabila Khoirunnisa (2018) menyusun skripsi berjudul “Rumah Tinggal Masa Kolonial Awal Abad 20 Di Jalan Cipaganti, Bandung” untuk melihat bagaimana hunian kaum elit Eropa di sana menyerap pengaruh arsitektur tradisional Jawa Barat. Studi ini hampir sejenis dengan skripsi Ovi Ratna Dyah Kustanti (2016) yang membahas “Rumah Tinggal Masa Kolonial Belanda Di Cihapit Bandung Pada Awal Abad 20 Masehi” yang mengupas karakteristik bentuk bangunan tersendiri pada kawasan hunian masa itu. Ruang hiburan massal dan budaya populer pun ikut dipetakan oleh Khaesyar Nisfhan Akbar Rosadi (2020) lewat skripsi berjudul “Gaya Fasad-Fasad Bangunan Bioskop Di Jakarta Dan Bandung Abad Ke-20” yang melacak dinamika perubahan bentuk penampang jendela, ventilasi, dan ornamen bioskop berdasarkan faktor ruang dan periodisasi pendiriannya.

Tema mobilitas urban coba dipetakan melalui kajian arkeologi transportasi dan industri menggunakan sudut pandang yang lebih humanis. Muhammad Sayyid Nashrullah Rasmadi (2020) melalui skripsi berjudul “Halte-Halte Kereta Api Trem Di Kota Bandung Masa Kolonial: Kajian Arkeologi Lanskap” melangkah melampaui urusan fisik rel dengan membedah bagaimana masyarakat memaknai efisiensi waktu tempuh dan kestrategisan fasilitas transportasi tersebut dalam ruang kognitif mereka.

Ada juga Diannisa Nur Rahma (2021) melalui skripsi berjudul “Bentuk-Bentuk Bangunan Kantor Pusat Staatsspoor En Tramwegen Di Bandung: Perspektif Kebudayaan Dan Lingkungan” yang melakukan analisis komparatif dengan kantor di Utrecht untuk membantikan adanya sebelas karakteristik adaptasi arsitektur tropis guna menyiasati perbedaan iklim nusantara yang menurunkan kenyamanan gaya bangunan Eropa asli.

Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)
Foto Gua Pawon antara tahun 1920-1932. (Sumber: Tropenmuseum)

Tinggalan berupa objek komunikasi dan informasi pun dianalisis dalam dua pendekatan yang berbeda. Dyorisky Otto Kusumo (2017) melalui skripsi berjudul “Kantor Pos Besar Bandung, Tahun 1931-1959: Kajian Arkeologi Industri” melihat peningkatan kapasitas layanan pos di Alun-alun sebagai bukti dinamika kebutuhan komunikasi sekaligus pembentuk tatanan kelas sosial baru di masyarakat berdasarkan jabatan kerja.

Di sisi lain, Zamzam Zamakhsyary Ar Razby (2015) menggeser fokus ke ranah New Museology lewat tesisnya yang berjudul “Membangun Memori Kolektif Di Museum Pos Indonesia Bandung”. Penelitian ini menawarkan rekonstruksi pameran di sayap kompleks Gedung Sate dari yang semula pasif-tradisional menjadi pendekatan konstruktivis-partisipatori yang kaya alur cerita demi merangsang memori kolektif pengunjung tentang sejarah perposan.

Masih dalam lingkup museologi dan analisis koleksi, Aditya Natifa (2009) mengkaji aspek representasi keilmuan melalui skripsi berjudul “Museum Geologi Bandung: Suatu Tinjauan Terhadap Tata Pamer Museum Di Ruang Pamer Sejarah Life” untuk merumuskan model tata pamer yang lebih komunikatif dan apresiatif bagi publik. Sedangkan analisis langsung terhadap artefak koleksi museum dilakukan oleh R. Syarifah Alwiah (2000) lewat skripsi berjudul “Analisis Pedang Masa Kolonial Koleksi Museum Sejarah Dan Museum Negeri Sri Baduga, Bandung” yang mengklasifikasikan atribut fisik bilah dan gagang pedang guna menyusun kronologi serta memetakan lima fungsi penggunaan pedang, mulai dari senjata perang hingga pelengkap busana pria.

Selain itu, ada juga karya yang membahas objek tinggalan dari hunian tertua di wilayah utara kota. Adalah Iis Sumiati (2004) dalam skripsi berjudul “Artefak Obsidian Dari Situs Dago, Bandung, Jawa Barat” yang telah berhasil menyusun tipologi dasar dari 2.285 sampel batu obsidian ke dalam kelompok bahan baku, alat pakai seperti serut dan gurdi, hingga sisa limbah batu inti.

Tidak kalah penting dari itu semua, penataan tata kota secara makro dikaji secara apik oleh Hana Kamila Fauziyah (2021) dalam skripsi berjudul “Pola Persebaran Bangunan Perkantoran Di Bandung Tahun 1810-1940”. Penelitian ini menyingkap fakta unik di balik dominasi mutlak pembangunan gedung perkantoran di wilayah utara Jalan Raya Pos yang mencapai 85,71 persen. Lewat pendekatan geologis, ia membuktikan bahwa struktur tata ruang birokrasi ini dipengaruhi oleh kondisi tanah utara yang jauh lebih kering dan padat, berbeda dengan wilayah selatan Bandung yang cenderung berlumpur karena merupakan jejak endapan dari Danau Bandung Purba.

Keragaman tema dari deretan karya yang disebutkan di atas memberikan simpulan penting bahwa arkeologi memiliki perangkat metodologi yang luwes untuk membedah materialitas masa lalu, baik yang berusia ribuan tahun maupun yang berasal dari abad ke-20. Melalui deretan karya ini, kita ditunjukkan bahwa setiap elemen—mulai dari pecahan batu obsidian prasejarah di Dago, sudut bangunan kolonial, fasad bioskop, persepsi pengguna halte trem, hingga batasan geologis Danau Purba yang mendikte letak kantor pemerintah—adalah data material yang menyimpan narasi berharga untuk dipelajari, dan mungkin, dapat diteladani. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Garbi Cipta Perdana
archaeologist by training, philosopher by practice, living by laughing, Bapak Lir Bumi Niskala by destiny

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)