Bahasa Sunda Bukan Sekadar Urusan Orang Sunda

6 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi 'Rumah Besar' Jawa Barat. (Sumber: Dokumen pribadi | Foto: AI Gemini)
Ilustrasi 'Rumah Besar' Jawa Barat. (Sumber: Dokumen pribadi | Foto: AI Gemini)

KALAU diibaratkan, Jawa Barat itu seperti "rumah besar” yang terus kedatangan tamu. Tamunya, ada yang sudah lama tinggal, ada yang baru pindah karena kerjaan, sekolah, atau ikut keluarga.

Nah, di “rumah” itu, bahasa Sunda-lah yang paling sering terdengar. Tapi, tentu, bukan berarti semua orang di dalam “rumah” itu hanya bisa atau harus berbahasa Sunda.

Sensus Penduduk 2010 mencatat sekitar 71,87 persen penduduk Jawa Barat berasal dari suku Sunda. Angka itu memang sudah lama. Badan Pusat Statistik kemudian menerbitkan publikasi bertajuk Profil Suku dan Keragaman Bahasa Daerah Hasil Long Form Sensus Penduduk 2020 pada Desember 2024, yang antara lain mengulas profil suku Sunda dan penggunaan bahasa daerah dalam keluarga serta masyarakat. 

Data yang lebih anyar ini penting, sebab besarnya populasi Sunda tidak dengan sendirinya menunjukkan seberapa kuat bahasa Sunda diwariskan dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Persoalannya bukan cuma seberapa banyak orang Sunda pituin yang tinggal di Jawa Barat, melainkan juga seberapa jauh bahasa Sunda tetap hidup di tengah perubahan penduduk dan mobilitas sosial.

Hitam-putih

Peta bahasa di Jawa Barat tidak hitam-putih. Bahasa Sunda dominan di banyak wilayah Priangan. Tapi, di pesisir utara, khususnya Indramayu, Cirebon, dan sebagian Karawang-Subang, bahasa Jawa (dengan dialek lokalnya) sudah lama dipakai. 

Di wilayah dekat Jakarta seperti Bekasi dan Depok, bahasa Betawi dan campuran ikut mewarnai. Ditambah lagi bahasa-bahasa pendatang yang hidup di komunitas-komunitas kecil. Ini fakta geografis dan historis.

Sejumlah sumber menaksir, jumlah penutur bahasa Sunda di Indonesia diperkirakan antara 32 hingga 42 juta orang. Ini menjadikannya bahasa Sunda sebagai bahasa daerah  terbesar kedua setelah bahasa Jawa.

Sebagian besar penutur bahasa Sunda memang berada di Jawa Barat. Tapi, jumlah penutur besar tidak otomatis membuat bahasa itu aman dari pergeseran. Beberapa kajian menunjukkan penggunaan bahasa Sunda di kalangan generasi muda cenderung menurun, terutama di kota-kota besar. Banyak anak muda lebih nyaman memakai bahasa Indonesia atau bahasa gado-gado.

Kebudayaan bersama

Pelestarian bahasa daerah akan lebih kuat jika dijalankan sebagai kekayaan kebudayaan bersama, bukan sebagai alat untuk menentukan siapa yang lebih pantas disebut warga Jawa Barat. Kalau bahasa Sunda diperlakukan seperti kartu keanggotaan, yang tidak bisa berbahasa Sunda otomatis merasa berada di luar. Padahal, orang yang lahir dan besar di Cirebon atau Bekasi juga warga Jawa Barat yang sah.

Penelitian sosiolinguistik sudah lama menunjukkan bahwa bahasa hidup ketika ia berguna dan dihargai, bukan ketika ia dipaksakan. 

Ahli sosiolinguistik Joshua Fishman (1991) menekankan bahwa keberlangsungan bahasa sangat bergantung pada pewarisan antargenerasi, terutama melalui keluarga dan komunitas. Bahasa tidak cukup dipertahankan melalui pelajaran sekolah, upacara resmi, atau slogan pelestarian yang muluk. 

Secara demikian bahasa harus tetap digunakan dalam percakapan sehari-hari, di rumah, di lingkungan tetangga, di pasar, dan di ruang sosial lainnya. Kegiatan formal tetap penting, tetapi akan terbatas hasilnya jika anak-anak tidak lagi memperoleh dan menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Pendekatan eksklusif justru bisa kontraproduktif. Ketika kebijakan bahasa terasa seperti ujian kesetiaan etnis, orang yang berasal dari latar berbeda cenderung menjauh. Padahal, data menunjukkan bahwa banyak pendatang di Jawa Barat justru ingin beradaptasi.

Faktanya, tak sedikit dari mereka yang berupaya belajar kata-kata Sunda dasar, ikut kegiatan budaya lokal, dan menyekolahkan anak di lingkungan yang ada pelajaran bahasa Sundanya. Proses itu lebih mudah terjadi jika suasananya terbuka.

Sebaliknya, ada risiko jika pelestarian bahasa hanya digantungkan pada kelompok etnis tertentu. Bahasa bisa berubah menjadi identitas yang kaku, sementara generasi muda yang tumbuh di lingkungan campuran merasa tidak punya tempat. Beberapa survei lokal menunjukkan bahwa sebagian anak muda di kota besar merasa “kurang Sunda” hanya karena tidak fasih berbahasa Sunda. 

Ilmu perencanaan bahasa (language planning) membedakan, antara lain, status planning dan corpus planning. Yang pertama bertalian dengan kedudukan, fungsi, dan ranah penggunaan bahasa dalam masyarakat. Yang kedua menyangkut pengembangan bahasa itu sendiri, mulai dari ejaan, tata bahasa, dan kosakata hingga pembakuan istilah serta penyediaan bahan ajar. Keduanya perlu dirancang dengan memperhatikan realitas demografi, pola penggunaan bahasa, dan kebutuhan masyarakat.

Di Jawa Barat, kedudukan bahasa Sunda sebagai bahasa daerah utama di banyak wilayah memberikan alasan kuat bagi pemerintah untuk mendukung pelestarian dan penggunaannya.

Namun, penguatan bahasa Sunda tidak harus dilakukan dengan mengurangi ruang bagi bahasa daerah lain yang juga hidup di tengah masyarakat. Tantangannya ialah bagaimana membangun kebijakan bahasa yang mengakui posisi historis dan sosial bahasa Sunda sekaligus menghormati keragaman penduduk di Jawa Barat.

Contoh praktis sudah ada. Misalnya, dalam hal penerapan program “Rebo Nyunda” atau hari khusus berbahasa Sunda di sekolah dan kantor. Program seperti itu bagus selama tidak berubah menjadi ajang “penghukuman” bagi yang belum/tidak fasih bahasa Sunda. Festival Tunas Bahasa Ibu yang digelar di tingkat kabupaten hingga provinsi juga bagus dalam upaya membuka ruang ekspresi. Tinggal yang perlu dijaga adalah agar ruang itu tetap inklusif, bukan eksklusif.

Bahasa daerah menjadi warna

Sekarang, mari kita bayangkan di sebuah angkot di Bandung, penumpang dari berbagai latar saling sapa. Ada yang bilang “punten”, ada yang mengucap “permisi”, ada yang berkata “nuwun sewu”. Dan semua bisa saling mengerti.

Bahasa daerah memberi warna pada kehidupan kita, sedangkan bahasa Indonesia memungkinkan kita saling memahami. Kita tidak perlu meninggalkan bahasa sendiri untuk bisa duduk berdampingan dan menempuh perjalanan yang sama.

Tantangan terbesar kini justru ada di generasi muda. Mereka hidup di dua dunia sekaligus, yakni digital global dan digital lokal. Bahasa Sunda akan lebih menarik bagi mereka jika hadir di media yang mereka konsumsi sehari-hari, bukan hanya di buku pelajaran yang terasa kaku.

Beberapa kreator konten sudah mulai melakukan itu. Mereka membuat konten-konten lucu, podcast, atau lagu dalam bahasa Sunda yang terdengar natural. Itu bentuk pelestarian yang lebih hidup dan selaras kemajuan zaman.

Di tingkat komunitas, banyak contoh bagus. Keluarga campur yang tetap mempertahankan bahasa ibu masing-masing sambil memakai bahasa Indonesia di rumah.Itu bukan tanda lemahnya identitas, melainkan tanda kemampuan beradaptasi. 

Kebijakan publik perlu mendukung realitas ini. Muatan lokal bahasa Sunda di sekolah penting, terutama di wilayah yang penuturnya masih kuat. Tapi di wilayah yang secara historis berbahasa Jawa atau Betawi, pendekatan bisa disesuaikan. Tidak harus seragam. Ilmu bahasa daerah sudah menunjukkan bahwa dialek dan variasi lokal juga memiliki nilai.

Ada juga aspek psikologis yang perlu mendapat perhatian. Ketika seseorang merasa bahasanya dihargai, ia lebih mudah menghargai bahasa orang lain. Sebaliknya, jika merasa bahasanya terancam atau diabaikan, reaksi defensif lebih mudah muncul. Di Jawa Barat yang heterogen, menjaga rasa saling menghargai lebih penting daripada memperebutkan posisi “paling asli”.

Pengalaman negara lain menunjukkan hal serupa. Di wilayah dengan banyak bahasa regional, pendekatan inklusif biasanya menghasilkan vitalitas bahasa yang lebih baik dalam jangka panjang. Bahasa yang diperlakukan sebagai milik bersama cenderung lebih tahan terhadap tekanan globalisasi.

Kekayaan bersama

Bahasa Sunda bakal tetap hidup jika ia terus dipakai dalam kehidupan sehari-hari yang nyata. Bukan cuma di acara seremonial, tapi di warung, di grup WhatsApp keluarga, di lagu yang dinyanyikan anak-anak, dan di percakapan santai antar tetangga. Semakin banyak orang yang merasa nyaman menggunakannya, semakin kuat posisinya.

Menjadikan bahasa Sunda sebagai kekayaan bersama bukan berarti mengabaikan sejarah atau menghapus kekhasannya. Justru sebaliknya. Dengan membuka ruang bagi semua warga Jawa Barat untuk ikut menjaga dan menikmatinya, bahasa Sunda punya peluang lebih besar untuk terus relevan. 

Tidak perlu memaksa semua orang di Jawa Barar menjadi penutur fasih basa Sunda. Cukup membuat mereka merasa bahwa bahasa itu bagian dari “rumah” bersama, bukan milik eksklusif satu kelompok.

Itulah yang agaknya yang lebih masuk di akal. Tegasnya, melindungi bahasa Sunda sebagai bahasa daerah utama di banyak wilayah Jawa Barat, sambil tetap menghormati keragaman bahasa yang sudah lama hidup di tanah yang sama. 

Tidak ada yang harus dikalahkan. Semuanya bisa tumbuh berdampingan, selama kita tidak mengubah bahasa menjadi pagar pembatas. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Okt 2026, 20:14

Pengalaman Memandu SMP Athirah Makassar (Bagian #2)

Ketika berkeliling istana, saya seperti memasuki dimensi abad ke-19. Pilar-pilar besar seperti mengucapkan selamat datang kepada kami.

Para pemandu CV Shakha Pesona dalam pemanduan SMP Athirah Makassar. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 18:15

Zona Merah, Konflik yang Tak Kunjung Usai: Ojol dan Opang Butuh Aturan yang Adil

Konflik ojol dan opang di Bandung menunjukkan pentingnya aturan zona merah yang jelas dan adil. Mediasi saja tidak cukup; keselamatan dan kepastian akses harus dijamin bagi semua pihak.

Ilustrasi pangkalan ojek konvensional di kawasan Bandung. (Sumber: Google Maps (Street View). | Foto: Google Street View)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 17:07

Mewujudkan RTH Pasirwangi yang Berkelanjutan

Merawat RTH Pasirwangi sebagai investasi jangka panjang.

Walikota Bandung M Farhan saat meresmikan RTH Pasirwangi. (Sumber: Bandung.go.id)
Seni Budaya 19 Okt 2026, 16:20

Yamko Rambe Yamko dan Teka-Teki Identitas Papua

Yamko Rambe Yamko dikenal sebagai lagu daerah Papua. Namun, sejumlah seniman Papua mempertanyakan bahasa, asal-usul, dan sejarah di balik lagu populer ini.

Tarian Yamko Rambe Yamko (Sumber: Enhanced from Indonesia Kaya)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 16:08

Mitigasi Banjir Cibiru Tak Cukup Diatasi dengan Drainase

Mitigasi banjir Cibiru mesti disesuaikan dengan persoalan tata ruang, ekologi, infrastruktur, dan koordinasi antar pemda.

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, meninjau tiga titik rawan banjir di Kecamatan Cibiru pada Jumat, 16 Oktober 2026. (Foto: Humas Pemkot Bandung)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 15:37

Iklan Pengobatan Tradisional di Kota Bandung Era 1980–1990-an

Pada era 1980–1990-an, koran-koran yang terbit di Bandung, seperti Pikiran Rakyat, Bandung Pos, Mandala, dan Gala, cukup sering memuat iklan pengobatan tradisional.

Iklan ikonik era 1990-an yang menawarkan Firdaus Oil, minyak penyubur kumis, jambang, dan janggut. Produk ini dikenal hanya bisa diperoleh di tempat praktik tabib atau toko obat tertentu. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 13:58

Kemacetan di Jalan Cimincrang Akibat Perlintasan Kereta Api dan Aktivitas Kawasan Gedebage, Apa Solusinya?

Artikel ini membahas kemacetan di Jalan Cimincrang. Hal ini dikarenakan banyak faktor seperti perlintasan kereta api dan tingginya aktivitas di kawasan Gedebage. Kemudian, bagaimana solusinya?

Kemacetan pada waktu rush hour di Jalan Cimincrang. (Foto: Rahma Rumaisha Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 12:43

Kemacetan Paskal Tiada Henti: Sampai Kapan Pengendara Harus Saling Serobot?

Kemacetan di Jalan Pasirkaliki (Paskal) Bandung makin parah akibat kebiasaan saling serobot dan parkir sembarangan. Akses pejalan kaki pun ikut terkunci total.

Kondisi arus lalu lintas di kawasan Jalan Pasirkaliki (Paskal), Kota Bandung, yang mengalami kepadatan dan antrean panjang kendaraan. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Rahma Tsania Putri)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 09:26

Kenapa Jawa Barat Mengalami Dampak PHK Terbesar - Bagian 1

Pada saat kondisi ekonomi yang tidak menentu, apakah PHK karyawan menjadi solusi terbaik? Kenapa Jawa Barat sebagai pusat industri manufaktur bisa mengalami pengurangan tenaga kerja terbesar?

Sejumlah buruh perempuan disalah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 08:59

Keliling Kota Indonesia: Menjumpai Klub Baca di Cirebon x Gramedia Grage Mall

Keliling Kota Indonesia menjumpai para pegiat literasi menjadi rencana ekspedisi versi saya untuk mendapat pengalaman yang bermakna dalam hidup.

Kegiatan Klub Baca Cirebon di Grage Mall Cirebon. (Sumber: Klub Baca Cirebon)
Ayo Netizen 19 Okt 2026, 07:40

Bahasa Sunda Bukan Sekadar Urusan Orang Sunda

Bahasa Sunda dominan di banyak wilayah Priangan. Tapi, di pesisir utara, khususnya Indramayu, Cirebon, dan sebagian Karawang-Subang, bahasa Jawa sudah lama digunakan.

Ilustrasi 'Rumah Besar' Jawa Barat. (Sumber: Dokumen pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 20:31

Cuanki: Semangkok Kehangatan dari Kota Bandung

Bagaimana sejarah munculnya cuanki di Kota Bandung dari zaman dulu hingga zaman sekarang?

Foto semangkok cuanki (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 19:54

BRT Bandung Raya, Budaya Car-Centric, dan Nasib Pejalan Kaki

Jalan kaki di Bandung kerap terasa serba salah hingga dianggap cap ketidakmampuan ekonomi. Mampukah rencana BRT Bandung Raya mengubah budaya car-centric ini?

Suasana pembangunan halte on-corridor BRT Bandung Raya di Jalan Ahmad Yani Cicadas, Kota Bandung, Kamis (15/10/2026) sore. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Sarah Annisa Fadhila)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 15:23

Film Horor dan Komedi adalah Kita

Fenomena di industri film Indonesia.

Film Horor dan Komedi adalah Kita (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 11:46

Menata Rumah di Bantaran Rel Bandung Raya, Tanpa Mengabaikan Warga

Bandung Raya membutuhkan transportasi massal yang semakin andal, tetapi juga membutuhkan kebijakan perumahan yang tidak membiarkan masyarakat terjebak dalam hunian berisiko.

Gambar ilustrasi kondisi jalur rel di Bandung Raya yang perlu dibenahi (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 17 Okt 2026, 10:32

Sangkanhurip, Mata Air Kehidupan yang Menguatkan Jiwa

Di Jawa Barat, kata sangkan banyak dijadikan toponim, dijadikan nama tempat, seperti nama geografis Sangkanhurip, Sangkanherang, dan Sangkanmulya.

Telaga yang dijadikan destinasi wisata ini akan terjaga airnya bila hutan di Gunung Cerémé tetap terjaga. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)