Rampak Gitar The Revolution Is, Ketika Musik Jadi Suara Petani

3 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Rampak gitar di Taman Cikapayang. Abah Omtris (tengah depan) berdiri di samping putri Mukti-Mukti, Kembang Padang Ilalang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Rampak gitar di Taman Cikapayang. Abah Omtris (tengah depan) berdiri di samping putri Mukti-Mukti, Kembang Padang Ilalang. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Para sahabat Mukti-Mukti memilih rampak gitar bukan tanpa alasan. Mereka sadar betul bahwa seni tak bisa lepas dari kehidupan sehari-hari, termasuk perjuangan petani yang terus terpinggirkan. Musik menjadi jembatan yang menghubungkan seniman, aktivis, mahasiswa, dan masyarakat biasa dalam satu gerakan solidaritas.

Flash mob di taman kota memang cuma berlangsung satu jam. Tapi efeknya jauh lebih dalam. Ia menunjukkan bahwa seni masih punya kekuatan untuk menjadi corong bagi mereka yang tak pernah didengar. Juga mengikat generasi tua yang pernah berjuang dengan anak muda yang kini mencari arah perlawanan.

Rampak Gitar Akustik The Revolution Is di Bandung menegaskan satu hal: revolusi agraria di Indonesia belum selesai. Lagu Mukti-Mukti yang lahir puluhan tahun lalu tetap relevan karena luka-luka di sektor pertanian masih menganga. Seni bukan pelarian dari kenyataan, justru cara lain untuk menghadapinya.

Di tanah Pasundan, tempat petani terus terdesak kepentingan modal, rampak gitar jadi simbol sederhana tapi bermakna: solidaritas masih mungkin, ingatan bisa dijaga, dan semangat revolusi tak akan pernah mati.

Bandung memang terus berkilau sebagai kota kreatif. Tapi di balik gemerlapnya, ada tanah yang dirampas dan petani yang kehilangan hak. Karena itu, suara gitar di Taman Cikapayang tidak boleh berhenti sebagai harmoni sesaat. Ia harus jadi gema yang mendorong kita terus bersolidaritas dan berjuang demi keadilan agraria.

Kenyataan pahit ini terlihat jelas di berbagai pelosok Bandung dan Jawa Barat. Warga Sukahaji, Babakan Ciparay, sudah bertahun-tahun terjebak konflik agraria. Mereka menempati lahan tersebut turun-temurun, tapi tiba-tiba muncul klaim sertifikat dari pihak lain. Konflik berujung kekerasan: ibu-ibu yang berjaga dipukuli, warga diintimidasi, kios dan rumah dibakar.

Beberapa warga bahkan ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan "penyerobotan tanah" dan "perkumpulan terlarang", dengan penggunaan pasal yang dikritik karena mengkriminalisasi masyarakat yang mempertahankan hak tanah mereka.

Di Dago Elos, Bandung, terbongkar kasus pemalsuan akta dan penggelapan perizinan pembangunan perumahan. Sekitar 360 kepala keluarga terdampak. Kementerian ATR/BPN sampai turun tangan untuk memberantas mafia tanah di kawasan ini.

Sementara itu, Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) mencatat peningkatan konflik agraria di Jawa Barat, sebagian besar dipicu proyek strategis nasional: jalan tol, kereta cepat, kawasan industri. Pengadaan tanah untuk proyek-proyek ini sering bentrok dengan lahan pertanian masyarakat, tanpa ada kepastian hukum atau transparansi yang memadai.

Mukti Mukti, musisi balada asal Bandung, wafat 15 Agustus 2022. (Sumber: Facebook/Mukti-Mukti)
Mukti Mukti, musisi balada asal Bandung, wafat 15 Agustus 2022. (Sumber: Facebook/Mukti-Mukti)

Kerusakan lingkungan menambah penderitaan petani. Di Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, lebih dari 255 hektare lahan pertanian terancam gagal panen karena kemarau dan kekeringan. Lahan sawah di beberapa desa seperti Jelegong beralih fungsi jadi perumahan.

Pengembang menawar harga tinggi, sementara tanah sudah tercemar limbah industri sehingga produksi turun. Limbah industri memang sudah mencemari area sawah di Rancaekek, terutama wilayah Kahatek. Petani mengaku hasil padi menurun drastis, kualitas buruk, dan harga jual rendah.

Ada juga kabar baik dari Kampung Ciguntur, Desa Cipendawa, Kecamatan Pacet, Cianjur. Setelah melalui mediasi dan penyelesaian konflik terkait HGU yang masa berlakunya habis, dilakukan redistribusi tanah kepada sekitar 1.500 warga. Tapi ini hanya setetes air di samudra masalah agraria yang lebih luas.

Banyak kasus di Bandung dan Jawa Barat menunjukkan gap besar antara UU Agraria (UUPA 1960) dan upaya reforma agraria dengan realitas di lapangan. Klaim sertifikat bertabrakan dengan penguasaan turun-temurun, kekerasan dan kriminalisasi masih terjadi dalam sengketa tanah, akses ke pengadilan atau ganti rugi yang adil masih terbatas.

Baca Juga: Rampak Gitar, Mukti-Mukti, dan Luka Agraria di Tanah Pasundan

Lagu "The Revolution Is" jadi sangat relevan ketika melihat warga Sukahaji yang menghadapi intimidasi, atau petani Rancaekek yang terkena dampak limbah dan konversi sawah. Musik di sini berfungsi mengingatkan bahwa luka agraria bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan satu kebijakan saja. Butuh perhatian berkelanjutan, solidaritas, dan perlawanan dalam berbagai bentuk.

Kerentanan ekologis dan sosial, selain kekeringan, banjir, limbah industri, memperburuk situasi petani: produksi terganggu, hasil turun, biaya naik. Akhirnya opsi menjual lahan makin menggoda, dan lahan pertanian pun beralih fungsi.

Di Sukahaji, penetapan warga sebagai tersangka, intimidasi, kebakaran kios dan rumah adalah bentuk kekerasan simbolik dan fisik yang melekat dalam konflik agraria. Musik bisa jadi medium bagi suara mereka yang tak pernah tercatat dalam laporan resmi. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)