Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

4 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)

Jauh sebelum layanan kesehatan mudah dijangkau melalui berbagai platform digital seperti sekarang, surat kabar menjadi salah satu sumber informasi penting bagi masyarakat, termasuk dalam mencari pengobatan. Selain mendatangi dokter, klinik, atau rumah sakit, sebagian masyarakat juga mengenal pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh tabib dan praktisi pengobatan tradisional.

Di Kota Bandung, keberadaan tabib dengan beragam keahlian pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ada yang menawarkan pengobatan untuk wasir atau ambeien, gangguan mata, impotensi, obat keperkasaan pria, penyubur kumis dan jenggot hingga berbagai keluhan kesehatan lainnya. Nama dan jasa mereka tidak jarang menghiasi kolom iklan surat kabar, menjadi informasi yang menarik perhatian pembaca sekaligus mengundang rasa penasaran.

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional. Melalui iklan-iklan tersebut, para tabib memperkenalkan layanan, mencantumkan alamat tempat praktik, serta menawarkan berbagai metode pengobatan kepada masyarakat.

Sejumlah tabib dan pengobatan alternatif membuka praktik di kawasan yang cukup dikenal masyarakat, antara lain Jalan Suniaraja, Jalan Kebonjati, Jalan Bungsu, dan Jalan A. Yani. Pada masa itu, kawasan-kawasan tersebut menjadi bagian dari denyut perdagangan dan aktivitas ekonomi Kota Bandung.

Alamat praktik yang dicantumkan dalam iklan memudahkan calon pasien mengetahui tempat pengobatan yang dituju. Bagi sebagian orang, iklan surat kabar menjadi pintu awal untuk mengenal seorang tabib, mencari informasi mengenai jenis pengobatan yang ditawarkan, atau mempertimbangkan pilihan pengobatan yang tersedia.

Menariknya, iklan-iklan tersebut memiliki gaya bahasa yang khas. Kalimatnya dibuat singkat, tegas, dan persuasif. Nama penyakit, keunggulan pengobatan, alamat praktik, serta kesaksian pasien menjadi unsur yang kerap ditonjolkan untuk menarik perhatian pembaca.

Potongan iklan tabib yang dimuat surat kabar Berdikari Bandung, edisi 28 November 1959. (Foto: Kin Sanubary)
Potongan iklan tabib yang dimuat surat kabar Berdikari Bandung, edisi 28 November 1959. (Foto: Kin Sanubary)

Salah satu jenis iklan yang cukup mencolok adalah penawaran pengobatan wasir atau ambeien. Beberapa tabib mempromosikan pengobatan yang diklaim dapat mengatasi penyakit tersebut tanpa operasi atau pemotongan pada bagian dubur.

Ada pula iklan yang menawarkan pengobatan gangguan mata tanpa tindakan operasi. Janji pengobatan semacam ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pasien, terutama mereka yang merasa khawatir terhadap tindakan medis atau ingin mencari alternatif pengobatan.

Untuk memperkuat kepercayaan masyarakat, sejumlah iklan menyertakan surat kesaksian atau testimoni pasien yang diklaim telah memperoleh manfaat dari pengobatan tersebut. Bahasa yang digunakan pun beragam. Selain bahasa Indonesia, ada iklan yang memanfaatkan bahasa Sunda agar terasa lebih akrab dan dekat dengan masyarakat setempat.

Tentu saja, berbagai klaim kesembuhan yang tercantum dalam iklan merupakan bagian dari materi promosi pada zamannya, bukan bukti medis mengenai efektivitas pengobatan. Namun, dari sudut pandang sejarah, cara para tabib menyampaikan penawaran dan membangun kepercayaan publik merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri.

Iklan tabib bukan sekadar pengumuman mengenai jasa pengobatan. Di balik deretan kalimat promosi dan alamat praktik, tersimpan gambaran tentang kehidupan sosial masyarakat Bandung pada masa itu.

Iklan-iklan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat mengenal beragam pilihan pengobatan, bagaimana para tabib memperkenalkan jasanya, serta bagaimana surat kabar berperan sebagai penghubung antara penyedia layanan dan calon pasien.

Iklan tabib dan pengobatan alternatif yang dimuat surat kabar Bandung Pos, edisi 27 Februari 1996. Dokumentasi ini menjadi jejak praktik pengobatan alternatif yang pernah menghiasi halaman surat kabar di Kota Bandung. (Foto: Kin Sanubary)
Iklan tabib dan pengobatan alternatif yang dimuat surat kabar Bandung Pos, edisi 27 Februari 1996. Dokumentasi ini menjadi jejak praktik pengobatan alternatif yang pernah menghiasi halaman surat kabar di Kota Bandung. (Foto: Kin Sanubary)

Lebih dari itu, iklan pengobatan tradisional juga menjadi bagian dari wajah pers lokal. Di antara berita politik, kriminalitas, olahraga, hiburan, dan berbagai informasi kota, iklan tabib hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang mungkin dahulu hanya dibaca sekilas, lalu dilupakan.

Kini, ketika lembaran surat kabar lama dibuka kembali, iklan-iklan tersebut justru menawarkan cerita tersendiri. Nama tabib, alamat praktik, pilihan kata, hingga bentuk tata letak iklannya dapat menjadi bahan untuk mengenang suasana Bandung pada masa lampau.

Bagi mereka yang pernah menjalani kehidupan di Bandung pada era 1980–1990-an, membaca kembali iklan pengobatan tradisional mungkin menghadirkan perasaan yang berbeda. Ingatan bisa melayang pada koran yang dibaca setiap pagi, suasana kios surat kabar, hiruk-pikuk pusat kota, hingga nama-nama jalan yang dahulu begitu akrab di telinga.

Ada pula kenangan tentang kebiasaan membuka halaman demi halaman koran, membaca berita utama, lalu tanpa sengaja menemukan iklan tabib dengan kalimat promosi yang mencolok. Hal-hal sederhana seperti itu kini menjadi bagian dari pengalaman masa lalu yang tidak mudah terulang dalam bentuk yang sama.

Dokumentasi iklan dari surat kabar lama, termasuk Berdikari Bandung edisi 28 November 1959 dan Bandung Pos edisi 27 Februari 1996, semakin memperkaya gambaran mengenai perjalanan iklan pengobatan tradisional di Kota Bandung lintas zaman.

Pada akhirnya, iklan-iklan tersebut bukan hanya menyimpan cerita tentang tabib dan pengobatan alternatif, tetapi juga merekam denyut kehidupan masyarakat serta perjalanan pers Kota Bandung. Apa yang dahulu mungkin dianggap iklan biasa, kini dapat menjadi potongan sejarah yang berharga.

Kenangan indah yang tersimpan di antara lembaran koran lama menjadi sebuah nostalgia tentang Bandung tempo dulu, ketika surat kabar menjadi teman sehari-hari dan setiap iklan, sekecil apa pun, turut mewarnai cerita sebuah kota. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Okt 2026, 20:14

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 18:15

Zona Merah, Konflik yang Tak Kunjung Usai: Ojol dan Opang Butuh Aturan yang Adil

Konflik ojol dan opang di Bandung menunjukkan pentingnya aturan zona merah yang jelas dan adil. Mediasi saja tidak cukup; keselamatan dan kepastian akses harus dijamin bagi semua pihak.

Ilustrasi pangkalan ojek konvensional di kawasan Bandung. (Sumber: Google Maps (Street View). | Foto: Google Street View)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 17:07

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Merawat RTH Pasirwangi sebagai investasi jangka panjang.

Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)
Seni Budaya 19 Okt 2026, 16:20

Yamko Rambe Yamko dan Teka-Teki Identitas Papua

Yamko Rambe Yamko dikenal sebagai lagu daerah Papua. Namun, sejumlah seniman Papua mempertanyakan bahasa, asal-usul, dan sejarah di balik lagu populer ini.

Tarian Yamko Rambe Yamko (Sumber: Enhanced from Indonesia Kaya)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 16:08

Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi antar pemda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 15:37

Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional.

Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 13:58

Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Artikel ini membahas kemacetan di Jalan Cimincrang. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti perlintasan kereta api dan tingginya aktivitas di kawasan Gedebage. Kemudian, bagaimana solusinya?

Kemacetan pada waktu rush hour di Jalan Cimincrang. (Foto: Rahma Rumaisha Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 12:43

Kemacetan Paskal Tiada Henti: Sampai Kapan Pengendara Harus Saling Serobot?

Kemacetan di Jalan Pasirkaliki (Paskal) Bandung makin parah akibat kebiasaan saling serobot dan parkir sembarangan. Akses pejalan kaki pun ikut terkunci total.

Kondisi arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasirkaliki (Paskal), Kota Bandung, yang mengalami kepadatan dan antrean panjang kendaraan. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Rahma Tsania Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 09:26

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar - Bagian 1

Pada saat kondisi ekonomi yang tidak menentu, apakah PHK karyawan menjadi solusi terbaik? Kenapa Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur bisa mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar?

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 08:59

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Keliling Kota Indonesia menjumpai para pegiat literasi menjadi rencana ekspedisi versi saya untuk mendapat pengalaman yang bermakna dalam hidup.

Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 07:40

Bahasa Sunda Bukan Sekadar Urusan Orang Sunda

Bahasa Sunda dominan di banyak wilayah Priangan. Tapi, di pesisir utara, khususnya Indramayu, Cirebon, dan sebagian Karawang-Subang, bahasa Jawa sudah lama digunakan.

Ilustrasi 'Rumah Besar' Jawa Barat. (Sumber: Dokumen pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 20:31

Cuanki: Semangkok Kehangatan dari Kota Bandung

Bagaimana sejarah munculnya cuanki di Kota Bandung dari zaman dulu hingga zaman sekarang?

Foto semangkok cuanki (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 19:54

BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

Jalan kaki di Bandung kerap terasa serba salah hingga dianggap cap ketidakmampuan ekonomi. Mampukah rencana BRT Bandung Raya mengubah budaya car-centric ini?

Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 15:23

Film Horor dan Komedi adalah Kita

Fenomena di industri film Indonesia.

Film Horor dan Komedi adalah Kita (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 11:46

Menata Rumah di Bantaran Rel Bandung Raya, Tanpa Mengabaikan Warga

Bandung Raya membutuhkan transportasi massal yang semakin andal, tetapi juga membutuhkan kebijakan perumahan yang tidak membiarkan masyarakat terjebak dalam hunian berisiko.

Gambar ilustrasi kondisi jalur rel di Bandung Raya yang perlu dibenahi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 10:32

Sangkanhurip, Mata Air Kehidupan yang Menguatkan Jiwa

Di Jawa Barat, kata sangkan banyak dijadikan toponim, dijadikan nama tempat, seperti nama geografis Sangkanhurip, Sangkanherang, dan Sangkanmulya.

Telaga yang dijadikan destinasi wisata ini akan terjaga airnya bila hutan di Gunung Cerémé tetap terjaga. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)