Jauh sebelum layanan kesehatan mudah dijangkau melalui berbagai platform digital seperti sekarang, surat kabar menjadi salah satu sumber informasi penting bagi masyarakat, termasuk dalam mencari pengobatan. Selain mendatangi dokter, klinik, atau rumah sakit, sebagian masyarakat juga mengenal pengobatan alternatif yang ditawarkan oleh tabib dan praktisi pengobatan tradisional.
Di Kota Bandung, keberadaan tabib dengan beragam keahlian pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Ada yang menawarkan pengobatan untuk wasir atau ambeien, gangguan mata, impotensi, obat keperkasaan pria, penyubur kumis dan jenggot hingga berbagai keluhan kesehatan lainnya. Nama dan jasa mereka tidak jarang menghiasi kolom iklan surat kabar, menjadi informasi yang menarik perhatian pembaca sekaligus mengundang rasa penasaran.
Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional. Melalui iklan-iklan tersebut, para tabib memperkenalkan layanan, mencantumkan alamat tempat praktik, serta menawarkan berbagai metode pengobatan kepada masyarakat.
Sejumlah tabib dan pengobatan alternatif membuka praktik di kawasan yang cukup dikenal masyarakat, antara lain Jalan Suniaraja, Jalan Kebonjati, Jalan Bungsu, dan Jalan A. Yani. Pada masa itu, kawasan-kawasan tersebut menjadi bagian dari denyut perdagangan dan aktivitas ekonomi Kota Bandung.
Alamat praktik yang dicantumkan dalam iklan memudahkan calon pasien mengetahui tempat pengobatan yang dituju. Bagi sebagian orang, iklan surat kabar menjadi pintu awal untuk mengenal seorang tabib, mencari informasi mengenai jenis pengobatan yang ditawarkan, atau mempertimbangkan pilihan pengobatan yang tersedia.
Menariknya, iklan-iklan tersebut memiliki gaya bahasa yang khas. Kalimatnya dibuat singkat, tegas, dan persuasif. Nama penyakit, keunggulan pengobatan, alamat praktik, serta kesaksian pasien menjadi unsur yang kerap ditonjolkan untuk menarik perhatian pembaca.

Salah satu jenis iklan yang cukup mencolok adalah penawaran pengobatan wasir atau ambeien. Beberapa tabib mempromosikan pengobatan yang diklaim dapat mengatasi penyakit tersebut tanpa operasi atau pemotongan pada bagian dubur.
Ada pula iklan yang menawarkan pengobatan gangguan mata tanpa tindakan operasi. Janji pengobatan semacam ini tentu menjadi daya tarik tersendiri bagi calon pasien, terutama mereka yang merasa khawatir terhadap tindakan medis atau ingin mencari alternatif pengobatan.
Untuk memperkuat kepercayaan masyarakat, sejumlah iklan menyertakan surat kesaksian atau testimoni pasien yang diklaim telah memperoleh manfaat dari pengobatan tersebut. Bahasa yang digunakan pun beragam. Selain bahasa Indonesia, ada iklan yang memanfaatkan bahasa Sunda agar terasa lebih akrab dan dekat dengan masyarakat setempat.
Tentu saja, berbagai klaim kesembuhan yang tercantum dalam iklan merupakan bagian dari materi promosi pada zamannya, bukan bukti medis mengenai efektivitas pengobatan. Namun, dari sudut pandang sejarah, cara para tabib menyampaikan penawaran dan membangun kepercayaan publik merupakan hal yang menarik untuk ditelusuri.
Iklan tabib bukan sekadar pengumuman mengenai jasa pengobatan. Di balik deretan kalimat promosi dan alamat praktik, tersimpan gambaran tentang kehidupan sosial masyarakat Bandung pada masa itu.
Iklan-iklan tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat mengenal beragam pilihan pengobatan, bagaimana para tabib memperkenalkan jasanya, serta bagaimana surat kabar berperan sebagai penghubung antara penyedia layanan dan calon pasien.

Lebih dari itu, iklan pengobatan tradisional juga menjadi bagian dari wajah pers lokal. Di antara berita politik, kriminalitas, olahraga, hiburan, dan berbagai informasi kota, iklan tabib hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang mungkin dahulu hanya dibaca sekilas, lalu dilupakan.
Kini, ketika lembaran surat kabar lama dibuka kembali, iklan-iklan tersebut justru menawarkan cerita tersendiri. Nama tabib, alamat praktik, pilihan kata, hingga bentuk tata letak iklannya dapat menjadi bahan untuk mengenang suasana Bandung pada masa lampau.
Bagi mereka yang pernah menjalani kehidupan di Bandung pada era 1980–1990-an, membaca kembali iklan pengobatan tradisional mungkin menghadirkan perasaan yang berbeda. Ingatan bisa melayang pada koran yang dibaca setiap pagi, suasana kios surat kabar, hiruk-pikuk pusat kota, hingga nama-nama jalan yang dahulu begitu akrab di telinga.
Ada pula kenangan tentang kebiasaan membuka halaman demi halaman koran, membaca berita utama, lalu tanpa sengaja menemukan iklan tabib dengan kalimat promosi yang mencolok. Hal-hal sederhana seperti itu kini menjadi bagian dari pengalaman masa lalu yang tidak mudah terulang dalam bentuk yang sama.
Dokumentasi iklan dari surat kabar lama, termasuk Berdikari Bandung edisi 28 November 1959 dan Bandung Pos edisi 27 Februari 1996, semakin memperkaya gambaran mengenai perjalanan iklan pengobatan tradisional di Kota Bandung lintas zaman.
Pada akhirnya, iklan-iklan tersebut bukan hanya menyimpan cerita tentang tabib dan pengobatan alternatif, tetapi juga merekam denyut kehidupan masyarakat serta perjalanan pers Kota Bandung. Apa yang dahulu mungkin dianggap iklan biasa, kini dapat menjadi potongan sejarah yang berharga.
Kenangan indah yang tersimpan di antara lembaran koran lama menjadi sebuah nostalgia tentang Bandung tempo dulu, ketika surat kabar menjadi teman sehari-hari dan setiap iklan, sekecil apa pun, turut mewarnai cerita sebuah kota. (*)