Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

3 menit baca
Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba
Ditulis oleh Aldin Aldama Dosen Fikom Unisba diterbitkan
Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)

Cuaca Bandung saat ini mungkin sejuk dan langitnya masih relatif biru. Jauh dari bayangan langit oranye dan napas yang sesak oleh asap yang saat ini sedang dialami saudara-saudara kita di Papua dan Kalimantan. Secara geografis, kita memang aman. Namun, dalam era keterbukaan informasi hari ini, tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan.

Melalui layar ponsel, setiap hari kita disuguhi gambar hutan yang hangus dan satwa yang kehilangan rumah. Namun, sering kali respons kita berhenti pada rasa iba sesaat, lalu kita scroll ke konten berikutnya.

Sebagai warga Bandung, mungkin kita tidak bisa memanjat pohon untuk memadamkan api atau menerbangkan water bombing. Tapi, kita punya satu alat yang sangat kuat: Komunikasi. Dalam kacamata komunikasi, jarak fisik tidak seharusnya menciptakan jarak empati, ada hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai "komunikator" di Bandung untuk merespons krisis Karhutla.

Menentukan "Agenda" dengan Terus Membicarakannya

Dalam ilmu komunikasi, ada konsep Agenda Setting. Teori ini menjelaskan bahwa media dan publik akan menganggap sebuah isu itu "penting" jika isu tersebut terus-menerus dibicarakan.

Bahaya terbesar dari bencana yang terjadi jauh dari mata kita adalah out of sight, out of mind (tak terlihat, tak dipikirkan). Jika kita di Bandung diam saja, maka isu Karhutla akan kehilangan "nyawa" di ruang publik, dan tekanan kepada pemerintah untuk bertindak cepat pun akan mengendur. Mulailah dari obrolan di nongkrong, cuitan di media sosial, hingga diskusi di kelas atau kantor. Teruslah membicarakannya. Suara kita adalah pengingat bahwa hutan yang terbakar itu adalah paru-paru kita semua, bukan hanya milik mereka yang tinggal di sana.

Saat bencana terjadi, informasi palsu (hoaks) dan narasi yang menyesatkan sering kali ikut terbakar dan menyebar lebih cepat daripada apinya. Misalnya, narasi yang sering menyalahkan praktik bakar lahan tradisional warga lokal, padahal bisa jadi data menunjukkan penyebab utama karhutla adalah alih fungsi lahan untuk korporasi.

Sebagai warga Bandung yang melek digital, tugas komunikasi kita adalah saring sebelum sharing. Jangan hanya membagikan foto sedih yang memicu kepanikan. Bagikan informasi yang berdasar. Bagikan tautan dari lembaga tepercaya seperti Walhi, Greenpeace, atau data dari situs pemantau lingkungan. Ubah narasi dari sekadar "kasihan" menjadi "kritis". Kita bisa mengedukasi lingkaran pertemanan kita tentang akar masalah karhutla yang sebenarnya.

Komunikasi yang baik bukan tentang kita yang "berbicara untuk" mereka, melainkan kita yang "menggunakan platform kita untuk menguatkan suara" mereka.

Di Papua dan Kalimantan, ada masyarakat adat, relawan lokal, dan warga yang kehilangan mata pencaharian. Gunakan akun media sosial kita untuk melakukan repost, tag, dan campaign yang mendukung penggalangan dana tepercaya, petisi desakan kebijakan, atau laporan langsung dari relawan di lapangan. Jadikan timeline kita sebagai jembatan solidaritas. Tekanan digital dari warga kota besar seperti Bandung sering kali menjadi katalis bagi pemangku kebijakan untuk tidak menutup mata.

Keberanian untuk Tidak Diam

Jarak ratusan kilometer dari Bandung ke pedalaman Kalimantan atau Papua memang nyata. Tapi di dunia komunikasi digital, jarak hanyalah angka. Api mungkin bisa memadamkan rimbunnya hutan, tapi jangan biarkan apatis memadamkan kepedulian kita. Mari tunjukkan bahwa warga Bandung tidak hanya peduli pada macetnya jalan layang atau dinginnya udara Lembang, tetapi juga pada nasib hutan dan masa depan iklim negara ini.

Ketik satu caption, bagikan satu fakta, atau tag satu akun pemerintah. Karena terkadang, tindakan penyelamatan lingkungan dimulai dari satu pesan yang kita kirimkan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)