Cangkoréh Awi Ngarambat

7 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)

A 

Eeeh… bapa, awi ngarambat 

ngarambat mah ka kebon, kebon, bonteng 

bapa te mah geuningan ulah rek lepat 

ari kapincut mah eta kapincut ku jalan goreng 

…. 

(Eeeh… bapak, bambu merambat 

merambatnya ke kebun timun 

bapak janganlah berlaku salah 

tertarik oleh jalan buruk). 

***

Lengkingan suara pesinden legendaris Titim Fatimah (1929 -1995) asal Jalancagak, Subang, sangat popular pada tahun 1950-1060-an. Pementasan wayang golek, akan menjadi tontonan yang menyedot penggemarnya bila ada Titim Fatimah. Keterkenalannya melintasi batas-batas regional. Sering diundang Presiden RI pertama, Soekarno. Apalagi diudarakan melalui RRI (Radio Republik Indonesia), hingga nama dan lagunya menjadi lagu yang paling banyak dinyanyikan walau pun hanya penggalannya. Seperti lagu Awi Ngarambat, banyak dinyanyikan oleh pesinden lain dengan sedikit perubahan pada liriknya. Satu dari sekian banyak lagu yang sangat populer adalah lagu berjudul Awi Ngarambat. 

Lagu ini menjadi sangat populer, selain karena pesindennya Titim Fatimah, juga pendengarnya, para penggemarnya, merasa aneh ada bambu merambat segala, karena umumnya masyarakat hanya mengenal buluh bambu, bambu dengan batang-batang yang tegak tinggi, seperti bambu tali, bambu bitung, bambu haur, dan lain-lain.

Sedangkan awi ngarambat, bambu yang merambat, itu tidak banyak dikenal. Padahal, di Jawa Barat, seperti dinyanyikan pesinden Titim Fatimah, ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré. K Heyne (1927) menulis nama bambu ini awi cangkoréh (Dinochloa scandens).

Nama bambu merambat ini abadi menjadi nama geografis. Hal ini membuktikan, bahwa jenis bambu itu ada. Walau ada yang menyebut nama bambu ini awi cangkoréh, tapi tidak ada nama geografis Cangkoréh. Sebagai contoh, di Kabupaten Bandung, toponim Kampung Cangkoré ada di Desa Nangkakoneng, Kecamatan Cikidang. Di Kabupaten Sumedang, ada Cangkoré di Desa Genteng, Kecamatan Sukasari. Di Kabupaten Sukabumi, toponim Kampung Cicangkoré yang berada di Desa Cisarua, Kecamatan Nagrak. Juga Kampung Cangkoré ada di Desa Sukarame, Kecamatan Cisolok. Dan Pasir Cangkoré ada di Desa Lembahsari, Kecamatan Cikalong Kulon. Di Kabupaten Majalengka ada Pasir Cangkoré di Desa Cintaasih, Kecamatan Cingambul. Di Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten, ada Kampung Cangkoré di Desa Rancaseneng, Kecamatan Cikeusik. Di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ada Kampung Cangkoré yang termasuk Desa Bantarpanjang, Kecamatan Cimanggu. 

Jenis bambu awi cangkoréh atau awi cangkoré, tidak seperti bambu pada umumnya yang tumbuh tegak. Bambu jenis ini terkesan menjalar hingga tinggi, ada menyandar di pohon di dekatnya. Tinggi bambunya antara 15 meter sampai 30 meter. Namun ada juga yang tergeletak di tanah dengan batang yang berkeluk. Diameter bambu cangkoré antara 8 mm sampai 30 mm. Panjang daunnya antara 6 cm sampai 17 cm, yang pinggirnya bergerigi halus.

Rumpunnya terdiri dari batang yang berjumlah banyak. Awi ngarambat atau bambu merambat ini hidup di kawasan tropis, di hutan di perbukitan, di rimba basah, dan di pinggiran hutan. Tersebar di Pulau Jawa di ketinggian antara +200 m hingga +1.200 m.

Kelebihan awi ngarambat ini adalah Panjang, dengan kekuatannya yang sangat bagus. Bambu jenis ini oleh masyarakat lama banyak dijadikan boronjong (beronjong). Beronjong itu anyaman bambu dengan ukuran bilah yang lebar. Kalau menggunakan awi ngarambat, bambunya tidak dibelah, langsung dianyam jarang. Bentuknya seperti balok raksasa, dengan ukuran rata-rata 3 meter Panjang x 2 meter lebar x 1 meter tinggi. Beronjong ini dijadikan tempat atau wadah untuk menyusun batu-batu sebesar kelapa, menjadi konstruksi persegi memanjang yang kokoh. Di Jawa Barat, beronjong banyak digunakan dalam konstruksi di sungai, sebagai penahan arus sungai, atau penahan longsor. Masyarakat banyak menggunakan bambu ini untuk dijadikan tali pengikat pagar kebun dan keranjang hasil bumi berukuran besar.

Di beberapa daerah di Jawa Barat, masih ada penduduk yang masih mempraktekkan sampai sekarang, yang menggunakan air yang terdapat di dalam ruas batang antara 18 cm sampai 25 cm, menjadi tetes mata yang dipercaya dapat membersihkan dan menjernihkan mata. Air dari dalam awi cangkoré itu sebagai boorwater alami yang banyak. Selain air di dalam batangnya, rebungnya, setelah dibubuy (dibembam) dijadikan sayur sekaligus sebagai obat cacing. 

Bambu Cangkoréh atau awi ngarambat seperti dinyanyikan oleh Titim Fatimah itu nyata adanya. Banyak manfaat dari jenis bambu ini. Sangat penting dan strategis artinya bila diupayakan terus, ditumbuhkembangkan, agar keragaman jenis bambu ini tidak jadi punah. Bila ada niat baik dari para pengelolanya untuk menanami kembali lahan-lahan hutan yang rusak dan sedang direstorasi, atau di arboretum, di taman hutan raya (tahura), dengan menanam salahsatunya bambu cangkoré di lereng-lerengnya yang curam dan di batas hutan, maka manfaat bagi alam dan manusia akan bertumbuh kembali. Semoga! (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 09:36

Sumpah dari Masa ke Masa

Membicarakan "sumpah" yang dicatat sejarah.

Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Beranda 29 Okt 2026, 09:35

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 08:56

Peran Ganda Perempuan dalam Kondisi Karhutla

Dalam segala keadaan perempuan seringkali harus menjalani berbagai macam peran baik berdasarkan keinginan ataupun tuntutan sosial.

Ilustrasi Perempuan mendampingi anaknya belajar. (Sumber: Generated AI)