Cuaca Bandung saat ini mungkin sejuk dan langitnya masih relatif biru. Jauh dari bayangan langit oranye dan napas yang sesak oleh asap yang saat ini sedang dialami saudara-saudara kita di Papua dan Kalimantan. Secara geografis, kita memang aman. Namun, dalam era keterbukaan informasi hari ini, tidak ada lagi alasan untuk bersembunyi di balik ketidaktahuan.
Melalui layar ponsel, setiap hari kita disuguhi gambar hutan yang hangus dan satwa yang kehilangan rumah. Namun, sering kali respons kita berhenti pada rasa iba sesaat, lalu kita scroll ke konten berikutnya.
Sebagai warga Bandung, mungkin kita tidak bisa memanjat pohon untuk memadamkan api atau menerbangkan water bombing. Tapi, kita punya satu alat yang sangat kuat: Komunikasi. Dalam kacamata komunikasi, jarak fisik tidak seharusnya menciptakan jarak empati, ada hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai "komunikator" di Bandung untuk merespons krisis Karhutla.
Menentukan "Agenda" dengan Terus Membicarakannya
Dalam ilmu komunikasi, ada konsep Agenda Setting. Teori ini menjelaskan bahwa media dan publik akan menganggap sebuah isu itu "penting" jika isu tersebut terus-menerus dibicarakan.
Bahaya terbesar dari bencana yang terjadi jauh dari mata kita adalah out of sight, out of mind (tak terlihat, tak dipikirkan). Jika kita di Bandung diam saja, maka isu Karhutla akan kehilangan "nyawa" di ruang publik, dan tekanan kepada pemerintah untuk bertindak cepat pun akan mengendur. Mulailah dari obrolan di nongkrong, cuitan di media sosial, hingga diskusi di kelas atau kantor. Teruslah membicarakannya. Suara kita adalah pengingat bahwa hutan yang terbakar itu adalah paru-paru kita semua, bukan hanya milik mereka yang tinggal di sana.
Saat bencana terjadi, informasi palsu (hoaks) dan narasi yang menyesatkan sering kali ikut terbakar dan menyebar lebih cepat daripada apinya. Misalnya, narasi yang sering menyalahkan praktik bakar lahan tradisional warga lokal, padahal bisa jadi data menunjukkan penyebab utama karhutla adalah alih fungsi lahan untuk korporasi.
Sebagai warga Bandung yang melek digital, tugas komunikasi kita adalah saring sebelum sharing. Jangan hanya membagikan foto sedih yang memicu kepanikan. Bagikan informasi yang berdasar. Bagikan tautan dari lembaga tepercaya seperti Walhi, Greenpeace, atau data dari situs pemantau lingkungan. Ubah narasi dari sekadar "kasihan" menjadi "kritis". Kita bisa mengedukasi lingkaran pertemanan kita tentang akar masalah karhutla yang sebenarnya.
Komunikasi yang baik bukan tentang kita yang "berbicara untuk" mereka, melainkan kita yang "menggunakan platform kita untuk menguatkan suara" mereka.
Di Papua dan Kalimantan, ada masyarakat adat, relawan lokal, dan warga yang kehilangan mata pencaharian. Gunakan akun media sosial kita untuk melakukan repost, tag, dan campaign yang mendukung penggalangan dana tepercaya, petisi desakan kebijakan, atau laporan langsung dari relawan di lapangan. Jadikan timeline kita sebagai jembatan solidaritas. Tekanan digital dari warga kota besar seperti Bandung sering kali menjadi katalis bagi pemangku kebijakan untuk tidak menutup mata.

Keberanian untuk Tidak Diam
Jarak ratusan kilometer dari Bandung ke pedalaman Kalimantan atau Papua memang nyata. Tapi di dunia komunikasi digital, jarak hanyalah angka. Api mungkin bisa memadamkan rimbunnya hutan, tapi jangan biarkan apatis memadamkan kepedulian kita. Mari tunjukkan bahwa warga Bandung tidak hanya peduli pada macetnya jalan layang atau dinginnya udara Lembang, tetapi juga pada nasib hutan dan masa depan iklim negara ini.
Ketik satu caption, bagikan satu fakta, atau tag satu akun pemerintah. Karena terkadang, tindakan penyelamatan lingkungan dimulai dari satu pesan yang kita kirimkan. (*)