Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi seblak, kuliner pedas legendaris dari Jawa Barat.
Ilustrasi seblak, kuliner pedas legendaris dari Jawa Barat.

AYOBANDUNG.ID - Seblak hari ini bisa ditemui di hampir setiap sudut Bandung, bahkan merambah kota-kota besar di Indonesia. Pedasnya cabai dan aroma kencurnya begitu khas, membuat anak muda rela antre demi semangkuk makanan yang awalnya hanyalah cara kreatif warga Sunda untuk menyelamatkan kerupuk basi. Kuliner yang kini hadir di kafe modern ini punya kisah panjang: dari masa sulit di Jawa Barat pada era kolonial, masuk ke kantin sekolah, hingga akhirnya naik kelas jadi ikon street food kekinian.

Peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya Bandung, Ria Intani, dalam risalahnya menulis bahwa istilah “seblak” konon mulai terdengar di lingkungan sekolah pada akhir 1990-an. Kala itu, pedagang keliling menjual seblak sederhana dengan bahan seadanya: kerupuk kemplang mentah, cabai rawit atau cengek, bawang putih, kencur atau cikur, garam, dan sedikit air. Cara masaknya pun sederhana tapi cerdik. Kerupuk direndam hingga lemas, bumbu diulek kasar, ditumis, lalu semuanya diaduk hingga kenyal. “Adukan bahan tersebut menjadi kenyal dan itulah yang disebut dengan seblak,” tulis Ria.

Seblak awalnya hanyalah jajanan murah anak sekolah, dijual dengan kantong plastik bening, dimasak pakai kompor pompa berbahan minyak tanah. Meski tampilannya sederhana, pedasnya sukses bikin anak sekolah ketagihan. Bahkan, ada yang rela antre panjang atau berutang demi semangkuk kerupuk basah pedas yang kenyal.

Secara etimologis, kata “seblak” punya arti menarik. Dalam Kamus Basa Sunda disebutkan, “seblak, nyeblak: rasa haté dina waktu inget kana balai,” yang berarti hati seperti tersengat ketika mengingat hal tak menyenangkan. Nama ini juga dianggap singkatan dari segak dan nyegak, istilah Sunda untuk aroma atau rasa menyengat—sesuai karakter kencur yang menjadi ruh seblak.

Baca Juga: Sejarah Bandung dari Paradise in Exile Sampai jadi Kota Impian Daendels

Jika ditelusuri lebih jauh, menurut Ria seblak bisa jadi adalah cucu dari dua kuliner Sunda klasik: kerupuk ceos dan kerupuk ngojai. Ceos adalah kerupuk goreng yang dicelup ke kuah, sedangkan ngojai adalah versi ceos dengan tambahan oncom. Seblak mengambil jalan sendiri: kerupuk mentah langsung dimasak bersama bumbu, menghasilkan sensasi pedas dan kenyal yang khas.

Bagian dari Sejarah Panjang Kerupuk Basah di Jawa Barat

Laman Wikipedia mencatat seblak populer di Bandung pada awal 2000-an. Namun akar sejarahnya disebut jauh lebih tua. Sebelum kemerdekaan, di Garut dan Cianjur Selatan sudah ada kudapan serupa bernama kurupuk leor. Leor berarti lemas, merujuk pada kerupuk yang direndam air hingga lunak. Konon, makanan ini lahir di tengah krisis pangan pada masa penjajahan. Saat beras mahal, masyarakat Sunda mencari cara agar kerupuk basi atau mentah bisa disantap. Caranya sederhana: direndam air agar lemas, lalu dibumbui seadanya.

Di Ciamis, makanan serupa dikenal sebagai kulub babanggi atau belekem. Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi mengolah kerupuk jadi makanan serius bukan hal baru di Jawa Barat. Generasi demi generasi mewarisi resep sederhana ini, membuktikan bahwa kreativitas kuliner bisa lahir dari masa sulit.

Baca Juga: Sejarah Es Cendol Elizabeth Bandung, Berawal dari Bon Toko Tas

Sementara itu, Sejarawan kuliner Fadly Rahman menyatakan tidak ada bukti tertulis mengenai siapa penemu seblak pertama kali, tapi ia yakin makanan ini lahir di beberapa daerah Jawa Barat. Seblak, seperti banyak kuliner Nusantara, hidup dan berkembang dari ingatan kolektif masyarakat, bukan catatan resmi atau resep berstandar kolonial.

Popularitas seblak mulai melonjak di awal 2000-an, terutama di Bandung, kota yang dikenal gemar melahirkan tren kuliner. Dari jajanan kantin sekolah, seblak merambah ke gerobak-gerobak pinggir jalan, hingga kafe modern. Kini topping-nya makin beragam: makaroni, batagor, ceker, tulang lunak, kerupuk kulit, bahkan brokoli dan mozzarella. Di kawasan elit seperti Dago, harga seblak bisa menyaingi semangkuk ramen.

Seblak kekinian dengan ragam variasi isian. (Sumber: Ayobandung)
Seblak kekinian dengan ragam variasi isian. (Sumber: Ayobandung)

Pada awal 2000-an, Bandung naik daun dan semakin dikenal sebagai kota wisata kuliner. Makanan kaki lima naik kelas berkat kreativitas pengusaha muda dan media sosial. Seblak pun ikut naik pangkat. Jika dulu orang hanya mengenal seblak kerupuk, kini ada seblak ceker, seblak mie, seblak makaroni, hingga seblak “level” pedas yang menguji nyali. Beberapa pedagang bahkan menambahkan seafood, tulang ayam, hingga topping kekinian seperti keju mozzarella.

Seiring dengan popularitas yang naik, harga kudapan pedas ini ikut terangkat. Di kawasan pinggiran, harga seblak masih selevel dengan seporsi cilok atau bubur lemu. Namun di kawasan elit seperti Dago, harga seblak bisa menyaingi semangkuk ramen.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana makanan rakyat bisa bertransformasi. Seblak tak hanya dijual di gerobak, tapi juga hadir di restoran modern. Bahkan, banyak video tutorial seblak viral di TikTok dan Instagram, menjadikannya salah satu makanan khas Jawa Barat yang mendunia secara digital.

Perlatan masaknya pun berevolusi. Kompor pompa minyak tanah diganti kompor gas, kantong plastik diganti mangkuk foam atau keramik, dan bahan-bahan kini disimpan dalam toples akrilik. Namun resep dasar seblak nyaris tak berubah: bumbu diulek, ditumis, kerupuk basah dimasak, lalu disajikan panas. Evolusinya ada pada kemasan, bukan rasanya.

Baca Juga: Jejak Bandung Kota Kreatif Berakar Sejak Zaman Kolonial

Bagi warga Bandung dan Jawa Barat pada umumnya, seblak adalah comfort food: makanan yang sederhana, murah, tapi nikmat. Pedasnya yang “nyeblak” bikin orang ketagihan. Dan seperti yang ditulis Ria Intani, seblak bukan sekadar camilan, tapi bagian dari tradisi kuliner Sunda yang menghargai bahan makanan dan kreativitas dapur.

Kini, seblak tak lagi hanya milik Bandung. Ia bisa ditemukan di Jakarta, Surabaya, bahkan di luar negeri. Namun, aroma kencurnya yang khas tetap menjadi ciri tak tergantikan. Seblak membuktikan bahwa makanan sederhana bisa menembus zaman, ruang, dan budaya. Siapa sangka kerupuk rebus pedas ini, yang dulu mungkin dianggap makanan “kelas bawah”, kini menjadi ikon kuliner yang mengharumkan nama Bandung?

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)