200 Ikon Bandung #4: Saritem

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)
Sebuah roman Sunda karya Aan Merdeka Permana yang berjudul "Saritem". (Sumber: Istimewa)

Dalam rangka HUT Kota Bandung ke-216 yang akan berlangsung pada 25 September 2026 nanti, bulan ini saya akan menuliskan beberapa ikon kota Bandung yang telah tiada atau telah tidak beroperasi lagi, tulisan ini dikutip dari buku yang diterbitkan harian umum Pikiran Rakyat yang diterbitkan pada 25 September 2020, yaitu ketika bertepatan dengan HUT Kota Bandung yang ke-200, buku tersebut berjudul “200 Ikon Bandung.” Salah satu ikonnya adalah kawasan Saritem. Sekarang, kawasan ini telah tiada, bahkan telah digantikan dengan keberadaan sebuah pesantren yang cukup besar.

Sebuah nama fenomenal yang tabu untuk disebutkan, namun mau tidak mau, suka atau tidak suka kawasan ini telah menjadi ikon kota ini. Apabila saya bertemu dengan rekan-rekan luar kota pun mereka tak segan bertanya, apa kabar Saritem, masih ada? atau apabila saya sedang memandu, ketika saya menyebutkan kata “Bandung” apa yang ada di benak para peserta, dan “Saritem” terkadang tak luput diucapkan para peserta. Sejarah setiap kota memang tak luput dari kisah-kisah miring atau “dark”. Maka pada kesempatan kali ini saya akan coba untuk mengulasnya.

Kawasan Saritem ini letaknya berada di jantung kota Bandung, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir. Sebuah kawasan yang diapit empat jalan besar yaitu Jalan Sudirman di selatan, Jalan Kebon Jati di utara, Jalan Kelenteng di barat dan Jalan Gardujati di timur, itulah Saritem. Namun, baiknya jangan sekali-sekali menyebut nama tempat itu keras-keras, sebab Saritem bukan kawasan atau lokasi geografis biasa. Saritem bukan sekadar sebuah keterangan tempat yang ada di kota Bandung. Tak sedikit orang yang tidak “wasa” mengucapkan nama Saritem keras-keras. Selalu ada rasa “kagok” setiap kali menyebut dan mendengar orang menyebutkan nama Saritem. Meski sekarang kawasan ini telah menjadi sebuah pesantren yang cukup besar.

Maklum saja, karena Saritem merupakan kawasan prostitusi yang terkenal di Kota Bandung, seperti juga Pasar Kembang di Yogyakarta, gang Dolly di Surabaya dan Kramat Tunggak di Jakarta. Ketenaran Saritem bukan satu atau dua dekade saja, karena kawasan ini telah ada sejak masa kolonial Belanda, tak disangka kawasan ini telah ada sejak 1838.

Suka atau tidak suka kawasan Saritem adalah “takdir” sejarah yang harus diterima kota Bandung. ia adalah sebuah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari jejak sejarah yang menyangkut bidang sosial kota ini. Anehnya, “takdir” sejarah menyangkut kawasan atau tempat-tempat semacam ini sangat sulit untuk dicari rujukan atau sumber primernya. Tempat-tempat semacam ini nyaris tak pernah mendapat tempat dalam berbagai sumber penulisan kota dan sejarahnya.

Ada sebuah versi yang menyebar di masyarakat, Saritem ada bersamaan dengan pembangunan jalan kereta api di Bandung, yang berarti sekitar tahun 1881. Entah mana data yang benar 1838 atau 1881, karena sumber primernya sangat sulit saya temukan.

Terlepas dari perbedaan tahun itu, ada sebuah persamaan atas asal-muasal nama Saritem yang ternyata itu adalah nama seorang nyai piaraan seorang Belanda. Nyi Saritem inilah yang pertama membuka rumah bordil di kawasan yang sekarang kita sebut dengan Saritem.

Kemungkinan bahwa Saritem sebagai kawasan lokalisasi muncul bersamaan dengan pembangunan rel kereta api di Bandung, menurut saya pribadi sepertinya lebih masuk akal. Mengingat letaknya yang memang tidak jauh dari stasiun kereta api. Demikian halnya dengan Pasar Kembang di Yogyakarta yang juga tidak jauh dari stasiun Tugu, yang sejarahnya juga dikaitkan dengan pembangunan jalan kereta api. Jika Saritem dihubungkan dengan mojang Bandung yang menjadi piaraan seorang pembesar Belanda, dan menjadi seorang mucikari pertama di kawasan tersebut, Pasar Kembang banyak disebut berasal dari gundik-gundik keraton yang sudah “dipensiunkan”.

Ada juga kecurigaan perihal munculnya kawasan lokalisasi yang bersamaan dengan pembangunan jalan kereta api, seperti Saritem dan Pasar Kembang. Dicurigai bahwa kedua lokalisasi itu memang sengaja diam-diam dibuat oleh pemerintah Hindia Belanda. Yakni, agar perputaran uang kembali ke kocek pemerintah kolonial. Anggapan ini tampaknya ingin mengambil contoh pada apa yang terjadi di perkebunan tembakau di Deli, Sumatra Utara, ketika para kuli kontrak digoda untuk menghabiskan upahnya di meja judi dan rumah bordil yang semuanya itu ternyata diciptakan oleh pemerintah kolonial itu sendiri, agar perputaran uang kembali ke tangan pemerintah lagi.

Akan tetapi apa pun, satu hal yang jelas, proyek pembangunan jalan kereta api pada tahun 1881, dinaikkannya status Bandung sebagai Kotapradja tahun 1906, dan perkembangan modernisasi yang sangat pesat yang membuat kisah Saritem menjadi bagian yang tak terpisahkan di dalamnya.

Namun tampaknya Saritem adalah kawasan pembuat aib. Kalau diumpamakan Kota Bandung ini sebagai tubuh manusia, Saritem itu seperti sisa masa lalu yang memalukan. Mungkin tak ubahnya seperti bekas borok yang sulit untuk dihilangkan karena telah terlanjur menempel lebih dari satu abad lamanya.

Sebetulnya kawasan prostitusi di Bandung masa lalu banyak selain Saritem, sebut saja gang Aleng, gang Coorde, dan yang paling tertua adalah kawasan Babakan Suniaradja. Bahkan rumah sakit tua di Bandung salah satunya adalah rumah sakit kulit dan kelamin yang berada di alun-alun Bandung (sekarang menjadi gedung Pos Indonesia), yang menandakan bahwa kisah prostitusi adalah bagian dari “takdir” sejarah kota ini. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:10

Bandung Menuju Kota Digital Aman

Kota yang benar-benar cerdas bukan hanya kota yang mampu mengadopsi teknologi terbaru, melainkan yang mampu melindungi warganya.

Ilustrasi layanan digital. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Biz 01 Nov 2026, 15:21

Lahan Sempit di Kota Bandung Disulap Jadi Kebun Produktif, Hasilnya untuk Warga

Sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae.

Pada Jumat, 30 Oktober 2026, sejumlah jurnalis dari berbagai daerah di Indonesia berkesempatan melihat langsung pengelolaan kebun tersebut melalui kegiatan Fellowship Journalism Menanam di BRInita Buruan Sae Pajajaran Hegar. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 20:39

Stop The Wedding: Tren Perempuan yang Membagikan Cerita Traumatis Pernikahan

Apakah perempuan benar-benar takut menikah karena tidak menemukan urgensinya atau hanya takut karena tren "Stop The Wedding" yang sedang beredar di media sosial

Stop the Wedding sedang menjadi headline di media sosial yang mengangkat pengalaman buruk perempuan dalam pernikahan (Sumber: Ilustrasi Gambar AI)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 19:15

Bandung Akan Terkena Asap Pekat Karhutla

Nafsu-nafsu tidak terkendali untuk menguasai hutan bisa menyebabkan semua wilayah terkena dampak asap pekat kebakaran hutan dan lahan termasuk Kota Bandung

Penanganan karhutla. (Sumber: Kementerian Kehutanan)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)