Sejarah Gempa Sesar Cimandiri Tahun 1910, Hancurkan Rumah dan Rel Kereta di Bandung Barat

Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan Kamis 08 Jan 2026, 19:03 WIB
Ilustrasi kerusakan gempa Cianjur tahun 1879. (Sumber: KITLV)

Ilustrasi kerusakan gempa Cianjur tahun 1879. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pada pagi 18 Desember 1910, ketika warga Keresidenan Priangan belum sepenuhnya selesai menanak nasi, tanah mendadak berulah. Sekitar pukul 06.20 WIB, bumi di kawasan Bandung Barat hingga Cianjur bergoyang seperti karpet yang ditarik terburu-buru. Tak ada sirene atau peringatan dini, sebab ilmu seismologi kala itu masih sebatas catatan gemetar di meja redaksi surat kabar.

Gempa itu datang dari sesar Cimandiri, patahan aktif yang membentang panjang dari Padalarang sampai Palabuhan Ratu. Data yang kemudian dirangkum oleh Southeast Asia Association of Seismology and Earthquake Engineering atau SEASEE mencatat, peristiwa 18 Desember 1910 merupakan gempa besar akibat pergeseran segmen Rajamandala. Magnitudonya diperkirakan mencapai angka 7, ukuran yang pada masa itu cukup untuk merobohkan rumah, merusak rel, dan mengacak rasa aman orang Hindia Belanda.

Sesar Cimandiri sendiri bukan garis retak sembarangan. Panjangnya sekitar 100 kilometer dan terbagi ke dalam tiga segmen utama. Segmen Cimandiri di wilayah Sukabumi, segmen Cibeber di Cianjur, dan segmen Rajamandala di Bandung Barat. Pada Desember 1910, segmen terakhir inilah yang bangun dari tidur panjangnya, seolah hendak mengingatkan bahwa tanah Priangan bukan hanya subur, tetapi juga menyimpan tabiat keras.

Getaran pertama belum selesai dicerna, ketika gempa susulan menyusul bertubi-tubi. Koran Bataviaasch Nieuwsblad edisi Jumat 6 Januari 1911 mencatat, setelah guncangan pukul 06.20 WIB, gempa kembali terasa pukul 07.00 WIB, disusul pukul 10.00 WIB, 10.55 WIB, dan terakhir sekitar 12.30 WIB. Lima kali guncangan dalam satu pagi, cukup untuk membuat orang memilih duduk di tanah lapang daripada berlindung di rumah sendiri.

Baca Juga: Jejak Sejarah Gempa Besar di Sesar Lembang, dari Zaman Es hingga Kerajaan Pajajaran

Di Cipatat dan Padalarang, dua wilayah yang kelak dikenal sebagai pintu masuk Bandung Barat, kerusakan terjadi paling parah. Rumah-rumah warga rubuh seperti bangunan mainan. Jika masih berdiri, tembok rumah permanen dipenuhi retakan yang membelah dari sudut ke sudut, mirip peta sungai yang salah cetak. Rumah panggung pun tak luput dari nasib serupa. Tiangnya bergeser, bangunannya condong ke kiri atau kanan, seakan hendak rebah sambil memilih arah.

Genting rumah beterbangan, jatuh ke tanah, sebagian lainnya menimpa kepala manusia yang tak sempat berlindung. Di Hindia Belanda awal abad ke-20, helm pengaman belum dikenal, dan payung lebih sering dipakai untuk hujan air ketimbang hujan genting. Gempa sesar Cimandiri pagi itu bukan hanya menguji kekuatan bangunan, tetapi juga ketangguhan tengkuk manusia.

Jika rumah penduduk menjadi korban pertama, maka infrastruktur kolonial menjadi korban berikutnya. Deli Courant edisi 14 Januari 1911 mencatat dengan nada cemas, gempa sesar Cimandiri menyebabkan kerusakan parah pada fasilitas transportasi kereta api di Cipatat dan Padalarang. Seluruh bangunan stasiun, tiang telegraf, gudang barang, hingga tangki air dilaporkan rusak berat.

Kerusakan tak berhenti pada bangunan. Rel kereta api yang menjadi urat nadi transportasi Priangan ikut terseret bencana ikutan. Longsor, tanah amblas, dan pohon tumbang memutus jalur Padalarang menuju Cipatat. Di beberapa titik, tanah turun sedalam antara 75 hingga 200 meter. Akibatnya, rel kereta tampak menggantung di udara, seperti jembatan darurat yang lupa dipasang penyangga.

Baca Juga: Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

Pemandangan ini bukan saja menyulitkan perjalanan, tetapi juga mempermalukan teknologi kolonial yang selama ini dielu-elukan sebagai simbol kemajuan. Staatsspoorwegen atau SS, perusahaan kereta api Hindia Belanda, mendadak harus mengakui bahwa rel baja tak selalu berdaya di hadapan tanah yang bergerak.

“Telegraf komunikasi juga telah terputus. Untuk sementara, wisatawan yang akan ke Bandung disarankan lewat Jalur Karawang,” tulis Deli Courant. Sebuah saran yang terdengar sederhana, tetapi bagi pelancong awal abad ke-20, berarti memutar jauh dengan waktu tempuh yang tak singkat.

Lumpuhnya jalur kereta api membuat para penumpang terjebak di tengah perjalanan. Ada yang berangkat dari Bandung menuju Bogor, ada pula yang sebaliknya, mendadak harus menerima kenyataan bahwa perjalanan mereka berhenti di Cipatat. Kereta tak bisa maju, rel tak bisa dilalui, dan bumi tak bisa diajak kompromi.

Untuk mengevakuasi penumpang, SS menyediakan angkutan darurat berupa kereta kuda sadu. Dari Cipatat menuju Padalarang, penumpang diangkut menggunakan gerobak, sebagian lainnya berjalan kaki menyusuri jalur yang biasanya dilalui lokomotif. Perjalanan yang biasanya ditempuh dengan deru mesin uap, kini harus dijalani dengan bunyi tapal kuda dan langkah kaki manusia.

“Penumpang harus naik gerobak atau berjalan kaki ke Padalarang. Dengan cara ini penumpang kereta terlambat 3 jam tiba di Bandung,” tulis Deli Courant. Tiga jam yang mungkin terasa lama bagi orang yang terbiasa tepat waktu, tetapi terasa jauh lebih singkat dibanding menunggu bumi berhenti bergerak.

Baca Juga: Jejak Sejarah Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, Tertua di Indonesia

Gempa sesar Cimandiri 1910 bukan sekadar peristiwa alam, melainkan catatan penting tentang rapuhnya kehidupan di atas patahan aktif. Ia menunjukkan bahwa Bandung Barat dan sekitarnya sejak lama hidup berdampingan dengan risiko gempa besar. Bahwa rel kereta, stasiun megah, dan rumah tembok tak selalu menjadi jaminan keselamatan.

Seratus lima belas tahun kemudian, ingatan tentang gempa ini kembali relevan. Sesar Cimandiri masih ada, membentang tanpa banyak berubah, menunggu waktunya kembali bergerak. Arsip koran kolonial menjadi pengingat sunyi, bahwa gempa bukan tamu baru di tanah Priangan, melainkan penghuni lama yang sesekali mengetuk pintu, tanpa pernah memberi aba-aba.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Beranda 11 Apr 2026, 08:51

JPO Berkarat dan Berlubang Membahayakan Pelajar di Batas Kota Bandung–Cimahi, Tanggung Jawab Siapa?

JPO di Jalan Amir Machmud rusak parah: lantai berlubang, berkarat, dan tanpa atap pelindung, membahayakan pejalan kaki terutama pelajar.

Pelejar berjalan di JPO di Jalan Amir Machmud, perbatasan Kota Bandung dan Cimahi, Jumat, 10 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 20:01

Antara Bandung yang Kubayangkan dan Kenyataan yang Kutemui

Bagi banyak orang, Bandung selalu punya tempat istimewa dalam imajinasi.

Jalan Asia-Afrika, depan Alun-Alun Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Suci Firda)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 18:23

WFH sebagai Cermin Budaya Kerja Aparatur

Hilangnya kehadiran fisik dalam WFH menantang organisasi untuk membangun sistem penilaian kerja yang berbasis output dan tanggung jawab.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Diskominfo Depok)
Bandung 10 Apr 2026, 16:36

Mengenal Dongmoon Dimsum, Ikon Kuliner Baru di Pasar Cihapit yang Viral Lewat Varian Mentai

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum tetap kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung.

Di tengah gempuran tren kuliner viral yang silih berganti, Dongmoon Dimsum kokoh menancapkan eksistensinya, memperkuat jajaran destinasi kuliner di Pasar Cihapit, Bandung. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Iqbal Roem)
Ikon 10 Apr 2026, 15:17

Sejarah Istana Cipanas, Warisan Kolonial di Kaki Gunung Gede Pangrango

Istana Cipanas bermula dari rumah singgah abad ke-18, berkembang menjadi istana kepresidenan yang menyimpan jejak kolonial, perang, hingga keputusan penting negara

Lukisan Istana Cipanas, Cianjur, tahun 1880-1890-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:26

Jelajah Wisata Pangalengan dengan Pilihan Tempat Menginapnya

Pangalengan punya sejarah penginapan panjang, dari Berghotel hingga glamping modern di Rahong dan Situ Cileunca dengan nuansa alam yang menenangkan.

Muara Rahong Hills, salah satu glamping tempat menginap wisatawan di Pangalengan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 10 Apr 2026, 13:18

Panduan Wisata Gunung Guntur, "Semeru"-nya Jawa Barat dengan Panorama Spektakuler

Gunung Guntur menawarkan jalur berpasir terjal, panorama pegunungan luas, serta pengalaman mendaki unik di gunung berapi aktif dekat pusat Kota Garut.

Gunung Guntur dilihat dari kawasan pemandian Cipanas, Garut (Sumber: Wikimedia)
Beranda 10 Apr 2026, 09:29

Power of Ibu-ibu Cibogo Mengubah Sampah Jadi Gerakan Kolektif yang Berdampak Nyata

Power of Ibu-Ibu Cibogo mengubah pengelolaan sampah rumah tangga menjadi gerakan kolektif yang berdampak, menghadirkan solusi lingkungan sekaligus manfaat sosial dan ekonomi bagi warga.

Ibu-ibu di Cibogo, Kecamatan Sukajadi mengolah sampah rumah tangga yang memberikan perubahan terhadap kehidupan sosial dan ekonomi warga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Apr 2026, 08:30

Tren Rambut Lady Diana

Kehebohan para wanita Kota Bandung dari berbagai kalangan usia meniru gaya rambut Lady Diana saat tahun 1980-an

Lady Diana. (Sumber: Flickr | Foto: Joe Haupt)
Bandung 09 Apr 2026, 19:40

Urgensi Literasi Keuangan dan Akselerasi Sektor Riil demi Resiliensi Ekonomi Jawa Barat

Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar: bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi?

Ilustrasi. Di tengah derasnya arus digitalisasi keuangan, Jawa Barat menghadapi tantangan besar bagaimana memastikan inklusi keuangan berjalan selaras dengan literasi. (Sumber: Ayobiz.id/Gemini Generated)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 18:18

Asyiknya Berburu Koran Era 2000-an

Berburu koran tidak hanya mencari informasi, berita, ilmu pengetahuan, melainkan momentum bersejarah saat menerima (menjemput), ikhtiar, harapan dan kenyataan untuk terus belajar sepanjang hayat.

Aa Akil, anak kedua tengah asyik baca koran, Sabtu (4/4/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 09 Apr 2026, 16:40

Wisata Pantai Patimban, Pesisir Subang Utara yang jadi Pelabuhan Logistik

Pantai Patimban tawarkan sunset, kuliner laut, dan suasana santai, namun kini berubah sejak hadirnya Pelabuhan Internasional.

Pantai Patimban Subang. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 09 Apr 2026, 16:39

Beralih ke Motor Listrik, Ojol Hadapi Dilema Antara Hemat Biaya dan Keterbatasan Jarak

Peralihan ojol ke motor listrik menghadirkan efisiensi biaya, namun dibayangi tantangan jarak tempuh dan infrastruktur, memaksa pengemudi lebih cermat mengatur strategi kerja.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 15:02

4 Ide Tulisan Hari Besar Terkait Tema Ayonetizen April 2026: Kartini, Asia-Afrika, sampai Hari Puisi

Bulan April penuh dengan momentum yang bisa diubah jadi cerita.

Warga berwisata di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Minggu, 30 April 2023. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 09 Apr 2026, 13:42

Menjembatani Kreativitas dan Regulasi: Menilik Tantangan Ekonomi Kreatif di Bandung

Pemerintah dan pelaku ekraf Bandung bedah regulasi & standar harga pengadaan dalam Ruang Dialog Ekraf guna dorong dampak ekonomi nyata.

Ilustrasi. Ekonomi kreatif (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 13:14

Dari Sampah Menjadi Penjernih Sungai

Mahasiswa Tel-U menggagas website edukasi Ecoenzyme untuk atasi banjir Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Ilustrasi banjir yang menggenang Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 12:03

Doktrin Pemikiran Manusia

Dalam konteks apapun, doktrin menjadikan sebuah pemikiran otak manusia menjadi lebih aktif dalam berbagai permasalahan.

Ilustrasi manusia. (Sumber: Pexels | Foto: beytlik)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 11:18

Acara Radio Legendaris Top Hits Pop Indonesia (THPI) dari Radio Ganesha Bandung

Di Bandung, salah satu acara yang paling ditunggu adalah Top Hits Pop Indonesia (THPI).

Daftar lagu Top Hits Pop Indonesia edisi Desember 1990 yang dimuat di surat kabar Suara Pembaruan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 09 Apr 2026, 09:55

Menjembatani Kesenjangan Internet: Antara Fiber, FWA, dan Harapan 5G

Kesenjangan akses internet di Indonesia masih tinggi, sehingga kombinasi fiber optik, 4G, 5G, dan FWA serta kolaborasi pemerintah dan operator jadi kunci pemerataan broadband.

Suasana Seminar Teknologi FTTH, FWA & Mobile Broadband di Aula Timur ITB Kampus Ganesa, yang membahas strategi pemerataan akses internet di tengah kesenjangan infrastruktur digital di Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Apr 2026, 09:54

Rambu dan Marka yang Tidak Dipelihara: Ancaman Sunyi di Jalanan Bandung

Rambu pudar, tertutup, dan marka hilang meningkatkan risiko kecelakaan di Bandung. Masalah ini menegaskan pentingnya pemeliharaan infrastruktur jalan.

Salah satu titik yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Bandung, persimpangan lampu merah di Jalan Djunjunan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)