Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

5 menit baca
Garbi Cipta Perdana
Ditulis oleh Garbi Cipta Perdana diterbitkan
Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)

Akhir-akhir ini teman-teman di Baperida Kota Bandung sedang gencar menggaungkan Historic Urban Landscape (HUL). Hal tersebut dimulai dengan kegiatan bertajuk Simposium Pengembangan Kawasan Asia-Afrika Menuju Historic Urban Landscape. Saya turut serta dalam kegiatan tersebut. Namun, saya merasa terdapat beberapa kekeliruan dalam memahami HUL di dalam benak rekan sejawat saya itu.

 Dalam kegiatan simposium tersebut, narasumber pun sudah banyak menyampaikan kekeliruan ini. Ibu Woerjantari Kartidjo, atau yang akrab dipanggil Bu Ririn, menyampaikan bahwa HUL merupakan sebuah pendekatan, bukan status pencapaian. Apa yang disampaikan Bu Ririn itu sangat sejalan dengan apa yang saya rasakan.

 Dalam sesi tanya jawab, saya sempat mempertanyakan nomenklatur yang ajeg untuk menyebut objek yang dimaksud. Maklum, selama ini lain orang lain pula penyebutannya. Ada yang menyebut Kawasan Alun-Alun, Kawasan Pusat Kota Lama, Kawasan Asia-Afrika, atau bahkan saya sendiri menggunakan penyebutan Kawasan Konferensi Asia Afrika untuk objek tersebut dalam proses penominasian menjadi Warisan Dunia UNESCO.

 Hari ini ada rapat koordinasi dengan Kementerian Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan. Pada rapat ini, kekeliruan kemarin rupanya tetap terjadi. HUL tetap dipahami sebagai status atau output capaian, bukan sebagai pendekatan atau metode kerja.

 Padahal sejatinya HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, apalagi label output akhir yang berhenti di atas kertas dan jargon. Kerangka kerja yang direkomendasikan UNESCO sejak 2011 ini tidak memandang heritage (warisan budaya) sebagai es yang harus senantiasa diisolasi di dalam lemari pendingin. Sebaliknya, HUL mengintegrasikan nilai-nilai warisan budaya ke dalam konteks pembangunan kota yang lebih luas—mencakup aspek spasial, sosial, ekonomi, hingga struktur ekologis keberlanjutan.

 Jika dibedah untuk meluruskan kekeliruan pemahaman tersebut, HUL merupakan way of seeing dan way of working—sebuah lensa dan metode kerja interdisipliner, bukan syarat standardisasi atau gelar penghargaan seperti penetapan status Kota Kreatif maupun Warisan Dunia. Ketika suatu wilayah (seperti Kawasan Konferensi Asia Afrika) dikelola dengan pendekatan HUL, proses perencanaannya wajib mengintegrasikan perlindungan warisan budaya langsung ke dalam RPJMD, RTRW, serta RDTR kota secara inklusif.

 Pendekatan ini memandang kota bak Kek Lapis yang saya beli di Kuching kemarin. Tiap lapisannya punya rasa, warna, dan peran yang terakumulasi menjadi Kek Lapis Sarawak—yang ternyata terinspirasi dari kue lapis Indonesia. Begitu juga dengan kota; setiap kota terdiri dari akumulasi lapisan sejarah, budaya, dan fungsi yang berlapis dari waktu ke waktu. Fokusnya pun tidak hanya pada fisik fasad—dalam konteks Bandung, bangunan kolonial semata—melainkan juga tata ruang geografi, vegetasi, ruang publik, aktivitas ekonomi lokal, memori kolektif warga, hingga dinamika sosial perkotaan saat ini.

 Lahirnya pendekatan Historic Urban Landscape (HUL) pun tidak muncul begitu saja dari ruang hampa, melainkan hasil dari proses panjang perkembangan paradigma pelestarian perkotaan di tingkat global. Pendekatan ini hadir sebagai jalan tengah untuk menjembatani jarak antara konservasi warisan budaya dan gelombang modernisasi serta tuntutan pembangunan fisik kota.

Baca Juga: Bukan Sekadar RTH, Bandung Heritage Minta Pemkot Pertahankan Kebun Binatang Bandung sebagai Warisan Sejarah dan Ekologi Kota

Pada awalnya, fokus pelestarian heritage hanya bersifat fragmentaris dan berpusat pada objek fisik tunggal. Pandangan ini belum melihat adanya keterkaitan antarobjek maupun hubungan dengan lingkungan sekitarnya secara lebih luas. Pada tahun 1964, Piagam Venesia menegaskan pentingnya penyelamatan monumen secara individual. Dua belas tahun setelahnya, terjadi perluasan cakrawala dalam memandang warisan budaya sebagaimana tertuang dalam Rekomendasi UNESCO 1976 yang diadopsi dalam Sidang Umum UNESCO di Nairobi pada 26 November 1976. Dokumen tersebut mengawali pergeseran fokus pelestarian global dari objek fisik tunggal menuju kawasan perkotaan yang lebih luas.

Pada tahun 1987, Piagam Washington diadopsi oleh International Council on Monuments and Sites (ICOMOS) saat Sidang Umum ke-8 di Washington D.C. Piagam ini disusun untuk melengkapi Piagam Venesia (1964) dengan memperluas fokus dari pelestarian bangunan/monumen tunggal menuju pelestarian kawasan dan kota bersejarah secara menyeluruh. Meski demikian, paradigma ini masih cenderung menempatkan kawasan tua sebagai "area asing" yang kaku dan terasing di tengah lanskap dinamika perkotaan yang terus bertumbuh.

 Titik balik perubahan paradigma terjadi pada dekade 2000-an, ketika arus globalisasi dan tekanan pembangunan infrastruktur mengancam integritas visual serta ruang sosial kota-kota bersejarah dunia. Konflik antara preservasi dan modernisasi—seperti yang dialami Dresden dan Wina akibat pembangunan struktur kontemporer—mendorong UNESCO menggelar konferensi internasional bertajuk World Heritage and Contemporary Architecture pada Mei 2005. Perhelatan ini melahirkan Deklarasi Wina (Vienna Memorandum) yang menjadi awal mula konsep Historic Urban Landscape diperkenalkan ke khalayak.

 Selama rentang 2005 hingga 2011, kerangka konseptual ini digodok secara intensif melalui serangkaian konsultasi regional lintas pakar bersama organisasi internasional seperti ICOMOS dan IUCN. Akhirnya, pada 10 November 2011, Sidang Umum UNESCO ke-36 secara resmi mengadopsi Recommendation on the Historic Urban Landscape.

 Melalui instrumen ini, UNESCO merumuskan ulang pemaknaan HUL: bukan dimaknai sebagai predikat, gelar, atau status pelestarian, melainkan sebagai sebuah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis. HUL mengintegrasikan pengelolaan nilai-nilai warisan budaya langsung ke dalam seluruh instrumen perencanaan tata ruang dan pembangunan kota yang berkelanjutan.

Baca Juga: Rektoverso Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung

Sebagai metode, HUL menyediakan empat alat (tools) utama: Knowledge and Planning Tools untuk pemetaan nilai dan atribut lanskap; Regulatory & Governance Systems untuk menyelaraskan koordinasi lintas dinas, kementerian, hingga akademisi; Financial Tools untuk kemitraan dan insentif pelestarian; serta Community Engagement Tools untuk memastikan perencanaan partisipatif dari bawah (bottom-up).

 Menyamakan HUL dengan output status sama saja dengan mencampuradukkan antara "resep atau metode memasak Kek Lapis Sarawak rasa Nutella" dengan "sajian Kek Lapis Sarawak rasa Nutella". Maka, ketika HUL hanya dikejar sebagai target capaian status, esensi pengintegrasian pelestarian ke dalam perencanaan tata ruang kota justru berisiko kehilangan ruh partisipatif dan keberlanjutannya.

 Akhirul kalam, saya mohon, demi harga diri Kota Bandung, sejak hari ini kita mulai menyebut program ini sebagai penataan berbasis HUL, bukan lagi kegiatan yang bertujuan untuk menjadikan objek di kota ini sebagai HUL. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 09:36

Sumpah dari Masa ke Masa

Membicarakan "sumpah" yang dicatat sejarah.

Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Beranda 29 Okt 2026, 09:35

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 08:56

Peran Ganda Perempuan dalam Kondisi Karhutla

Dalam segala keadaan perempuan seringkali harus menjalani berbagai macam peran baik berdasarkan keinginan ataupun tuntutan sosial.

Ilustrasi Perempuan mendampingi anaknya belajar. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 21:32

Ketika Karhutla Menjadi Pelajaran bagi Warga Bandung

Ketika karhutla kembali melanda. Warga Bandung selalu mengikuti bagaimana api dipadamkan. Namun apa bukti kepedulian kita di sini? Tumbuhkan kesadaran lingkungan menjadi kebiasaan dan tanggung jawab.

Kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: tribratanews.polri.go.id)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)