Mabok Kakaretaan

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Rabu 25 Mar 2026, 11:47 WIB
Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

"Hidup kita adalah perjalanan yang konstan, dari lahir sampai mati. Pemandangan berubah, orang-orang berubah, kebutuhan kita berubah, tetapi kereta terus bergerak. Hidup adalah kereta, bukan stasiun." - Paulo Coelho

Hari ini, Selasa, (24/3/2026). Perjalanan kakaretaan arus balik dari Tangerang, Duri, Cikarang, Purwakarta, Bandung, berkahir di Gedebage.

Tentunya, bukan sekadar berpindah tempat, tapi perjalanan asa, rasa, cerita, dan sedikit “drama” keluarga.

Berangkat berlima, formasi lengkap. Pukul 08.40 meninggalkan rumah Nenek di Gembor, diantar Om Acep, adik istri. Tiba di Stasiun Tangerang pukul 09.10.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pejuang Sepur

Kereta dipilih bukan tanpa alasan. Aa Akil, anak kedua, punya “bakat” mabok darat. Bus dan mobil sering jadi arena pusing. Maka kereta api menjadi ikhtiar paling rasional. Meski ternyata, tak sepenuhnya menyelesaikan persoalan.

Pukul 09.20, KRL berangkat menuju Duri. Sepuluh gerbong melaju, singgah di Tanah Tinggi, Batu Ceper, Poris, Kalideres, hingga Grogol, sebelum akhirnya tiba di Duri pukul 09.47.

Di dalam kereta, suasana (kehidupan) berjalan: Kakang, anak ketiga (4 tahun) sibuk menatap dunia dari jendela. Seolah-olah setiap pemandangan bak cerita baru.

Aa Akil (11 tahun) tenggelam dalam rubik, hadiah dari Kaka Fia, anak pertama (16 tahun) yang asyik dengan drakor di gawainya.

Di sela-sela itu, suara pengumuman berulang, “Hati-hati pintu tertutup. Perhatikan celah peron. Utamakan keselamatan.”

Ibarat mantra dalam menjalani kehidupan, sederhana yang syarat dalam maknanya.

Dari Duri, perjalanan berlanjut ke Cikarang pukul 10.20. Dengan melewati Stasiun Tanah Abang, Karet, BNI City, Sudirman, Manggarai.

Kereta mulai padat saat memasuki Matraman. Berdiri, berdesakan, bergelantungan, yang melewati Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, Bekasi, Bekasi Timur, Tambun, Cibitung, Metland Telaga Murni.

Potret keseharian yang kontras dengan perjalanan pagi yang lengang. Tiba di Cikarang pukul 11.35.

Jeda sebentar perjalanan berikutnya yang dimulai pukul 13.30 dengan KA Walahar menuju Purwakarta.

Di sinilah perjalanan menjadi lebih hidup. Aa Akil sempat bermain dengan bayi yang digendong penumpang di sebelahnya. Kakang memilih rebahan, menikmati hamparan sawah, pohon kelapa, pisang, hingga bangunan-bangunan tinggi yang sesekali muncul.

Dunia bergerak cepat di luar jendela. Suasana didalam kereta seakan-akan diam beribu bahasa. Padahal sebenarnya sedang berjalan (melaju) jauh.

Kereta mulai penuh sejak Kelari, lalu agak lengang kembali di Cikampek. Pukul 14.50, tiba di Purwakarta.

Menunggu kereta malam ke Bandung, waktu diisi dengan berjalan di sekitar Situ Buled. Makan sore lesehan di Ratunya Coto Makassar, dengan menu yang khas dan suasana yang hangat. Pilihan makanan jatuh pada coto daging, ayam sambal ijo, untuk minuman teh, jeruk panas, dan milkshake.

Selepas itu, anak-anak bermain di Taman Cerdas Surawisesa. Lari-larian, main balon sabun (busa), tawa kecil yang lepas dan riang gembira. Sore itu terasa utuh. Sebelum cerita lain dimulai.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Drama Huruf O

Malam datang. Pukul 19.56, naik Kereta Api Parahyangan menuju Bandung. Duduk terpisah, dua kursi di eksekutif dan tiga kursi di premium.

Dalam perjalanan malam yang dingin ini “drama” dimulai.

Aa Akil membuka dimsum.

Boleh dimakan, Bah?”

Muhun,” jawabku singkat.

Baru beberapa meter berjalan, sebelum Cimahi, bocah kelas lima mulai gelisah.

Bah, Aa mau ke toilet?” tanyanya.

Dengan segala tanda-tandanya.

Pami pusing, ieu keresek nya…”

Benar saja. Dua kantong terisi.

Untung sudah siap dan tidak berantakan, hanya sedikit panik.

Aa berkali-kali minta maaf dan mengucapkan terima kasih atas bantuan kecil keresek. Di sela-sela itu, penyuka anime ini sempat tertawa, “Mungkin gara-gara milkshake tadi, Bah…”

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sederhana. Jujur dan tetap bisa tertawa di tengah tidak nyaman. Tak lama, Aa tertidur pulas, sehingga harus dibangunkan berkali-kali saat tiba di Stasiun Bandung.

Ternyata, di gerbong lain, istri dan Kaka Fia mengalami “episode” serupa. Hanya Kakang yang selamat. Tenang tanpa drama.

Kereta terus melaju. Tiba di Bandung pukul 21.20, perjalanan belum selesai. Masih ada satu etape lagi menuju Gedebage.

Pukul 21.56, naik KRL lokal Bandung Raya. Melewati Cikudapateh, Kiaracondong, dan tiba di Gedebage pukul 22.18.

Baca Juga: Ayo, Kendalikan Inflasi Pangan Pascalebaran!

Di sela perjalanan, Kakang berkomentar polos, “Bah, kalau ada peluit, kereta mau jalan ya…”

Sederhana dan penuh makna. Ihwal pentingnya tanda, kesiapan, dan perjalanan itu sendiri.

Dari Gedebage, berangkat pukul 22.32 yang lanjut naik mobil via aplikasi menuju Cibiru. Setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menit. Pukul 22.47, akhirnya sampai di rumah dengan selamat.

Alhamdulillah! Perjalanan panjang naik kereta api seharian itu selesai. Walhasil, kakaretaan bukan sekadar berpindah dari stasiun Tangerang ke Bandung. Melainkan ruang belajar (perjumpaan) tentang sabar, antisipasi, menerima yang tak selalu berjalan sesuai rencana, hingga drama soal mabok sekalipun.

Pasalnya, dalam setiap perjalanan, kita tak hanya bergerak secara fisik, justru sedang dilatih untuk lebih memahami diri, keluarga, dan kehidupan yang serba cepat.

Sungguh benar kata-kata pengumuman di kereta itu, “Utamakan keselamatan.” Bukan hanya raga, tapi pikiran, hati dan nurani. Biar hidup tetap waras, terarah dan lebih bermakna. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)