Pembangunan Kota Bandung dan Kota Cimahi menjadi saksi bisu kolaborasi genius antara insinyur planologi, arsitek dan ahli teknik sipil terkemuka. Sejak zaman kolonial hingga era modern, tata kota yang estetik dan fungsional dirancang dengan presisi tinggi. Sinergi lintas disiplin ini berhasil melahirkan kawasan urban yang terintegrasi sekaligus ikonik.
Para maestro arsitektur seperti Herman Thomas Karsten dan Charles Prosper Wolff Schoemaker meletakkan fondasi awal lansekap Kota Kembang, Bandung. Pemikiran visioner mereka berpadu dengan keahlian teknis para insinyur sipil yang membangun infrastruktur kokoh penopang wilayah. Perencanaan wilayah planologi kemudian menyatukan Bandung dan Cimahi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan kebudayaan strategis.
Hingga saat ini, jejak warisan para tokoh hebat tersebut masih berdiri tegak dan terus berkembang pesat. Artikel ini akan mengulas kisah inspiratif, karya monumental dan kontribusi besar para profesional yang merancang wajah Bandung dan Cimahi. Mari kita telusuri dedikasi di balik keindahan dan ketangguhan tata ruang kedua kota.
Baca Juga: Relasi Santri dengan Indonesia
Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi
Untuk menyusun daftar yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, perlu dibedakan 3 (tiga) kelompok profesi: insinyur planologi atau perencana kota, insinyur arsitektur atau perancang bangunan dan insinyur sipil atau pelaksana konstruksi. Ketiganya memiliki fungsi berbeda, meskipun pada masa Hindia-Belanda seseorang terkadang menjalankan lebih dari satu fungsi.
Khusus Kota Bandung dan Kota Cimahi, penelitian perlu mencakup sumber Belanda seperti arsip Gemeente Bandoeng, Bouwkundig Weekblad, Indisch Bouwkundig Tijdschrift, Locale Techniek dan publikasi pemerintah kolonial; sumber Inggris, seperti kajian sejarah arsitektur kolonial dan sumber Indonesia seperti inventaris bangunan cagar budaya serta penelitian sejarah kota.
Baca Juga: Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?
Ada satu batasan penting: nama perancang yang tercantum dalam sumber sejarah tidak otomatis merupakan nama insinyur sipil yang membangun gedung tersebut. Pembangunannya mungkin dilaksanakan oleh dinas pekerjaan umum, kontraktor swasta atau perusahaan konstruksi yang berbeda dari arsiteknya. Karena itu, Penulis akan memisahkan nama yang memiliki bukti dokumenter dari nama yang masih perlu ditelusuri, alih-alih menganggap semua bangunan mempunyai data lengkap.
Insinyur Planologi dan Perencana Kota Bandung
Nama-nama berikut merupakan titik awal yang didukung oleh sumber sejarah dan kajian akademis. Namun, perlu dibedakan antara perencana tata kota secara keseluruhan dan anggota tim yang menangani perencanaan proyek tertentu.
Charles Prosper Wolff Schoemaker (25 Juli 1882 – 22 Mei 1949)
Prof. Ir. Charles Prosper Wolff Schoemaker, adalah arsitek maestro asal Belanda yang membentuk wajah modern Kota Bandung pada masa kolonial Hindia-Belanda. Dianggap sebagai salah satu arsitek paling produktif dan berpengaruh di zamannya, ia berhasil memadukan keelokan arsitektur modern Eropa seperti Art Deco dengan elemen tradisional vernakular Nusantara.
Selain merancang puluhan bangunan ikonik, Schoemaker merupakan akademisi terpandang yang menjabat sebagai guru besar dan Rektor ketujuh Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung - ITB). Dalam dunia pergerakan Indonesia, ia memiliki peran historis yang sangat penting sebagai dosen sekaligus mentor utama Ir. Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia, yang kala itu sempat bekerja sebagai juru gambar di biro arsitekturnya.
Baca Juga: Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas
Karya Arsitektur Monumental di Bandung
Dari puluhan gedung rancangannya, beberapa bangunan rancangan Schoemaker yang kini berstatus sebagai cagar budaya andalan Kota Bandung meliputi:
- Villa Isola (Bumi Siliwangi), dibangun pada tahun 1933 untuk miliarder Dominique Willem Berretty. Gedung megah bergaya Art Deco/Streamline Moderne ini sekarang berfungsi sebagai gedung rektorat Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
- Gedung Merdeka (Sociëteit Concordia), gedung bersejarah di Jalan Asia Afrika yang menjadi saksi bisu pelaksanaan Konferensi Asia Afrika (KAA) pada tahun 1955.
- Grand Hotel Preanger, hotel legendaris bergaya Art Deco kental, di mana Soekarno muda ikut dilibatkan oleh Schoemaker sebagai asisten dalam proyek renovasinya.
- Masjid Raya Cipaganti, sebuah mahakarya unik yang menampilkan akulturasi gaya Jawa (atap sirap) dan Eropa. Masjid ini menjadi satu-satunya tempat ibadah Muslim yang dibangun di tengah kawasan pemukiman elite Eropa saat itu.
- Katedral Santo Petrus dan Gereja Bethel, dua bangunan peribadahan umat Kristen dengan struktur gotik dan modern fungsional yang ikonik di pusat kota.
- Bioskop Majestic dan Landmark Building, gedung hiburan dan pertokoan di kawasan legendaris Jalan Braga.
Sisi Lain Kehidupan Spiritual dan Personal
Kehidupan personal Schoemaker dipenuhi cerita yang flamboyan dan penuh warna. Ia lahir di kamp militer Banyubiru, Ambarawa, Jawa Tengah dan memulai karier awalnya sebagai letnan zeni militer KNIL sebelum sepenuhnya terjun ke dunia arsitektur sipil.
- Menjadi Mualaf, sekitar tahun 1915, Schoemaker memutuskan untuk memeluk agama Islam setelah mendalami agama tersebut. Ia dikenal dekat dengan tokoh Muslim terkemuka Mohamad Natsir dan mendapatkan nama Islami, Kemal. Ia bahkan sempat singgah ke Kairo serta menunaikan ibadah haji ke Makkah.
- Hubungan dengan Soekarno, Sukarno sangat menghormati Schoemaker karena tidak sekadar mengajarinya ilmu arsitektur, melainkan juga menanamkan apresiasi mendalam terhadap budaya Barat maupun Timur.
- Akhir hayat, Schoemaker memilih untuk tetap tinggal di Indonesia pasca-kemerdekaan dan mengajar hingga akhir hayatnya. Ia wafat di Bandung pada usia 66 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Kristen Pandu secara Katolik atas keputusan keluarganya. Desain batu nisan makamnya konon dirancang langsung oleh Bung Karno sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada sang guru.
Herman Thomas Karsten (1884-1945)
Herman Thomas Karsten adalah salah satu tokoh arsitektur dan perencanaan wilayah kolonial paling berpengaruh di Indonesia. Pendekatannya sangat radikal pada masanya karena ia memadukan rancangan tata kota modern Barat dengan unsur lokal, iklim tropis dan aspek keadilan sosial bagi seluruh etnis
Jasa dan kontribusi Karsten dalam pembangunan Kota Bandung dan hubungannya dengan Cimahi meliputi beberapa poin penting berikut:
Kontribusi di Kota Bandung
- Penerapan Konsep Garden City (Kota Kebun). Karsten menyusun proyek perluasan kota yang dikenal sebagai Karsten Plan (1941–1942). Ia menerapkan konsep kota kebun tropis (tropische stad) yang menekankan keseimbangan antara kawasan hunian dan ruang terbuka hijau. Rancangannya menciptakan kota yang sejuk dan asri dengan membagi zonasi pemukiman dan perkantoran secara rapi.
- Perancangan Ruang Publik dan Taman Kota. Banyak ruang publik terbuka di Bandung utara yang lahir dari pengaruh konsep ruang hijaunya. Beberapa spot ruang terbuka hijau dan taman ikonik di Bandung yang mengadopsi konsep tata kota Garden City miliknya meliputi Taman Ganesha, Taman Merdeka, Taman Maluku, Taman Lalu Lintas Ade Irma Suryani hingga kawasan Gasibu.
- Penasihat Tata Kota Bandung. Jauh sebelum merancang rencana perluasannya, Karsten telah aktif terlibat di Bandung. Pada tahun 1930, ia ditunjuk sebagai penasihat untuk merevisi rencana pengembangan kota Bandung dan secara resmi tercatat sebagai Penasihat Perencana Kota Bandung (Stadsvormingscommissie) dari tahun 1937 hingga 1940.
- Pendidikan Arsitektur di Technische Hoogeschool te Bandoeng. Pada tanggal 1 September 1941, Karsten diangkat menjadi staf pengajar bidang Planologi (Perencanaan Wilayah dan Kota) di Technische Hoogeschool te Bandoeng (sekarang Institut Teknologi Bandung) dengan jabatan Lektor Luar Biasa. Lewat dedikasinya mengajar, ia mendidik generasi pertama arsitek dan perencana kota pribumi di Indonesia.
Kontribusi dan Hubungan dengan Cimahi
- Jejak akhir hayat di kamp interniran Cimahi. Karsten secara spesifik tidak membangun infrastruktur sipil atau rancangan tata kota komersial untuk Cimahi seperti yang ia lakukan di kota-kota besar lainnya. Namun, Cimahi menjadi bagian dari babak akhir sejarah hidupnya. Karsten adalah sosok yang mendukung kemerdekaan Indonesia. Ketika tentara pendudukan Jepang masuk ke Indonesia pada tahun 1942, ia ditangkap karena statusnya sebagai warga Eropa dan dijebloskan ke Kamp Interniran Jepang di Cimahi.
- Peristirahatan terakhir. Karsten meninggal dunia di dalam kamp tahanan Cimahi tersebut pada tanggal 21 April 1945. Jasadnya kini disemayamkan secara terhormat di Taman Makam Kehormatan Belanda (Ereveld) Leuwigajah, Cimahi. Cita-citanya untuk mengabdi dan wafat di bumi Nusantara akhirnya tercapai di kota ini. (Bersamung ke Bagian 2)***