Jejak Sejarah Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, Tertua di Indonesia

Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan Jumat 26 Sep 2025, 14:00 WIB
Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, tertua di Indonesia. (Sumber: KITLV)

Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, tertua di Indonesia. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pada penghujung abad ke-19, saat Eropa sedang keranjingan industrialisasi, Hindia Belanda pun tak mau ketinggalan dalam urusan infrastruktur. Negeri jajahan ini bukan hanya ladang emas berupa kopi, teh, dan kina, melainkan juga medan tantangan yang memaksa para insinyur kolonial untuk memutar otak. Di tengah rimbunnya hutan Priangan, antara lembah dan bukit Cianjur, lahirlah gagasan membangun sebuah terowongan kereta api yang akan menembus perut bumi.

Terowongan itu kemudian dikenal sebagai Terowongan Lampegan, yang kelak menjadi terowongan kereta tertua di Indonesia dan hingga kini masih menyimpan jejak panjang sejarah kolonial, teknologi, bahkan cerita mistis yang terus diwariskan dari mulut ke mulut.

Pembangunan Lampegan dimulai pada tahun 1879, di bawah kendali Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Staatsspoorwegen kala itu sedang getol membangun jaringan jalur rel di Jawa. Mereka punya ambisi besar: menghubungkan daerah-daerah penghasil komoditas perkebunan di pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Batavia, tempat kapal-kapal dagang siap mengangkut hasil bumi ke pasar dunia. Priangan, dengan tanah suburnya yang menghasilkan kopi, teh, dan kina kualitas unggul, jelas tidak bisa dibiarkan jauh dari jangkauan rel kereta api.

Baca Juga: Jejak Panjang Sejarah Cianjur, Kota Santri di Kaki Gunung Gede

Tapi, jalan menuju keuntungan tidak semulus brosur iklan. Priangan bukanlah tanah datar seperti sawah di Cirebon, melainkan penuh bukit dan gunung yang membuat keringat para insinyur kolonial mengucur deras. Solusinya adalah menembus bukit dengan terowongan. Setelah studi panjang, dipilihlah sebuah titik di Cianjur untuk digali. Maka, ratusan pekerja pribumi—dengan cangkul, linggis, serta sedikit bantuan bahan peledak sederhana—mulai merobek perut bumi. Proyek ini bukan hanya soal batu dan tanah, melainkan juga simbol masuknya teknologi Barat yang dengan berani menantang geografi Nusantara.

Pada 1882, pekerjaan yang melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil. Sebuah terowongan sepanjang hampir 700 meter membelah bukit dengan megah, siap dilalui lokomotif besi yang berasap pekat. Jalur Sukabumi–Cianjur–Bandung pun resmi dibuka. Lampegan menjadi titik krusial dalam rute tersebut karena mengatasi hambatan elevasi yang selama ini memperlambat mobilitas.

Dengan dibukanya jalur ini, ritme ekonomi lokal berubah drastis. Desa-desa yang sebelumnya hanya dilalui pedati dan kuda kini ikut merasakan getar kereta api. Hasil bumi dari pedalaman bisa meluncur cepat ke Batavia, sementara barang-barang dari kota besar lebih mudah masuk ke pedesaan.

Jejak nama Lampegan sendiri kerap menimbulkan perdebatan. Banyak cerita jenaka beredar bahwa nama ini muncul dari teriakan mandor Belanda. Ada yang mengaitkannya dengan kalimat “lampen aan” yang berarti “nyalakan lampu”, atau “lampen gaan” yang berarti “lampu sudah menyala”. Bahkan ada yang lebih kreatif, mengatakan nama itu berasal dari perintah “lamp pegang” yang diteriakkan ketika para pekerja harus menahan lampu agar tidak jatuh. Teori-teori ini tentu menghibur, tapi sebenarnya keliru.

Bukti toponimi menunjukkan nama Lampegan sudah ada jauh sebelum terowongan digali. Peta topografi kolonial mencatat keberadaan Gunung Lampegan, Kampung Lampegan, dan Perkebunan Lampegan. Kata Lampegan ternyata merujuk pada sejenis tumbuhan kecil yang banyak tumbuh di kawasan itu. R. Satjadibrata dalam Kamus Basa Sunda edisi 1946 menyebut lampegan sebagai “ngaran tatangkalan leutik,” atau nama sebuah tanaman kecil. Jadi, nama Lampegan bukanlah hasil teriakan masinis Belanda, melainkan penamaan lokal yang kemudian diwarisi oleh terowongan dan stasiun.

Baca Juga: Sejarah Terowongan Kereta Sasaksaat, Terpanjang di Indonesia

Perjalanan Lampegan ke abad ke-20 dan 21 penuh lika-liku. Selama era kolonial, ia menjadi jalur penting pengangkutan hasil bumi. Namun, setelah Indonesia merdeka, prioritas jalur kereta berubah. Beberapa lintasan regional mulai sepi, termasuk jalur Cianjur–Sukabumi. Lampegan pun mengalami masa suram. Pada tahun 2001, longsor besar menutup jalur di sekitar Stasiun Lampegan. Terowongan ini terpaksa ditutup karena rusak parah. Upaya perbaikan dilakukan pada 2006, tetapi alam tampaknya belum rela. Longsor kembali menimpa kawasan itu, membuat jalur tetap tidak dapat dilalui.

Baru pada 2009–2010 dilakukan perbaikan besar yang lebih serius. Dinding terowongan direkonstruksi, dan panjangnya dipangkas dari sekitar 686 meter menjadi 415 meter agar bagian rawan longsor bisa dihindari. Setelah itu, Lampegan kembali bisa dilalui kereta api. Namun, insiden masih menghampiri. Pada 19 Agustus 2016, Kereta Api Siliwangi dari Cianjur menuju Sukabumi anjlok saat memasuki terowongan. Gerbong terakhir keluar jalur, membuat penumpang panik. Untungnya, tidak ada korban jiwa serius, tetapi kejadian itu menegaskan bahwa Lampegan masih menyimpan risiko yang tak bisa diremehkan.

Walaupun penuh drama, Lampegan tetap berdiri kokoh hingga kini. Ia menjadi jalur vital bagi KA Siliwangi dan jalur-jalur lokal lain, sekaligus bukti nyata bagaimana teknologi abad ke-19 masih mampu bertahan di tengah zaman yang sudah serba digital.

Stasiun Lampegan. (Sumber: Wikimedia)
Stasiun Lampegan. (Sumber: Wikimedia)

Legenda Ronggeng di Balik Terowongan

Sejarah fisik Lampegan mungkin bisa dicatat dalam arsip, tetapi cerita rakyat yang melekat padanya jauh lebih sulit dihapus. Di balik lengkung batu itu hidup legenda tentang seorang penari ronggeng bernama Nyi Sadea. Cerita tentangnya begitu populer di Cianjur dan sekitarnya, sehingga nyaris setiap orang yang pernah mendengar nama Lampegan pasti juga tahu kisahnya.

Baca Juga: Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

Berdasarkan cerita yang beredar, pada masa pembangunan terowongan sering terjadi kecelakaan misterius. Galian longsor, pekerja tertimbun, proyek terancam gagal. Dalam keresahan itu, muncul bisikan bahwa terowongan membutuhkan tumbal manusia. Maka, seorang ronggeng bernama Nyi Sadea dipilih. Ada versi yang mengatakan ia dikubur hidup-hidup di dalam dinding terowongan sebagai syarat keselamatan, ada pula yang menyebut ia hilang begitu saja setelah menari di dekat lokasi, seolah ditelan oleh dunia gaib.

Terdapat pula kisah lain yang lebih romantis sekaligus menyeramkan. Dikisahkan pada suatu malam pejabat Hindia Belanda mengundang pertunjukan ronggeng untuk menghibur para pekerja. Nyi Sadea menari dengan gemulai, memukau penonton. Setelah itu hujan deras turun, dan ia berteduh di mulut terowongan.

Tiba-tiba terdengar panggilan samar dari dalam kegelapan. Dengan rasa penasaran, Nyi Sadea melangkah masuk. Sejak itu ia tidak pernah terlihat lagi. Masyarakat percaya ia menjadi istri gaib penguasa wilayah terowongan.

Legenda ini semakin hidup dengan cerita penampakan seorang perempuan berkebaya merah di dalam atau sekitar terowongan. Banyak penumpang maupun warga sekitar mengaku pernah melihatnya. Konon, ia menari pelan lalu menghilang, meninggalkan rasa merinding bagi siapa pun yang kebetulan lewat. Walau tak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah, kisah Nyi Sadea menjadi bagian tak terpisahkan dari Lampegan. Ia adalah simbol bagaimana masyarakat Jawa menafsirkan kemajuan teknologi yang datang tiba-tiba dengan cara mereka sendiri: melalui mitos, tumbal, dan kepercayaan pada dunia gaib.

Kisah mistis ini tentu tidak mengurangi nilai sejarah Lampegan. Justru sebaliknya, ia menambah daya tarik. Wisatawan yang berkunjung tak hanya bisa menikmati keindahan arsitektur kolonial, tetapi juga merasakan sensasi berjalan di lorong yang konon dihuni arwah penari ronggeng. Perpaduan antara sejarah nyata dan mitos mistis inilah yang membuat Lampegan berbeda dengan terowongan lain. Ia bukan sekadar infrastruktur, melainkan juga panggung cerita yang hidup di imajinasi masyarakat.

Baca Juga: Sejarah Dongeng Si Kabayan, Orang Kampung Pemalas yang Licin dan Jenaka

Kini, Terowongan Lampegan bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan budaya. Orang datang untuk melihat sisa kejayaan teknologi kolonial, mendengar kisah tumbal Nyi Sadea, atau sekadar berfoto dengan latar lengkung dinding batu yang kokoh. Ia menjadi simbol kebanggaan Cianjur, saksi bisu dari masa kolonial hingga Indonesia merdeka, dari zaman lokomotif uap hingga kereta modern. Usianya yang lebih dari satu abad menjadikannya bukan sekadar tua, melainkan legendaris.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

News Update

Ayo Netizen 09 Jan 2026, 20:34 WIB

Bandung dan Tawanan Kota yang Terjajah Diam-Diam: Sebuah Resolusi Baru

Kota bergerak maju, tapi belum pulih. Di balik modernitas, tersisa warisan kolonial yang membentuk birokrasi, selera, dan mimpi warga.
Persimpangan Jalan Braga dan Jalan Naripan tahun 1910-an. (Sumber: kitlv)
Beranda 09 Jan 2026, 19:07 WIB

Sebelum Terlambat 2030, Strategi Komunikasi SDGs Harus Melampaui Jargon Birokrasi

SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif.
SDGs adalah milik kita semua; dan komunikasi adalah kunci untuk membuka partisipasi kolektif. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 17:49 WIB

Keamanan Data dan Masa Depan AI: Jalan Panjang Membangun Kepercayaan Publik

Di Indonesia, AI sudah semakin relevan dan meresap ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari rekomendasi konten hiburan, aplikasi belajar daring, hingga layanan finansial digital.
Ilustrasi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence atau AI). (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 17:14 WIB

Bandung Semakin Padat, Saatnya Berbenah Sebelum Terlambat

Kemacetan di Bandung dipicu kendaraan berlebih, jalan sempit, angkutan umum kurang baik, wisatawan, dan parkir liar.
Kemacetan di salah satu ruas jalan Kota Bandung di Jl. A. Yani  Kacapiring. 01/12/25 (Sumber: Naila Husna Ramadan)
Beranda 09 Jan 2026, 16:37 WIB

Wajah Lain Wisata Delman di Kota Bandung: Romantis bagi Wisatawan, Berat bagi Kuda

Tantangan besarnya adalah kebutuhan akan regulasi yang mampu menjembatani kepentingan hewan, kusir, dan penumpang secara adil.
Ade, kusir delman di sekitar wilayah Gedung Sate. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Biz 09 Jan 2026, 16:28 WIB

Food Genomics, Teknologi Nutrisi Presisi yang Mengubah Cara Anak Muda Makan

Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik.
Generasi millennial dan Gen Z, yang tumbuh bersama teknologi dan terbiasa dengan personalisasi dalam setiap aspek hidupnya, mulai melirik pendekatan baru yakni food genomics atau nutrigenomik. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 16:13 WIB

Balai Kota Bandung sebagai Promotor Produk Kriya Unggulan Glassware dan Mesin Roaster Kopi

Gedung balai kota mesti bisa menjadi promotor bagi kriya glassware eksklusif dan mesin roaster kopi buatan Bandung.
Halaman balai kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Jelajah 09 Jan 2026, 16:00 WIB

Hikayat Tamasya Baheula di Kawah Putih Ciwidey, Tempat Healing Kompeni yang Sepi dan Sunyi

Kawah Putih Ciwidey tampil sebagai tujuan berat dan hening dalam Gids van Bandoeng 1927 lengkap dengan belerang dan tanjakan panjang.
Lukisan Kawah Putih Franz Wilhelm Junghuhn. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:43 WIB

Penipuan Online: Apakah Ada Hukumnya?

Penipuan melalui telepon berkembang lebih cepat daripada aturan hukumnya.
Media dalam jaringan (daring). (Sumber: Pexels | Foto: Torsten Dettlaff)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 15:06 WIB

'Berkawan' dengan Gelapnya Jalan Soekarno Hatta

Jalan Soekarno Hatta makin gelap karena lampu PJU mati, membuat warga merasa was-was setiap melintas.
Jalan Soekarno Hatta ramai malam hari, motor, dan mobil bergerak di tengah padatnya arus, (01/12/2025). (Sumber: Fayyaza Jasmine | Foto: Fayyaza Jasmine)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 14:39 WIB

Bobotoh Cek! Cara Beli Single Ticket Pertandingan PERSIB di Aplikasi Resmi

Cara membeli single ticket pertandingan kandang PERSIB Bandung melalui aplikasi resmi PERSIB (PERSIBapp).
Pemain Persib Bandung, Adam Alis. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Arif Rahman)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 13:26 WIB

Bandung Terus Diganggu oleh Pungli yang Tak Kunjung Teratasi

Pungli terus mengganggu kenyamanan warga Bandung muncul berulang di berbagai ruang publik, menunjukkan lemahnya pengawasan dan kebutuhan akan tindakan tegas untuk mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Area parkir di salah satu kawasan kuliner Bandung yang sedang dipadati oleh beberapa kendaraan, terutama pada jam makan siang (4/12/2025). (Sumber: Keira Khalila K | Foto: Keira Khalila K)
Beranda 09 Jan 2026, 11:20 WIB

PKL Cicadas Tolak Jalur BRT, Spanduk Protes Bermunculan: Kami Butuh Kepastian, Bukan Sekadar Proyek

Berdasarkan temuan di lapangan, kegelisahan pedagang memuncak setelah adanya pendataan mendadak yang dilakukan dua kali, masing-masing oleh konsultan dan Satpol PP.
Pedagang Kaki Lima (PKL) di kawasan Cicadas menolak pembangunan jalur Bus Rapid Transit (BRT). (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:27 WIB

Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia

Suasana akrab dan inspiratif menyelimuti acara "Weekend Retreat" yang diselenggarakan oleh Bright Scholarship Regional Bandung.
Membangun Visi dan Networking: Weekend Retreat Bright Scholarship Regional Bandung Bersama Founder Duta Inspirasi Indonesia
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 09:01 WIB

Optimalisasi Keterampilan Pemrograman dalam Kehidupan Sehari-Hari

Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya?
Keterampilan pemrograman memiliki tingkat kesulitan yang lumayan tinggi untuk kebanyakan orang, sehingga terkadang dipertanyakan apakah mutunya melebihi kesulitannya? (Sumber: Pexels | Foto: hitesh choudhary)
Ayo Netizen 09 Jan 2026, 07:53 WIB

Bentuk Sadar Toleransi terhadap Penganut Sunda Wiwitan

Kesadaran toleransi sedang ramai digaungkan, namun terkadang hanya dirasakan oleh penganut agama resmi versi pemerintah.
Podcast bersama Bapak Ira Indrawardana, S.Sos., M.Si., Dosen Antropologi Universitas Padjajaran. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Paguyuban Project)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:32 WIB

Dari Ancaman TPA hingga Harapan Transformasi

Sampah menumpuk, citra kota terancam. Bagaimana Bandung mengubah krisis jadi peluang?
Tumpukan sampah yang mencerminkan darurat lingkungan yang butuh solusi cepat di Gudang Selatan, Bandung, Jawa Barat, (01/12/2025). (Sumber: Azzahra Syifa Lestari)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 20:16 WIB

Kenapa Stoikisme Lebih Ampuh daripada Terjerat Pinjol? Seni Menghadapi Quarter Life Crisis

Jangan sampai salah langkah demi gengsi! Kenali cara hadapi Quarter Life Crisis dengan Stoikisme agar terhindar dari jeratan Pinjol.
Ilustrasi perasaan tersesat dan lelah mental saat menghadapi Quarter Life Crisis. (Sumber: unplash | Foto: Mehran Biabani)
Ayo Netizen 08 Jan 2026, 19:19 WIB

Kota Bandung dan Krisis Sampah

Kota Bandung kembali berada dalam sorotan publik akibat persoalan sampah yang tak kunjung teratasi.
Gunung"sampah di daerah warga jl. buanasari II no.1 , Kota Bandung pada Selasa, 2 Desember 2025. (Foto:Muhammad Fiqri A.)