Dalam rangka HUT Kota Bandung ke-216 yang akan berlangsung pada 25 September 2026 nanti, bulan ini saya akan menuliskan beberapa ikon kota Bandung yang telah tiada atau telah tidak beroperasi lagi, tulisan ini dikutip dari buku yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat yang diterbitkan pada 25 September 2020, yaitu ketika bertepatan dengan HUT Kota Bandung yang ke-200, buku tersebut berjudul “200 Ikon Bandung.” Salah satu ikonnya adalah kawasan Saritem. Sekarang, kawasan ini telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.
Sebuah nama fenomenal yang tabu untuk disebutkan, namun mau tidak mau, suka atau tidak suka kawasan ini telah menjadi ikon kota ini. Apabila saya bertemu dengan rekan-rekan luar kota pun mereka tak segan bertanya, apa kabar Saritem, masih ada? atau apabila saya sedang memandu, ketika saya menyebutkan kata “Bandung” apa yang ada di benak para peserta, dan “Saritem” terkadang tak luput diucapkan para peserta. Sejarah setiap kota memang tak luput dari kisah-kisah miring atau “dark”. Maka pada kesempatan kali ini saya akan coba untuk mengulasnya.
Kawasan Saritem ini letaknya berada di jantung kota Bandung, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Sebuah kawasan yang diapit empat jalan besar yaitu Jalan Sudirman di selatan, Jalan Kebon Jati di utara, Jalan Kelenteng di barat dan Jalan Gardujati di timur, itulah Saritem. Namun, baiknya jangan sekali-sekali menyebut nama tempat itu keras-keras, sebab Saritem bukan kawasan atau lokasi geografis biasa. Saritem bukan sekadar sebuah keterangan tempat yang ada di kota Bandung. Tak sedikit orang yang tidak “wasa” mengucapkan nama Saritem keras-keras. Selalu ada rasa “kagok” setiap kali menyebut dan mendengar orang menyebutkan nama Saritem. Meski sekarang kawasan ini telah menjadi sebuah pesantren yang cukup besar.
Maklum saja, karena Saritem merupakan kawasan prostitusi yang terkenal di Kota Bandung, seperti juga Pasar Kembang di Yogyakarta, gang Dolly di Surabaya dan Kramat Tunggak di Jakarta. Ketenaran Saritem bukan satu atau dua dekade saja, karena kawasan ini telah ada sejak masa kolonial Belanda, tak disangka kawasan ini telah ada sejak 1838.
Suka atau tidak suka kawasan Saritem adalah “takdir” sejarah yang harus diterima kota Bandung. ia adalah sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jejak sejarah yang menyangkut bidang sosial kota ini. Anehnya, “takdir” sejarah menyangkut kawasan atau tempat-tempat semacam ini sangat sulit untuk dicari rujukan atau sumber primernya. Tempat-tempat semacam ini nyaris tak pernah mendapat tempat dalam berbagai sumber penulisan kota dan sejarahnya.
Ada sebuah versi yang menyebar di masyarakat, Saritem ada bersamaan dengan pembangunan jalan kereta api di Bandung, yang berarti sekitar tahun 1881. Entah mana data yang benar 1838 atau 1881, karena sumber primernya sangat sulit saya temukan.
Terlepas dari perbedaan tahun itu, ada sebuah persamaan atas asal-muasal nama Saritem yang ternyata itu adalah nama seorang nyai piaraan seorang Belanda. Nyi Saritem inilah yang pertama membuka rumah bordil di kawasan yang sekarang kita sebut dengan Saritem.
Kemungkinan bahwa Saritem sebagai kawasan lokalisasi muncul bersamaan dengan pembangunan rel kereta api di Bandung, menurut saya pribadi sepertinya lebih masuk akal. Mengingat letaknya yang memang tidak jauh dari stasiun kereta api. Demikian halnya dengan Pasar Kembang di Yogyakarta yang juga tidak jauh dari stasiun Tugu, yang sejarahnya juga dikaitkan dengan pembangunan jalan kereta api. Jika Saritem dihubungkan dengan mojang Bandung yang menjadi piaraan seorang pembesar Belanda, dan menjadi seorang mucikari pertama di kawasan tersebut, Pasar Kembang banyak disebut berasal dari gundik-gundik keraton yang sudah “dipensiunkan”.
Ada juga kecurigaan perihal munculnya kawasan lokalisasi yang bersamaan dengan pembangunan jalan kereta api, seperti Saritem dan Pasar Kembang. Dicurigai bahwa kedua lokalisasi itu memang sengaja diam-diam dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda. Yakni, agar perputaran uang kembali ke kocek pemerintah kolonial. Anggapan ini tampaknya ingin mengambil contoh pada apa yang terjadi di perkebunan tembakau di Deli, Sumatra Utara, ketika para kuli kontrak digoda untuk menghabiskan upahnya di meja judi dan rumah bordil yang semuanya itu ternyata diciptakan oleh pemerintah kolonial itu sendiri, agar perputaran uang kembali ke tangan pemerintah lagi.

Akan tetapi apa pun, satu hal yang jelas, proyek pembangunan jalan kereta api pada tahun 1881, dinaikkannya status Bandung sebagai Kotapradja tahun 1906, dan perkembangan modernisasi yang sangat pesat yang membuat kisah Saritem menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya.
Namun tampaknya Saritem adalah kawasan pembuat aib. Kalau diumpamakan Kota Bandung ini sebagai tubuh manusia, Saritem itu seperti sisa masa lalu yang memalukan. Mungkin tak ubahnya seperti bekas borok yang sulit untuk dihilangkan karena telah terlanjur menempel lebih dari satu abad lamanya.
Sebetulnya kawasan prostitusi di Bandung masa lalu banyak selain Saritem, sebut saja gang Aleng, gang Coorde, dan yang paling tertua adalah kawasan Babakan Suniaradja. Bahkan rumah sakit tua di Bandung salah satunya adalah rumah sakit kulit dan kelamin yang berada di alun-alun Bandung (sekarang menjadi gedung Pos Indonesia), yang menandakan bahwa kisah prostitusi adalah bagian dari “takdir” sejarah kota ini. (*)