Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

3 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)

Hujan kerap datang dengan gerutu. Jemuran yang tak kunjung kering, sepatu yang basah, hingga kemacetan jalanan yang mendadak mekunci laju kendaraan. Jika saja kita bersedia menepi sejenak dan mengamati dengan tenang dari meja kedai kopi, kita bisa menemukan sebuah rahasia pencari hikmah bahwa hujan adalah salah satu bentuk kasih sayang alam yang paling jujur. Merawat rasa cinta pada hujan bukan sekadar soal bersikap romantis, melainkan wujud rasa syukur atas kehidupan yang terus berputar. Ironi memang, untuk mendapatkan sudup pandang/view romantis dan spiritual seperti itu, kita tetap harus bersedia merogoh kocek.

Secara historis dan kultural, hujan identik dengan kemakmuran. Air yang jatuh dari langit adalah napas bagi tanah, penjamin tumbuhnya benih-benih padi di sawah yang tak pernah kita kenali lagi, dan pengisi sumber air tanah yang kita minum setiap hari. 

Tanpa hujan, roda kehidupan di bumi akan berhenti berputar. Petani menunggu kehadirannya dengan penuh harap, sebab di setiap tetesnya ada janji tentang panen dan ketahanan pangan bagi jutaan jiwa. Hujan membawa pesan akan kehidupan yang sedang dirawat dan ditumbuhkan.

Tak hanya soal fungsi akademis dan ekonomi, hujan juga merupakan bahasa alam yang luar biasa indah. Ia berbicara melalui aroma petrikor—bau khas tanah basah yang menenangkan—serta alunan ritmis ketukan air di atas atap. Keindahan yang begitu personal inilah yang diabadikan dengan sangat anggun oleh sastrawan Sapardi Djoko Damono dalam puisinya yang legendaris, Hujan Bulan Juni. Sapardi melihat hujan bukan cuma sebagai fenomena cuaca, melainkan simbol ketabahan, kearifan, dan kasih sayang yang teramat rahasia. Jika seorang penyair besar mampu menangkap kebaikan tersembunyi dari tetesan air langit, mengapa kita sering kali gagal melihatnya?

Namun, mencintai hujan bukan berarti kita harus menutup mata dari kenyataan. Di balik segala potensi kemakmuran dan keindahannya, musim hujan memang menyimpan potensi bencana yang nyata. Banjir, tanah longsor, hingga luapan air sungai sering kali membayangi masyarakat setiap kali langit mulai menggelap.

Akan tetapi, apakah hujan yang layak disalahkan? Bencana akibat hujan sejatinya adalah cermin dari hubungan manusia dan lingkungan yang sedang retak. Air yang turun dalam jumlah besar hanyalah menjalankan hukum alamnya–mencari jalan mengalir dan meresap. Ketika resapan air kita beton, saluran air kita sumbat dengan sampah, atau pohon-pohon yang kita tebang suka-suka, maka berkah yang turun berubah menjadi musibah. 

Baca Juga: PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Musim hujan adalah momen pengingat yang jujur dari alam agar kita berbenah. Bencana tidak seharusnya membuat kita membenci hujan, melainkan menggugah kesadaran kita untuk lebih bijak menjaga bumi.

Mencintai hujan berarti belajar beradaptasi dan bersiap. Kita bisa memulainya dari langkah-langkah kecil, seperti membersihkan selokan di sekitar rumah, membuat lubang biopori, menanam pohon, disiplin membuang sampah. Ketika lingkungan kita siap dan terawat, musim hujan tidak lagi hadir sebagai ancaman yang menakutkan, melainkan kembali pada kodratnya sebagai musim kemakmuran.

Mari kita ubah cara kita menyapa hujan. Saat langit mulai mendung dan titik air pertama jatuh ke bumi, jangan lagi menyambutnya dengan keluhan. Dengarkan bahasanya yang tenang, resapi kebaikan yang dibawanya, dan rawatlah lingkungan tempat tinggal kita. Sebab mencintai hujan adalah langkah awal untuk mencintai kehidupan itu sendiri. maca bacalah kutipan puisi sang penyair maestro  berikut: Tak ada yang lebih tabah/ dari hujan bulan Juni/ Dirahasiakannya rintik rindunya/ kepada pohon berbunga itu// Tak ada yang lebih bijak/dari hujan bulan Juni/ Dihapusnya jejak-jejak kakinya/ yang ragu-ragu di jalan itu// Tak ada yang lebih arif/ dari hujan bulan Juni/ Dibiarkannya yang tak terucapkan/ diserap akar pohon bunga itu// (Sapardi Djoko Damono)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)