Ketika Api Menguji Integritas

5 menit baca
Bayu Hikmat Purwana
Ditulis oleh Bayu Hikmat Purwana diterbitkan
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)

Api yang membakar hutan dan lahan (karhutla) tidak selalu berhenti pada batas wilayah tempatnya menyala. Asapnya dapat menyebar jauh, bahkan melintasi batas negara. Di bawah langit yang sama, masyarakat dapat merasakan dampak kerusakan lingkungan meskipun berada jauh dari sumbernya.

Karena itu, karhutla yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia bukan semata-mata persoalan daerah terdampak. Di balik api dan asap, ada kehidupan masyarakat yang terganggu, kesehatan yang terancam, ekosistem yang rusak, serta masa depan lingkungan yang dipertaruhkan.

Namun, di tengah upaya memadamkan api dan melindungi masyarakat, ada pertanyaan lain yang tak kalah penting: apakah semua pihak telah menjalankan tanggung jawabnya dengan integritas?

Pertanyaan ini menjadi relevan ketika kita melihat pengorbanan orang-orang yang berada di garis depan penanganan bencana, sementara pada saat yang sama muncul persoalan mengenai tata kelola dana dan bantuan.

Di Balik Api, Ada Pengorbanan Manusia

Petugas di lapangan harus menghadapi panas, asap pekat, medan yang sulit, serta risiko terhadap kesehatan dan keselamatan. Mereka dituntut memiliki ketahanan fisik, kecermatan, dan keberanian untuk menghadapi keadaan yang dapat berubah sewaktu-waktu.

Pada Oktober 2026, kebakaran di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Jawa Timur, membawa kabar duka. Enam petugas dan relawan dilaporkan gugur ketika berupaya memadamkan api. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa pengabdian dalam penanganan bencana dapat menuntut pengorbanan yang sangat besar.

Mereka bukan sekadar nama dalam laporan kejadian. Mereka adalah manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan kehidupan yang menunggu di rumah. Namun, ketika menjalankan tugas, keselamatan mereka sendiri terancam demi melindungi lingkungan dan mencegah dampak kebakaran yang lebih luas.

Pengorbanan seperti ini semestinya menguatkan pemahaman kita tentang makna pelayanan dan tanggung jawab. Masyarakat membutuhkan kehadiran negara melalui petugas yang bekerja, koordinasi yang baik, dukungan yang memadai, serta kebijakan yang memastikan penanganan berlangsung cepat dan tepat.

Adanya persoalan tata kelola seolah membuat kerja keras pemerintah dan keberanian petugas di lapangan menjadi tersamarkan. Penghargaan terhadap pengabdian perlu disertai akuntabilitas pengelolaan sumber daya dengan dukungan sistem penegakkan hukum yang dapat diandalkan. Mereka yang mempertaruhkan keselamatan tidak seharusnya berhadapan dengan kelalaian pengelolaan, apalagi penyalahgunaan kepercayaan.

Kecepatan Diuji oleh Integritas

Ketika keadaan darurat terjadi, kebutuhan masyarakat harus segera dipenuhi. Dana perlu segera tersedia, barang dan jasa harus diperoleh, sementara bantuan mesti disalurkan dalam situasi dan waktu yang terbatas.

Situasi tersebut menuntut kreativitas dan keberanian mengambil Keputusan cepat. Mereka perlu membaca keadaan, menemukan alternatif, dan memastikan pertolongan menjangkau masyarakat yang membutuhkan. Namun, kecepatan juga membawa tanggung jawab besar.

Pencatatan penggunaan dana, verifikasi penerima bantuan, pemeriksaan kewajaran pengadaan, serta pertanggungjawaban tetap menjadi bagian penting dari penanganan bencana. Mekanisme dalam keadaan darurat memang dapat berbeda dari situasi normal, tetapi penyesuaian prosedur tidak berarti menghilangkan kewajiban untuk menjaga akuntabilitas.

Di sinilah tantangan tata kelola muncul. Dugaan penyimpangan dana penanganan bencana yang mencuat ke ruang publik, termasuk perkara Dana Siap Pakai di lingkungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), menjadi pengingat bahwa risiko akuntabilitas perlu diantisipasi secara serius.

Sistem yang baik diperlukan untuk mempersempit celah penyimpangan. Pengawasan yang memadai dibutuhkan untuk mendeteksi potensi penyimpangan sejak dini. Namun, keduanya tidak dapat menggantikan integritas pribadi yang menjadi kunci terjadinya penyimpangan.

Dalam keadaan darurat, negara memang dituntut bergerak lebih cepat. Namun, justru pada saat itulah integritas dan kewaspadaan tidak boleh bekerja lebih lambat.

Jangan Menangguk dari Musibah

Di balik setiap alokasi dana penanganan bencana, ada manusia yang sedang berusaha bertahan dan memulihkan kehidupannya. Karena itu, penyimpangan bantuan bencana tidak layak dipandang hanya sebagai persoalan administrasi atau keuangan negara. Yang dipertaruhkan bukan hanya akuntabilitas anggaran, melainkan juga kesempatan manusia untuk bangkit dari musibah.

Sikap aji mumpung menjadi sangat menyakitkan ketika dilakukan di tengah penderitaan orang lain. Saat masyarakat terdampak membutuhkan pertolongan, amanah yang seharusnya menjadi jalan untuk meringankan beban justru berisiko berubah menjadi sarana memperkaya diri.

Tentu saja, kita tidak boleh menggeneralisasi setiap persoalan anggaran sebagai bukti keserakahan. Banyak orang bekerja di bawah tekanan menghadapi keterbatasan dalam situasi yang sulit. Oleh karena itu, sistem perlu diperkuat agar mereka yang berintegritas memperoleh dukungan, sedangkan oknum dapat dimintai pertanggungjawaban.

Bencana bukan hanya menguji kemampuan tata kelola birokrasi merespons keadaan darurat, tetapi juga kedewasaan dan watak orang-orang yang menjalankannya. Kecepatan harus disertai kewaspadaan. Kreativitas harus tetap berpijak pada tanggung jawab. Dan kewenangan harus selalu dipahami dan dijalankan sebagai amanah, bukan kesempatan.

Dari Bandung, Kita Belajar tentang Api dan Martabat

Bagi Bandung, api memiliki jejak sejarah yang kuat. Peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) mengingatkan kita pada pengorbanan besar yang dilakukan demi mempertahankan martabat dan kedaulatan. Sementara itu, Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 menghadirkan api semangat solidaritas di antara bangsa-bangsa yang memperjuangkan kebebasan, kesetaraan, dan kehidupan yang lebih adil.

Kedua peristiwa itu bukanlah peristiwa yang sama dengan karhutla hari ini. Namun, sejarah menyimpan nilai yang tetap relevan: keberanian, pengorbanan, solidaritas, dan keberpihakan pada martabat manusia. Nilai-nilai itulah yang semestinya menjadi pegangan ketika menghadapi persoalan bersama, termasuk bencana lingkungan dan penderitaan masyarakat yang mengikutinya.

Kita berharap api yang membakar hutan dan lahan segera padam, masyarakat terdampak dapat kembali menjalani kehidupan dengan aman, dan para petugas memperoleh dukungan serta perlindungan yang layak. Kita juga berharap setiap dugaan pelanggaran hukum ditangani secara adil dan transparan, agar hak masyarakat terlindungi dan kepercayaan publik tetap terjaga.

Kita bernaung di bawah langit yang sama. Ketika sebagian orang mempertaruhkan nyawa untuk memadamkan api dan menyelamatkan kehidupan, semestinya tidak ada ruang bagi siapa pun untuk menjadikan musibah sebagai kesempatan mencari keuntungan.

Sebab, yang perlu kita jaga bukan hanya hutan dari kobaran api karhutla, melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan dari api keserakahan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Okt 2026, 17:11

Merancang Kawasan Hunian untuk Mobilitas Berkelanjutan

Integrasi tata ruang dan transportasi dalam pengembangan kawasan hunian melalui akses berjalan kaki, bersepeda, dan angkutan umum untuk mewujudkan mobilitas yang aman, nyaman, dan berkelanjutan.

Halte bus yang berfungsi sebagai tempat pemberhentian angkutan umum di kawasan hunian. (Foto: Angga Marditama Sultan Sufanir)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 16:31

Korupsi di Negeri Bencana

Korupsi di BNPB yang dilakukan oleh oknum, merupakan perbuatan yang biadab.

SDN 1 Babakan Talang di Kampung Cigombong, Desa Cibedug, Kecamatan Rongga, Kabupaten Bandung Barat hancur akibat bencana pergerakan tanah , Senin 4 Maret 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 31 Okt 2026, 15:17

Ketika Api Menguji Integritas

Bencana menuntut kita bergerak cepat menyelamatkan kehidupan, tetapi juga menguji integritas dalam menjaga amanah dan menyalurkan bantuan.

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla). (Sumber: kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 20:24

Bdg-GoX Dibangun, Kapan Warga Bandung Menikmati Internet Murah?

Akses digital bukan hanya persoalan ketersediaan jaringan, melainkan juga keterjangkauan ekonomi.

Ilustrasi Bandung Kota Digital dengan program  Bdg-Gox (Sumber: Ilustrasi di desain dengan ChatGPT oleh Sri Maryati)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 19:47

Cangkoréh Awi Ngarambat

Ada jenis bambu yang merambat, yang dikenal, ada yang menyebutnya awi cangkoréh, ada juga yang menyebutnya awi cangkoré.

Awi ngarambat. (Foto: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 16:33

Persembahan untuk Lembang

Lembang telah jatuh ke tangan para kapitalis, memaksakan berubah wujud, memeras keindahan alamnya, meluluhlantakkan kenangan hijau yang terpatri di benak warganya.

Persembahan saya untuk Lembang, tertuang dalam beberapa karya buku. (Foto: Malia)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 15:26

Menghalau Asap dengan Sains dan Kolaborasi Akademisi dalam Mitigasi Karhutla

Kampus punya ilmu dan jaringan untuk mencegah karhutla. Simak peran riset gambut, KKN tematik, dan konsorsium lintas kampus di wilayah rawan.

Ilustrasi Kebakaran Hutan dan Lahan (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 14:09

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos

Menyoroti fenomena bansos bagi pelaku judi online

Evolusi Judi dan Fenomena Bansos. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 13:10

Instrumen Bumi sebagai Komposisi Sorawatu

Setiap bunyi dihasilkan dari gelombang suara, mengontruksi logika rasa manusia. Getaran batu di pukul memiliki frekuensi yang mampu memicu ketenangan batin.

Gamelan Sorawatu. (Foto: Penulis)
Beranda 30 Okt 2026, 12:02

AMSI Awards 2026 Apresiasi Inovasi 10 Media Siber Indonesia

AMSI Awards 2026 merupakan bagian dari rangkaian Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026

Para pemenang di malam penghargaan AMSI Awards 2026 berpose bersama setelah acara, di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jawa Timur, Kamis (29/10/2026) malam WIB. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 11:45

Cicadas Camping Ground: Tempat Kemah Super Luas di Sumedang

Cicadas Campimg Ground tempat kemah yang luas dan asri. Cocok untuk berkegiatan bareng teman, keluarga atau pasangan. Fasilitasnya juga lengkap.

Lapangan tempat kemah,di  kawasan Cicadas Camping Ground, Sumedang.
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 10:33

‎Dari 'Deadline' hingga 'Healing': Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percakapan Sehari-hari ‎

Penggunaan istilah seperti deadline, meeting, healing, overthinking, random, hingga literally menunjukkan bahwa bahasa yang digunakan masyarakat terus mengalami perkembangan.

Wawancara kepada Mahasiswa: Ketika Bahasa Inggris Masuk ke Percapakan Sehari-Hari (Sumber: Dokumentasi Pribadi)
Ayo Netizen 30 Okt 2026, 08:04

Dampak ISPA dari Asap Karhutla bagi Ibu Hamil

Menurut Ns. Suryane Sulistiana Susanti, S.Kp., M.N.Sc., Ph.D. Asap Karhutla ancam Ibu Hamil dan Generasi Mendatang

Ilustrasi ibu hamil. (Sumber: Pexels | Foto: Helena Lopes)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 20:09

Mati Sebelum Berkembang, Inovasi Birokrasi di Indonesia

Sudah hampir satu Periode Rencana Jangka panjang (25 Tahun) Reformasi Birokrasi digulirkan, fakta di lapangan Birokrasi masih belum sesuai dengan yang diharapkan.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 29 Okt 2026, 19:44

Intip Serunya Theatrical 360 Audio Horror Experience di Braga CityWalk, Wahana Rumah Hantu 'Next Level' Cuma Lewat Suara

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran.

Berbeda dari rumah hantu konvensional, Theatrical 360 Audio Horror Experience menawarkan sensasi horor imersif yang sepenuhnya dimainkan lewat stimulasi indera pendengaran. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 19:08

Yang Perlu Dibicarakan Ketika Membicarakan Rencana Program Historic Urban Landscape di Kota Bandung

HUL adalah pendekatan holistik dan kerangka kerja dinamis untuk mengelola lanskap sejarah perkotaan yang terus berkembang, bukan predikat, status, yang berhenti di atas kertas dan jargon.

Salah satu gedung bersejarah di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 18:50

PA 98 Desak Polda Jabar Transparan Tangani Perkara Mahasiswa, Tolak Kriminalisasi Gerakan Demokrasi

PA 98 mendesak penghentian kriminalisasi dan intimidasi mahasiswa, transparansi penangkapan, jaminan bantuan hukum, serta perlindungan hak akademik dan kebebasan demokrasi.

Aksi aliansi masyarakat sipil dan mahasiswa Bandung dalam memperingati 2 tahun rezim Prabowo-Gibran. (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 14:50

Peran Strategis Warga Bandung dalam Gerakan Nasional Penanggulangan Karhutla

Warganet Bandung seharusnya dapat berperan dalam penanganan penanggulangan karlutha secara strategis. Sikap nasionalisme adalah bentuk empati dan tanggung jawab konkret untuk mengatasi bencana ini.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 29 Okt 2026, 13:06

Solusi Bijak Menangani Lahan Gambut

Memelajari metode restorasi, pengelolaan air yang tepat dan aksi nyata menjaga ekosistem demi mencegah bencana lingkungan.

Hutan dan lahan gambut. (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Beranda 29 Okt 2026, 11:52

Rp3 Miliar untuk Skatepark di Lapangan Teuku Umar: Siapa yang Diuntungkan, Warga atau Proyek?

Sejumlah warga Coblong menolak lapangan bola gratis diubah multifungsi dengan skatepark. Mereka mempertanyakan siapa yang sebenarnya dilayani dan mengaku belum pernah diajak bicara.

Pengguna Lapangan Teuku Umar membentangkan spanduk penolakan terhadap rencana revitalisasi yang dinilai berpotensi mengurangi ruang kebersamaan warga di Kecamatan Coblong, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathun Romadhan)