Kota Bandung tidak hanya terkenal dengan keindahan alam dan kulinernya yang memikat wisatawan. Di balik modernitasnya, kota ini menyimpan kekayaan sejarah yang luar biasa. Berbagai sudut kota dipenuhi bangunan tua bernilai arsitektur tinggi. Keberadaan cagar budaya ini menjadi bukti nyata perjalanan panjang ibu kota Jawa Barat dari masa ke masa.
Warisan sejarah di Kota Kembang mencakup kawasan kolonial hingga situs prasejarah yang bernilai tinggi. Bangunan berarsitektur Art Deco yang megah masih berdiri kokoh menghiasi jalan-jalan protokol. Setiap struktur menyimpan cerita kebudayaan, politik dan sosial masa lalu. Merawat aset ini sama dengan menjaga identitas serta memori kolektif masyarakat Bandung.
Namun, tantangan pelestarian cagar budaya di tengah pesatnya pembangunan perkotaan semakin nyata terlihat. Banyak situs bersejarah terancam dialihfungsikan atau bahkan rusak karena kurangnya kepedulian. Artikel ini akan mengulas pentingnya melindungi warisan leluhur Bandung. Upaya ini penting agar generasi mendatang tetap bisa menikmati keindahan sejarah kota mereka.
Cagar Budaya
Cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa benda, bangunan, struktur, situs atau kawasan yang perlu dilestarikan karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.
Kriteria Cagar Budaya
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010, sebuah objek bisa ditetapkan sebagai cagar budaya jika memenuhi syarat berikut:
- Berusia minimal 50 tahun.
- Mewakili gaya bangunan atau masa gaya khas sekurang-kurangnya 50 tahun.
- Memiliki arti khusus bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama dan kebudayaan.
- Memiliki nilai penguatan kepribadian bangsa.
Lima Kategori Cagar Budaya
- Benda Cagar Budaya, benda buatan manusia, bergerak atau tidak bergerak, yang berupa kesatuan atau kelompok.
- Bangunan Cagar Budaya, susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau buatan manusia yang bersifat bergerak atau tidak bergerak.
- Struktur Cagar Budaya, susunan binaan yang terbuat dari benda alam dan/atau buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang kegiatan yang menyatu dengan alam, sarana prasarana atau infrastruktur.
- Situs Cagar Budaya. lokasi yang mengandung tanda-tanda kegiatan manusia atau bukti arkeologis.
- Kawasan Cagar Budaya, satuan ruang geografis yang memiliki dua situs cagar budaya atau lebih yang letaknya berdekatan.
Cagar Budaya di Kota Bandung
Pemerintah Kota Bandung melindungi sekitar 1.779 bangunan dan situs cagar budaya yang diatur dalam peraturan daerah, namun daftar lengkap seluruh 1.779 nama bangunan tidak tersedia secara langsung dalam satu teks tunggal karena jumlahnya yang sangat banyak. Pemerintah Kota Bandung mengelompokkan bangunan cagar budaya tersebut ke dalam beberapa golongan berdasarkan tingkat pelestariannya:
- Golongan A, bangunan yang tidak boleh dipugar atau diubah sama sekali (contoh: Gedung Sate dan Gedung Merdeka). Jumlahnya sekitar 200 hingga 254 bangunan.
- Golongan B, bangunan yang hanya boleh dipugar pada bagian tertentu, seperti atap atau fasad depan, tetapi struktur dan fondasi utama tidak boleh diubah.
- Golongan C, bangunan yang penanganannya lebih fleksibel namun tetap dalam pengawasan pemda (seperti beberapa ruko atau rumah tinggal di kawasan bersejarah seperti Braga).
Ragam Gaya Bangunan Cagar Budaya di Kota Bandung

Kota Bandung terkenal sebagai salah satu "surga" arsitektur kolonial dan memiliki ragam gaya bangunan cagar budaya yang dipengaruhi oleh perkembangan zaman dan penyesuaian iklim tropis. Berikut adalah ragam gaya Bangunan Cagar Budaya utama di Kota Bandung:
Gaya Indisch Stijl (Indische Empire/Belanda Lama)
- Karakteristik, menampilkan pilar atau tiang tinggi yang menjulang di bagian depan, penggunaan jendela besar berlapis (jalusi/krepyak) untuk sirkulasi udara, pintu berlubang angin dan bentuk atap perisai yang simetris.
- Contoh bangunan: Gedung Pakuan (Rumah Dinas Gubernur Jawa Barat) karya dari Departement van Burgerlijke Openbare Werken (B.O.W).
Gaya Art Deco Ornamental/Klasik
- Karakteristik, berkembang pesat tahun 1920-an, gaya ini menonjolkan simetri, struktur bangunan bertingkat dengan ornamen dekoratif yang kaya, relief geometris, penggunaan kaca patri dan pilar-pilar bergaya klasik Eropa yang dipadukan dengan seni pahat artistik.
- Contoh bangunan: Gedung Sate, karya dari Ir. Johan Gerber (Landsgebouwendienst), Ir. Everhard de Roo (Department van Gouvernementsbedrijven), Ir. Gerrit Hendriks (Burgerlijke Openbare Werken) dan Col. gep Victor Louis Slors (dari Genie Militair, (Hoofd van den Dienst van Stadsvorming) dan Ketua Gemeente van Bandoeng) juga Gedung Merdeka karya dari Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker yang merancang bangunan utama berdesain Art Deco; Van Galen Last, rekan sesama akademisi ITB yang turut serta dalam pemugaran besar pada tahun 1926 dan Albert Frederik Aalbers, arsitek yang merenovasi bagian sayap kiri pada tahun 1940 dengan gaya Curvilinear International Style.
Gaya Art Deco Geometris/Nieuwe Zakelijkheid (Fungsionalisme)
- Karakteristik, bentuknya lebih tegas, minim ornamen berlebihan dibandingkan Art Deco klasik, mengandalkan garis-garis horizontal atau vertikal yang kuat dan bentuk kotak fungsional yang disesuaikan dengan kebutuhan perkantoran modern pada masanya.
- Contoh bangunan: Kantor Pos Besar Bandung dan Museum Bank Mandiri (Eks-Nederlandsche Handel-Maatschappij) karya dari Marius Jan Hulswit dan Edward Cuypers sering ditulis bersama biro arsitek Hulswit-Fermont-Ed. Cuypers (Marius Jan Hulswit, Arthur Fermont dan Eduard Cuypers).
Gaya Streamline Moderne/Streamline Deco
- Karakteristik, merupakan pecahan dari Art Deco yang terinspirasi dari dunia aerodinamika. Ciri utamanya adalah sudut-sudut bangunan yang melengkung halus (seperti bentuk kapal atau lambung pesawat), garis horizontal yang panjang dan jendela sudut melengkung.
- Contoh bangunan: Hotel Savoy Homann dan Gedung Denis (Bank BJB Asia Afrika) karya arsitek Albert Frederik Aalbers.
Gaya Nieuwe Bouwen/Modern Tropis (Hindia Baru)
- Karakteristik, memadukan gaya modern internasional dengan elemen tropis lokal seperti teritisan atap yang lebar (untuk menahan panas dan tampias hujan), fasad ganda dan bukaan jendela yang sangat luas demi pencahayaan dan penghawaan silang yang optimal.
- Contoh bangunan: Villa Isola, Universitas Pendidikan Indonesia (karya arsitek Prof. Charles Prosper Wolff Schoemaker).
Gaya Neo-Indigonus (Tradisional-Modern)
- Karakteristik, menggabungkan unsur arsitektur tradisional Nusantara (seperti bentuk atap tradisional/pendopo) dengan struktur teknik modern dari Eropa.
- Contoh bangunan: Aula Barat dan Aula Timur ITB (karya Ir. Henri Maclaine Pont).
Baca Juga: RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan
Kota Bandung tidak hanya memikat lewat keindahan alam dan kulinernya, tetapi juga melalui pesona sejarah yang abadi. Keberadaan berbagai situs Cagar Budaya di Kota Bandung menjadi saksi bisu perjalanan panjang sebuah peradaban yang membentuk identitas kota. Warisan luhur ini menjadi jembatan berharga bagi generasi masa kini untuk terus mengenang masa lalu.
Melestarikan cagar budaya bukan sekadar merawat struktur fisik bangunan kuno yang rapuh dimakan waktu. Ini adalah upaya nyata dalam menjaga nilai-nilai historis, arsitektur tinggi dan jati diri bangsa agar tidak sirna. Kesadaran bersama dari pemerintah dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk memastikan kekayaan sejarah ini tetap tegak berdiri kokoh.
Mari kita jaga bersama setiap sudut bersejarah di Kota Kembang ini dengan penuh rasa kepedulian. Warisan masa lalu adalah fondasi kuat untuk membangun masa depan kota yang lebih berkarakter, bermakna dan lestari. Dengan menghargai sejarah, kita turut mewariskan cerita serta inspirasi berharga bagi anak cucu di masa depan. (*)