Krisis Sampah Bandung Raya di Tengah Sarimukti yang Sekarat

7 menit baca
Bob Yanuar Restu Nugraha Sauqi Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Bob Yanuar , Restu Nugraha Sauqi , Hengky Sulaksono diterbitkan
Warga melintas di depan tumpukan sampah di TPS Pasar Ciwastra, Kota Bandung, Selasa 22 April 2025. Penumpukan tejadi diakibatkan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Warga melintas di depan tumpukan sampah di TPS Pasar Ciwastra, Kota Bandung, Selasa 22 April 2025. Penumpukan tejadi diakibatkan pembatasan pembuangan sampah ke TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Pekan terakhir April 2025, udara panas Kota Cimahi bercampur bau menyengat yang menyelimuti sejumlah kawasan padat. Tumpukan kantong plastik, sayuran membusuk, dan limbah rumah tangga lainnya menyergap area-area tempat pembuangan sementara (TPS).

Suasana semakin genting, ketika truk-truk sampah tak kunjung tiba. Keluhan pun membanjiri media sosial dan aduan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Masalahnya bukan pada kemalasan petugas. Mereka justru dikerahkan penuh sejak 21 April, saat status darurat sampah resmi diberlakukan oleh Wali Kota Cimahi, Ngatiyana.

Keputusan Wali Kota Nomor 660/Kep.1792-DLH/2025 menandai babak baru dalam kisruh pengelolaan sampah di Bandung Raya. Selama tujuh hari, hingga 27 April, pelayanan pengangkutan sampah dari rumah-rumah warga dihentikan. Seluruh sumber daya dikerahkan untuk menanggulangi penumpukan di TPS-TPS yang kolaps usai Lebaran Idul Fitri.

Permasalah utama yang mencuat adalah pembatasan kuota pengangkutan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti, Kabupaten Bandung Barat (KBB). Kota Cimahi hanya diperbolehkan mengirim 17 ritase truk atau sekitar 95 ton sampah per hari. Padahal produksi sampah harian kota ini mencapai lebih dari 200 ton. Artinya, lebih dari setengah volume sampah tidak tertangani setiap hari. Pemkot Cimahi mengajukan penambahan 10 ritase per hari agar penumpukan sampah bisa diurai.

"Kita sudah mengajukan surat ke gubernur, tapi belum dijawab sampai hari ini. Kalau seandainya dikasih kuota sampai 10 ritase berarti ada 27 rit per hari, insyaAllah selesai," kata Wakil Wali Kota Cimahi, Adhitia Yudisthira, Sabtu, 26 April 2025.

Pemkot juga menyiapkan strategi lain bila pengajuan ritase tambahan tak digubris. Adhitia menjelaskan bahwa upaya darurat telah disiapkan, termasuk kemungkinan kerjasama dengan pengelola swasta di Bogor. "Kalau seandainya enggak, kita akan buang sampah ini ke Citeureup, Bogor. Hanya memang ada tarif yang diberlakukan. Tarifnya kalau tidak salah Rp 378 ribu per ton, belum dengan transportasi," katanya. Solusi ini bersifat temporer dan mahal.

Langkah lain yang langsung diterapkan adalah pengetatan sistem pembuangan. Usai masa darurat, TPS akan memberlakukan jadwal harian berdasarkan jenis sampah. Senin, Rabu, Sabtu untuk organik; Selasa dan Kamis untuk anorganik; Jumat dan Minggu khusus untuk clean-up. Konsekuensinya, masyarakat harus memilah sampah sejak dari rumah.

Jika berhasil, pemilahan sampah organik secara taat asas ini diyakini bisa mengurangi beban hingga 40%. Namun, realisasi di lapangan sering kali tak semudah perencanaan. Minimnya kesadaran warga dan belum optimalnya infrastruktur daur ulang membuat pemilahan menjadi tantangan tersendiri.

Kisah buruk rupa gunungan sampah ini tak cuma jadi milik Cimahi. Berselang beberapa hari dari pengumuman darurat sampah Cimahi, Wali Kota Bandung Muhammad Farhan bersama Gubernur Jawa Barat (Jabar) Dedi Mulyadi, turun langsung ke Pasar Gedebage pada 28 April.

Gunungan sampah setinggi dada orang dewasa memenuhi sisi pasar. Totalnya mencapai 1.120 meter kubik, dengan penambahan sekitar 20 ton per hari. Diperkirakan butuh waktu 2 sampai 3 hari untuk mengangkut semua sampah, dengan kapasitas angkut 40 ritase per hari.

"Wayahna urang Bandung hampura. Kita berkorban dulu selama tiga hari untuk penanganan sampah di Gedebage," Farhan minta maaf.

Tumpukan sampah di Pasar Gedebage. (Sumber: Ayobandung | Foto: Muslim Yanuar Putra)

Tumpukan itu sudah berada di area belakang pasar entah berapa lama. Saking lamanya tak tersentuh, barang yang semula padat tersebut perlahan mencair di beberapa bagian, mengeluarkan liur berwarna hitam pekat.

"Hati-hati ngangkutnya, takutnya di bawah udah ada rendaman metan, khawatir meledak," kata Farhan mengingatkan petugas yang akan mengangkut sampah.

Rupanya, aroma sampah yang menyengat ini bukan satu-satunya masalah. Tercium bau busuk lain: adanya dugaan korupsi dalam rupa pungutan liar. Saban hari, pedagang dimintai iuran sampah Rp5.000 per kios. Jumlah kios di pasar ada sekitar 700-an unit. Dari jumlah tersebut, diperkirakan aksi pungli ini bisa meraup cuan haram sekitar Rp3,5 juta per hari.

Sayangnya, uang yang dipungut dari pedagang itu tidak berbanding lurus dengan kondisi pasar. Mesin pencacah rusak, biodigester mati, air macet, pengangkutan tidak rutin. Kerugian akibat masalah ini diperkirakan mencapai miliaran rupiah sejak Desember 2024.

TPA Sarimukti Sekarat

TPA Sarimukti yang telah menjadi tumpuan utama sampah Bandung Raya kini tengah sekarat. Sarimukti selama ini sudah menjadi penyangga utama bagi sampah dari empat wilayah: Kota Bandung, Kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan KBB sendiri.

Saat normal, Pemprov Jabar mencatat volume pengiriman sampah dari empat daerah di Bandung Raya sebelumnya mencapai 1.750 ton per hari dengan 267 ritase. Sementara pengamatan lapangan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Jabar pada Juni 2024 setiap harinya tempat ini menerima 300 hingga 320 ritase truk atau sekitar 2.500 ton sampah.

Dari jumlah itu, 70% adalah sampah organik. Sebagian besar sampah yang masuk ke TPA Sarimukti belum melalui proses pemilahan. Hal ini mempercepat proses penumpukan dan menurunkan efisiensi pengelolaan.

Sebagai respons, Pemprov Jabar mulai membatasi ritase dari setiap kota/kabupaten. Targetnya, dari sebelumnya 1.750 ton menjadi hanya 1.250 ton per hari. Kota Bandung misalnya, diminta memangkas pengiriman dari 170 rit menjadi 140 rit, Cimahi dari 37 rit ke 17, Kabupaten Bandung dari 70 ke 40, dan KBB dari 20 ke 17.

Kondisi TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)

Langkah pembatasan ritase oleh pemprov ini menyulut protes. Setiap kepala daerah merasa jatah yang diberikan tidak mencukupi untuk menangani volume sampah yang mereka hasilkan. Semua berteriak. Tapi kalau tidak dibatasi, Sarimukti akan kolaps bahkan sebelum 2026.

Sebagai solusi jangka panjang, Pemprov Jabar sedang membangun TPA Legoknangka. Harapannya, fasilitas ini dapat mulai beroperasi pada 2028. Namun sampai saat itu tiba, Sarimukti harus dipaksa hidup lebih lama melalui pengetatan kuota dan optimalisasi manajemen.

Solusi Temporer dan Gimmick Program

Tak jauh dari Pasar Gedebage, Pemkot Bandung saat ini sedang membangun Tempat Pembuangan Sampah Semenatra (TPST) Gedebage. Tempat yang akan menjadi solusi penampungan sampah temporer ini dibangun sejak November 2024 dan direncanakan rampung akhir 2025.

TPST Gedebage dibangun di atas lahan seluas kurang lebih 1,7 hektare ini dibangun dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan diproyeksikan mampu mengolah 390 ton per hari, atau lebih dari 25% produksi sampah harian Kota Bandung sekitar 1.796,51 ton per hari pada 2024 berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS).

Pembangunan TPST bukan satu-satunya cara yang ditempuh pemerintah sebagai solusi temporer bom waktu penumpukan sampah. Sebelumnya, Bandung sempat menempuh siasat serupa dengan Cimahi: mencari lahan sampah kota tetangga yang mau menampung. Pemkot mengalihkan pembuangan sampah ke TPA Pasir Bajing di Garut, melalui perjanjian kerja sama (PKS) yang ditandatangani 14 Desember 2024.

Sayangnya, kerjasama ini terhenti mendadak pada 29 Januari 2025 setelah menerima protes warga Garut. Warga sekitar TPA memprotes bau tak sedap dan dampak kesehatan. Pemerintah Garut pun menghentikan kerja sama, menyisakan Kota Bandung kembali bergantung pada Sarimukti. Selama beroperasi, 200 ton sampah per hari masuk ke Pasir Bajing. Dengan tipping fee Rp75.000 per ton, Pemkab Garut menerima sekitar Rp15 juta per hari.

Pemkot Bandung sebagai produsen sampah utama di Bandung Raya dalam beberapa tahun terakhir juga telah menggulirkan berbagai program pengelolaan sampah berbasis partisipasi warga. Ada banyak program. Saking banyaknya, program-program dengan gimmick menggoda ini malah menyerupai gundukan sampah yang menumpuk di mana-mana.

Jika sampah bisa dibasmi dengan akronim dan slogan, mungkin Bandung sudah bersih mengkilap sejak lama. Sayangnya, yang menumpuk bukan cuma sampah, tapi juga jargon. Setiap tahun, ada saja program baru yang seolah lahir dari lokakarya branding ketimbang riset lapangan.

Salah satu yang paling populer adalah program Kang Pisman, akronim dari Kurangi, Pisahkan, dan Manfaatkan. Kang Pisman diluncurkan pada tahun 2018 sebagai gerakan perubahan perilaku masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari rumah. Program ini mendorong warga untuk mengurangi timbulan sampah, memilah antara sampah organik dan anorganik, serta memanfaatkannya kembali menjadi barang bernilai guna seperti kompos atau kerajinan.

Tak cukup punya Kang Pisman, pemkot mengeluarkan akang-akang lainnya, yakni Kang Empos, akronim dari Karung Ember Pengomposan atau dikenal dengan Kang Empos. Program ini mendorong warga mengolah sampah organik di rumah menggunakan ember tertutup untuk proses pengomposan anaerob.

Program Kang Pisman digulirkan Pemkot Bandung sejak 2018. (Sumber: Humas Pemkot Bandung)

Untuk disebut, beberapa slogan dan program persampahan Kota Bandung lainnya antara lain Kawasan Bebas Sampah (KBS), Tidak Dipilah Tidak Diangkut, dan Sampah Hari Ini Habis Hari Ini. Dari setumpuk program tersebut, belum ada dampak signifikan yang dirasakan.

Upaya mengubah kebiasaan warga bukanlah perkara gampang. Wali Kota Farhan mengakui, sistem pemilahan sampah organik dan anorganik di Kota Bandung masih jadi praktik minor.

“Saat ini baru kurang dari 30% wilayah Bandung yang sudah menerapkan kawasan bebas sampah,” katanya.

Selain itu, sampah rumah tangga bukanlah produsen utama sampah organik di Kota Kembang. Catatan Walhi Jabar yang mengutip data dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jabar tahun 2022, wilayah Cekungan Bandung atau Bandung Raya menghasilkan sekitar 2.327 ton sampah organik setiap hari.

Kota Bandung tercatat sebagai penyumbang terbesar sampah organik di wilayah tersebut. Dari total produksi sampah organik Kota Bandung, sebanyak 874 ton per hari berasal dari kawasan komersial—seperti pasar, hotel, restoran, kafe, rumah sakit, dan pusat perbelanjaan (mall)—yang biasanya menghasilkan sampah dalam jumlah besar dan relatif homogen. Sementara itu, sekitar 515 ton per hari berasal dari rumah tangga, yaitu dari aktivitas domestik warga.

Intinya, sumber utama sampah organik di Kota Bandung bukanlah rumah tangga, melainkan kawasan komersial yang aktivitasnya menghasilkan sisa makanan dan limbah organik dalam volume besar.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)