Di Balik Ramainya Kampanye, Mengapa Korban Kekerasan Perempuan Masih Memilih Diam?

8 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ima Suswanto menjelaskan makna di balik salah satu karya yang dipamerkan dalam pameran NeoFemisida kepada pengunjung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah riuh rendah percakapan yang menguliti urusan femisida, jerat budaya patriarki, hingga testimoni pilu dari para penyintas, mendadak muncul satu pertanyaan mendasar yang terasa mengganjal di kepala semua orang.

Jika hari ini edukasi serta kampanye mengenai kekerasan terhadap perempuan sudah begitu masif dilakukan di berbagai lini, mengapa pada kenyataannya para korban masih sering dirundung ketakutan hebat hanya untuk sekadar berbicara?

Pertanyaan retoris itulah yang kemudian ditarik menjadi benang merah utama dalam diskusi publik bertajuk NeoFemisida: Arsip Respon atas Kekerasan terhadap Perempuan yang digagas oleh kolektif Bandung Rhizome, 21 Mei 2026.

Bagi Galih Jatu Kurnia, selaku Art Director Bandung Rhizome sekaligus kurator pameran tersebut, persoalan mendasar yang dihadapi oleh masyarakat modern saat ini sebenarnya bukan lagi bersumber dari minimnya pasokan informasi.

“Kalau soal edukasi, saya rasa sudah banyak sekali dilakukan dan jalurnya bukan hanya lewat jalur kesenian saja,” ujar Galih sembari menjelaskan bahwa kurikulum di sekolah, muatan media massa, hingga pergerakan komunitas akar rumput sudah gencar menyuarakan isu ini. Bahkan di dalam ekosistem seni itu sendiri, para pelaku kreatif telah menggunakan berbagai macam pendekatan aplikatif yang mudah dicerna publik, mulai dari pembuatan poster taktis, komik strip, hingga pameran seni rupa.

Krisis Empati

Namun di balik melimpahnya literasi tersebut, Galih melihat adanya ketimpangan yang nyata, di mana pertumbuhan pengetahuan ternyata tidak dibarengi dengan perkembangan rasa kemanusiaan. “Yang sampai hari ini masih menjadi pekerjaan rumah besar kita bersama adalah urusan rasa empati, karena nyatanya masih banyak orang yang sanggup melihat penderitaan tepat di sebelah matanya sendiri namun memilih untuk diam dan menganggap tidak perlu ikut bersuara,” kritiknya masygul.

Kondisi sosiologis itulah yang memantapkan langkah Bandung Rhizome ketika mereka mendapat kesempatan untuk menggodok sebuah program bertema hak asasi manusia, di mana Galih secara sadar langsung mempersempit fokus bidikannya pada isu spesifik kekerasan terhadap perempuan. Langkah ini diambil karena ia merasa persoalan tersebut masih sangat genting di tengah masyarakat, meskipun dalam beberapa ruang diskusi, isu ini kerap kali dituduh sudah kedaluwarsa.

“Waktu proses riset di awal, ada saja pihak yang berpendapat bahwa isu kekerasan terhadap perempuan itu sudah basi dengan alasan bahwa hari ini perempuan sudah banyak yang menduduki posisi pemimpin, memiliki ruang gerak bebas, serta mendapatkan kesempatan karier yang setara,” kenang Galih. Namun, asumsi tersebut seketika patah ketika mereka menelisik lebih dalam, sebab faktanya gurita kekerasan itu tidak pernah benar-benar hilang, melainkan hanya bergeser dan bersembunyi rapat di dalam ruang domestik seperti urusan rumah tangga yang jarang tersentuh hukum publik.

Berangkat dari kesadaran kolektif itulah, pameran ini akhirnya berhasil mendatangkan lebih dari 30 seniman lintas disiplin yang masing-masing membawa latar belakang, memori, serta pendekatan artistik yang sangat kontras. Di dalam galeri, sebagian karya berbicara lugas sebagai representasi dari suara penyintas, sebagian lagi memotretnya dari kacamata sosiologis yang berjarak, sementara sisanya memanfaatkan proses berkarya seni sebagai ruang terapi penyembuhan trauma batin (healing art).

“Jika riset yang sifatnya akademik itu sudah terlalu banyak bertumpuk di perpustakaan, seniman menawarkan sesuatu yang berbeda lewat kekayaan perspektif, entah itu yang digali dari pengalaman personalnya sendiri, keresahan sosial yang mereka saksikan, hingga dari proses pemulihan luka diri,” tambah Galih mengenai alasan mengapa medium seni rupa dianggap krusial untuk menghimpun respons tersebut.

Luka Tak Kasatmata

Pandangan kuratorial Galih tersebut dikuatkan dengan perspektif yang dilemparkan oleh Ima Suswanto, perwakilan dari komunitas SeniMom Bandung yang hadir sebagai salah satu pembicara. Menurut Ima, batu sandungan terbesar ketika masyarakat mencoba mendiskusikan perkara kekerasan terhadap perempuan adalah karena kita belum memiliki satu kesepahaman yang utuh mengenai definisi dari kekerasan itu sendiri.

“Menurut aku pribadi, kita bahkan belum sepakat mengenai di mana sebetulnya batas minimal sebuah tindakan bisa dikategorikan sebagai kekerasan,” tukas Ima. Ia menyayangkan cara pandang konvensional masyarakat yang cenderung baru melek dan tersentak apabila melihat tindakan fisik yang berdarah-darah atau meninggalkan bekas luka yang kasat mata.

Padahal dalam rajutan kehidupan sehari-hari, bentuk teror kekerasan sering kali menyusup dalam wujud yang sangat halus, manipulatif, sehingga sulit untuk diidentifikasi secara hukum formal. “Kalau kekerasan fisik jelas kelihatan bentuk aksi dan bekasnya, tapi bagaimana jika yang dihancurkan adalah mentalnya? Bagaimana dengan tindakan pembungkaman suara, penghilangan akses ekonomi, atau pembatasan ruang gerak yang dialami perempuan? Hal-hal fatal seperti itu sialnya masih sering dianggap sebagai kewajaran yang biasa saja,” sesal Ima.

Akibat dari tiadanya batas minimal yang disepakati bersama ini, banyak sekali pengalaman traumatik yang dialami perempuan menguap begitu saja tanpa pernah dicatat sebagai bentuk pelanggaran hak. Bahkan yang lebih tragis, sebagian korban baru menyadari belakangan bahwa apa yang menimpa diri mereka selama ini sebenarnya merupakan sebuah tindakan penindasan yang tidak semestinya diterima.

Ima menilai, langgengnya situasi gamang ini tidak dapat dilepaskan dari doktrin dan aturan sosial yang sudah dipatok secara ketat semenjak seorang perempuan dilahirkan ke dunia. “Sejak kecil, perempuan sudah langsung dihadapkan pada sekeranjang larangan, seperti 'jangan begini karena kamu perempuan' atau 'jangan begitu karena kamu perempuan', yang membuat hidup mereka seolah-olah sudah dikotak-kotakkan sejak awal.”

Bagi Ima, esensi dari perjuangan ini bukan lagi semata-mata menuntut kesetaraan dalam ranah formal seperti pemenuhan kuota jabatan di perusahaan atau pemerintahan, melainkan menyasar pada hak paling mendasar manusia. “Pertanyaannya sangat sederhana: boleh enggak sih seorang perempuan memiliki pendapatnya sendiri dan berdaulat penuh untuk menentukan pilihan hidupnya? Karena dalam realitasnya, yang sering kali memicu konflik justru adalah perkara-perkara mendasar seperti itu,” cetusnya.

Kesulitan berlapis yang dihadapi oleh korban sering kali bukan hanya cara mereka bertahan dari tindakan kekerasan itu sendiri, melainkan bagaimana mereka harus bersiap menghadapi terjangan respons dari lingkungan sosial setelahnya. Ima menunjuk fenomena victim blaming sebagai sebuah pola usang yang terus-menerus diproduksi ulang oleh masyarakat kita.

“Tembok terbesar yang paling sering kita temui di lapangan adalah fakta bahwa penyintas tetap menjadi pihak pertama yang disalahkan, di mana publik akan mencecar dengan kalimat seperti 'kamu sih pakai baju begitu', 'kamu sih pulang malam', atau 'kamu sih orangnya begini'. Akhirnya, fokus pembicaraan kita selalu bergeser menghakimi moralitas korban, bukannya mengadili tindakan si pelaku kekerasan,” jabarnya dengan nada tegas.

Lingkaran setan penghakiman inilah yang pada akhirnya memaksa banyak penyintas untuk memilih jalan sunyi dengan mengunci rapat-rapat mulut mereka. Pilihan untuk diam tersebut diambil bukan karena mereka tidak mendambakan keadilan hukum, melainkan karena ada ketakutan yang jauh lebih besar terhadap sanksi sosial berupa gunjingan dan penilaian sepihak yang sering kali jauh lebih menyakitkan ketimbang trauma kekerasan yang sudah mereka lewati.

Melihat realitas sosial yang masih timpang tersebut, Ima menegaskan bahwa strategi perubahan tidak akan pernah cukup jika hanya mengandalkan penambahan volume pengetahuan ilmiah atau sekadar memperbanyak baliho kampanye. Baginya, satu-satunya jalan keluar untuk memutus rantai neofemisida ini adalah dengan merawat kembali kepekaan kemanusiaan di dalam dada masing-masing individu.

“Pola pikir manusia mungkin bisa dengan mudah diasah melalui tumpukan buku, institusi pendidikan, atau pengalaman empiris, tetapi kalau urusan empati, itu mutlak urusan hati yang menuntut orang untuk belajar peka,” kata Ima.

“Ketika sebuah kekerasan terjadi di depan mata kita, apa pun latar belakang masalahnya, tolong jangan pernah langsung mencari pembenaran sosial atau buru-buru menyimpulkan bahwa korban pantas mendapatkannya. Cara pandang penghakiman seperti itulah yang harus didekonstruksi dan diubah total mulai hari ini,” pintanya.

Ruang Bersuara

Kebutuhan mendesak akan ruang empati inilah yang pada akhirnya membuat keberadaan pameran NeoFemisida ini menjadi teramat krusial dan bermakna.

Galih mengamini hal tersebut dengan menyebut bahwa ruang kesenian memiliki sebuah privilese serta kelenturan bahasa yang jarang sekali bisa diakomodasi oleh ruang-ruang formal lainnya. “Di dalam ruang seni, segala bentuk ekspresi emosi mendapatkan tempatnya yang sah, sehingga orang diberikan kebebasan penuh untuk menumpahkan amarah, merawat kesedihan, berteriak, atau menyampaikan lapisan pengalaman traumatis yang teramat sulit jika harus diartikulasikan melalui bahasa verbal langsung,” jelas Galih.

Seni, dalam pemahaman kuratorialnya, telah bermutasi menjadi sebuah corong pengeras suara yang bertugas untuk memperpanjang serta menyambung napas dari suara-suara sunyi yang selama ini diredam oleh lingkungan sekitar. “Ketika kata-kata lisan sudah tidak lagi mampu atau tidak aman untuk diucapkan secara langsung, mungkin pesan-pesan tersebut bisa disalurkan secara subliminal lewat goresan karya,” tuturnya.

Alasan mendasar itulah yang membuat kata “arsip” sengaja disematkan dalam tajuk pameran ini, sebab misinya bukan sekadar mendokumentasikan lembaran kasus hukum di atas kertas, melainkan merekam dinamika respons, gejolak emosi, serta keragaman sudut pandang yang sering kali lekas menguap ketika perhatian publik terdistraksi oleh kemunculan isu baru.

“Kadang di media sosial ada yang menuduh pameran bertema seperti ini sebagai bentuk pengalihan dari isu nasional yang sedang hangat, padahal kenyataannya sama sekali bukan begitu. Isu sosial di sekeliling kita memang sudah terlalu banyak dan melelahkan, sehingga kita membutuhkan satu ruang tenang untuk berhenti sejenak, menghela napas, dan fokus pada satu persoalan kemanusiaan agar apinya tidak padam,” tegas Galih.

Senada dengan Galih, Ima pun menaruh harapan besar agar percakapan bernyawa mengenai neofemisida ini tidak lantas ikut mati dan menguap begitu saja ketika lampu galeri dipadamkan dan pameran resmi ditutup. Ia menantang seluruh elemen yang terlibat untuk melangkah lebih jauh dengan mentransformasikan diskusi satu hari ini menjadi sebuah gerakan kolektif yang memiliki napas lebih panjang di masa depan.

“Kalau aku pribadi jelas tidak mau isu sepenting ini selesai begitu saja di sini. Mumpung momentumnya sedang bagus dan mata orang-orang mulai terbuka, kenapa tidak kita lanjutkan saja dalam berbagai bentuk gerakan lain, entah itu lewat workshop lanjutan, aksi sosial di masyarakat, pembuatan film dokumenter, atau kolaborasi media massa? Yang terpenting adalah memastikan roda percakapannya terus bergulir,” usul Ima penuh semangat.

Sering kali, perubahan kultural yang radikal justru bermula dari hal-hal kecil, seperti keberanian personal individu untuk tidak lagi memilih diam atau memalingkan muka ketika menyaksikan sebuah ketidakadilan terjadi di depan matanya sendiri.

“Tolong kembalilah menjadi manusia yang memiliki empati, belajarlah untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar, dan jangan pernah takut untuk menyuarakan bahwa sebuah tindakan itu salah ketika kenyataannya memang salah,” pesannya menutup obrolan.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 19:02

Pendidikan Empati dalam Isu Sosial

urgensinya pendidikan empati diajarkan. Bukan hanya mencari jalan keviralan. Demi meningkatkan kuantitas konten tanpa memfilter isinya.

Ilustrasi anak sekolah di ladang sawah. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 17:03

Stadion Persib Kelas Dunia Kapan ?

Persib Bandung bermain di stadion kelas Piala Dunia saat Asian LC 2 melawan FC Seoul Korea Selatan medio September 2026

Kondisi rumput liar tak terawat di luar Stadion GBLA yang sempat disorot pada 2019 lalu. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 15:29

Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya

Mengupas potensi bahaya gunung berapi, sesar aktif di Bandung Raya dan langkah mitigasi demi keselamatan warga. Simak informasi artikel Mewaspadai Gunung Berapi Aktif dan Sesar Aktif di Bandung Raya.

Poster Riset - Kesiapan Obyek Wisata Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu Terhadap Bencana (Sumber: issuu.com/anggasafik/docs/poster_riset_tangkuban_perahu | Foto: Angga Safik Ul Ridwa)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 13:45

Penyiar Legendaris dan Perjalanan RRI di Era 1970-an Hingga Masa Kini

Terkadang wajah penyiar tidak pernah dilihat, tapi suaranya bisa menjadi kenangan dalam sejarah. Sambas, Hasan Azhari Oramahi, Poppy Tiendas, dll adalah nama legendaris penyiar RRI dengan suara emas.

Gedung Kantor RRI Bandung. (Sumber: RRI | Foto: R.Erlan W.K)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 10:32

Kenapa Gaji ASN Jadi Rebutan Bank?

Payroll sesungguhnya buka cuma rekening gaji. Dana yang masuk secara rutin saban bulan menciptakan aktivitas lanjutan.

Gedung bank BJB. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 08:11

Kebakaran Cihanja Punclut dan Pentingnya Penanganan Lingkungan Berkelanjutan

Catatan Lukman Nurhakim tentang material mudah terbakar di bawah timbunan, dampak asap terhadap warga, dan pentingnya penanganan pascakebakaran membuka pertanyaan yang lebih luas.

Kebakaran lahan di Cihanja-Punclut Kawasan Bandung Utara. (Foto: Dokumen Lukman Nurhakim)
Ayo Biz 15 Sep 2026, 20:08

Dari Lereng Arjuno ke Peta Jalan Net Zero: Jejak United Tractors Merawat Industri Berkelanjutan

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan.

UT menghubungkan pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan transisi energi dalam perjalanan menuju industri berkelanjutan. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan bantuan ChatGPT)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 19:51

200 Ikon Bandung #5: Pemandian Tjihampelas, Kolam Renang Pertama di Indonesia

Pemandian Tjihampelas menyimpan sejarah panjang olahraga renang di Indonesia sebelum bangunannya hilang dan berganti menjadi kawasan hunian modern.

Pemandian Tjihampelas pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 17:12

200 Ikon Bandung #4: Saritem

Sekarang, kawasan lokaslisasi Saritem telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Seni Budaya 15 Sep 2026, 16:00

Hikayat Wayang Tavip, Inovasi Wayang dari Sampah Plastik

Wayang Tavip lahir dari plastik bekas. Karya seni ciptaan Muhammad Tavip ini terus berkembang dari bentuk 2D hingga 3D.

Wayang Tavip menjadi inovasi dalam seni pewayangan dengan bentuk karakter yang khas dan unik. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 15:17

Menjaga Wajah Kota: Sinergi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung

Mereka tidak sekadar ditertibkan, melainkan langsung dibawa ke Rumah Singgah Dinas Sosial Kota Bandung di Rancacili.

Ilustrasi Penanganan PPKS dan Penataan RTH di Kota Bandung. (Sumber: dibuat dengan chatgpt.com | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 13:25

Seandainya Saya Jadi Presiden - Bagian 2

Negara bukanlah panggung pertunjukan, tetapi seandainya saya jadi presiden, saya ingin ada yang membaca puisi kenegaraan saat pelantikan. Negara akan maju jika semua warga diwajibkan membaca buku.

Bendera Republik Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Firman Marek_Brew)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 11:41

Jangan Sampai Pilkades di Jabar Menjadi Kotak Hitam Digital

Sistem pemilu yang baik bukan hanya harus mampu menghasilkan angka, tetapi juga harus memungkinkan pihak yang berwenang memeriksa bagaimana angka tersebut dihasilkan.

Ilustrasi Pilkades. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 15 Sep 2026, 09:56

Obituari untuk Kanaya Whu

Ada suara yang justru menemukan kehidupan keduanya setelah kematian. Kanaya Whu salah satunya. Kematian selalu memiliki cara yang aneh untuk menjadi kenangan. Ada sebuah puisi elegi dalam obituari ini

Kanaya Whu. (Sumber: Instagram | Foto: Kanaya Whu)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 19:01

Stiker Radio: Ketika Kenangan Lama Kembali Mengudara

Masih dalam suasana memperingati Hari Radio Nasional pada 9 September 2026, menarik untuk menengok kembali salah satu memorabilia radio yang kerap luput dari perhatian: stiker radio.

Beragam stiker radio dari berbagai stasiun radio di seluruh Indonesia yang menjadi bagian dari koleksi penulis. (Sumber: Foto dan koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 18:24

Nestapa Dago Dairy dan Asa Kedaulatan Pakan dari Bangku SMK

Kita abai menyiapkan cetak biru pendidikan modern di hulu peternakan.

Ilustrasi Mewujudkan SMK Peternakan Jurusan Pakan yang sesuai dengan perkembangan teknologi. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 17:05

Menggelorakan Wisata Olahraga di Kota Bandung

Wisata olahraga sebagai wisata yang mulai dijadikan model wisata yang sangat menarik dan mampu mengundang wisatawan menemukan wisata sembari berolahraga.

Bagi generasi Z, lari bukan hanya olahraga, tetapi gaya hidup yang terus berkembang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 15:11

Riung Gunung Bandung, 'Bandung Kakurung ku Gunung'

Riung Gunung Bandung mengungkap pesona alam legendaris Bandung kakurung ku gunung.

Nuansa Riung Gunung Pangalengan, Wisata Bandung Murah. (Sumber: Instagram | Foto: nuansariunggunung_)
Ayo Netizen 14 Sep 2026, 12:36

Romantisme Membaca Majalah Vista September 1983: Ketika Radio, Kaset, Bioskop dan Idola Menghidupkan Kenangan

Membaca Vista hari ini seperti memutar kembali sebuah kaset lama.

Majalah Vista, salah satu majalah hiburan populer pada era 1980–1990-an. Majalah ini menyajikan beragam informasi seputar musik, film, dan perkembangan dunia hiburan. (Sumber: Koleksi Majalah Vista milik Kin Sanubary)