Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

5 menit baca
Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan
Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Gedung Bank Indonesia di Jalan Braga menyimpan kisah panjang perkembangan ekonomi dan arsitektur Bandung. Jika dihubungkan dengan Taman Balai Kota melalui wisata jalan kaki, kawasan ini berpotensi menjadi ruang belajar sejarah, menikmati pepohonan tua, sekaligus mengenali wajah kota dari masa ke masa.

Kota Bandung memiliki kekayaan wisata yang tidak selalu harus dicari di kawasan pegunungan atau pusat perbelanjaan. Di jantung kota, berdiri bangunan bersejarah yang menyimpan perjalanan panjang perekonomian Indonesia, yakni Gedung Bank Indonesia (BI) di Jalan Braga. Bangunan ini bukan sekadar kantor lembaga keuangan, melainkan saksi perubahan Bandung dari kota kolonial menjadi kota modern.

Potensi tersebut layak dikembangkan melalui wisata sejarah dan jalan kaki yang menghubungkan Gedung Bank Indonesia dengan Taman Balai Kota. Gagasan ini bukan sekadar membuat rute wisata baru, melainkan membangun pengalaman menikmati sejarah, arsitektur, ruang hijau, dan kehidupan perkotaan dalam satu perjalanan.

Gedung Bank Indonesia dijepret dari Taman Balai Kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Gedung Bank Indonesia dijepret dari Taman Balai Kota (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Dari De Javasche Bank hingga Bank Indonesia

Jejak sejarah gedung ini berawal dari pendirian kantor cabang De Javasche Bank di Bandung. Gagasan pembukaannya telah muncul pada awal abad ke-20, ketika Bandung berkembang sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan perkebunan di wilayah Priangan.

Pada 30 Juni 1909, kantor cabang De Javasche Bank Bandung resmi dibuka. Pada masa awal, operasionalnya menempati bangunan yang belum berupa gedung permanen seperti yang dikenal sekarang. Pembangunan gedung permanen dimulai pada 1915 dan selesai pada 5 Mei 1918.

Kehadiran bank tersebut berkaitan dengan kepentingan ekonomi kolonial sekaligus pertimbangan strategis untuk mengamankan kekayaan di wilayah pedalaman. Bandung dinilai memiliki posisi penting karena terhubung dengan kegiatan perdagangan dan perkebunan, sementara letaknya relatif jauh dari pesisir utara Jawa.

Perjalanan gedung ini kemudian memasuki babak baru ketika Indonesia merdeka. De Javasche Bank dinasionalisasi dan menjadi bagian dari proses pembentukan lembaga keuangan nasional. Bank Indonesia resmi berdiri pada 1 Juli 1953 berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1953 tentang Pokok-Pokok Bank Indonesia.

Dengan demikian, bangunan di Jalan Braga tersebut menyimpan dua lapisan sejarah penting. Lapisan pertama adalah perkembangan sistem perbankan pada masa kolonial, sedangkan lapisan kedua merupakan perjalanan Indonesia membangun kedaulatan moneter setelah kemerdekaan.

Kini, gedung tersebut menjadi bagian dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat. Nilai sejarahnya juga memperoleh pengakuan melalui penetapan sebagai bangunan cagar budaya Kota Bandung pada 2026. Status ini memperkuat alasan agar pelestarian bangunan tidak berhenti pada perawatan fisik, tetapi juga disertai upaya memperluas pemahaman masyarakat terhadap sejarahnya.

Filosofi Arsitektur Mewujudkan Kewibawaan

Gedung De Javasche Bank Bandung dirancang oleh Edward Cuypers dan menampilkan karakter arsitektur Empire Style yang kuat. Langgam ini menonjolkan kesan megah, simetris, tertib, serta berwibawa. Ciri tersebut sesuai dengan citra lembaga keuangan yang pada zamannya memegang peranan penting dalam kegiatan ekonomi kolonial.

Komposisi fasad, proporsi bangunan, serta pengolahan elemen arsitektur menghadirkan kesan kokoh dan permanen. Bangunan seperti ini tidak dirancang hanya untuk memenuhi kebutuhan ruang kerja, tetapi juga untuk menyampaikan pesan visual tentang otoritas, stabilitas, dan kepercayaan.

Dalam konteks masa kini, makna tersebut dapat dibaca kembali secara lebih luas. Kewibawaan sebuah lembaga keuangan semestinya tidak hanya tercermin melalui kemegahan bangunan, tetapi juga melalui kepercayaan publik, transparansi, dan pelayanan kepada masyarakat.

Di sinilah arsitektur bersejarah menjadi media pendidikan yang menarik. Pengunjung dapat mempelajari bagaimana bentuk bangunan merepresentasikan kekuasaan ekonomi pada masa lalu, sekaligus membandingkannya dengan tuntutan tata kelola lembaga publik pada masa sekarang.

Pohon tua di sebelah barat Gedung BI Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Pohon tua di sebelah barat Gedung BI Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Pepohonan Besar yang Menjaga Ingatan Kota

Daya tarik kawasan bersejarah tidak hanya terletak pada bangunannya. Pepohonan besar di lingkungan pusat kota juga memiliki peran penting dalam membentuk suasana dan identitas tempat.

Pohon-pohon yang tumbuh di sekitar kawasan Bank Indonesia dan jalur menuju Taman Balai Kota menghadirkan keteduhan di tengah lalu lintas, bangunan perkantoran, serta aktivitas perdagangan. Tajuk yang lebar, batang yang kokoh, dan bayangan dedaunan membuat perjalanan kaki terasa lebih nyaman.

Pohon-pohon tersebut juga memberikan manfaat ekologis. Vegetasi membantu mengurangi paparan panas, menyerap sebagian air hujan, menyimpan karbon, serta menyediakan habitat bagi burung dan organisme perkotaan lainnya.

Namun, usia dan jenis setiap pohon di kawasan tersebut perlu diidentifikasi melalui inventarisasi resmi. Tidak semua pohon besar otomatis merupakan pohon peninggalan zaman kolonial. Pendataan jenis, perkiraan usia, kondisi kesehatan, dan nilai sejarahnya justru menjadi bagian penting dari program wisata yang diusulkan.

Jika ditemukan pohon-pohon tua yang memiliki hubungan dengan sejarah penataan kawasan, kisahnya dapat disampaikan melalui papan interpretasi sederhana. Pengunjung tidak hanya memandang pohon sebagai penghias kota, tetapi juga sebagai bagian dari warisan ekologis yang perlu dirawat lintas generasi.

Merangkai Wisata Jalan Kaki ke Taman Balai Kota

Gagasan saya berikutnya adalah membangun rute wisata jalan kaki yang menghubungkan Gedung Bank Indonesia dengan Taman Balai Kota. Kedua kawasan tersebut memiliki karakter berbeda, tetapi saling melengkapi.

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sementara itu, Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau yang dekat dengan kehidupan masyarakat, kegiatan rekreasi, serta sejarah pemerintahan kota.

Wisatawan dapat memulai perjalanan dengan mengenali fasad gedung Bank Indonesia dan kisah De Javasche Bank. Jika memperoleh izin masuk, pengunjung dapat melanjutkan dengan melihat koleksi atau materi edukasi sejarah yang tersedia. Perjalanan kemudian diteruskan melalui jalur pejalan kaki yang aman menuju kawasan Balai Kota.

Di taman, wisatawan dapat menikmati pepohonan, mengenali ruang publik, dan memahami bagaimana kota menyediakan tempat bagi warganya untuk beristirahat serta berinteraksi. Pengalaman ini akan lebih bermakna apabila dilengkapi pemandu, peta rute, papan informasi sejarah, dan penjelasan mengenai vegetasi setempat.

Rute tersebut perlu dirancang dengan memperhatikan trotoar yang nyaman, penyeberangan yang aman, akses bagi penyandang disabilitas, tempat duduk, kebersihan, dan keterhubungan antarlokasi. Pengelola juga perlu memastikan bahwa aktivitas wisata tidak mengganggu pelayanan perkantoran Bank Indonesia maupun kegiatan pemerintahan di Balai Kota.

Pengembangan wisata ini membutuhkan kolaborasi antara Bank Indonesia, Pemerintah Kota Bandung, komunitas sejarah, pemerhati cagar budaya, dan kelompok pegiat lingkungan. Program dapat dimulai melalui tur terbatas pada waktu tertentu, kemudian dievaluasi sebelum diperluas.

Peluang ekonominya pun cukup terbuka. Pemandu lokal, penerbitan buku saku sejarah, kegiatan fotografi, serta usaha kuliner dan produk kreatif di sekitar jalur wisata dapat memperoleh manfaat. Akan tetapi, orientasi utamanya tetap menjaga keaslian bangunan, kelestarian pepohonan, dan kenyamanan ruang publik.

Kota yang menarik bukan hanya kota yang memiliki bangunan megah, melainkan kota yang mampu menceritakan makna di balik bangunannya. Gedung Bank Indonesia dan Taman Balai Kota dapat menjadi dua simpul penting untuk memahami sejarah Bandung melalui perjalanan yang sederhana.

Berjalan kaki di antara bangunan bersejarah dan pepohonan besar sesungguhnya merupakan cara merawat ingatan kolektif. Dari sana, warga dapat belajar bahwa masa lalu bukan sekadar kenangan yang tersimpan dalam arsip, melainkan warisan hidup yang dapat dinikmati dan dijaga kelestariannya. (SRI)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 20 Okt 2026, 20:06

Downgrade Lifestyle: Strategi Bertahan Warga in This Economy

Fenomena downgrade lifestyle tengah menjadi perbincangan warga, tapi apa sih fenomena downgrade lifestyle ini dan apa bagaimana kita menyikapinya?

Ilustrasi sepasang muda-mudi di Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: arvi refo)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 19:15

Kemacetan Bunderan Cibiru Tak Kunjung Usai, Persoalannya Bukan Hanya pada Bundaran?

Mengurai benang kusut Bunderan Cibiru tak cukup hanya fokus di satu titik saja, melainkan menangani rangkaian penyebab sebelum kendaraan sampai di sana.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 18:08

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar (Bagian 2)

Acapkali PHK tidak dapat dihindari, tetapi bagaimana mencari solusi sosial akibat dampak PHK tersebut. Ketika industri melemah seharusnya kehidupan ekonomi masyarakat tidak boleh terhenti.

Ilustrasi buruh perempuan. (Sumber: a | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 17:09

Wisata Jalan Kaki Melihat Jejak Sejarah Gedung Bank Indonesia

Gedung Bank Indonesia menghadirkan sejarah perbankan, arsitektur, dan perkembangan ekonomi. Sedangkan Taman Balai Kota menawarkan ruang terbuka hijau.

Gedung bersejarah Bank Indonesia di Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 16:36

Mitigasi Perundungan di Ruang Pendidikan

520 laporan perundungan di perguruan tinggi menjadi tolok ukur bahwa perundungan di perguruan tinggi pun memberikan gambaran bahwa ruang pendidikan aman belum bisa diciptakan.

Ilustrasi perundungan. (Sumber: Pexels/Nothing Ahead)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:42

Kelas Menengan Pilih Sekolah Negeri atau Swasta?

Refleksi terhadap dunia pendidikan Indonesia hari ini

Kelas Menengah Pilih Sekolah Swasta atau Negeri? (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 15:10

Bunderan Cibiru Belum Bebas Macet, Apa yang Perlu Dibenahi?

Kemacetan Bunderan Cibiru bukan sekadar soal padatnya kendaraan. Penyempitan jalan dan aktivitas di tepi jalan turut menjadi persoalan yang perlu diperhatikan.

Kondisi lalu lintas di jalur Cibiru-Cileunyi saat jam sibuk sore, pukul 16.40 WIB. (Sumber: Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Adisty Dhona Restu Ramadhani)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 13:49

Anak Muda Sunda Harus Bisa Bahasa Jepang, tetapi Masih Bisakah Berbahasa Sunda?

Bahasa Jepang mempunyai nilai ekonomi yang mudah terlihat. Bahasa Sunda tidak selalu menawarkan imbalan material yang langsung terasa. Lalu, untuk apa mempelajari bahasa Sunda?

Ilustrasi anak muda Sunda yang bekerja di Jepang. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 11:47

Pembinaan Akar Rumput dan Stadion Masa Depan di Bandung

Sepak bola Bandung tidak hanya hidup pada hari pertandingan Persib. Ia juga hidup di lapangan sekolah, permukiman, klub kecil, dan tempat anak-anak belajar menendang bola.

Ilustrasi pembinaan sepak bola dari akar rumput (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 20 Okt 2026, 10:02

Kehilangan Adik: Ketika Uang lebih Berkuasa dibandingkan Keselamatan

Pihak berwajib yang seharusnya menjadi penolong dan pengayom masyarakat justru seringkali terus meminta yang bukan menjadi haknya.

Orang Hilang (Karimah Az-Zahra) (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 20:14

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 18:15

Zona Merah, Konflik yang Tak Kunjung Usai: Ojol dan Opang Butuh Aturan yang Adil

Konflik ojol dan opang di Bandung menunjukkan pentingnya aturan zona merah yang jelas dan adil. Mediasi saja tidak cukup; keselamatan dan kepastian akses harus dijamin bagi semua pihak.

Ilustrasi pangkalan ojek konvensional di kawasan Bandung. (Sumber: Google Maps (Street View). | Foto: Google Street View)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 17:07

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Merawat RTH Pasirwangi sebagai investasi jangka panjang.

Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)
Seni Budaya 19 Okt 2026, 16:20

Yamko Rambe Yamko dan Teka-Teki Identitas Papua

Yamko Rambe Yamko dikenal sebagai lagu daerah Papua. Namun, sejumlah seniman Papua mempertanyakan bahasa, asal-usul, dan sejarah di balik lagu populer ini.

Tarian Yamko Rambe Yamko (Sumber: Enhanced from Indonesia Kaya)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 16:08

Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi antar pemda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 15:37

Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional.

Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 13:58

Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Artikel ini membahas kemacetan di Jalan Cimincrang. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti perlintasan kereta api dan tingginya aktivitas di kawasan Gedebage. Kemudian, bagaimana solusinya?

Kemacetan pada waktu rush hour di Jalan Cimincrang. (Foto: Rahma Rumaisha Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 12:43

Kemacetan Paskal Tiada Henti: Sampai Kapan Pengendara Harus Saling Serobot?

Kemacetan di Jalan Pasirkaliki (Paskal) Bandung makin parah akibat kebiasaan saling serobot dan parkir sembarangan. Akses pejalan kaki pun ikut terkunci total.

Kondisi arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasirkaliki (Paskal), Kota Bandung, yang mengalami kepadatan dan antrean panjang kendaraan. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Rahma Tsania Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 09:26

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar - Bagian 1

Pada saat kondisi ekonomi yang tidak menentu, apakah PHK karyawan menjadi solusi terbaik? Kenapa Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur bisa mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar?

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 08:59

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Keliling Kota Indonesia menjumpai para pegiat literasi menjadi rencana ekspedisi versi saya untuk mendapat pengalaman yang bermakna dalam hidup.

Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)