Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)

Selama ini, pembicaraan tentang keamanan digital sering berhenti pada kemampuan individu untuk menggunakan kata sandi kuat, mengaktifkan autentikasi, menjaga informasi pribadi, dan berhati-hati dalam berinteraksi. Semua itu penting. Namun, pencegahan individual memiliki batas.

Data SAFEnet menunjukkan, sepanjang April–Juni 2026 tercatat 821 kasus Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO), meningkat dari 665 kasus pada periode yang sama tahun sebelumnya. Perempuan menjadi korban terbanyak dengan 559 kasus. Sebanyak 483 kasus dialami kelompok usia 18-25 tahun. Jawa Barat sendiri tercatat dengan 176 kasus.

Bentuk kekerasan yang dilaporkan juga menunjukkan seriusnya ancaman di ruang digital. Ancaman penyebaran konten intim mencapai 318 kasus, sementara pemerasan seksual tercatat sebanyak 241 kasus.

Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa ruang digital bukan lagi ruang yang terpisah dari kehidupan mahasiswa. Mereka menggunakannya untuk berkomunikasi, belajar, berekspresi, membangun jejaring, hingga membentuk reputasi profesional. Ketika kehidupan akademik semakin terhubung dengan ruang digital, batas antara kampus dan ruang daring pun semakin tipis.

KBGO dapat bermula dari interaksi di ruang privat maupun publik, kemudian berkembang menjadi penyebaran konten, ancaman, pemerasan, hingga doxing. Ketika pelecehan seksual, ancaman, atau penyebaran konten pribadi tanpa persetujuan terjadi, persoalannya tidak lagi sekadar bagaimana perempuan menjaga dirinya.

Pertanyaan yang lebih penting adalah: apakah institusi tempat mereka belajar, termasuk mitra di luar kampus, telah siap memberikan perlindungan ketika keamanan itu dilanggar?

Bukan Sekadar Ada Satgas, tetapi Kesiapan Sistem

Ketika foto pribadi disebarkan, atau pelecehan terjadi dalam lingkungan akademik, korban kerap menghadapi ketidakpastian: ke mana harus melapor, bagaimana bukti diamankan, siapa yang menangani, hingga bagaimana identitasnya dilindungi agar tidak mengalami trauma berulang.

Di sinilah kesiapan institusi diuji.

Perguruan tinggi sebenarnya telah memiliki landasan kebijakan. Permendikbudristek Nomor 55 Tahun 2024 mengatur pencegahan dan penanganan kekerasan di perguruan tinggi, termasuk kelembagaan, prosedur penanganan, pemulihan, hak korban dan saksi, pengelolaan data, serta pendanaan. Regulasi tersebut juga menempatkan warga perguruan tinggi dan mitra dalam lingkup yang perlu diperhatikan.

Artinya, tantangannya bukan semata-mata apakah kampus memiliki aturan atau satuan tugas. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah: apakah seluruh instrumen tersebut telah bekerja sebagai satu sistem perlindungan yang utuh?

Sebab, keberadaan aturan belum tentu berarti aturan mudah digunakan. Keberadaan satgas belum tentu membuat korban berani melapor. Dan keberadaan kanal pengaduan belum tentu menjamin korban memperoleh perlindungan sampai proses penanganan selesai.

Dari Menangani Kasus Menjadi Membangun Rasa Aman

Sebuah kampus mungkin memiliki satuan tugas. Mungkin juga sudah tersedia kanal pengaduan. Namun, keberadaan instrumen tersebut belum otomatis membuat korban merasa aman untuk menggunakannya.

Seorang mahasiswi bisa saja mengetahui bahwa kanal pelaporan tersedia, tetapi memilih diam karena takut identitasnya tersebar, menjadi bahan pembicaraan, disalahkan, atau tidak yakin bahwa laporannya akan ditangani dengan cepat dan tepat.

Kekhawatiran tersebut menjadi salah satu sisi yang perlu diperhatikan dalam membangun system perlindungan. Karena itu, ukuran kesiapan kampus tidak hanya dilihat dari berapa banyak kasus yang berhasil ditangani. Kampus juga perlu memastikan bahwa mahasiswi merasa aman untuk melapor dan memperoleh perlindungan selama proses penanganan.

Yang dibutuhkan bukan tentang satu kanal atau satu unit, melainkan rangkaian sistem perlindungan yang bekerja secara terhubung: prosedur operasional yang jelas, kanal pelaporan yang mudah diakses, perlindungan identitas, pengelolaan bukti digital, koordinasi antarunit, mekanisme rujukan, serta dukungan psikologis, akademik, sosial, dan hukum ketika diperlukan.

Korban tidak boleh dibiarkan menghadapi sistem yang lebih rumit daripada kekerasan yang dialaminya.

Konteks Jawa Barat menjadi penting dalam pembicaraan ini. Dengan 176 kasus yang tercatat pada periode tersebut, maka perguruan tinggi di Bandung dan berbagai daerah di Jawa Barat perlu melihat keamanan digital mahasiswa sebagai bagian dari ruang pendidikan yang harus dilindungi, bukan persoalan pribadi yang berhenti di luar pagar kampus.

KBGO Bukan Hanya Soal Aman, tetapi Masa Depan

Kampus merupakan ruang bagi perempuan untuk belajar, berprestasi, membangun jejaring, dan kelak mengambil peran sebagai profesional maupun pemimpin. Ketika rasa aman di ruang digital terganggu, dampaknya dapat meluas ke ruang akademik dan sosial.

Ketakutan dapat membuat mahasiswi membatasi aktivitas di media sosial, menarik diri dari organisasi, mengurangi jejaring, atau enggan tampil di ruang publik akademik. Jika berlangsung terus-menerus, yang terancam bukan sekadar rasa aman, tetapi kesempatan untuk mengembangkan kompetensi dan potensi kepemimpinan.

Hari Sarjana Nasional yang diperingati pada 29 September lalu menjadi momentum untuk kembali mengingat bahwa gelar sarjana bukan sekadar tanda seseorang telah menyelesaikan pendidikan tinggi. Di baliknya terdapat proses membangun pengetahuan, kompetensi, jejaring, karakter, dan keberanian untuk mengambil peran di masyarakat serta dunia profesional.

Karena itu, kampus tidak cukup hanya mengantarkan mahasiswi lulus sebagai sarjana. Kampus juga perlu memastikan mereka dapat tumbuh sebagai individu yang percaya diri, memiliki ruang untuk bersuara, membangun jejaring, dan mengambil peran sebagai bagian dari ekosistem pengembangan talenta kampus, tanpa terus-menerus dihantui ancaman kekerasan di ruang digital.

Kampus Hadir Sebelum, Ketika, dan Setelah Masalah Terjadi

Menyiapkan kampus yang aman secara digital tidak cukup dilakukan melalui seminar, sosialisasi, atau kampanye sesaat. Keamanan digital perlu diintegrasikan ke dalam tata kelola perlindungan mahasiswa.

Kampus perlu memastikan kejelasan alur penanganan sejak awal: siapa melakukan apa ketika laporan masuk, unit mana yang berwenang, bagaimana bukti digital diamankan, bagaimana identitas korban dilindungi, bagaimana komunikasi dilakukan, dan kapan kasus perlu dirujuk kepada pihak lain.

Koordinasi juga tidak berhenti di dalam kampus. Dalam situasi tertentu, diperlukan kerja sama dengan rumah sakit, lembaga pemerintah, aparat penegak hukum, lembaga pendamping, perusahaan teknologi, atau mitra lainnya sesuai kebutuhan dan kewenangan masing-masing.

Pada saat yang sama, seluruh warga kampus perlu memiliki pemahaman dasar mengenai kekerasan berbasis gender, etika digital, mekanisme pelaporan, serta hak korban dan saksi. Dengan demikian, pencegahan tidak hanya menjadi tugas satuan tugas, tetapi menjadi bagian dari budaya kelembagaan.

Pada akhirnya, pendekatannya perlu berubah: dari “bagaimana perempuan menjaga dirinya?” menjadi “bagaimana kampus menciptakan lingkungan yang membuat perempuan aman untuk tumbuh?”

Perubahan cara pandang ini penting. Tanggung jawab atas kekerasan berada pada pelaku dan pada sistem yang harus mencegah, merespons, dan melindungi, bukan dibebankan kembali kepada korban.

Ukuran keberhasilan kampus bukan hanya pada kemampuan menangani kasus ketika kekerasan terjadi, tetapi apakah perempuan merasa cukup aman untuk belajar, bersuara, berjejaring, berprestasi, dan mengambil ruang kepemimpinan.

Sebab, ketika rasa aman hilang, yang terancam bukan hanya korban hari ini, tetapi juga potensi kepemimpinan perempuan di masa depan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 14:22

Masa Depan Podcast: Kemana Arah Komunikasi Digital Antara Manusia dan Akal Imitasi?

Perkembangan teknologi turut membuat podcast dengan pelbagai macam tema yang bisa diangkat. Maka tidak ada lagi batasan bahwa kita tidak bisa menyuarakan aspirasi melalui podcast.

Ilustrasi alat studio podcast. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 10:47

Peringati Bulan Bahasa dengan Membaca Indeks Literasi

Refleksi tingkat literasi Indonesia dalam momentum bulan bahasa tahun 2026.

Bulan Bahasa dan Literasi. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 09:59

KDM Mengingatkan Pers, tetapi Siapa yang Mengingatkan KDM?

KDM tidak perlu takut kepada wartawan yang kritis. Justru seorang gubernur memerlukan wartawan yang mampu menjadi semacam cermin yang tidak bisa diedit.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 20:31

Saat Pajak Terus Mencekik, Masihkah 'Worth It' untuk Membangun Usaha Mandiri?

Di Negara ini menjadi Karyawan atau Wirausahawan bukan satu-satunya pilihan yang menguntungkan. Keduanya punya konsekuensi yang terkadang merugikan.

Apakah kita benar-benar bisa memilih antara menjadi karyawan dan pengusaha di negeri ini? (Sumber: pixabay)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 19:15

Masjid Menara Sangat Terkait Kali Semarang

Kali Semarang dan anak-anak sungainya, dermaga sungai di Kampung Melayu dengan Masjid Menaranya, menjadi satu situs penting dalam sejarah perkembangan Kota Semarang.

Pak Ali (berbaju putih), sedang memberikan keterangan tengtang penimbunan lantai satu masjid. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 18:02

Investasi Bangsa Dimulai dari Penguasaan Literasi Generasi Muda

Penguasaan literasi generasi muda harus ditempatkan sebagai fondasi utama untuk membangun bangsa yang kuat, mandiri, adaptif dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda sedang membaca buku. (Sumber: Pexels | Foto: Abby Chung)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 16:45

Mengenang Masa Keemasan Acara Musik di Layar Kaca TVRI

Bagi generasi yang tumbuh pada era 1980-an hingga 1990-an, acara musik di TVRI bukan sekadar tontonan.

Aneka Ria Safari. Salah satu acara musik televisi favorit penonton Indonesia era 1980-1990-an. Program ini menghadirkan penyanyi dan grup musik populer serta lagu-lagu yang tengah digemari masyarakat. (Sumber: Majalah Monitor TVRI)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 15:14

Makna Filosofis, Persamaan, dan Perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak

Makna filosofis, persamaan dan perbedaan Pupuh Sunda, Jawa, Madura, Bali dan Sasak.

Seniman tembang pupuh. (Sumber: Dika Dzikriawan)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 11:49

Seragam Khaki

Cerita seorang guru honorer yang mendapat ujian ekonomi tapi tetap bekerja profesonal.

Ilustrasi 'Khaki'. (Sumber: ChatGPT)
Ayo Netizen 02 Okt 2026, 10:28

Mabuk Sejarah dalam 'Telunjuk dan Pelatuk'

Resensi buku kumpulan cerpen 'Telunjuk dan Pelatuk' karya Ikrom Rifai.

sampu buku Telunjuk dan Pelatuk.