Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

5 menit baca
ghisa ghaisani
Ditulis oleh ghisa ghaisani diterbitkan
Emma Poeradiredja
Emma Poeradiredja

Kalau ditanya siapa tokoh penting di balik sejarah politik Sunda, kebanyakan orang akan langsung menyebut Paguyuban Pasundan, atau nama-nama pergerakan laki-laki yang mengisi buku sejarah nasional seperti R. Otto Iskandar Dinata, Wiranatakoesoema, dan sederet tokoh lain yang biasa disandingkan dengan narasi kebangkitan Jawa Barat. Perjuangan perempuan Sunda, kalau pun disebut, sering hanya jadi catatan kaki dari organisasi laki-laki tersebut. Padahal, di tengah dominasi itu, ada perempuan yang justru membangun ruang politiknya sendiri dan bukan sekadar menumpang di organisasi laki-laki, melainkan mendirikan wadahnya sendiri, memimpinnya, dan pada akhirnya duduk di kursi dewan kota yang sebelumnya tak pernah dijamah perempuan pribumi. Perempuan itu bernama Emma Poeradiredja.

Siapa Emma Poeradiredja?

Emma lahir di Cilimus, Kuningan, pada 13 Agustus 1902, dari pasangan Raden Kardata Poeradiredja dan Nyi Raden Siti Djariah yang sama-sama berdarah menak Sunda. Nama lengkapnya sebenarnya Nyi Raden Rachmat'ulhadiah Poeradiredja, tapi nama itu nyaris tak pernah dipakai orang. Sejak remaja Emma sudah aktif berorganisasi, ia bergabung dengan Jong Java pada 1918, lalu setelah menamatkan pendidikan di MULO bekerja di jawatan kereta api milik Belanda, Staatsspoorwegen, yang sekarang lebih dikenal dengan nama PT KAI, sebagaimana dicatat oleh Farhan A.N. dalam artikel “Memupuk Nasionalisme dan Kemandirian dari Perjuangan Emma Poeradiredja”. Namun, pekerjaan itu tak menghentikan langkahnya di dunia pergerakan.

Pada 1925 Emma bergabung dengan Jong Islamieten Bond (JIB) yang ia anggap lebih progresif dibanding organisasi kepemudaan lain, dan setahun berikutnya ia terpilih menjadi ketua cabang JIB Bandung, seperti ditulis Angga Pusaka Hidayat dan Widyo Nugrahanto dalam jurnal Patanjala berjudul “Dina Mangsa Tahapan Katilu: Biografi Politik Emma Poeradiredja, 1935–1941”. Posisi itu pula yang membawanya hadir sebagai wakil JIB dalam Kongres Pemuda I tahun 1926, dan kembali tampil dalam Kongres Pemuda II pada 27–28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Di forum itu, Emma berbicara tentang pentingnya perempuan hadir bukan hanya dalam wacana pergerakan, tetapi juga dalam tindakan nyata.

Mendirikan Pasundan Istri

Semangat itu yang kemudian ia tuangkan ke dalam wadah organisasi. Setelah pada 1927 mendirikan Dameskring bersama kawan-kawannya untuk menghimpun perempuan muda terpelajar, Emma bersama delapan aktivis perempuan lain mendirikan organisasi Pasoendan Bagian Isteri (PBI) pada 30 April 1930 di bawah payung Paguyuban Pasundan. Setahun kemudian nama itu diubah menjadi Pasundan Istri (PASI), dan Emma dipilih sebagai ketua umumnya, seperti dipaparkan Fuji Astuti dan Yani Kusmarni dalam jurnal “Rekam Jejak Perjuangan Pasundan Istri (PASI) di Bandung 1930–1970”.

PASI bukan sekadar organisasi sosial biasa. Menurut Astuti dan Kusmarni, ia punya anggaran dasar dan kepengurusan sendiri, terbuka bagi perempuan Indonesia berusia minimal 18 tahun yang telah lulus sekolah, dan bahkan menerima perempuan non-pribumi sebagai donatur meski tanpa hak suara. Fokus perjuangannya luas yaitu dengan mendirikan pendidikan baca-tulis, kursus keterampilan seperti menjahit dan memasak, pendirian sekolah-sekolah seperti Atikan Murangkalih Istri di Bandung, Tasikmalaya, Bogor, dan Cianjur, hingga penguatan ekonomi perempuan lewat koperasi Simpanan PASI Bandung yang berkembang menjadi Koperasi Bank Wanita. Semua itu dilakukan tanpa “menyerang” posisi laki-laki, tetapi tetap tegas memperjuangkan derajat perempuan sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Sunda sebagai identitas organisasi.

Menembus Gemeenteraad

Kiprah PASI yang meluas ke berbagai kota di Jawa Barat ternyata membuka jalan politik yang lebih besar bagi Emma sendiri. Pada Agustus 1938, dalam pemilihan anggota dewan kota praja atau gemeenteraad Bandung yang berlangsung ketat, Emma terpilih sebagai anggota yang menjadikannya perempuan Sunda pertama yang duduk di lembaga tersebut, sebagaimana dicatat Validnews dalam “Kesetaraan dan Kemerdekaan di Mata Emma Poeradiredja”. Ia bahkan menjadi satu-satunya perempuan di antara para anggota dewan kota saat itu. Dalam sebuah rapat umum penyambutan di Balai Kota, sebagaimana diberitakan surat kabar De Indische Courant pada 26 September 1938 dan dikutip ulang Pikiran Rakyat, Emma berjanji tidak hanya akan mengurus kepentingan perempuan, tetapi juga kepentingan Kota Bandung secara keseluruhan. Emma kembali menjabat pada periode berikutnya, 1938–1942, hingga masa pendudukan Jepang mengakhiri sistem dewan kota kolonial tersebut.

Apa yang sebenarnya diperjuangkan Emma?

Kalau ditelusuri lebih jauh, perjuangan Emma bukan sekadar soal “perempuan boleh masuk politik”. Lewat PASI, ia memperjuangkan akses pendidikan yang selama ini nyaris tertutup bagi perempuan pribumi, kecuali bagi kalangan bangsawan dan priyayi, sebagaimana diuraikan Astuti dan Kusmarni. Ia juga mendorong kemandirian ekonomi perempuan lewat koperasi, sekaligus memastikan perempuan tidak tercerabut dari akar budayanya yaitu dengan menggunakan bahasa Sunda sebagai “bahasa ibu” dalam setiap pertemuan PASI, sementara kesenian dan adat Sunda terus dilestarikan di tengah modernisasi yang dibawa pendidikan Barat. Ketika duduk di gemeenteraad, ia membawa cara pandang yang sama bahwa politik bukan ranah yang harus dipertentangkan dengan kepentingan perempuan atau kepentingan kota secara luas, melainkan ruang untuk memperjuangkan keduanya sekaligus.

Menyambungkan ke politik Sunda hari ini

Jejak Emma Poeradiredja penting dibaca ulang justru karena sejarah politik Sunda kerap ditulis dengan sudut pandang yang timpang organisasi, tokoh, dan capaian politik laki-laki mendapat tempat utama, sementara peran perempuan diposisikan sebagai pelengkap gerakan sosial-budaya semata. Padahal, seperti dicatat oleh Astuti dan Kusmarni, organisasi ini tidak hanya bergerak di lingkup sosial, tetapi juga ikut serta secara nasional dalam Kongres Perempuan Indonesia dan turut mendorong isu hak pilih perempuan menjelang kemerdekaan.

Pertanyaan tentang siapa yang duduk di meja pengambil keputusan juga masih terasa hari ini. Di atas kertas, aturannya jauh lebih maju dibanding zaman Emma. Pasal 245 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu mengatur bahwa daftar bakal calon legislatif memuat keterwakilan perempuan paling sedikit 30 persen. Kenyataannya, angka itu belum pernah tercapai di DPR. Ketua DPR Puan Maharani menyebutnya rekor tertinggi sepanjang sejarah, sekaligus mengakui capaian itu masih jauh dari target minimal 30 persen. Kenaikannya pun tipis, sebab pada Pemilu 2019 perempuan menempati 127 dari 580 kursi atau 21,9 persen. Hambatan terbesarnya tampaknya bukan di tahap pencalonan. Rata-rata partai mencalonkan perempuan sebanyak 37,13 persen dari daftar calon DPR menurut data KemenPPPA yang dihimpun GoodStats, tetapi yang akhirnya terpilih hanya sekitar 22 persen.

Di Jawa Barat, potretnya serupa. BandungBergerak mencatat bahwa dari 120 anggota DPRD Jawa Barat 2024–2029 yang dilantik pada 2 September 2024, hanya 27 yang perempuan, atau sekitar 22,5 persen. Aturan teknisnya pun beberapa kali diuji. Pada 2023, KPU lewat Pasal 8 ayat (2) PKPU 10/2023 menerapkan pembulatan ke bawah dalam menghitung 30 persen calon perempuan per daerah pemilihan. Akibatnya, di dapil dengan delapan caleg, cukup dua perempuan atau 25 persen untuk dianggap memenuhi kuota.

Rendahnya keterwakilan perempuan di parlemen hari ini menunjukkan bahwa perjuangan merebut ruang politik masih jauh dari selesai. Namun, kisah Emma Poeradiredja mengingatkan bahwa persoalan itu bukan hal baru di tanah Sunda. Hampir seabad lalu, di Bandung, ruang politik perempuan dibangun dari titik paling akar, dari kursus keterampilan, sekolah, dan koperasi simpan pinjam, sebelum akhirnya menembus kursi dewan kota. Jalan itu sudah pernah dirintis oleh seorang perempuan Sunda. Saat ini, yang tersisa adalah memastikan jalan itu tidak berhenti hanya di angka.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)