Jejak Sejarah Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, Tertua di Indonesia

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, tertua di Indonesia. (Sumber: KITLV)
Terowongan Kereta Lampegan Cianjur, tertua di Indonesia. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Pada penghujung abad ke-19, saat Eropa sedang keranjingan industrialisasi, Hindia Belanda pun tak mau ketinggalan dalam urusan infrastruktur. Negeri jajahan ini bukan hanya ladang emas berupa kopi, teh, dan kina, melainkan juga medan tantangan yang memaksa para insinyur kolonial untuk memutar otak. Di tengah rimbunnya hutan Priangan, antara lembah dan bukit Cianjur, lahirlah gagasan membangun sebuah terowongan kereta api yang akan menembus perut bumi.

Terowongan itu kemudian dikenal sebagai Terowongan Lampegan, yang kelak menjadi terowongan kereta tertua di Indonesia dan hingga kini masih menyimpan jejak panjang sejarah kolonial, teknologi, bahkan cerita mistis yang terus diwariskan dari mulut ke mulut.

Pembangunan Lampegan dimulai pada tahun 1879, di bawah kendali Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api milik pemerintah Hindia Belanda. Staatsspoorwegen kala itu sedang getol membangun jaringan jalur rel di Jawa. Mereka punya ambisi besar: menghubungkan daerah-daerah penghasil komoditas perkebunan di pedalaman dengan pelabuhan-pelabuhan besar di Batavia, tempat kapal-kapal dagang siap mengangkut hasil bumi ke pasar dunia. Priangan, dengan tanah suburnya yang menghasilkan kopi, teh, dan kina kualitas unggul, jelas tidak bisa dibiarkan jauh dari jangkauan rel kereta api.

Baca Juga: Jejak Panjang Sejarah Cianjur, Kota Santri di Kaki Gunung Gede

Tapi, jalan menuju keuntungan tidak semulus brosur iklan. Priangan bukanlah tanah datar seperti sawah di Cirebon, melainkan penuh bukit dan gunung yang membuat keringat para insinyur kolonial mengucur deras. Solusinya adalah menembus bukit dengan terowongan. Setelah studi panjang, dipilihlah sebuah titik di Cianjur untuk digali. Maka, ratusan pekerja pribumi—dengan cangkul, linggis, serta sedikit bantuan bahan peledak sederhana—mulai merobek perut bumi. Proyek ini bukan hanya soal batu dan tanah, melainkan juga simbol masuknya teknologi Barat yang dengan berani menantang geografi Nusantara.

Pada 1882, pekerjaan yang melelahkan itu akhirnya membuahkan hasil. Sebuah terowongan sepanjang hampir 700 meter membelah bukit dengan megah, siap dilalui lokomotif besi yang berasap pekat. Jalur Sukabumi–Cianjur–Bandung pun resmi dibuka. Lampegan menjadi titik krusial dalam rute tersebut karena mengatasi hambatan elevasi yang selama ini memperlambat mobilitas.

Dengan dibukanya jalur ini, ritme ekonomi lokal berubah drastis. Desa-desa yang sebelumnya hanya dilalui pedati dan kuda kini ikut merasakan getar kereta api. Hasil bumi dari pedalaman bisa meluncur cepat ke Batavia, sementara barang-barang dari kota besar lebih mudah masuk ke pedesaan.

Jejak nama Lampegan sendiri kerap menimbulkan perdebatan. Banyak cerita jenaka beredar bahwa nama ini muncul dari teriakan mandor Belanda. Ada yang mengaitkannya dengan kalimat “lampen aan” yang berarti “nyalakan lampu”, atau “lampen gaan” yang berarti “lampu sudah menyala”. Bahkan ada yang lebih kreatif, mengatakan nama itu berasal dari perintah “lamp pegang” yang diteriakkan ketika para pekerja harus menahan lampu agar tidak jatuh. Teori-teori ini tentu menghibur, tapi sebenarnya keliru.

Bukti toponimi menunjukkan nama Lampegan sudah ada jauh sebelum terowongan digali. Peta topografi kolonial mencatat keberadaan Gunung Lampegan, Kampung Lampegan, dan Perkebunan Lampegan. Kata Lampegan ternyata merujuk pada sejenis tumbuhan kecil yang banyak tumbuh di kawasan itu. R. Satjadibrata dalam Kamus Basa Sunda edisi 1946 menyebut lampegan sebagai “ngaran tatangkalan leutik,” atau nama sebuah tanaman kecil. Jadi, nama Lampegan bukanlah hasil teriakan masinis Belanda, melainkan penamaan lokal yang kemudian diwarisi oleh terowongan dan stasiun.

Baca Juga: Sejarah Terowongan Kereta Sasaksaat, Terpanjang di Indonesia

Perjalanan Lampegan ke abad ke-20 dan 21 penuh lika-liku. Selama era kolonial, ia menjadi jalur penting pengangkutan hasil bumi. Namun, setelah Indonesia merdeka, prioritas jalur kereta berubah. Beberapa lintasan regional mulai sepi, termasuk jalur Cianjur–Sukabumi. Lampegan pun mengalami masa suram. Pada tahun 2001, longsor besar menutup jalur di sekitar Stasiun Lampegan. Terowongan ini terpaksa ditutup karena rusak parah. Upaya perbaikan dilakukan pada 2006, tetapi alam tampaknya belum rela. Longsor kembali menimpa kawasan itu, membuat jalur tetap tidak dapat dilalui.

Baru pada 2009–2010 dilakukan perbaikan besar yang lebih serius. Dinding terowongan direkonstruksi, dan panjangnya dipangkas dari sekitar 686 meter menjadi 415 meter agar bagian rawan longsor bisa dihindari. Setelah itu, Lampegan kembali bisa dilalui kereta api. Namun, insiden masih menghampiri. Pada 19 Agustus 2016, Kereta Api Siliwangi dari Cianjur menuju Sukabumi anjlok saat memasuki terowongan. Gerbong terakhir keluar jalur, membuat penumpang panik. Untungnya, tidak ada korban jiwa serius, tetapi kejadian itu menegaskan bahwa Lampegan masih menyimpan risiko yang tak bisa diremehkan.

Walaupun penuh drama, Lampegan tetap berdiri kokoh hingga kini. Ia menjadi jalur vital bagi KA Siliwangi dan jalur-jalur lokal lain, sekaligus bukti nyata bagaimana teknologi abad ke-19 masih mampu bertahan di tengah zaman yang sudah serba digital.

Stasiun Lampegan. (Sumber: Wikimedia)
Stasiun Lampegan. (Sumber: Wikimedia)

Legenda Ronggeng di Balik Terowongan

Sejarah fisik Lampegan mungkin bisa dicatat dalam arsip, tetapi cerita rakyat yang melekat padanya jauh lebih sulit dihapus. Di balik lengkung batu itu hidup legenda tentang seorang penari ronggeng bernama Nyi Sadea. Cerita tentangnya begitu populer di Cianjur dan sekitarnya, sehingga nyaris setiap orang yang pernah mendengar nama Lampegan pasti juga tahu kisahnya.

Baca Juga: Sejarah Gempa Besar Cianjur 1879 yang Guncang Kota Kolonial

Berdasarkan cerita yang beredar, pada masa pembangunan terowongan sering terjadi kecelakaan misterius. Galian longsor, pekerja tertimbun, proyek terancam gagal. Dalam keresahan itu, muncul bisikan bahwa terowongan membutuhkan tumbal manusia. Maka, seorang ronggeng bernama Nyi Sadea dipilih. Ada versi yang mengatakan ia dikubur hidup-hidup di dalam dinding terowongan sebagai syarat keselamatan, ada pula yang menyebut ia hilang begitu saja setelah menari di dekat lokasi, seolah ditelan oleh dunia gaib.

Terdapat pula kisah lain yang lebih romantis sekaligus menyeramkan. Dikisahkan pada suatu malam pejabat Hindia Belanda mengundang pertunjukan ronggeng untuk menghibur para pekerja. Nyi Sadea menari dengan gemulai, memukau penonton. Setelah itu hujan deras turun, dan ia berteduh di mulut terowongan.

Tiba-tiba terdengar panggilan samar dari dalam kegelapan. Dengan rasa penasaran, Nyi Sadea melangkah masuk. Sejak itu ia tidak pernah terlihat lagi. Masyarakat percaya ia menjadi istri gaib penguasa wilayah terowongan.

Legenda ini semakin hidup dengan cerita penampakan seorang perempuan berkebaya merah di dalam atau sekitar terowongan. Banyak penumpang maupun warga sekitar mengaku pernah melihatnya. Konon, ia menari pelan lalu menghilang, meninggalkan rasa merinding bagi siapa pun yang kebetulan lewat. Walau tak pernah bisa dibuktikan secara ilmiah, kisah Nyi Sadea menjadi bagian tak terpisahkan dari Lampegan. Ia adalah simbol bagaimana masyarakat Jawa menafsirkan kemajuan teknologi yang datang tiba-tiba dengan cara mereka sendiri: melalui mitos, tumbal, dan kepercayaan pada dunia gaib.

Kisah mistis ini tentu tidak mengurangi nilai sejarah Lampegan. Justru sebaliknya, ia menambah daya tarik. Wisatawan yang berkunjung tak hanya bisa menikmati keindahan arsitektur kolonial, tetapi juga merasakan sensasi berjalan di lorong yang konon dihuni arwah penari ronggeng. Perpaduan antara sejarah nyata dan mitos mistis inilah yang membuat Lampegan berbeda dengan terowongan lain. Ia bukan sekadar infrastruktur, melainkan juga panggung cerita yang hidup di imajinasi masyarakat.

Baca Juga: Sejarah Dongeng Si Kabayan, Orang Kampung Pemalas yang Licin dan Jenaka

Kini, Terowongan Lampegan bukan hanya jalur transportasi, tetapi juga destinasi wisata sejarah dan budaya. Orang datang untuk melihat sisa kejayaan teknologi kolonial, mendengar kisah tumbal Nyi Sadea, atau sekadar berfoto dengan latar lengkung dinding batu yang kokoh. Ia menjadi simbol kebanggaan Cianjur, saksi bisu dari masa kolonial hingga Indonesia merdeka, dari zaman lokomotif uap hingga kereta modern. Usianya yang lebih dari satu abad menjadikannya bukan sekadar tua, melainkan legendaris.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)