Jejak Bandung Kota Kreatif Berakar Sejak Zaman Kolonial

6 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)
Jalan Braga, salah satu pusat keramaian yang lahir dari kreativitas warga Bandung zaman kolonial. (Sumber: Tropenmuseum)

AYOBANDUNG.ID - Tak banyak kota di Indonesia yang lekat dengan citra kreatif seperti Bandung. Dari mural jalanan, komunitas musik, industri fesyen, hingga kafe estetik yang tumbuh di setiap sudut, Bandung memang seperti tak pernah kehabisan ide. Bahkan, sejak 2015, kota ini resmi masuk dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network. Tapi kalau kita kira kreativitas Bandung hanya tumbuh di era milenial, kita keliru besar.

Faktanya, akar kota kreatif itu sudah menjalar sejak lebih dari seabad silam. Bukan dari startup atau kampus, tapi dari tangan-tangan para sukarelawan, pengusaha, seniman, dan pejabat lokal kolonial yang melihat Bandung bukan hanya sebagai kota rehat, tapi juga ruang pertunjukan gagasan. Kota ini tak punya tambang emas atau pelabuhan besar, tapi sejak zaman Hindia-Belanda, ia sudah mampu menjual pesonanya ke orang luar—melalui kongres, turisme, hingga majalah.

Dalam risalah yang terbit di Paradigma: Jurnal Kajian Budaya tahun 2020 berjudul “Melacak Akar Kreativitas di Kota Bandung Masa Kolonial”, peneliti sejarah Achmad Sunjayadi menelusuri bagaimana nafas Bandung sebagai kota kreatif sudah mulai terbangun sejak zaman kolonial, dari orang-orang yang datang, tinggal, dan mencintai kota ini dengan cara mereka sendiri.

“Kreativitas penduduk Bandung tidak muncul begitu saja seperti yang kita lihat pada masa kini. Akar kreativitas itu terbentuk sejak masa kolonial, pada akhir abad ke-19, bersamaan dengan pembentukan dan dinamika Kota Bandung,” tulis Ahmad.

Kehadiran nafas kota kreatif seperti digambarkan Ahmad, tidak bisa dilepaskan dari peran para Preangerplanters yang sudah bercokol di Bandung antara abad ke-18 dan 19. Pada awalnya, perkembangan Bandung berkaitan dengan Agrarische Wet tahun 1870. Undang-undang itu memberi izin kepada perusahaan swasta Belanda untuk membuka lahan di Hindia-Belanda. Bandung, yang berhawa sejuk dan dikelilingi gunung, jadi ladang emas bagi para preangerplanters—para pengusaha perkebunan teh, kina, dan karet. Nama-nama seperti Willem van der Hucht, R.E. Kerkhoven, hingga K.A.R. Bosscha menghuni dataran tinggi ini.

Tapi, mereka bukan sekadar berkebun. Di sinilah kreativitas sosial mulai bekerja. Tahun 1871, mereka mendirikan Concordia, semacam perkumpulan elite Eropa di Bandung. Gedung pertemuan itu kemudian berkembang menjadi ruang pertunjukan musik dan dansa, yang kini menjadi bagian dari Gedung Merdeka. Bagi kalangan Eropa, Concordia adalah pusat aktivitas budaya.

Braga pun ikut hidup. Pada 1882, berdiri Toneelvereeniging Braga, perhimpunan sandiwara yang kelak memberi nama bagi jalan Braga. Pada akhir abad ke-19, kawasan itu menjadi kawasan pertokoan mewah. Achmad mencatat, “Komunitas Belanda menjuluki kawasan itu ‘De meest Europeesche winkelstraat van Indië’ – jalan pertokoan paling bernuansa Eropa di Hindia-Belanda.”

Tak hanya kalangan Eropa yang aktif. Bupati Bandung, R.A.A. Martanegara, juga mengambil inisiatif. Ia mengganti atap rumah penduduk dari alang-alang ke genting, sebagai upaya memperbaiki kualitas hidup warga. Ini adalah salah satu contoh bahwa kreativitas kota juga lahir dari elite lokal yang peduli estetika dan kesejahteraan.

Salah satu momen penting dalam sejarah kreativitas Bandung adalah saat kota ini ditunjuk menjadi tuan rumah Kongres Pengusaha Perkebunan Gula pada 1899, meskipun tak ada pabrik gula di Priangan.

Penunjukan itu dipertanyakan. Jarak jauh, biaya tinggi, dan secara ekonomi tampak tak masuk akal. Seorang pejabat asosiasi pengusaha gula bahkan ragu acara itu akan berhasil. Tapi argumen dibalas dengan keyakinan.

Redaktur surat kabar De Preangerbode, Jan Fabricius, menulis pembelaan buat Bandung. Ia menulis bahwa meski Bandung tak punya pabrik gula, Batavia dekat dan penuh lembaga keuangan yang bisa menarik pemodal. Akomodasi sudah siap, begitu pula hiburan dan aula rapat. “Ada lima penginapan besar dan tiga penginapan kecil yang mampu menampung lebih dari 200 tamu,” tulis Fabricius.

Dan benar saja, pada Maret 1899, para juragan gula dari timur dan tengah Jawa datang. Mereka menumpang mobil dan kereta api. Kongres dibuka di aula Braga, dan sejak itu, Bandung mulai dikenal bukan hanya karena kesejukan udaranya, tapi juga karena kemampuannya menggelar sesuatu yang tak lazim di tempat yang tak terduga.

Kongres itu akhirnya sukses dan menjadi titik balik Bandung sebagai tuan rumah acara berskala nasional.

Jaarbeurs (Sumber: Tropenmuseum)
Jaarbeurs (Sumber: Tropenmuseum)

Untuk mendukung kegiatan seperti itu, Asisten Residen Pieter F. Sijthoff menggagas pendirian Vereeniging Tot Nut van Bandoeng en Omstreken (1898), organisasi sosial yang salah satu tujuannya adalah mempromosikan Bandung sebagai destinasi wisata. Mereka menerbitkan Reisgids voor Bandoeng en Omstreken met Garoet, buku panduan wisata pertama yang mencantumkan rute-rute keliling kota dengan delman dan jalur ke tempat wisata alam seperti Curug Dago, Cihampelas, hingga Pangalengan.

“Upaya yang dilakukan oleh Sijthoff melalui organisasi ini walaupun bersifat lokal (Priangan), dapat dikatakan sebagai salah satu upaya meletakkan dasar kegiatan turisme,” tulis Achmad.

Setelah Bandung berubah status menjadi gemeente (kotapraja) pada 1906, muncul organisasi baru: Comité tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen (1915). Inisiatif mereka antara lain membangun sekolah HBS (1916), pabrik gas (1920), serta menyelenggarakan acara besar bernama Jaarbeurs—pameran tahunan yang mempertemukan industri, seni, budaya, dan hiburan.

Gedung Jaarbeurs dirancang oleh arsitek legendaris C.P. Wolff Schoemaker, dan menjadi simbol bahwa Bandung bukan hanya kota dagang, tapi juga kota showroom ide dan produk kreatif.

Pada 1925, lahir Vereeniging Bandoeng Vooruit, perhimpunan yang bertujuan memajukan Bandung dan memperluas jangkauan turisme. Mereka membangun akses jalan mobil ke kawah Tangkuban Perahu, memproduksi film promosi tentang Bandung bersama Willy Mullens (1927), bahkan menerbitkan majalah bulanan Mooi Bandoeng dengan oplah 5.000 eksemplar.

Iklan mereka saat itu mencolok, seolah sepenuh jiwa dan raga sangat percaya diri mempromosikan Bandung.

“Bezoek[t] Bandoeng! En z’n vulkanen.” Kunjungi Bandung! Dan gunung berapinya.

Perhimpunan ini juga merancang panduan mendaki Tangkuban Perahu, mendirikan Kebun Binatang Bandung, hingga membuat acara reli mobil Bandoeng Sterrit pada 1941. “Kegiatan itu kembali membuktikan bahwa inisiatif dari pemerintah dan sekelompok masyarakat di Bandung membuat perhimpunan ini berhasil menyelenggarakan kegiatan untuk kesejahteraan warganya,” tulis Ahmad.

Seluruh aktivitas ini adalah contoh nyata bahwa kota Bandung telah menciptakan ekosistem kreatif yang melibatkan masyarakat, elite pemerintah, dan pemodal swasta. “Masyarakat Bandung ketika itu dapat dikatakan sudah menciptakan lingkungan dan atmosfer kreatif,” tulis Achmad. Bahkan menurutnya, mereka “mengubah lingkungan di sekitar kota tempat tinggal mereka yang dikelilingi oleh gunung untuk dijadikan daya tarik pariwisata.”

Dia juga menunjukkan bahwa ragam organisasi seperti Nut van Bandoeng, Bandoeng Vooruit, dan Bandoeng Permai termasuk dalam kategori organisasi sukarela, sesuai definisi Max Weber. Mereka bukan badan resmi pemerintah, tapi digerakkan oleh warga kota sendiri—baik Eropa, pribumi, maupun kelompok campuran—yang ingin membangun Bandung sesuai visi mereka.

Ketika Bandoeng Vooruit vakum di masa pendudukan Jepang, ia hidup kembali pada 1952 sebagai Bandoeng Permai. Mereka melanjutkan promosi kota, menghidupkan kembali Mooi Bandoeng, hingga mempercantik taman dan penunjuk arah. Narasi Bandung sebagai kota indah, nyaman, dan layak dikunjungi tak pernah putus, hanya berganti aktor.

Kreativitas Bandung, jika dilihat dari sejarahnya, bukan sesuatu yang lahir dari proyek pemerintah pusat atau investor besar. Ia tumbuh dari kegelisahan warga, dari imajinasi para tokoh lokal, dan dari upaya kolektif untuk menjadikan kota ini layak dicintai—oleh warganya sendiri dan orang luar dari segala penjuru mata angin.

Karena itu, ketika UNESCO menetapkan Bandung sebagai bagian dari jejaring kota kreatif dunia, itu bukan lompatan, tapi kelanjutan. Dari jalan delman ke film promosi, dari kongres gula ke majalah wisata, Bandung sudah lama tahu: kreativitas bukan hasil, tapi proses. Dan mereka sudah memulainya bahkan sebelum Indonesia berdiri.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)
Sejarah 14 Okt 2026, 11:58

Jejak LASWI Maung Bikang Asal Bandung

Di Bandung pernah ada satu pasukan perempuan yang terjun dalam medan perang di garis depan. Pasukan ini bernama LASWI

Patung LASWI di Kebonjukut, Kota Bandung (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 11:12

Sunyi yang Tidak Selalu Puitik

Refleksi peringatan hari kesehatan mental di lingkungan pendidikan di Indonesia.

Kesehatan Mental Remaja (Sumber: GeminiAI)
Ayo Biz 14 Okt 2026, 10:41

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat infrastruktur jalan demi mendukung kelancaran mobilisasi dan keselamatan masyarakat sekitar.

PLN Nusantara Power UP Cirata Perkuat Kepedulian terhadap Akses Jalan di Sekitar Wilayah Operasi
Beranda 14 Okt 2026, 09:38

Data Center AI Jatiluhur Butuh 33 Juta Liter Air per Hari, Walhi Soroti Hak Warga dan Petani

Selain kebutuhan air yang besar, WALHI Jabar menyoroti transparansi dokumen lingkungan, potensi dampak terhadap pertanian, serta kebutuhan energi untuk operasional pusat data.

Pemandangan Waduk Jatiluhur pada 10 Oktober 2023. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 09:04

Persib Sudah Juara, Mengapa Fasilitas Pemain Perlu Disoal?

Thom Haye melayangkan kritikan terhadap fasilitas pemulihan yang disediakan Persib Bandung. Kritikan Haye dibarengi keluhan soal padatnya jadwal dan perjalanan yang melelahkan,

Thom Haye dalam sebuah pertandingan. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 08:00

Sampah Itu Pasti, Bersih Itu Pilihan: Belajar dari Kota Bandung

Sampah adalah konsekuensi kehidupan sehari-hari, tetapi kota yang dipenuhi sampah bukanlah takdir.

Launching GASLAH Tahun 2026 dalam Rangkaian kegiatan Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) Tahun 2026 Tingkat Kota Bandung. (Sumber: prokopim.bandung.go.id | Foto: Protokol Komunikasi Pimpinan)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 20:52

KDM, 'Bakakak Hayam', 'Bakekok', dan Investasi Rp7,4 Triliun

Bagi urang Sunda -- atau setidaknya mereka yang akrab dengan budaya dan tradisi Sunda pastilah tahu -- dan mungkin juga suka -- bakakak hayam.

Ilustrasi bakakak hayam. (Sumber: Dok pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 19:14

Pegunungan Sanggabuana Akan Menjadi Taman Hutan Raya

Pegunungan Sanggabuana bersiap beralih status menjadi Taman Hutan Raya (Tahura). Langkah strategis ini diambil demi menjaga kelestarian keanekaragaman hayati dan melindungi ekosistem hutan Jawa.

Peta Pegunungan Sanggabuana (Sumber Peta:  Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde), 1923 (Sumber: Digital Collections Universiteit Leiden)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:25

Paradigma Kereta Api Menjadi Wajah Baru Mobilitas Indonesia

Kereta api telah menjadi bagian dari denyut kehidupan sehari-hari. Dari alat transportasi menjadi ekosistem mobilitas. Wajah baru ini harus mampu menghubungkan berbagai aktivitas manusia.

Pekerja melakukan perawatan lokomotif di Depo Lokomotif Daop 2, Kota Bandung, Selasa 19 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 18:06

Ketika Hak Pejalan Kaki Terampas dan Jalanan Terjebak Macet di Kawasan SPOrT Jabar

Ulasan kritis trotoar SPOrT Jabar yang tersita PKL hingga picu kemacetan. Mengajak Pemda bertindak nyata demi hak pedestrian dan keadilan ruang publik.

Trotoar depan pagar SPOrT Jabar, Pacuan Kuda di penuhi pedagang kaki lima. (Sumber: Pribadi | Foto: Marsya Laura Humaira)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 17:02

Dualisme Mahasiswa Bandung: Di Antara Barisan Soekarno dan Gelombang Aksi Massa

Ketika demonstrasi mahasiswa mengguncang pemerintahan Soekarno, muncul pertanyaan yang membelah mahasiswa: apakah membela Indonesia berarti harus menjatuhkan Soekarno, atau justru mempertahankannya?

Pawai ITB Tahun 1966 di Jl. Asia Afrika Bandung (Sumber: Buku Mereka Dari Bandung: Pergerakan Mahasiswa Bandung 1960-1967)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 16:14

Janji Manis Negara Lindungi Berita, Angin Segar atau Alarm Waspada?

Saat pembaca beralih dari mesin pencari ke AI, industri media kian tertekan. Menkum Supratman Andi Agtas janji lindungi karya pers, apakah ini angin segar atau alarm waspada?

Industri media kian tertekan akibat pergeseran pola konsumsi informasi usai kehadiran AI yang menggeser mesin pencari. (Sumber: Pexels | Foto: Markus Winkler)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 15:13

Investasi Jawa Barat, SIO, dan Perlindungan Pekerja

Banyak pekerjaan di sektor industri dan konstruksi memerlukan keterampilan khusus, terutama pengoperasian forklift, crane, alat berat, serta pesawat angkat dan angkut lainnya.

Ilustrasi Investasi dan ketenagakerjaan di Jawa Barat mesti maju bersama (Sumber: dokpri | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 11:11

Nostalgia Era 90-an sambil Menikmati Sejuknya Gelatopedia Cirebon

Berkunjung ke Gelatopedia Cirebon tak hanya sekedar menikmati dinginnya es krim tapi juga nostalgia ke tahun 90-an di tempat yang sangat sejuk.

Desain Dinding Gelatopedia Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 08:56

Jalan A.H. Nasution UIN 1 Bandung: Ramai Laju Kendaraan, Sepi Hak Pejalan Kaki

Setiap hari mahasiswa dan warga terpaksa berjalan di bahu Jalan A.H. Nasution karena trotoar yang rusak.

Mahasiswa terpaksa berjalan di bahu jalan,karena trotoar yang tidak layak digunakan disekitar gerbang UIN Bandung Kampus 1. (Foto: Risa Aulia Rahma)
Ayo Netizen 13 Okt 2026, 07:44

Persib U18 dan Anak-Anak yang Menanggung Dosa Rivalitas Orang Dewasa

Langkah manajemen Persib membawa kasus penyerangan terhadap rombongan Persib U18 ke jalur hukum memiliki arti penting.

Bobotoh cilik Persib. (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 20:24

Soto-Soto Populer Nusantara: Mozaik Rasa, Pemetaan, Tipologi, dan Teknik Gastronomi Soto Indonesia

Dalam lanskap kuliner Nusantara, soto merupakan representasi konkret dari akulturasi dan adaptasi seni dapur tradisional Indonesia.

Soto Bandung, soto khas Bandung berbahan dasar daging sapi tanpa santan yang disajikan unik dengan lobak dan kedelai goreng. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 12 Okt 2026, 19:05

Mungkinkah Tiket Murah dari Bandara Husein?

Bandara perlu model bisnis yang mampu menarik maskapai, mendatangkan penumpang, dan menciptakan aktivitas ekonomi di sekitarnya.

Bandara Husein Sastranegara di Kota Bandung. (Sumber: bandung,go.id)