200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)

200 Ikon Bandung adalah tulisan yang saya angkat untuk bulan September ini, karena di bulan inilah kota kita tercinta ini genap berusia 216 tahun yang jatuh pada tanggal 25 September 2026. Tulisan-tulisan ini saya ambil berdasarkan buku 200 Ikon Bandung yang diterbitkan oleh harian umum Pikiran Rakyat pada 25 September 2020, ketika Bandung genap berusia 200 tahun.

Kali ini saya ingin memperkenalkan ikon-ikon Bandung yang telah tiada, telah berhenti beroperasi atau telah berpulang. Kali ini saya akan memperkenalkan satu tokoh yang menjadi panutan saya, sebetulnya banyak sekali ikon Bandung yang berupa tokoh ternama, seperti Kang Ibing, Harry Roesli, Mang Koko, Haryoto Kunto, Barli Sasmitawinata atau sang fenomenal Darso. Namun, entah kenapa pilihan saya tertuju pada satu nama tokoh yaitu Karmaka Surjaudaja.

Saya dibesarkan dalam keluarga (terutama keluarga ibu) yang multietnis dan beragam kepercayaan. Kakek saya adalah seorang “Hibrid” dari Wong Kalang dan Keraton Kanoman, yang memiliki kepercayaan Kejawen, namun pada akhirnya memeluk Katolik karena menikah dengan seorang wanita Tionghoa Cirebon (nenek saya), namun ibu dan saya dibesarkan dalam ajaran muslim, sehingga di dalam rumah kami begitu semarak. Salah satu kisah tokoh Tionghoa yang sering dikisahkan kakek adalah tentang Karmaka Surjaudaja, seorang panutan untuk terus berjuang tanpa henti, keluarga kami saat itu sama-sama menjadi korban banjir besar di Bandung pada 24 November 1945. 

Saat itu wilayah kota Bandung terendam air cukup tinggi karena jebolnya pintu air Cikapundung oleh sabotase dalam masa agresi. Rumah keluarga besar saya di Suniaradja terendam hingga genting, dan rumah keluarga Karmaka di Jalan Homann pun ikut terendam. Kami semua warga saling membantu, bahkan para sipir lapas Banceuy pun ikut mengevakuasi warga Gang Apandi yang terkena dampak paling parah.

Karmaka yang memiliki nama asli Kwee Tjie Hoei lahir pada 29 April 1934. Pada usia 10 bulan ia dibawa oleh ibunya berlayar dari daratan Tiongkok menuju Majalaya, Jawa Barat. Sesampainya di Sunda Kalapa, Batavia, mereka sempat bertahan berhari-hari karena sang bayi sakit, penyakit sang bayi dianggap berbahaya oleh pemerintah kolonial saat itu, takut membawa virus dari luar. Namun, ayah dan kawan-kawan sang ayah udunan hingga terkumpul 500 gulden sebagai uang jaminan untuk sang bayi.

Ayah Karmaka adalah seorang kepala sekolah di sekolah Tionghoa di Bandung yang bernama Kwee Tjie Tjoen. Tak lama menjadi kepala sekolah, sang ayah pun membuka pabrik tekstil. Dengan penghasilan yang cukup baik, ia mampu menghidupi istri dan anak-anaknya.
Saat itu memasuki musim perang, dan pasukan pun saling serang, hingga pintu air Cikapundung pun jebol yang menyebabkan rumah Karmaka terendam air, dan Keluarga Karmaka harus bertahan 3 hari, 3 malam menahan lapar dan haus. Akhirnya mereka tinggal di sebuah gudang restoran Cina, mereka mendapatkan makanan sisa dari restoran tersebut.

Saat itu ibu Karmaka membantu memasak dan mencuci piring, lalu menjajakan kue-kue basah keliling Braga, Suniaraja, Cibantar, Banceuy dan alun-alun. Mereka adalah keluarga pekerja keras, hingga Karmaka tetap bisa terus bersekolah. Dan keluarga besar kakek adalah saksi hidup mereka, hingga kakek selalu menceritakan sepak terjang dari kerja keras keluarga Karmaka tersebut sebagai motivasi.

Karmaka adalah anak yang sangat bertanggung jawab, ia bisa menghidupi adik-adiknya, ia pernah menjadi guru les, karyawan pabrik kain, malam mengajar les, pagi hingga sore menjadi buruh pabrik. Namun dari sanalah ia banyak belajar, terus belajar tanpa henti.

Selama ia menjadi guru les, ia berkenalan dengan muridnya, Liem Kwei Ing. Ia adalah anak dari Liem Khe Tjie, pemilik bank swasta tertua di Indonesia yang berdiri tahun 1941, yakni Nederlandsch Indische Spaar En Deposito Bank (NISP). Lalu mereka menikah pada 1959.

Pada tahun 1963 mertua Karmaka menelepon dari Hongkong, memberi tahu bahwa ia diminta untuk menyelamatkan Bank NISP, karena disinyalir terdapat penyelewengan dana di dalamnya. Ujian pertama Karmaka sebetulnya baru dimulai, ia hanyalah lulusan SMA dan minim pengalaman di sektor perbankan tiba-tiba menjadi pimpinan di lembaga keuangan formal. Namun karena tekad dan kejujuran yang ia junjung tinggi, kini NISP sukses melewati ujian dan tetap bertahan. Lalu kini NISP telah tumbuh besar dan menjelma menjadi OCBC NISP.

Kini, Karmaka Surjaudaja telah meninggal dunia pada 17 Februari 2020, penerusnya adalah anak ketiga beliau. Namun, kisahnya selalu menjadi motivasi, bahwa kejujuran dan tekad untuk berbuat baik adalah sebuah senjata yang sangat ampuh untuk sukses dan bertahan.

Pada tahun 2015, kisah kehidupan Karmaka Surjaudaja diangkat menjadi film layar lebar, dengan judul Love and Faith yang dibintangi oleh Rio Dewanto dan Laura Basuki dan disutradarai oleh Benny Setiawan.

Semoga kisah Karmaka ini dapat memberikan inspirasi dan dapat melahirkan Karmaka-Karmaka lainnya, karena negeri ini sedang sangat membutuhkan tokoh kejujuran dan ketulusan dalam berkarya, dalam berkehidupan. 

Dari kisah Karmaka ini saya pun banyak mengambil hikmahnya, saya pecinta sejarah yang sama sekali tidak menginjakkan kaki di dunia perkuliahan tentang sejarah, bahkan saya terlahir disleksia, namun saya percaya pada takdir yang hidup dengan jujur dan tulus pasti Tuhan memberikan jalan terbaiknya bagi hamba yang mau berusaha dan terus berbuat baik. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)