Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

11 menit baca
R.M.A. Ahmad Said Widodo
Ditulis oleh R.M.A. Ahmad Said Widodo diterbitkan
Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)

Pemanfaatan lahan gambut yang baik harus mengutamakan prinsip keberlanjutan dan perlindungan ekosistem. Langkah ini dilakukan dengan menjaga lahan tetap basah melalui pengelolaan hidrologi yang ketat. Selain itu, budidaya komoditas ramah gambut seperti paludikultur dapat meningkatkan ekonomi masyarakat tanpa merusak fungsi alami lingkungan di sekitarnya.

Sebaliknya, pemanfaatan lahan gambut yang buruk sering kali melibatkan pengeringan massal melalui kanalisasi. Praktik destruktif ini membuat gambut menjadi kering, mudah terbakar dan melepaskan emisi karbon dalam jumlah besar. Akibatnya, bencana kabut asap tahunan terjadi dan memicu kerusakan keanekaragaman hayati yang sulit dipulihkan.

Artikel ini akan mengupas tuntas dualisme pemanfaatan lahan gambut tersebut secara mendalam. Melalui perbandingan dampak positif dan negatifnya, pembaca dapat memahami pentingnya menjaga kelestarian ekosistem unik ini. Pemahaman tersebut diharapkan mampu mendorong kebijakan pengelolaan lahan yang lebih bijaksana demi masa depan bumi kita.

Jenis Bahan Gambut

Lahan gambut diklasifikasikan menjadi 3 (tig)a jenis utama berdasarkan tingkat kematangan atau penguraian bahan organik di dalamnya, yaitu fibrik, hemik dan saprik. Perbedaan tingkat dekomposisi ini sangat memengaruhi karakteristik fisik, warna dan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Memahami ketiga jenis ini sangat penting untuk menentukan metode pengelolaan lahan yang tepat dan berkelanjutan.

Gambut fibrik merupakan jenis yang paling mentah karena tingkat penguraiannya masih sangat rendah atau belum matang. Pada jenis ini, sisa-sisa tumbuhan asli seperti akar, daun dan batang masih terlihat jelas dan mudah diidentifikasi. Gambut fibrik memiliki warna yang cenderung terang, bertekstur kasar dan memiliki kemampuan menyimpan air yang sangat tinggi.

Gambut hemik memiliki tingkat penguraian sedang atau setengah matang, berada di antara jenis fibrik dan saprik. Sebagian sisa tumbuhan sudah hancur, namun sebagian kecilnya masih bisa dikenali secara kasat mata. Jenis ini berwarna cokelat lebih gelap, bertekstur agak halus dan memiliki kapasitas menahan air serta unsur hara yang cukup seimbang.

Gambut saprik adalah jenis gambut yang telah mengalami penguraian paling lanjut atau sudah matang sepenuhnya. Sisa-sisa tumbuhan asli sudah hancur total dan tidak dapat dikenali lagi, sehingga membentuk lapisan tanah yang homogen. Gambut saprik berwarna cokelat sangat gelap hingga hitam, bertekstur paling halus dan memiliki kandungan karbon yang sangat tinggi.

Gambut Phragmites adalah jenis tanah organik padat yang terbentuk dari akumulasi sisa-sisa rumput gelagah (Phragmites australis) dan vegetasi rawa lainnya yang terurai sebagian di lahan basah. Tanah ini kaya bahan organik, memiliki kemampuan menahan air yang tinggi, namun memiliki sifat konsolidasi yang buruk sehingga kurang stabil untuk fondasi infrastruktur.

Kegunaan Bahan Gambut

Akuarium air tawar

Gambut bermanfaat untuk akuarium air tawar karena mampu melunakkan air, bertindak sebagai penukar ion, serta mendukung kesehatan reproduksi ikan dan pertumbuhan tanaman. Selain ideal bagi ikan dasar seperti Corydoras, kandungan taninnya efektif mencegah alga dan membunuh mikroorganisme, meskipun dapat mengubah warna air menjadi kekuningan atau kecokelatan.

Bahan bakar

Gambut dapat digunakan sebagai bahan bakar setelah dikeringkan. Secara tradisional, gambut dipotong dengan tangan dan dibiarkan mengering di bawah sinar matahari. Di banyak negara, termasuk Irlandia dan Skotlandia, gambut secara tradisional ditumpuk untuk dikeringkan di daerah pedesaan dan digunakan untuk memasak serta pemanasan rumah tangga. Tradisi ini dapat ditelusuri hingga zaman Romawi.

Balneoterapi

Gambut banyak digunakan dalam balneoterapi (penggunaan mandi untuk mengobati penyakit). Banyak perawatan spa tradisional menggunakan gambut sebagai bagian dari peloid. Perawatan kesehatan semacam ini memiliki tradisi panjang di negara-negara Eropa, termasuk Polandia, Republik Ceko, Jerman dan Austria. Beberapa spa tua tersebut berasal dari abad ke-18 dan masih aktif hingga sekarang. Jenis aplikasi gambut yang paling umum dalam balneoterapi adalah lumpur gambut, tapal dan mandi suspensi.

Metalurgi

Lahan basah gambut juga pernah memiliki arti penting dalam metalurgi, karena merupakan sumber utama besi rawa yang digunakan untuk membuat pedang dan zirah pada Abad Pertengahan Awal.

Mitigasi banjir

Banyak rawa gambut di sepanjang pantai Malaysia (Sabah dan Serawak) berfungsi sebagai sarana alami mitigasi banjir, dengan limpasan air diserap oleh gambut, selama hutan masih ada untuk mencegah kebakaran gambut.

Pertanian

Royal Botanic Gardens Kew melarang penggunaan gambut sejak 2003 karena tidak ramah lingkungan. Meski alternatif seperti kulit kayu dan sabut kelapa mulai populer di Inggris, gambut masih dipakai di Eropa, Kanada, dan AS. Analisis terbaru membuktikan wadah gambut mengonsumsi energi 35% lebih besar dan memiliki jejak karbon 4,5 kali lipat dibanding wadah plastik.

Paludikultur dipandang oleh kalangan ilmiah (akademis) sebagai salah satu solusi paling berkelanjutan untuk merestorasi sekaligus memanfaatkan lahan gambut secara produktif. Konsep pertanian ini berfokus pada budidaya tanaman tanpa mengeringkan lahan (tanpa drainase), sehingga ekosistem gambut tetap basah alami.

Jenis Tanaman yang Cocok untuk Paludikultur di Lahan Gambut

Secara akademis, tanaman yang cocok untuk paludikultur mutlak harus memiliki kemampuan adaptasi tinggi terhadap kondisi jenuh air (tahan genangan) dan tingkat keasaman tanah yang tinggi. Tanaman lahan kering seperti kelapa sawit, karet dan kopi liberika tidak termasuk dalam praktik paludikultur murni karena tetap membutuhkan drainase. Berikut adalah pengelompokan jenis tanaman paludikultur yang direkomendasikan:

Praktik pertanian paludikultur di lahan gambut mengintegrasikan berbagai jenis tanaman yang adaptif terhadap kondisi jenuh air, yang terbagi ke dalam 4 (empat) kategori komoditas utama dengan nilai ekonomi tinggi.

Pada kategori tanaman pangan, komoditas utama didominasi oleh sagu (Metroxylon sagu) yang berperan penting sebagai penghasil karbohidrat utama, penyokong bahan pangan lokal, sekaligus komoditas tepung untuk memasok sektor industri. Selain sagu, terdapat tanaman nanas yang menjadi pilihan ideal sebagai tanaman buah semusim karena sifatnya yang sangat adaptif terhadap ekosistem rawa gambut sekaligus mampu memberikan perputaran nilai ekonomi yang cepat bagi petani.

Beralih ke hasil hutan bukan kayu (HHBK), lahan gambut menjadi tempat tumbuh yang subur bagi purun (Eleocharis dulcis). Tanaman sejenis rumput teki-tekian ini memiliki nilai ekonomi tinggi setelah diolah menjadi bahan baku anyaman dan berbagai kerajinan tangan bernilai seni. Selain purun, komoditas HHBK lain yang sangat potensial adalah rotan (Calamus spp.), yang menjadi pilar penting dalam memasok bahan baku industri furnitur dan produk kerajinan tangan.

Untuk sektor tanaman kehutanan atau kayu industri, ekosistem gambut ditanami oleh pohon-pohon lokal berkayu komersial. Salah satunya adalah jelutung rawa (Dyera polyphylla) yang dimanfaatkan ganda sebagai penghasil getah untuk industri permen karet atau kosmetik dan menghasilkan kayu berkualitas tinggi. Ada pula pohon galam (Melaleuca cajuputi) yang daunnya disuling menjadi minyak kayu putih berkhasiat, sementara batang kayunya sangat laku di pasaran sebagai tiang pancang bangunan. Selain itu, vegetasi hutan seperti meranti rawa (Belangeran) dimanfaatkan sebagai kayu komersial keras untuk bahan konstruksi sekaligus tanaman inti untuk restorasi ekologi gambut, berdampingan dengan ramin (Gonystylus bancanus), yakni pohon lokal bernilai tinggi penghasil kayu konstruksi kokoh dan furnitur mewah.

Terakhir, pada kategori tanaman obat dan kosmetik, komoditas yang dikembangkan meliputi lidah buaya, sebuah tanaman hortikultura yang adaptif dan sangat dicari oleh industri kosmetik maupun manufaktur minuman segar. Melengkapi kategori ini, terdapat gaharu (Aquilaria beccariana) yang menjadi primadona komoditas karena kemampuannya menghasilkan gubal wewangian beraroma khas dengan nilai jual yang sangat tinggi di pasar internasional.

Pandangan Ilmiah dan Akademis terhadap Paludikultur

Para peneliti dan akademisi (seperti dari BRIN dan berbagai universitas) mendukung penuh metode ini karena beberapa alasan ekologis dan ekonomi penting:

  1. Mitigasi perubahan iklim dan karbon, drainase konvensional pada lahan gambut memicu dekomposisi cepat dan melepaskan emisi karbon (CO₂) dalam jumlah masif. Studi menunjukkan agroforestri berbasis paludikultur dengan pengelolaan air yang tepat mampu menekan emisi karbon secara signifikan hingga mencapai kisaran 0–15 tCO₂-ekuivalen/ha/tahun.
  2. Pencegahan kebakaran hutan, menjaga gambut tetap basah berfungsi seperti "spons alami". Pendekatan akademis membuktikan bahwa mempertahankan kejenuhan air akan meminimalisasi risiko kebakaran bawah tanah yang selama ini menjadi ancaman musiman di Indonesia.
  3. Penyelamatan biodiversitas, paludikultur menggunakan spesies lokal/endemik rawa gambut, sehingga membantu mengembalikan habitat satwa liar dan keanekaragaman hayati yang rusak akibat monokultur lahan kering.
  4. Keberlanjutan ekonomi jangka panjang, secara akademis, praktik ini dipandang berkontribusi langsung pada beberapa Sustainable Development Goals (SDGs) PBB, meskipun tantangan riset saat ini masih berkutat pada penguatan rantai pasok pasarnya agar bisa menyaingi komoditas lahan kering.

Pembangkit Listrik Tenaga Gambut

Secara akademis dan ilmiah, pandangan terhadap Pembangkit Listrik Tenaga Gambut (PLTGambut atau PLTU Gambut) sangat kontroversial dan cenderung dipandang negatif, terutama dalam konteks keberlanjutan lingkungan dan perubahan iklim. Meskipun secara teknis gambut memiliki karakteristik pembakaran yang mirip dengan batu bara kalori rendah, mayoritas konsensus ilmiah global saat ini mendorong penghentian (phasing out) penggunaan gambut sebagai bahan bakar. Secara rinci, berikut adalah analisis perspektif ilmiah mengenai pembangkit listrik tenaga gambut:

Status Klasifikasi Energi yang Ambigu

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) tidak mengategorikan gambut sebagai sumber energi terbarukan. Secara biologis, gambut memang berasal dari biomassa (tanaman yang membusuk secara anaerobik). Namun, proses pembentukan lapisan gambut membutuhkan waktu ribuan tahun. Karena laju ekstraksi untuk pembangkit listrik jauh lebih cepat daripada laju regenerasi alaminya, komunitas akademis mengklasifikasikan eksploitasi gambut berskala besar sebagai bentuk penambangan energi tak terbarukan yang tidak berkelanjutan.

Analisis Daur Hidup dan Dampak Iklim (LCA)

Studi Life Cycle Assessment (LCA) terhadap pembangkit listrik gambut—seperti yang diteliti di Irlandia, Finlandia dan Rwanda—menunjukkan dampak lingkungan yang masif dari hulu ke hilir. Nilai emisinya mencakup beberapa fase kritis:

  • Kerusakan carbon sink, untuk menambang gambut, lahan basah harus dikeringkan (drainage). Ketika air dikeluarkan, mikroba aktif mengurai bahan organik dan mengubah lahan yang tadinya menyerap karbon menjadi sumber emisi CO₂ raksasa.
  • Intensitas emisi pembakaran tinggi, saat dibakar di dalam boiler pembangkit listrik, karbon yang tersimpan selama ribuan tahun terlepas ke atmosfer. Riset menunjukkan bahwa emisi gas rumah kaca per megawatt-hour (MWh) dari pembakaran gambut setara atau bahkan lebih tinggi daripada batu bara. Gas karbon dioksida (CO₂) mendominasi hingga sekitar 80% dari total emisi gas buang pembangkit tersebut.

Kendala Teknis dan Efisiensi Energi

Dari sudut pandang teknik energi, gambut dinilai sebagai bahan bakar yang kurang efisien karena beberapa faktor fisis:

  • Kadar air tinggi, gambut segar memiliki kadar air yang sangat tinggi (bisa mencapai 40-50% atau lebih). Pembangkit listrik membutuhkan energi tambahan yang besar hanya untuk proses pengeringan awal sebelum gambut dapat dibakar secara stabil.
  • Kadar abu tinggi, gambut memiliki kandungan mineral dan abu sedimentasi yang relatif tinggi. Hal ini dapat mempercepat korosi dan penumpukan kerak pada pipa boiler pembangkit, sehingga meningkatkan biaya perawatan.

Ancaman Ekologis Tambahan

Selain masalah iklim global, komunitas akademik menyoroti dampak buruk berskala lokal:

  • Kerusakan hidrologi, pengeringan rawa gambut secara permanen merusak siklus air wilayah sekitarnya, memicu risiko banjir di musim hujan dan kekeringan ekstrem di musim kemarau.
  • Risiko kebakaran, lahan gambut yang kering akibat penambangan sangat rentan terhadap kebakaran bawah tanah (subsurface fire) yang sulit dipadamkan dan memicu polusi kabut asap beracun.
  • Kehilangan biodiversitas, lahan gambut merupakan ekosistem unik yang menjadi rumah bagi flora dan fauna langka; ekstraksi berskala industri otomatis memusnahkan habitat tersebut.

Pembangkit Listrik Tenaga Gambut di Rusia

Di Rusia, pandangan akademis dan ilmiah mengenai Pembangkit Listrik Tenaga Gambut (PLTG) mengalami pergeseran paradigma dari warisan sejarah industri menjadi konsensus ekologis. Komunitas akademis Rusia umumnya terbagi menjadi dua pandangan utama: kritik ekologis (arus utama) yang menentang pembakaran gambut karena dampak iklim dan kelompok teknokratis lokal yang melihat potensi pemanfaatan gambut terbatas dengan teknologi modern. Berikut adalah penjelasan detail mengenai pandangan ilmiah akademisi Rusia terkait PLTG:

Perspektif Ekologi dan Iklim (Pandangan Arus Utama)

Mayoritas ilmuwan Rusia, seperti para peneliti dari Institute of Forest Science dari Russian Academy of Sciences dan berbagai universitas besar seperti St Petersburg University, memandang PLTG sebagai ancaman lingkungan yang serius.

  • Pelepasan emisi karbon masif, lahan gambut mencakup lebih dari 8% wilayah Rusia dan merupakan penyimpan karbon terestrial terbesar. Akademisi Rusia menekankan bahwa mengeringkan lahan gambut untuk bahan bakar akan melepaskan miliaran ton CO2 ke atmosfer, yang bertentangan dengan target aksi iklim global.
  • Krisis kebakaran hutan dan smog, pembakaran gambut secara historis menyisakan jutaan hektare lahan gambut yang kering dan terbengkalai. Akademisi menunjuk pada bencana kebakaran hebat di Moskow tahun 2010 sebagai bukti nyata bahaya pengeringan lahan gambut. Oleh karena itu, fokus ilmiah Rusia saat ini telah bergeser total dari ekstraksi bahan bakar ke proyek penghidupan kembali lahan gambut (rewetting) untuk mencegah kebakaran.

Perspektif Teknis dan Sejarah Industri

Secara historis, gambut adalah tulang punggung modernisasi Uni Soviet melalui program elektrifikasi Lenin (rencana GOELRO), di mana pada tahun 1929 gambut memasok lebih dari 40% listrik negara. Pembangkit listrik gambut terbesar di dunia seperti Shatura di Moskow dan pembangkit di Kirov lahir dari era ini.

  • Kehilangan daya saing, industri ini mengalami penurunan drastis sejak tahun 1980-an setelah ditemukannya cadangan gas alam dan minyak yang sangat murah dan melimpah di Siberia.
  • Pandangan akademisi ekonomi regional, meskipun secara nasional ditinggalkan, beberapa akademisi ekonomi daerah (misalnya di wilayah otonom Khanty-Mansi atau daerah terpencil di Far East) menilai gambut masih memiliki nilai strategis. Bagi wilayah-wilayah yang tidak terjangkau pipa gas alam, gambut dinilai dapat menjadi sumber energi lokal mandiri agar tidak bergantung pada pengiriman batu bara mahal.

Solusi Ilmiah yang Ditawarkan (Teknologi Pirolisis)

Bagi para akademisi teknik yang masih melihat potensi energi gambut, mereka sepakat, bahwa metode pembakaran konvensional (tradisional) harus dilarang total karena tingginya polusi udara dan limbah.

Sebagai gantinya, peneliti Rusia merekomendasikan penggunaan teknologi modern seperti pirolisis (pemanasan tanpa oksigen). Teknologi ini memungkinkan konversi gambut menjadi gas sintetis (syngas) atau bio-char secara lebih efisien dengan emisi udara yang jauh lebih rendah dan minim limbah serta dikombinasikan dengan konsep paludiculture (pertanian basah di lahan gambut).

Kesimpulan dan Tren Global

Secara akademis, pemanfaatan tanah gambut untuk pembangkit listrik dinilai tidak sejalan dengan target dekarbonisasi global. Sebagai dampaknya, negara-negara pelopor energi gambut mulai meninggalkan teknologi ini. Misalnya, Irlandia melalui perusahaan Bord na Móna telah menetapkan kebijakan untuk menghentikan operasional pembangkit listrik gambut secara bertahap demi memulihkan kembali lahan gambut sebagai area konservasi karbon.

Di Indonesia sendiri, riset akademis lokal lebih banyak diarahkan pada pemanfaatan gambut skala mikro-domestik (seperti briket skala rumah tangga pedesaan) atau pemanfaatan air gambut melalui prinsip elektrolisis/sel volta untuk menyalakan lampu skala kecil, alih-alih melakukan pengerukan tanah gambut secara masif untuk PLTU industri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)