Gedung Bank Indonesia di Jalan Braga menyimpan kisah panjang perkembangan ekonomi dan arsitektur Bandung. Jika dihubungkan dengan Taman Balai Kota melalui wisata jalan kaki, kawasan ini berpotensi menjadi ruang belajar sejarah, menikmati pepohonan tua, sekaligus mengenali wajah kota dari masa ke masa.
Kota Bandung memiliki kekayaan wisata yang tidak selalu harus dicari di kawasan pegunungan atau pusat perbelanjaan. Di jantung kota, berdiri bangunan bersejarah yang menyimpan perjalanan panjang perekonomian Indonesia, yakni Gedung Bank Indonesia (BI) di Jalan Braga. Bangunan ini bukan sekadar kantor lembaga keuangan, melainkan saksi perubahan Bandung dari kota kolonial menjadi kota modern.
Potensi tersebut layak dikembangkan melalui wisata sejarah dan jalan kaki yang menghubungkan Gedung Bank Indonesia dengan Taman Balai Kota. Gagasan ini bukan sekadar membuat rute wisata baru, melainkan membangun pengalaman menikmati sejarah, arsitektur, ruang hijau, dan kehidupan perkotaan dalam satu perjalanan.

Dari De Javasche Bank hingga Bank Indonesia
Jejak sejarah gedung ini berawal dari pendirian kantor cabang De Javasche Bank di Bandung. Gagasan pembukaannya telah muncul pada awal abad ke-20, ketika Bandung berkembang sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan perkebunan di wilayah Priangan.
Pada 30 Juni 1909, kantor cabang De Javasche Bank Bandung resmi dibuka. Pada masa awal, operasionalnya menempati bangunan yang belum berupa gedung permanen seperti yang dikenal sekarang. Pembangunan gedung permanen dimulai pada 1915 dan selesai pada 5 Mei 1918.
Kehadiran bank tersebut berkaitan dengan kepentingan ekonomi kolonial sekaligus pertimbangan strategis untuk mengamankan kekayaan di wilayah pedalaman. Bandung dinilai memiliki posisi penting karena terhubung dengan kegiatan perdagangan dan perkebunan, sementara letaknya relatif jauh dari pesisir utara Jawa.
Perjalanan gedung ini kemudian memasuki babak baru ketika Indonesia merdeka. De Javasche Bank dinasionalisasi dan menjadi bagian dari proses pembentukan lembaga keuangan nasional. Bank Indonesia resmi berdiri pada 1 Juli 1953 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok-Pokok Bank Indonesia.
Dengan demikian, bangunan di Jalan Braga tersebut menyimpan dua lapisan sejarah penting. Lapisan pertama adalah perkembangan sistem perbankan pada masa kolonial, sedangkan lapisan kedua merupakan perjalanan Indonesia membangun kedaulatan moneter setelah kemerdekaan.
Kini, gedung tersebut menjadi bagian dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat. Nilai sejarahnya juga memperoleh pengakuan melalui penetapan sebagai bangunan cagar budaya Kota Bandung pada 2026. Status ini memperkuat alasan agar pelestarian bangunan tidak berhenti pada perawatan fisik, tetapi juga disertai upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarahnya.
Filosofi Arsitektur Mewujudkan Kewibawaan
Gedung De Javasche Bank Bandung dirancang oleh Edward Cuypers dan menampilkan karakter arsitektur Empire Style yang kuat. Langgam ini menonjolkan kesan megah, simetris, tertib, serta berwibawa. Ciri tersebut sesuai dengan citra lembaga keuangan yang pada zamannya memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi kolonial.
Komposisi fasad, proporsi bangunan, serta pengolahan elemen arsitektur menghadirkan kesan kokoh dan permanen. Bangunan seperti ini tidak dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan ruang kerja, tetapi juga untuk menyampaikan pesan visual tentang otoritas, stabilitas, dan kepercayaan.
Dalam konteks masa kini, makna tersebut dapat dibaca kembali secara lebih luas. Kewibawaan sebuah lembaga keuangan semestinya tidak hanya tercermin melalui kemegahan bangunan, tetapi juga melalui kepercayaan publik, transparansi, dan pelayanan kepada masyarakat.
Di sinilah arsitektur bersejarah menjadi media pendidikan yang menarik. Pengunjung dapat mempelajari bagaimana bentuk bangunan merepresentasikan kekuasaan ekonomi pada masa lalu, sekaligus membandingkannya dengan tuntutan tata kelola lembaga publik pada masa sekarang.

Pepohonan Besar yang Menjaga Ingatan Kota
Daya tarik kawasan bersejarah tidak hanya terletak pada bangunannya. Pepohonan besar di lingkungan pusat kota juga memiliki peran penting dalam membentuk suasana dan identitas tempat.
Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kawasan Bank Indonesia dan jalur menuju Taman Balai Kota menghadirkan keteduhan di tengah lalu lintas, bangunan perkantoran, serta aktivitas perdagangan. Tajuk yang lebar, batang yang kokoh, dan bayangan dedaunan membuat perjalanan kaki terasa lebih nyaman.
Pohon-pohon tersebut juga memberikan manfaat ekologis. Vegetasi membantu mengurangi paparan panas, menyerap sebagian air hujan, menyimpan karbon, serta menyediakan habitat bagi burung dan organisme perkotaan lainnya.
Namun, usia dan jenis setiap pohon di kawasan tersebut perlu diidentifikasi melalui inventarisasi resmi. Tidak semua pohon besar otomatis merupakan pohon peninggalan zaman kolonial. Pendataan jenis, perkiraan usia, kondisi kesehatan, dan nilai sejarahnya justru menjadi bagian penting dari program wisata yang diusulkan.
Jika ditemukan pohon-pohon tua yang memiliki hubungan dengan sejarah penataan kawasan, kisahnya dapat disampaikan melalui papan interpretasi sederhana. Pengunjung tidak hanya memandang pohon sebagai penghias kota, tetapi juga sebagai bagian dari warisan ekologis yang perlu dirawat lintas generasi.
Merangkai Wisata Jalan Kaki ke Taman Balai Kota
Gagasan saya berikutnya adalah membangun rute wisata jalan kaki yang menghubungkan Gedung Bank Indonesia dengan Taman Balai Kota. Kedua kawasan tersebut memiliki karakter berbeda, tetapi saling melengkapi.
Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sementara itu, Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau yang dekat dengan kehidupan masyarakat, kegiatan rekreasi, serta sejarah pemerintahan kota.
Wisatawan dapat memulai perjalanan dengan mengenali fasad gedung Bank Indonesia dan kisah De Javasche Bank. Jika memperoleh izin masuk, pengunjung dapat melanjutkan dengan melihat koleksi atau materi edukasi sejarah yang tersedia. Perjalanan kemudian diteruskan melalui jalur pejalan kaki yang aman menuju kawasan Balai Kota.
Di taman, wisatawan dapat menikmati pepohonan, mengenali ruang publik, dan memahami bagaimana kota menyediakan tempat bagi warganya untuk beristirahat serta berinteraksi. Pengalaman ini akan lebih bermakna apabila dilengkapi pemandu, peta rute, papan informasi sejarah, dan penjelasan mengenai vegetasi setempat.
Rute tersebut perlu dirancang dengan memperhatikan trotoar yang nyaman, penyeberangan yang aman, akses bagi penyandang disabilitas, tempat duduk, kebersihan, dan keterhubungan antarlokasi. Pengelola juga perlu memastikan bahwa aktivitas wisata tidak mengganggu pelayanan perkantoran Bank Indonesia maupun kegiatan pemerintahan di Balai Kota.
Pengembangan wisata ini membutuhkan kolaborasi antara Bank Indonesia, Pemerintah Kota Bandung, komunitas sejarah, pemerhati cagar budaya, dan kelompok pegiat lingkungan. Program dapat dimulai melalui tur terbatas pada waktu tertentu, kemudian dievaluasi sebelum diperluas.
Peluang ekonominya pun cukup terbuka. Pemandu lokal, penerbitan buku saku sejarah, kegiatan fotografi, serta usaha kuliner dan produk kreatif di sekitar jalur wisata dapat memperoleh manfaat. Akan tetapi, orientasi utamanya tetap menjaga keaslian bangunan, kelestarian pepohonan, dan kenyamanan ruang publik.
Kota yang menarik bukan hanya kota yang memiliki bangunan megah, melainkan kota yang mampu menceritakan makna di balik bangunannya. Gedung Bank Indonesia dan Taman Balai Kota dapat menjadi dua simpul penting untuk memahami sejarah Bandung melalui perjalanan yang sederhana.
Berjalan kaki di antara bangunan bersejarah dan pepohonan besar sesungguhnya merupakan cara merawat ingatan kolektif. Dari sana, warga dapat belajar bahwa masa lalu bukan sekadar kenangan yang tersimpan dalam arsip, melainkan warisan hidup yang dapat dinikmati dan dijaga kelestariannya. (SRI)