Ada masa ketika radio bukan sekadar perangkat hiburan, melainkan sahabat yang menemani berbagai aktivitas sehari-hari. Melalui radio, orang mendengarkan musik, mengikuti perkembangan informasi, menikmati sandiwara, dan menjalin kedekatan dengan suara-suara yang akrab di telinga.
Di Bandung, salah satu nama yang pernah mewarnai kehidupan pendengar pada era 1970-an hingga 1980-an adalah Radio FAMOR, warga Bandung mengenalnya sebagai singkatan dari Fata Morgana, yang mengudara pada frekuensi AM 1260 kHz.
Bagi generasi yang tumbuh pada masa itu, FAMOR bukan sekadar nama stasiun radio. Suara penyiar, pilihan musik, program-program unggulan, dan slogan khasnya menjadi bagian dari kenangan masa muda yang tetap melekat, bahkan setelah puluhan tahun berlalu.
Ketika itu teknologi siaran AM memang memiliki keterbatasan. Desis, gangguan penerimaan, dan perubahan kualitas sinyal kerap menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan. Namun, keterbatasan teknis tersebut tidak serta-merta mengurangi daya tarik FAMOR. Sebab, yang membuat sebuah radio dikenang bukan hanya kejernihan suara yang dipancarkan, melainkan juga isi siaran, karakter penyiar, serta kedekatan emosional yang terbangun dengan pendengarnya.
Bagi penulis, FAMOR memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan sejarah radio di Bandung. Kenangan itu bukan hanya tersimpan dalam ingatan, tetapi juga dalam dokumentasi sederhana yang masih terawat hingga kini.
Pedoman Acara 1988: Saksi Sebuah Zaman
Kenangan penulis tentang FAMOR semakin kuat ketika berkesempatan mengunjungi studionya di Jalan Gamelan No. 28, Turangga Bandung, pada tahun 1988. Dari kunjungan tersebut, penulis membawa pulang dua cendera mata yaitu stiker Radio FAMOR dan booklet Pedoman Acara Radio FAMOR Tahun 1988.
Kini, keduanya menjadi dokumentasi berharga yang membantu merekonstruksi suasana penyiaran pada masa itu. Stiker menjadi penanda identitas, sedangkan booklet menyimpan gambaran lebih konkret mengenai program-program yang menemani keseharian pendengar.
Booklet tersebut merekam susunan acara FAMOR dari pagi hingga tengah malam. Di antara program hariannya tercantum Famor Enerjik, Woman Atraktif, Famor Atraktif, Famor Eksplosif, The New One by One, Famor Regresif, Famor Impresif, dan Famor Ilusi.
Pada akhir pekan, pilihan acaranya semakin beragam. Ada 12 Candidate Stars Revolution, Famor Hot Rotation, Famor Cadenza, Famor Extended, Famor Country Week, dan 1260 Rock Progresif.
Nama-nama program tersebut mencerminkan kreativitas pengelola radio dalam membangun identitas siaran. Setiap acara memiliki penamaan dan karakter tersendiri, sehingga pendengar dapat mengenali jenis hiburan yang akan mereka nikmati.
FAMOR juga menghadirkan program bertema informasi dan pengenalan tokoh. Stars Today, misalnya, menampilkan tokoh-tokoh dunia, sedangkan Travel in the Air mengajak pendengar mengenal Indonesia dari udara.
Sementara itu, 1260 Pop Profile mengulas nama-nama yang mewarnai dunia musik populer, di antaranya Level 42, Foreigner, Bruce Springsteen, A-ha, Paul Simon, dan Simple Minds. Program semacam ini menjadi salah satu jendela bagi pendengar untuk mengenal perkembangan musik internasional pada zamannya.
Bagi pencinta musik, ada pula Live Concert, yang menghadirkan rekaman konser musisi dunia. Adapun Joni & Poni menawarkan hiburan melalui cerita remaja berbentuk sandiwara radio, sebuah format yang memiliki daya tarik tersendiri ketika televisi dan media digital belum mendominasi kehidupan sehari-hari.
FAMOR juga membuka ruang partisipasi bagi pendengarnya. Salah satunya melalui program Dialog dan Musik Country, yang menurut booklet tersebut diselenggarakan dua kali sebulan, setiap Minggu pukul 16.00–17.00, di studio radio.
Ragam program itu memperlihatkan bahwa FAMOR tidak hanya mengandalkan pemutaran lagu. Musik, informasi, cerita, dan keterlibatan pendengar dirangkai menjadi pengalaman siaran yang beragam.
Pada masa ketika layanan musik digital belum dikenal, jadwal radio memiliki arti penting. Pendengar harus mengetahui kapan acara favoritnya disiarkan, menyesuaikan aktivitas, lalu menunggu saat penyiar mulai menyapa dari balik mikrofon. Ada unsur penantian dan kebersamaan yang kini mungkin terasa berbeda dibandingkan pengalaman menikmati musik melalui layanan digital.
Karena itulah, booklet pedoman acara tersebut bukan sekadar daftar program. Ia merupakan potret kecil budaya mendengarkan radio pada zamannya.
Para Penyiar di Balik Mikrofon
Sejarah sebuah stasiun radio tidak dapat dipisahkan dari orang-orang yang menghidupkan siarannya. Di balik suara yang terdengar melalui gelombang AM 1260 kHz, terdapat penyiar, pengelola, dan kru yang menyiapkan program serta menjaga agar siaran tetap berlangsung.
Sejumlah nama yang tercatat dalam kenangan dan dokumentasi perjalanan FAMOR antara lain Joe Martanegara, Ready Sahid, Rasta Hadiputra, Rudy Kasigari, Duddy Pradana, Ari Batara, Indra Bigwanto, Nick Andika, Gita Putrianda, Nina Subekti, Sakti Febrian, Evi Arisman, Avianty Dachlan atau Avy May, Nana Tjahjandari, Vidha Aryani, Colly Nur Coana, Boyke Rivai, Eddy K.A. Berutu, dan Nick Tobing.
Nama-nama tersebut menjadi bagian dari ingatan tentang orang-orang yang pernah berada di balik perjalanan FAMOR. Meski peran dan masa keterlibatan masing-masing perlu ditelusuri lebih lanjut melalui dokumentasi yang tersedia, keberadaan mereka mengingatkan kita bahwa sejarah radio pada dasarnya juga merupakan sejarah manusia.
Penulis sendiri berkesempatan bertemu dengan Opung Boyke Riv'ai, berkomunikasi via sosmed dengan orang-orang dibalik kejayaan Radio Famor diantaranya Ready Sahid, Nick Tobing, Avy May dan Evie Arisman ngobrol ringan tentang Radio Famor dan serba-serbinya. Pertemuan tersebut menjadi bagian dari kenangan pribadi tentang FAMOR sekaligus pengingat bahwa setiap suara yang pernah hadir di udara memiliki kisahnya sendiri.
Bagi pendengar, penyiar bukan sekadar pembaca naskah atau pengantar lagu. Cara berbicara, pilihan kata, selera humor, dan karakter suara dapat menumbuhkan rasa akrab. Bahkan tanpa pernah bertatap muka, pendengar bisa merasa seolah-olah mengenal penyiar yang setiap hari menemani aktivitas mereka.
Hubungan semacam itulah yang menjadi kekuatan radio. Suara hadir tanpa wajah, tetapi mampu membangun kedekatan yang nyata.
Ketika sebuah stasiun berhenti mengudara, suara itu mungkin tidak lagi terdengar melalui frekuensi yang sama. Namun, kenangan tentang penyiar dan programnya dapat bertahan jauh lebih lama daripada masa siarannya.
Dari FAMOR ke TOP FM Bandung: Jejak Para Insan Radio
Dalam menelusuri perjalanan FAMOR, ada dua jalur sejarah yang perlu dibedakan. Jalur pertama berkaitan dengan perjalanan para awak dan insan radio yang melanjutkan kiprahnya di stasiun lain. Jalur kedua menyangkut riwayat perusahaan atau perizinan yang dikaitkan dengan perkembangan stasiun radio berbeda.
Pembedaan ini penting agar sejarah tidak tercampur antara perpindahan personel dan perubahan kepemilikan atau pengelolaan usaha.
Dalam catatan perjalanan penulis, ketika operasional FAMOR berakhir, sejumlah awak dan insan radionya melanjutkan kiprah di Radio TOP FM Bandung. Stasiun ini beroperasi di kawasan Jalan Kayu Ambon No. 1, kompleks Sesko AU, Lembang.
Pada 1991, penulis berkesempatan mengunjungi studio TOP FM di Lembang. Kunjungan tersebut menjadi babak berikutnya dalam perjalanan nostalgia, setelah sebelumnya mengenal FAMOR melalui studio, para penyiar, dan booklet pedoman acara yang diperoleh pada 1988.
Peralihan dari FAMOR ke TOP FM juga mengingatkan kita pada perubahan teknologi penyiaran. Jika FAMOR dikenal melalui gelombang AM, TOP FM hadir dengan siaran FM stereo yang menawarkan pengalaman mendengarkan musik dengan kualitas suara yang umumnya lebih baik dalam kondisi penerimaan yang memadai.
Bagi pencinta musik, perbedaan tersebut bukan hal sepele. Kejernihan suara dan pemisahan kanal stereo memberikan pengalaman mendengarkan yang lebih sesuai dengan karakter musik modern yang berkembang ketika itu.
Di antara program TOP FM yang dikenang penulis adalah Bintang Khatulistiwa, yang menyajikan tangga lagu Indonesia, serta American Top 40 (AT40), program tangga lagu internasional yang pada periode tersebut dibawakan oleh Shadoe Stevens.
Dalam penyajiannya di Indonesia, Ray Kasman disebut pernah menjadi co-host, kemudian digantikan oleh Cindy Marexa. Rincian mengenai periode dan susunan pembawa acara tersebut masih perlu dicocokkan dengan arsip siaran atau dokumentasi sezaman agar kronologinya dapat disusun secara lebih akurat.
Kehadiran program tangga lagu menunjukkan bahwa radio memiliki peran penting dalam memperkenalkan musik dan mengikuti perkembangan popularitas lagu. Sebelum informasi musik mudah diakses melalui internet, program semacam ini menjadi rujukan bagi pendengar yang ingin mengetahui lagu-lagu yang tengah digemari, baik di dalam maupun di luar negeri.

Dari sudut pandang sejarah personal, TOP FM merupakan bagian dari kesinambungan perjalanan sejumlah insan yang sebelumnya berkaitan dengan FAMOR. Pengalaman, keterampilan, dan semangat penyiaran dapat diteruskan meskipun tempat kerja dan identitas stasiunnya berubah.
Dengan demikian, hubungan FAMOR dan TOP FM dalam tulisan ini terutama ditempatkan pada jalur perjalanan para insan radio, bukan sebagai pernyataan bahwa kedua stasiun tersebut memiliki kesinambungan badan usaha atau izin penyiaran yang sama.
“Dewasa Berjiwa Muda, Muda Bersikap Dewasa”
Di antara hal yang membuat FAMOR mudah dikenang adalah slogannya: “Dewasa Berjiwa Muda, Muda Bersikap Dewasa.”
Kalimat ini sederhana, tetapi mengandung pesan yang cukup mendalam tentang semangat hidup, kedewasaan berpikir, dan keterbukaan terhadap perubahan zaman.
"Dewasa Berjiwa Muda” mengajak mereka yang telah matang dalam usia untuk tetap memelihara semangat, kreativitas, rasa ingin tahu, serta keberanian menyambut hal-hal baru. Bertambahnya usia tidak harus membuat seseorang kehilangan gairah hidup atau terjebak dalam pola pikir yang kaku.
Sebaliknya, “Muda Bersikap Dewasa” mengingatkan generasi muda bahwa kehidupan tidak cukup dijalani dengan mengikuti tren. Diperlukan tanggung jawab, pertimbangan yang matang, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.
Jika dicermati, kedua bagian slogan tersebut membentuk pesan yang saling melengkapi. Kedewasaan tidak harus menghilangkan semangat muda, sementara kemudaan tidak menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab.
Pesan ini terasa selaras dengan citra FAMOR yang dekat dengan musik populer, dunia anak muda, dan perkembangan budaya. Radio bukan hanya menghadirkan lagu dan hiburan, tetapi juga membangun suasana pergaulan yang dapat menjembatani generasi muda dengan mereka yang lebih dewasa.
Slogan tersebut juga mengingatkan kita bahwa usia dan kematangan sikap tidak selalu berjalan beriringan. Ada orang yang tetap muda dalam semangat meskipun usianya terus bertambah. Sebaliknya, seseorang yang masih muda dapat menunjukkan kedewasaan melalui cara berpikir, tanggung jawab, dan sikapnya terhadap orang lain.
Dalam konteks radio, slogan yang kuat bukan sekadar rangkaian kata untuk memperkenalkan sebuah stasiun. Ia dapat menjadi identitas, pembeda, sekaligus pesan yang melekat dalam ingatan pendengar.
“Dewasa Berjiwa Muda, Muda Bersikap Dewasa” pada akhirnya melampaui fungsi sebuah slogan radio. Ia menjadi pengingat bahwa semangat dan kedewasaan seharusnya berjalan beriringan, apa pun usia dan zamannya.
Dari FAMOR ke Radio Dakta Bekasi: Jalur Perusahaan dan Perizinan
Berbeda dengan kisah para awak radio yang dikaitkan dengan TOP FM, jalur kedua menyangkut riwayat perusahaan atau perizinan yang dalam catatan penulis dihubungkan dengan perkembangan Radio Dakta di Bekasi.
Berdasarkan informasi yang menjadi bahan tulisan ini, pada awal 1991 terjadi pengambilalihan perusahaan atau izin operasional yang berkaitan dengan Radio FAMOR oleh pihak yang kemudian mengembangkan Radio Dakta di Bekasi melalui PT Radio Nada Komunikasi Utama.
Informasi tersebut membuka perspektif lain dalam memahami sejarah FAMOR. Berakhirnya sebuah stasiun radio tidak selalu berarti seluruh jejaknya terputus pada waktu yang sama. Dalam keadaan tertentu, perjalanan personel dapat berlanjut di satu tempat, sedangkan riwayat badan usaha atau perizinannya berkembang melalui jalur berbeda.
Dua jalur ini menjadi bagian penting dalam merekonstruksi perjalanan FAMOR yakni satu melalui manusia yang meneruskan kiprahnya di dunia penyiaran, dan satu lagi melalui riwayat perusahaan atau perizinan yang dikaitkan dengan Radio Dakta Bekasi.
Kini, Radio FAMOR AM 1260 kHz tinggal kenangan. Namun, jejaknya masih dapat ditelusuri melalui nama-nama penyiar, program-program unggulan, dokumentasi lama, serta kisah perjalanan para insan radio yang pernah menjadi bagian dari sejarahnya.
Bagi penulis, booklet Pedoman Acara Radio FAMOR Tahun 1988 bukan sekadar kumpulan jadwal siaran. Ia merupakan saksi kecil dari masa ketika radio menjadi teman sehari-hari, ketika pendengar menantikan acara favorit, dan ketika suara seorang penyiar mampu menghadirkan kedekatan tanpa bantuan layar.
Sebuah stiker mungkin tampak sederhana, begitu pula sebuah booklet yang telah melewati puluhan tahun. Namun, ketika keduanya masih tersimpan, benda-benda tersebut memperoleh makna yang lebih besar. Keduanya menjadi penghubung antara masa lalu dan masa kini, antara pengalaman pribadi dan ingatan kolektif tentang dunia penyiaran.
Perjalanan dari FAMOR menuju TOP FM Bandung memperlihatkan bagaimana kiprah para insan radio dapat berlanjut di tempat yang berbeda. Sementara itu, informasi mengenai perusahaan atau perizinan yang dikaitkan dengan Radio Dakta Bekasi.
Kisah-kisah tersebut mengingatkan kita bahwa sejarah radio tidak selalu berakhir ketika sebuah stasiun berhenti mengudara. Sebagian berlanjut melalui orang-orang yang berpindah, sebagian tersimpan dalam dokumen, dan sebagian lagi hidup dalam kenangan para pendengar.
Bagi generasi yang pernah akrab dengan FAMOR, mungkin masih ada suara penyiar yang terbayang ketika nama-nama programnya disebut kembali. Mungkin pula ada lagu tertentu yang langsung membawa ingatan pada suasana rumah, perjalanan, atau masa muda yang telah lama berlalu.
Kenangan semacam itu tidak selalu tercatat dalam dokumen resmi. Namun, ketika dikumpulkan dan dipadukan dengan bukti tertulis, ia dapat menjadi bagian berharga dari sejarah penyiaran Indonesia.
Baca Juga: Karhutla Jauh dari Kota Bandung, namun Ibarat Kebakaran Halaman Rumah Sendiri (Bagian 1)
Karena itu, menjaga dokumentasi lama, mencatat kesaksian para pelaku, dan memeriksa kembali arsip yang tersedia merupakan langkah penting agar kisah FAMOR tidak berhenti sebagai nostalgia pribadi. Kisah tersebut dapat menjadi bagian dari ingatan bersama tentang perkembangan radio dan budaya populer di Indonesia.
Mungkin itulah warisan paling berharga Radio FAMOR bukan hanya musik yang pernah diputar atau suara yang pernah mengisi udara, melainkan juga kedekatan, semangat, dan pengalaman yang ditinggalkannya bagi para pendengar.
Siarannya boleh berhenti, frekuensinya boleh tinggal kenangan, tetapi sejarahnya tidak harus ikut menghilang.
Selama dokumentasi tetap terawat, kesaksian terus dihimpun, dan kisahnya diceritakan kembali dengan cermat, FAMOR akan selalu memiliki tempat dalam sejarah radio Bandung.
Sebab, sebuah radio tidak sepenuhnya hilang ketika siarannya berakhir. Selama masih ada yang mengingat dan bersedia menuturkan kisahnya, suaranya akan selalu menemukan jalan untuk kembali mengudara. (*)