Sejarah Dongeng Si Kabayan, Orang Kampung Pemalas yang Licin dan Jenaka

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Sampul dongng SI Kabayan terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.
Sampul dongng SI Kabayan terbitan Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.

AYOBANDUNG.ID - Kalau di Jawa ada Semar dan Petruk, maka tanah Sunda punya Si Kabayan. Tokoh yang satu ini agak susah didefinisikan. Kadang ia terlihat tolol, kadang justru kelewat pintar. Tergantung siapa lawan bicaranya dan siapa yang sedang menuturkan kisahnya. Ia bisa jadi bujang malas yang enggan kerja, bisa pula jadi sufi yang penuh hikmah. Tapi satu hal yang pasti, Si Kabayan selalu membuat orang lain tertawa, sekaligus berpikir.

Dalam risalah Cerita-Cerita Si Kabayan Dari Kelisanan Pertama Ke Kelisanan Kedua, Dosen Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UPI, Memen Durachman menyebutkan cerita-cerita Kabayan mula-mula hanya beredar dalam kelisanan. Bukan lewat buku, apalagi film, melainkan dari mulut ke mulut. Itulah dunia masyarakat agraris, di mana sawah dan kebun jadi panggung sehari-hari, dan kisah-kisah jenaka lebih sering dibawakan di saung atau tepi sungai daripada di ruang kelas.

Transmisi cerita Kabayan berlangsung secara vertikal maupun horizontal. Vertikal artinya dari generasi ke generasi, dari kakek ke cucu. Horizontal artinya dari satu teman ke teman lain, dari satu kampung ke kampung tetangga. Maka tidak aneh bila cerita yang sama bisa berbeda panjangnya tergantung siapa yang menuturkan.

Contohnya ambil saja kisah klasik Kabayan Ngala Nangka. Di Kuningan, cerita ini bisa panjang sekali, lengkap dari peristiwa kecil sampai jatuhnya buah nangka. Tapi di Garut, ceritanya lebih singkat, seperti kabar burung yang buru-buru ingin disampaikan. Dua-duanya tetap lucu, dua-duanya tetap Kabayan. Hanya saja, variasi ini tidak otomatis bisa disebut sebagai versi daerah. Peneliti belum cukup jauh menelusuri setiap kampung di Priangan. Yang jelas, dari situlah Kabayan bertumbuh—dari dongeng yang beredar bebas, tanpa pengikat tulisan.

Baca Juga: Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

Kabayan dalam tradisi lisan punya pola yang hampir bisa ditebak, tapi selalu mengundang tawa. Ada saat ia disuruh melakukan sesuatu, lalu menafsirkannya dengan cara sendiri yang membuat orang lain kaget. Ada pula saat ia terjebak dalam kesulitan, lantas keluar dengan akal bulus yang membuat pihak lain justru celaka. Kadang ia mencoba berulang-ulang hingga lawannya menyerah sendiri, kadang pula ia melakukan sesuatu yang tampak bodoh, lalu memberi penjelasan yang begitu logis sekaligus konyol. Semua pola itu menunjukkan satu hal: Kabayan tidak pernah sekadar tokoh jenaka. Ia adalah simbol, semacam alegori hidup.

Sayangnya, banyak orang Sunda melihatnya secara denotatif saja. Kabayan dianggap malas, bodoh, tukang ngeles. Padahal, cerita-ceritanya justru penuh lapisan makna. Ia bisa dilihat sebagai pengesahan kebudayaan, sebagai alat untuk menguatkan norma sosial, juga sebagai sindiran terhadap kelakuan orang-orang yang terlalu serius menjalani hidup. Cerita-cerita itu biasanya penuh dialog, karena memang begitulah cara lisan bekerja. Hampir tak ada kisah Kabayan yang hanya berupa narasi panjang. Ia selalu hidup dalam percakapan. Dan dalam percakapan itulah logika jungkir baliknya terasa paling menghibur.

Dalam beberapa versi cerita, Kabayan tidak sendirian. Hadirlah Nyi Iteung, perempuan cantik yang jadi pasangan sekaligus ujian hidupnya. Kadang Nyi Iteung digambarkan sebagai istri yang sabar menghadapi ulah suaminya, kadang pula ia jadi bahan rebutan para pria lain. Nyi Iteung membuat Kabayan lebih manusiawi, bukan hanya bujang iseng yang kerjaannya mengelabui orang kampung. Justru lewat sosok Iteung, Kabayan terlihat punya kehidupan rumah tangga, lengkap dengan konflik, kecemburuan, hingga romansa yang tentu saja dibalut kelucuan.

Ketika huruf Latin semakin dikenal di Hindia Belanda, Kabayan akhirnya keluar dari dunia lisan dan masuk ke dunia tulis. Seturut catatan Ajip Rosidi, C.M. Pleyte, seorang Belanda yang menaruh perhatian pada folklor, menerbitkan kumpulan cerita Kabayan pada 1912. Dua dekade kemudian, Moh. Ambri menulis Si Kabayan Jadi Dukun pada 1932. Konon cerita itu ada pengaruh dari Molière, penulis drama Prancis yang lihai membuat satire. Maka jadilah Kabayan yang tadinya bujang kampung, kini hadir juga di buku cetakan dengan sentuhan literer Eropa.

Baca Juga: Hikayat Dukun Digoeng Bantai Warga Cililin, Gegerkan Wangsa Kolonial di Bandung

Sejak saat itu, Kabayan semakin sering muncul dalam bentuk tulis. Ada cerita yang nyaris transkripsi dari lisan, ada pula cerita yang merupakan kreasi bebas. Godi Suwarna, sastrawan Sunda modern, pernah membuat cerita Gual-guil yang memutarbalikkan karakter Kabayan. Kalau biasanya Kabayan dikenal tidak punya ambisi, di tangan Godi ia justru jadi tokoh serakah. Ada juga cerita Ulah Kabayan, di mana sang bujang yang biasanya selalu menang, malah mendapat hukuman dari Abah. Bahkan di tangan penulis lain, Kabayan bisa menjadi sufi atau menyamar jadi haji. Semuanya sah-sah saja, karena Kabayan dalam tradisi tulis diperlakukan sebagai metafora panjang. Tak ada yang protes, sebab masyarakat pembaca sadar bahwa Kabayan adalah tokoh lentur, bisa dipakai untuk tujuan apa saja: didaktis, hiburan, bahkan kritik sosial.

Yang menarik, tumbuhnya Kabayan dalam teks tulis tidak membunuh Kabayan dalam lisan. Keduanya hidup bersama, seperti dua jalur kereta yang berjalan paralel. Itu karena masyarakat kita memang belum sepenuhnya berada pada tahap keberaksaraan yang mapan. Tradisi lisan dan tulis terus berjalan berdampingan, saling menyuburkan. Kabayan bisa saja muncul dalam buku, tapi tetap diceritakan ulang di warung kopi. Ia bisa muncul dalam cerpen majalah, tapi tetap jadi bahan obrolan di sawah.

Pada era televisi, Kabayan kembali pindah rumah. Pada akhir 1960-an, TVRI menayangkan film Si Kabayan. Itulah pertama kalinya tokoh ini masuk ke layar kaca. Dua dekade kemudian, Eddy D. Iskandar menulis beberapa skenario film Kabayan yang tayang pada awal 1990-an. Kabayan pun makin akrab dengan penonton bioskop dan televisi. Ia jatuh cinta, ia bertengkar dengan Abah, ia memperdaya orang kampung. Semua tetap dengan gaya khasnya yang polos sekaligus licik.

Film Si Kabayan dan Gadis Kota gubahan sutradara Eddy D. Iskandar.
Film Si Kabayan dan Gadis Kota gubahan sutradara Eddy D. Iskandar.

Tahun 2003, stasiun televisi Lativi menghadirkan serial Mr. Kabayan. Setahun kemudian, Indosiar menayangkan Si Kabayan Sang Penakluk. Walau berbeda produksi, benang merahnya tetap sama: Kabayan selalu berhasil keluar sebagai pemenang. Dalam Si Kabayan dan Bola Cinta misalnya, ia bisa mengalahkan Abah karena memegang kartu truf berupa rahasia asmara Abah dengan Bu Juju, janda muda di ujung kampung. Penonton tentu saja terhibur.

Baca Juga: Sejarah Seni Tari Jaipong yang Kemunculannya Diwarnai Polemik

Tapi ada yang berubah di sini. Jika dalam tradisi lisan Kabayan hanya beredar di tanah Sunda, maka dalam film dan televisi ia memakai bahasa Indonesia. Artinya, Kabayan tak lagi milik urang Sunda semata. Ia kini bisa dinikmati orang di Makassar, Medan, hingga Jayapura. Kabayan pun naik kelas, dari folklor regional menjadi ikon nasional. Ia bukan lagi sekadar bujang kampung, melainkan tokoh yang bisa dimengerti siapa pun di Indonesia.

Dalam film maupun drama televisi, dominasi dialog tetap terasa, persis seperti dalam lisan. Struktur cerita sederhana, tapi selalu menempatkan Kabayan sebagai pemenang. Humor-humor simbolik tetap dipertahankan, meski lebih cair karena harus menjangkau penonton yang lebih beragam. Proses penciptaan naskah pun tetap berangkat dari skema cerita yang telah lama hidup. Para penulis skenario tidak menciptakan Kabayan dari nol, melainkan dari intuisi kolektif yang sudah diwariskan.

Transformasi Kabayan dari lisan ke tulis, lalu ke kelisanan kedua berupa film, menunjukkan bagaimana masyarakat berubah tapi tetap membawa warisan lama. Masyarakat agraris melahirkan Kabayan lisan, masyarakat yang mengenal buku melahirkan Kabayan tulis, dan masyarakat televisi melahirkan Kabayan baru yang lebih modern. Namun semua versi itu tetap punya inti yang sama: logika jungkir balik yang membuat orang lain terhenyak.

Kabayan adalah cermin. Ia cermin masyarakat yang kadang kolot, kadang jenaka, kadang licik, tapi selalu berusaha bertahan hidup. Ia bisa jadi bujang malas, tapi di balik itu ada kritik sosial. Ia bisa jadi tukang ngeles, tapi justru di situlah sindiran terhadap aturan-aturan yang kaku. Ia bisa jadi penolong atau malah pembuat masalah, tapi ia tetap mewakili suara rakyat kecil yang mencoba menertawakan nasibnya sendiri.

Sejarah folklor Si Kabayan adalah bukti bahwa tokoh rakyat bisa melintasi zaman tanpa kehilangan identitas. Dari sawah Priangan hingga layar televisi, dari saung ke ruang tamu, Kabayan tetap hadir, tetap membuat orang tertawa, tetap membuat orang berpikir. Entah nanti ia akan hidup di platform digital atau di panggung teater modern, satu hal yang pasti: Kabayan tidak akan pernah usang.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)