Rumah Seni Ropiah: Bukan Hanya Tempat Memamerkan Karya Seni, tapi Ruang Hidup Nilai, Budaya, dan Sejarah Keluarga

Toni Hermawan
Ditulis oleh Toni Hermawan diterbitkan Kamis 18 Des 2025, 07:09 WIB
Puluhan lukisan yang dipamerkan dan untuk dijual di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Puluhan lukisan yang dipamerkan dan untuk dijual di Rumah Seni Ropih di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

AYOBANDUNG.ID - Jalan Braga dikenal sebagai salah satu landmark ikonik Kota Bandung. Selain dipenuhi kafe dan tempat nongkrong yang nyaman, kawasan ini juga telah lama menjadi ruang bagi seni, tempat berbagai karya lukisan dipamerkan di ruang terbuka dan dinikmati oleh siapa saja yang melintas.

Di sepanjang Jalan Braga, lukisan-lukisan dari beragam aliran terpajang di pinggir jalan. Mulai dari karya beraliran surealis hingga realis.

Salah satu ruang seni yang menonjolkan perpaduan bangunan bernuansa kuno dengan sentuhan interior modern adalah Rumah Seni Ropih. Galeri seni lukis yang berlokasi di Jalan Braga, Kota Bandung ini menampilkan karya-karya seni yang seluruhnya merupakan hasil ciptaan keluarga besar Rumah Seni Ropih sendiri.

Karya yang dipajang di Rumah Seni Ropih pun sangat beragam. Mulai dari perbedaan konsep penggambaran, pilihan warna, hingga media yang digunakan. Tidak hanya lukisan konvensional di atas kanvas dengan cat, beberapa karya juga tampil dengan tekstur menyerupai tiga dimensi serta menggunakan media kayu, sehingga memberikan kesan visual yang lebih kaya.

Tata Sutaryat, Pemilik Toko Lukisan Rumah Seni Ropiah, (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Tata Sutaryat, Pemilik Toko Lukisan Rumah Seni Ropiah, (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)

Pemilik toko sekaligus penerus Rumah Seni Ropiah, Tata Sutaryat, menceritakan bahwa nama Rumah Seni Ropih diambil dari nama Pak Ropih, seorang pelukis yang sejak lama memajang dan menjual lukisan di Jalan Braga, sekaligus pendiri tempat tersebut. Kini, rumah seni ini diteruskan oleh anak-anak dan cucu-cucu Pak Ropih.

“Nama Rumah Seni Ropih ini sendiri diambil dari nama pak Ropih seorang pelukis yang sudah memajang dan berjualan lukisan di Jalan Braga dan juga sekaligus pendiri dari tempat ini. Yang kini rumah seni ini diteruskan oleh anak-anak dan cucunya pak Ropih,” ucapnya.

Sutaryat juga menuturkan perjalanan panjang dan penuh perjuangan dalam mendirikan Rumah Seni Ropiah. Ia mengisahkan bahwa keberadaan Rumah Seni Ropiah hingga bisa berkembang seperti sekarang merupakan hasil proses panjang yang telah dilalui ayahnya.

Perjalanan tersebut dimulai dari masa-masa awal berjualan di emperan dengan segala keterbatasan, hingga akhirnya mampu membangun dan mengembangkan Rumah Seni Ropiah menjadi ruang seni yang dikenal luas.

“Itu awalnya dulu itu pelopornya Abah Ropih bapak saya, Abah Ropih namanya. Itu bersama Abah di emper dulu ketika julan di perampatan bjb, disitu mulai emper toko.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa awal mula berdirinya toko lukisan ini hingga mampu bertahan dan berkembang berawal pada awal tahun 2000-an, seiring dengan munculnya pasar lukisan di Jalan Braga. Pada masa tersebut, Abah Ropih mulai mengajak saudara-saudaranya serta rekan-rekan sesama pelukis untuk bersama-sama berkarya dan berjualan di kawasan itu.

Dari upaya yang dilakukan secara perlahan dan penuh kebersamaan, Rumah Seni Ropih terus tumbuh hingga menjelma menjadi salah satu destinasi wisata seni lukis yang ikonik di Jalan Braga.

“Sejak ada pasar lukisan di Braga, kira-kira pertengahan tahun 2000, tahun 2000 itu Abah Ropih mengajak saudara-saudara dan teman-teman lukis, termasuk ada keluarga juga ikut berjualan dan ampai sekarang jadilah tempat wisata lukisan toko sebesar ini disini,” ucapnya.

Ia menambahkan, sebagian besar lukisan yang dipamerkan merupakan hasil karya keluarga besarnya yang secara turun-temurun menekuni dunia seni lukis. Setiap karya memiliki ciri khas dan nilai artistik yang berbeda. Untuk harga lukisan maupun kaligrafi, khususnya ukuran standar sekitar satu meter, dibanderol dengan kisaran harga yang relatif terjangkau, mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah, bergantung pada tingkat kerumitan karya.

Ini sebagian besar karyaya keluarga besar, kalau misalkan ada yang order lukisan atau kaligrafi biasanya ada standarnya satu per muka, biasanya kalau yang kecil bisa 500an, kalau yang standar 1 meter ke atas itu bisa 5 jutaan per orang.

Sutaryat menambahkan, untuk lukisan-lukisan yang sudah jadi dan memiliki nilai artistik lebih tinggi, harga yang ditawarkan pun menyesuaikan dengan kualitas serta tingkat kerumitan karya. Lukisan tersebut dibanderol mulai dari kisaran jutaan rupiah, hingga puluhan juta, bahkan ada pula karya tertentu yang dihargai ratusan juta rupiah.

“Tapi kalau lukisan yang jadi gini biasanya standar ada yang dibawah lima juta, ada yang dua puluh juta, ada yang sampai seratus juta juga,” ucapnya.

Menurutnya, pembeli lukisan di Rumah Seni Ropih berasal dari beragam latar belakang dan wilayah. Tidak hanya diminati oleh warga lokal, galeri ini juga banyak menarik perhatian kalangan anak muda yang memiliki ketertarikan terhadap seni. Bahkan, sejumlah karya juga diminati oleh pembeli dari luar negeri.

“Kalau dari segi pembeli selain dari warga lokal, ada dari luar negeri, di antaranya kebanyakan Malaysia, Singapura, Australia juga ada, Cina juga ada,” tutupnya.

Lebih jauh, Sutaryat berharap para pengunjung yang datang ke Rumah Seni Ropiah tidak hanya menikmati keindahan visual, tetapi juga mampu memaknai pesan yang terkandung dalam setiap karya. Ia meyakini bahwa seni memiliki peran penting dalam membentuk cara pandang dan cara hidup manusia.

Ia pun berharap, seni yang dihadirkan melalui Rumah Seni Ropiah dapat menjadi sarana untuk menginspirasi perubahan positif, sehingga perlahan mampu berkontribusi dalam mewujudkan dunia yang lebih baik.

“Seni itu bisa berperan untuk mengubah dunia, untuk mengubah cara hidup, mengubah sudut pandang. Mengubah cara untuk mengubah dunia menjadi lebih baik," katanya menutup perbincangan.

Berita Terkait

News Update

Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)