Sejarah Gempa Sesar Cimandiri Tahun 1910, Hancurkan Rumah dan Rel Kereta di Bandung Barat

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Ilustrasi kerusakan gempa Cianjur tahun 1879. (Sumber: KITLV)
Ilustrasi kerusakan gempa Cianjur tahun 1879. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pada pagi 18 Desember 1910, ketika warga Keresidenan Priangan belum sepenuhnya selesai menanak nasi, tanah mendadak berulah. Sekitar pukul 06.20 WIB, bumi di kawasan Bandung Barat hingga Cianjur bergoyang seperti karpet yang ditarik terburu-buru. Tak ada sirene atau peringatan dini, sebab ilmu seismologi kala itu masih sebatas catatan gemetar di meja redaksi surat kabar.

Gempa itu datang dari sesar Cimandiri, patahan aktif yang membentang panjang dari Padalarang sampai Palabuhan Ratu. Data yang kemudian dirangkum oleh Southeast Asia Association of Seismology and Earthquake Engineering atau SEASEE mencatat, peristiwa 18 Desember 1910 merupakan gempa besar akibat pergeseran segmen Rajamandala. Magnitudonya diperkirakan mencapai angka 7, ukuran yang pada masa itu cukup untuk merobohkan rumah, merusak rel, dan mengacak rasa aman orang Hindia Belanda.

Sesar Cimandiri sendiri bukan garis retak sembarangan. Panjangnya sekitar 100 kilometer dan terbagi ke dalam tiga segmen utama. Segmen Cimandiri di wilayah Sukabumi, segmen Cibeber di Cianjur, dan segmen Rajamandala di Bandung Barat. Pada Desember 1910, segmen terakhir inilah yang bangun dari tidur panjangnya, seolah hendak mengingatkan bahwa tanah Priangan bukan hanya subur, tetapi juga menyimpan tabiat keras.

Getaran pertama belum selesai dicerna, ketika gempa susulan menyusul bertubi-tubi. Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi Jumat 6 Januari 1911 mencatat, setelah guncangan pukul 06.20 WIB, gempa kembali terasa pukul 07.00 WIB, disusul pukul 10.00 WIB, 10.55 WIB, dan terakhir sekitar 12.30 WIB. Lima kali guncangan dalam satu pagi, cukup untuk membuat orang memilih duduk di tanah lapang daripada berlindung di rumah sendiri.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Di Cipatat dan Padalarang, dua wilayah yang kelak dikenal sebagai pintu masuk Bandung Barat, kerusakan terjadi paling parah. Rumah-rumah warga rubuh seperti bangunan mainan. Jika masih berdiri, tembok rumah permanen dipenuhi retakan yang membelah dari sudut ke sudut, mirip peta sungai yang salah cetak. Rumah panggung pun tak luput dari nasib serupa. Tiangnya bergeser, bangunannya condong ke kiri atau kanan, seakan hendak rebah sambil memilih arah.

Genting rumah beterbangan, jatuh ke tanah, sebagian lainnya menimpa kepala manusia yang tak sempat berlindung. Di Hindia Belanda awal abad ke-20, helm pengaman belum dikenal, dan payung lebih sering dipakai untuk hujan air ketimbang hujan genting. Gempa sesar Cimandiri pagi itu bukan hanya menguji kekuatan bangunan, tetapi juga ketangguhan tengkuk manusia.

Jika rumah penduduk menjadi korban pertama, maka infrastruktur kolonial menjadi korban berikutnya. Deli Courant edisi 14 Januari 1911 mencatat dengan nada cemas, gempa sesar Cimandiri menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas transportasi kereta api di Cipatat dan Padalarang. Seluruh bangunan stasiun, tiang telegraf, gudang barang, hingga tangki air dilaporkan rusak berat.

Kerusakan tak berhenti pada bangunan. Rel kereta api yang menjadi urat nadi transportasi Priangan ikut terseret bencana ikutan. Longsor, tanah amblas, dan pohon tumbang memutus jalur Padalarang menuju Cipatat. Di beberapa titik, tanah turun sedalam antara 75 hingga 200 meter. Akibatnya, rel kereta tampak menggantung di udara, seperti jembatan darurat yang lupa dipasang penyangga.

Baca Juga: Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

Pemandangan ini bukan saja menyulitkan perjalanan, tetapi juga mempermalukan teknologi kolonial yang selama ini dielu-elukan sebagai simbol kemajuan. Staatsspoorwegen atau SS, perusahaan kereta api Hindia Belanda, mendadak harus mengakui bahwa rel baja tak selalu berdaya di hadapan tanah yang bergerak.

“Telegraf komunikasi juga telah terputus. Untuk sementara, wisatawan yang akan ke Bandung disarankan lewat Jalur Karawang,” tulis Deli Courant. Sebuah saran yang terdengar sederhana, tetapi bagi pelancong awal abad ke-20, berarti memutar jauh dengan waktu tempuh yang tak singkat.

Lumpuhnya jalur kereta api membuat para penumpang terjebak di tengah perjalanan. Ada yang berangkat dari Bandung menuju Bogor, ada pula yang sebaliknya, mendadak harus menerima kenyataan bahwa perjalanan mereka berhenti di Cipatat. Kereta tak bisa maju, rel tak bisa dilalui, dan bumi tak bisa diajak kompromi.

Untuk mengevakuasi penumpang, SS menyediakan angkutan darurat berupa kereta kuda sadu. Dari Cipatat menuju Padalarang, penumpang diangkut menggunakan gerobak, sebagian lainnya berjalan kaki menyusuri jalur yang biasanya dilalui lokomotif. Perjalanan yang biasanya ditempuh dengan deru mesin uap, kini harus dijalani dengan bunyi tapal kuda dan langkah kaki manusia.

“Penumpang harus naik gerobak atau berjalan kaki ke Padalarang. Dengan cara ini penumpang kereta terlambat 3 jam tiba di Bandung,” tulis Deli Courant. Tiga jam yang mungkin terasa lama bagi orang yang terbiasa tepat waktu, tetapi terasa jauh lebih singkat dibanding menunggu bumi berhenti bergerak.

Baca Juga: Jejak Sejarah Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, Tertua di Indonesia

Gempa sesar Cimandiri 1910 bukan sekadar peristiwa alam, melainkan catatan penting tentang rapuhnya kehidupan di atas patahan aktif. Ia menunjukkan bahwa Bandung Barat dan sekitarnya sejak lama hidup berdampingan dengan risiko gempa besar. Bahwa rel kereta, stasiun megah, dan rumah tembok tak selalu menjadi jaminan keselamatan.

Seratus lima belas tahun kemudian, ingatan tentang gempa ini kembali relevan. Sesar Cimandiri masih ada, membentang tanpa banyak berubah, menunggu waktunya kembali bergerak. Arsip koran kolonial menjadi pengingat sunyi, bahwa gempa bukan tamu baru di tanah Priangan, melainkan penghuni lama yang sesekali mengetuk pintu, tanpa pernah memberi aba-aba.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)