Cuanki sudah tidak asing bagi kita yang tinggal di Kota Bandung. Harganya yang murah, kuahnya yang hangat, dan isian yang bermacam-macam sudah menjadi ciri khas cuanki.
Lalu, bagaimana sejarah munculnya cuanki di Kota Bandung dari zaman dulu hingga zaman sekarang?
Apa itu cuanki?
Cuanki adalah makanan berkuah khas Bandung, Jawa Barat, yang terdiri dari aneka olahan berbahan dasar aci (tepung tapioka) dan tahu, disajikan dalam kuah kaldu gurih yang hangat. Sekilas cuanki mirip bakso, tetapi karakternya berbeda. Isiannya lebih beragam, teksturnya kenyal sekaligus renyah, dan kuahnya cenderung bening dengan rasa gurih yang ringan.
Di Bandung, cuanki identik dengan jajanan malam hari atau saat hujan turun. Makanan ini dijajakan dengan gerobak pikul atau dorong, dan sampai sekarang masih sering ditemui berkeliling di permukiman, sekolah, maupun pusat keramaian.
Sejarah Cuanki
Banyak orang mengira nama “cuanki” adalah singkatan dari “cari uang jalan kaki”. Penelusuran asal-usulnya menunjukkan bahwa anggapan itu tidak sepenuhnya tepat. Singkatan tersebut lebih mungkin berupa plesetan yang muncul belakangan, karena banyak pedagang cuanki memang berjualan dengan berkeliling.
Cuanki berasal dari istilah bahasa Hokkien Choan Kie (賺氣) yang artinya "rezeki" atau "keberuntungan". Makanan ini mulanya diproduksi oleh pabrik dimsum di wilayah Bandung dan Sekitarnya dengan konsumen utama warga Tionghoa. Karena menyasar konsumen tersebut, olahan ini pada awalnya dibuat dari daging babi.
Titik baliknya terjadi pada tahun 1980-an. Sejumlah mantan pegawai pabrik Choan Kie, yang sebagian besar berasal dari Bandung, Garut, dan Ciamis, mulai memproduksi dan menjual sendiri. Agar bisa dinikmati masyarakat umum, mereka mengganti daging babi dengan ikan tenggiri. Respons pasar ternyata baik, dan hidangan berkuah ini menjadi alternatif baru selain bakso dan mi ayam. Dari sinilah cuanki berkembang menjadi jajanan kaki lima yang kita kenal sekarang, dan nama “Choan Kie” perlahan berubah ejaan dan pelafalannya menjadi “cuanki”.
Isi Mangkok Cuanki
Isi semangkok cuanki bisa berbeda-beda tergantung penjualnya, tetapi umumnya terdiri dari:
- Bakso: Bakso kenyal yang dibuat dari tepung tapioka, biasanya tidak ada isian
- Siomay kukus: Siomay lembut yang berisi adonan ikan tenggiri
- Siomay goreng: Siomay kering yang renyah dan gurih
- Tahu: Tahu goreng atau tahu putih yang menyerap kuah dengan baik
- Indomie: Pelengkap opsional, biasanya rasa Ayam Bawang atau Soto
- Kuah kaldu: Kuah bening gurih, biasanya dari rebusan tulang dan daging ayam atau sapi.
- Pelengkap: Seledri, bawang goreng, sambal, kecap, jeruk limau, dan cuka sesuai seler

Cuanki di Zaman Sekarang
Kini cuanki tetap bertahan sebagai kuliner favorit dan wujudnya makin beragam. Pedagang keliling dengan gerobak pikul masih ada, tetapi cuanki juga bisa ditemukan di kedai, food court, hingga restoran. Beberapa tempat sudah dikenal luas dan menjadi tujuan wisata kuliner, salah satunya Cuanki Serayu. Kawasan seperti Pusdai juga terkenal dengan cuanki kaki lima yang buka sore hingga dini hari.
Inovasi terus bermunculan. Ada cuanki dengan isian lebih mewah, seperti bakso isi keju atau daging premium, serta pilihan level pedas bagi penggemar sambal. Cuanki pun hadir dalam bentuk kemasan instan, frozen food, dan paket yang bisa dikirim ke luar kota, sehingga orang di perantauan tetap bisa menikmatinya.
Kemudahan teknologi turut berperan. Lewat aplikasi pesan antar makanan dan media sosial, kedai cuanki kecil pun bisa dikenal lebih luas. Meski begitu, banyak penikmat tetap menganggap pengalaman terbaik adalah menikmati cuanki langsung dari pikul atau gerobak, ditemani suara tukang cuanki yang berkeliling di malam hari.
Baca Juga: Film Horor dan Komedi adalah Kita
Cuanki bukan sekadar makanan berkuah, tetapi bagaimana sebuah hidangan bisa bertransformasi mengikuti zaman dan selera masyarakatnya. Berawal dari produk pabrik dimsum di wilayah Bandung hingga menjadi jajanan rakyat sampai sekarang.
Bagi banyak orang Bandung, aroma kaldu dan bawang goreng dari semangkok cuanki bukan hanya soal rasa, tetapi juga pemantik kenangan masa kecil, nongkrong bersama teman, atau pulang larut malam dengan perut kenyang.
Kini, cuanki terus berkembang tanpa melupakan akarnya. Inovasi seperti isian keju, level pedas, hingga kemasan beku yang bisa dikirim ke luar kota memperluas jangkauannya jauh melampaui Bandung. Namun, di balik semua variasi itu, hal yang membuat cuanki dicintai tetap sama: perpaduan tekstur kenyal dan renyah, kuah gurih yang menghangatkan, dan kesederhanaan yang jujur.
Jadi, saat berkunjung ke Bandung, jangan lupa beli cuanki!