Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

8 menit baca
Gilang Fathu Romadhan
Ditulis oleh Gilang Fathu Romadhan diterbitkan
Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

AYOBANDUNG.ID – Sejumlah warga menolak rencana revitalisasi lapangan Teuku Umar, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, karena dinilai merenggut ruang kebersamaan. Lapangan sepak bola yang selama ini bisa dipakai gratis itu direncanakan menjadi ruang publik multifungsi dengan arena skateboard. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menyatakan proyek tetap berjalan.

Lapangan yang Tak Pernah Sepi

Hujan baru saja reda di kawasan Jalan Teuku Umar, Minggu, 25 Oktober 2026, sekira pukul 16.00 WIB, ketika anak-anak hingga orang dewasa berkumpul untuk bermain sepak bola di lapangan tanah itu. Meski bukan pemain profesional, mereka tampak menikmati pertandingan.

Di sudut lapangan terpasang tiga spanduk hitam dan putih. Spanduk hitam bertuliskan “Sepak bola adalah alat perjuangan” dan “save lapangan Teuku Umar”, sementara spanduk putih berisi tanda tangan warga.

Bagi Arbot (28), pemuda RW 10 Kelurahan Lebakgede, lapangan itu bukan sekadar tempat menendang bola. Ia tumbuh di sana bersama teman sebayanya dan kini menyaksikan generasi berikutnya meneruskan kebiasaan yang sama.

“Ya dari kecil saya SSB di sni. Terus ya dari kecil emang main bola di sini lah sama warga sekitar. Terus beranjak sampai ke SMA juga masih aktif. Terus si generasinya turun ke bawah terus ngelanjutin,” ujarnya.

Anak-anak bermain sepak bola di Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung, Kamis 29 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Anak-anak bermain sepak bola di Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung, Kamis 29 Oktober 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Menurut Arbot, lapangan itu hampir tidak pernah sepi. Setiap Rabu dan Minggu sore ia bersama warga lain rutin bermain bola. Pada akhir pekan, anak-anak datang sejak pagi untuk berlatih di Sekolah Sepak Bola (SSB) Teuku Umar Soccer. Sebagian warga juga memakainya untuk berlatih tinju dan senam.

Lapangan itu juga menjadi ruang perjumpaan. Pertandingan sepak bola membuat warga yang tidak saling kenal bisa bertegur sapa, dan perbedaan lingkungan tempat tinggal melebur dalam permainan yang sama.

“Ya buat jaga silaturahmi antara warga lain gitu, RW-RW lain gitu yang di kewilayahan lah. Ya biar silaturahmi aja biar akrab satu sama lain. Biar di jalan bisa say hai say hai gitu,” ucapnya.

Warga pernah memakai lapangan ini untuk nonton bareng final Persib Bandung pada 2024. Arbot mengingatkan bahwa dulu area itu masih menyerupai taman. Warga bergotong royong membenahi bagian tengahnya hingga layak untuk sepak bola, dan fasilitas kebugaran bantuan pemerintah menyusul kemudian.

Pemuda lain, Evan, menyebut warga mempertahankan lapangan bukan hanya demi tempat bermain bola, tetapi juga ruang bersama yang menjadi bagian dari keseharian dan tempat anak-anak bertumbuh.

“Ini suka dipakai sama warga buat berbagai kegiatan, kaya acara atau ibu-ibu senam,” katanya.

Kabar Mendadak dan Pagar Seng

Arbot baru mengetahui wacana alih fungsi lapangan menjadi taman skateboard pada Rabu, 21 Oktober 2026. Keesokan harinya, pagar seng dipasang di sisi lapangan. Warga geram, lalu menyampaikan keberatan lewat surat kepada Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Kota Bandung dan meminta pemasangan pagar dihentikan.

“Iya, jelas itu ga setuju lah. Karena ya ini masih aktif gitu. Kenapa tiba-tiba mau diubah jadi itu tanpa ada dialog sama yang pengguna fasilitas lah gitu,” kata Arbot seusai bermain bola, Minggu, 25 Oktober 2026.

“Sebenernya ngedadak ya dapet kabar mau dirubah jadi skate park karena emang bener ga ada dialog banget sama masyarakat yang menggunakan fasilitas ini. Jadi bener-bener tiba-tiba lah. Jadi ya kaget lah,” ujarnya.

Pemuda dari gerakan Peduli Lapangan Teuku Umar, Novian Hardiansyah, menuturkan warga baru sadar ada perubahan ketika material bangunan berdatangan saat mereka sedang beraktivitas.

“Kita lagi latihan gitu kan, lagi main gitu kan, tahu-tahu material datang gitu kan. Kan kita bertanya-tanya gitu kan, ada apa, kenapa gitu kan,” tuturnya.

Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Penjelasan Pemkot: Lapangan Kumuh, Dibuat Multifungsi

Kepala Bidang Pertamanan dan Dekorasi Kota DPKP Kota Bandung, Nana Kurniawan, mengatakan revitalisasi dilakukan karena lapangan itu dinilai kumuh. Selain perbaikan, akan dibangun fasilitas tambahan di lapangan berukuran sekitar 45x90 meter tersebut, yakni arena skateboard, jogging track, dan taman.

“Alhamdulillah desain segala macam sudah selesai. Jadi nanti itu lapang akan menjadi multifungsi,” kata dia, Senin, 26 Oktober 2026.

“Multifungsi tuh ada berbagai di situ, mau main bola ada mini soccer-nya. Ada bukan skate park, ada satu bagian ada buat memfasilitasi teman-teman yang hobinya skateboarding,” ujarnya.

Menurut Nana, arena skateboard disiapkan untuk memfasilitasi para penggemar papan seluncur, mengingat Bandung memiliki banyak atlet skateboard berbakat.

“Kebetulan Kota Bandung tuh punya juara-juara skateboarding di dunia. Ternyata orang Bandung itu saya baru hafal tuh. Ternyata banyak juara dunia di orang Bandung,” ucapnya.

Ia menyebut lapangan hasil revitalisasi nantinya terbuka untuk umum, dengan catatan warga menjaga ketertiban. Pemkot juga akan menyediakan tempat khusus bagi pedagang.

“Nah, itu saya difasilitasi jadi disediain lahan-lahan tempatnya, jadi dia datang bersih, pulang bersih,” katanya.

Proyek ini memakai anggaran sekitar Rp3 miliar dan ditargetkan rampung akhir tahun ini. Pengerjaan, kata Nana, sudah dimulai.

“Sekitar Rp3 miliar. Insyaallah (Januari 2027) bisa (dipakai). Sudah mulai, sudah mulai. Masalahnya kan targetnya dari Pak Wali Kota harus beres tahun ini.” ucapnya.

Soal penolakan warga, Nana menilai perbedaan pendapat adalah hal wajar.

“Kalau kalau kita mah kan pemerintah kota mah tidak melihat ke sana. Melihatnya kan kepentingan masyarakat, masyarakat butuh ruang publik yang representatif. Nah, pada saat masyarakat butuh ruang publik yang representatif, ya kita akomodir,” ucapnya.

Ia juga menyinggung kebiasaan buruk di kawasan itu dan berharap penataan akan memperbaikinya.

“Selama ini kan banyak mabok. Karena dibangun, (khawatir) yang maboknya jadi lebih parah. Mudah-mudahan enggak jalan seperti itu gitu, mudah-mudahan dibangun lebih tertata gitu kan,” katanya.

Seorang warga menuliskan pesan dan membubuhkan tanda tangan pada kain spanduk sebagai bentuk dukungan terhadap penolakan rencana revitalisasi Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Seorang warga menuliskan pesan dan membubuhkan tanda tangan pada kain spanduk sebagai bentuk dukungan terhadap penolakan rencana revitalisasi Lapangan Teuku Umar, Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Sosialisasi: Pemkot Klaim Sudah, Warga Mengaku Belum

Nana mengklaim pemerintah sudah menyosialisasikan rencana ini kepada warga sekitar, sehingga pengerjaan akan berlanjut. Ia mengakui ada kekurangan dalam komunikasi.

“Tapi kita sosialisasi ya, kita udah ajak bicara mulai dari kewilayahan, kelurahan, seperti rata-rata mah ya gitu, ada miss aja sih. Miss komunikasi lah istilahnya kan.”

Novian membantah klaim tersebut. Ia mengaku warga belum menerima undangan maupun penjelasan langsung dari pemerintah.

“Belum sosialisasi ke warga gitu kan. Apalagi surat-menyurat ke kita juga untuk undangan enggak ada gitu kan, warga,” ujarnya.

Ia menambahkan, warga juga belum tahu desain yang akan dibangun, termasuk pembagian area untuk sepak bola, skateboard, dan BMX.

“Ini gambarnya juga belum tahu gitu kan, seperti apa gitu kan. Kalau misalkan mini soccer, mini soccer seperti apa gitu kan. Kita kan pengennya tetap lapangan bola yang udah ada gitu kan,” kata dia, Kamis, 29 Oktober 2026.

Skateboard dan BMX Dinilai Tak Menjangkau Warga

Warga mempertanyakan apakah fasilitas baru itu sesuai kebutuhan mereka. Evan khawatir ruang aktivitas warga jadi terbatas.

“Ini kan lapangan, luas, bisa dipakai banyak kegiatan. Kalau dijadikan skateboard park, nanti jadi terbatas. Kan ga semua orang bisa main skateboard,” bebernya.

Ia juga menyoroti nasib anak-anak yang bercita-cita menjadi pemain sepak bola dan berlatih di SSB di lapangan itu, serta mahasiswa dari luar Coblong yang kerap datang.

“Nanti ngga ada tempat buat main bola. Ini satu-satunya lapang yang gratis di Coblong, mungkin di Kota Bandung juga. Lapang juga dipakai buat latihan SSB. Kalau diubah jadi skate park nanti mereka gimana? Mahasiswa juga suka banyak datang ke sini,” ucapnya.

Pemuda lainnya, Linda Janalia, menilai biaya bermain skateboard besar dan tidak semua warga punya sepeda BMX.

“Kalau untuk BMX dan skateboard, kalau untuk di wilayah sini kayaknya tidak memungkinkan untuk warga kami yang mencobanya. Karena untuk biaya permainan skateboard sendiri pun butuhin biaya yang besar,” katanya.

Sebaliknya, sepak bola bisa dimainkan anak-anak dengan biaya murah.

“Biarkan anak-anak kami yang bermain bola dan menikmati fasilitas ini. Biarkan mereka yang berpatungan untuk membeli bola Rp2.000 satu orang dan mereka bisa bermain tanpa harus di dalam gang dan lain-lain,” ujarnya.

Linda juga mempertanyakan mengapa pemerintah tidak memperbaiki fasilitas skateboard yang sudah ada.

“Kalaupun memang ada budget-nya untuk memperbaiki lapang skateboard, kenapa enggak perbaiki lapang skateboard yang ada aja?” ucapnya.

Spanduk terpasang di sudut lapangan sebagai bentuk penolakan warga terhadap rencana perubahan fungsi lapangan sepak bola menjadi ruang publik multifungsi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Spanduk terpasang di sudut lapangan sebagai bentuk penolakan warga terhadap rencana perubahan fungsi lapangan sepak bola menjadi ruang publik multifungsi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)

Bukan Menolak Perbaikan, Minta Fungsi Dipertahankan

Warga menegaskan mereka tidak menolak pembenahan. Arbot tidak mempersoalkan pembaruan fasilitas selama kebutuhan warga diperhatikan, tetapi khawatir ruang bermain bola anak-anak hingga dewasa hilang.

“Ya bagus gitu ini teh main bola di sini teh. Kenapa tiba-tiba gitu jadi buat skate park. Dan gratis gitu buat main di sini mah,” sebutnya.

Linda pun menyatakan warga tidak akan keberatan jika lapangan dan tamannya diperbaiki.

“Jadi kalau mau diperbaiki, dibagus, tamannya dibagusin ya silahkan, kami juga enggak akan komplain sejauh ini gitu. Tapi ini kan jadi ada perubahan. Jadi seolah-olah bukan untuk memfasilitasi warga kami dong,” katanya.

Dialog dan Sikap Warga

Novian menyebut warga terbuka berdialog dengan komunitas lain, termasuk komunitas skateboard yang sudah mereka ajak berkomunikasi.

“Ya insya Allah dia datang ke sini gitu kan, untuk sekarang berdialog gitu kan, bareng-bareng di sini gitu kan,” katanya.

Warga berencana menghimpun aspirasi dan menyampaikannya tertulis kepada DPKP Kota Bandung, serta berharap ada pertemuan terbuka dengan dinas terkait.

“Yang udah kita tampung ntar mungkin ada masukan yang lain gitu kan. Nah ntar kita di suratan-surat gitu kan ke DPKP. Ada pertemuan lah gitu kan secara terbuka gitu kan, dari kita maupun di DPKP-nya seperti apa,” ucapnya.

Namun sikap mereka tegas jika desain tidak mengakomodasi aspirasi warga.

“Kita tetep menolak,” tegasnya.

Evan berharap lapangan Teuku Umar tidak beralih fungsi menjadi taman skateboard dan meminta pemerintah membuka dialog sebelum mengambil keputusan. Menurutnya, lapangan itu perlu dipertahankan sebagai ruang publik yang bisa diakses berbagai kalangan dan tempat warga merawat kebersamaan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 09:36

Sumpah dari Masa ke Masa

Membicarakan "sumpah" yang dicatat sejarah.

Sumpah dari Masa ke Masa. (Sumber: GeminiAI)
Beranda 29 Okt 2026, 09:35

Nyala dari yang Terbuang: Ekonomi Sirkular Guwosari, Mengubah Sampah menjadi Harapan

Di tingkat hulu, program dilakukan dengan memberikan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat dari pintu ke pintu.

Warga binaan SS dan FH membuat kerajinan dari bahan daur ulang sampah di Rutan Kelas IIB Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat 11 September 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Arif Budianto)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 08:56

Peran Ganda Perempuan dalam Kondisi Karhutla

Dalam segala keadaan perempuan seringkali harus menjalani berbagai macam peran baik berdasarkan keinginan ataupun tuntutan sosial.

Ilustrasi Perempuan mendampingi anaknya belajar. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 21:32

Ketika Karhutla Menjadi Pelajaran bagi Warga Bandung

Ketika karhutla kembali melanda. Warga Bandung selalu mengikuti bagaimana api dipadamkan. Namun apa bukti kepedulian kita di sini? Tumbuhkan kesadaran lingkungan menjadi kebiasaan dan tanggung jawab.

Kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: tribratanews.polri.go.id)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:53

Mewah di Mata, Ramah di Kantong? Menilik Fifty One Braga

Di balik tampilan megah Fifty One Braga, ada pengalaman nongkrong dengan harga yang relatif terjangkau. Suasana elegan, pelayanan ramah, dan pilihan menu menjadi daya tarik tersendiri.

Tampilan bangunan dan interior Fifty One Braga yang menghadirkan kesan megah dan elegan di kawasan Jalan Braga, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 18:37

Melihat Asap dari Lensa Karl Marx

Asap tidak lepas dari perluasan perkebunan kelapa sawit. Siapa yang ada dibaliknya adalah korporasi dan prinsip kapitalistik. Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis.

Tawaran Karl Marx ialah membangun masayarakat berkelanjutan yang ekologis. (Sumber: Ilustrasi diolah Gemini AI)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 17:07

Sumpah Pemuda Jangan Cuma Gagah di Kata

Peringatan Sumpah Pemuda seharusnya mendorong lahirnya generasi yang berani bekerja, mencipta, dan berinovasi.

Ilustrasi peringatan Sumpah Pemuda 2026 pentignnya mencegah layunya bunga demokrasi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 28 Okt 2026, 15:46

Tantangan Jurnalis di Era AI Bukan Lagi Soal Kecepatan

Perkembangan AI dan maraknya kreator konten membuat kecepatan bukan lagi keunggulan eksklusif media.

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin. (Sumber: Humas Indonesia)
Beranda 28 Okt 2026, 15:30

IDMC 2026 AMSI Dibuka, Bahas Masa Depan Media di Era AI dan Konten Kreator

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika, mengatakan industri media menghadapi tantangan serius terkait kepercayaan publik.

Ketua Umum AMSI, Wahyu Dhyatmika. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 13:29

Budaya, Etika dan Moral di Tengah Perubahan Zaman: Refleksi Hari Sumpah Pemuda

Apa yang bisa kita definisikan kembali tentang budaya, etika dan moral dalam peringatan Hari Sumpah Pemuda Tahun ini? Seharusnya budaya, etika dan moral maknanya tidak tercerabut dalam perubahan zaman

Hari Sumpah Pemuda meneguhkan kembali budaya, etika, dan moral di tengah perubahan zaman (Sumber: magnific.com)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 12:46

Kala PKL Bandung Menunggu ‘Wahyu’ dari Balai Kota

Gerobak milik PKL yang menutup jalur pejalan kaki bukan urusan remeh. Begitu pula sampah, kemacetan, dan bangunan liar.

Petugas Satpol PP Kota Bandung melakukan penertiban bangunan liar di atas trotoar. Hal tersebut sebagai upaya lanjutan dalam pembenahan PKL di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 11:42

Nasi Timbel dalam Balutan Anyaman Sunda

Nasi timbel lengkap di Warung Kopi Gunung Ciwidey disajikan dalam anyaman bambu khas Sunda, dengan ikan asin balado dan rempeyek kacang renyah.

Hidangan yang di balut kearifan lokal. (Foto: Zahra Rihhadatul Aisy)
Ayo Netizen 28 Okt 2026, 08:06

Bukan Sekadar Tempat Ngopi: Cerita tentang Jeda di Kalatemu

Lebih dari sekadar tempat ngopi, Kalatemu menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melepas penat, menyelesaikan tugas, dan menikmati jeda dari rutinitas sehari-hari.

Tampak depan Kalatemu dengan logo kafe yang menjadi identitas tempat tersebut di Jalan Manisi, Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Yuhan Safarah)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 20:11

Kamar Mewah dalam Lapas

Pungli di lapas ada uang ada kamar mewah

Ilustrasi lapas. (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock project)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 19:00

Perguruan Tinggi di Bandung dan Karhutla

Karhutla sering terjadi di Indonesia sehingga diperlukan upaya-upaya agar tidak terjadi lagi di masa datang dengan aktifnya kampus atau Perguruan Tinggi berpartisasi dalam pencegahannya

Petugas gabungan melakukan pemadaman dan pendinginan kebakaran hutan dan lahan di wilayah Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, Rabu (12/8). (Sumber: Bidang Komunikasi Kebencanaan)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 18:02

Jejak Kenangan: Famor Radio Idola Bandung Era 80-90-an

Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR.

Booklet pedoman acara Radio Famor 1260 kHz yang memuat berbagai pilihan program siaran sepanjang tahun 1988. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 16:30

Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)

Kebakaran hutan dan lahan di Indonesia bukan lagi masalah jauh. Dampaknya nyata merusak alam, mengancam kesehatan dan merugikan ekonomi—layaknya halaman rumah kita sendiri yang sedang membara.

Ilustrasi kebakaran hutan dan lahan Gunung Semeru. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Ayo Netizen 27 Okt 2026, 15:23

Kita Menghirup Asap yang Sama

Dampak asap karhutla.

Ilustrasi polusi asap kebakaran. (Sumber: GeminiAi)