Banjir Cikapundung 1919 Rendam Braga Gegara Deforestasi Lereng Bandung

Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan Jumat 20 Jun 2025, 07:24 WIB
Ilustrasi babjir di Braga tahun 1940.

Ilustrasi babjir di Braga tahun 1940.

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada awal 1919 bukan Bandung yang kita kenal sekarang. Belum ada flyover, apalagi mal. Tapi cuaca tetap punya tabiat serupa: murung, mendung, dan kadang murka. Di ujung Maret tahun itu, Bandung bukan cuma jadi kota hujan, tapi juga kota duka.

Langit kota mulai berubah kelabu sejak Februari. Awan seperti tak mau bubar. Matahari, kalau pun muncul, hanya sebentar—ibarat tamu yang enggan duduk. Hujan rintik turun hampir setiap hari. Bragaweg, atau Jalan Braga sekarang, selalu basah. Orang-orang berjalan cepat, kadang berjinjit, menghindari becek atau cipratan roda delman.

Lalu, pada 29 Maret 1919, hujan deras mengguyur tanpa jeda sejak tengah hari. Menjelang sore, warga mulai merasa ada yang tak biasa. Sekitar pukul 16.00 WIB, Sungai Cikapundung mengamuk.

Jalan Braga, atau yang oleh orang Belanda kala itu disebut Bragaweg, menjadi titik awal dari kekacauan. Sekitar pukul empat sore, air berwarna cokelat kental menyusup ke gang-gang dan pelataran toko. Lumpur, ranting pohon, serpihan kayu, bahkan puing-puing rumah ikut terbawa arus deras. Orang-orang yang biasa menikmati kopi dan roti hangat di warung Belanda, kini berlarian menyelamatkan barang berharga.

De Preangerbode, koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, menurunkan laporan panjang pada edisi esok harinya. Dengan judul Bandjir-misere yang secara harfiah berarti “Derita Banjir”, mereka melukiskan situasi dengan nada getir:

“Banjir menyebabkan kesengsaraan besar di sekitar Bragaweg. Orang-orang melihat potongan-potongan kayu dan ranting hanyut, bagian rumah, serta barang-barang rumah tangga lainnya.”

Laporan itu menyebutkan bahwa kawasan Braga dan sekitarnya bukan satu-satunya wilayah yang tergenang. Semakin ke selatan, seperti Regol dan Lengkong, kondisinya bahkan lebih parah. Air yang mengalir deras dari utara membawa serta kerusakan.

Di Desa Suniaraja, 16 rumah dilaporkan roboh dan rata dengan tanah. Tak jauh dari sana, kolam renang Cihampelas yang biasanya menjadi tempat bersantai kaum elite, ikut terendam dan berubah warna menjadi cokelat pekat.

Di kawasan Karees dan Cikudapateuh, 88 rumah tercatat tergenang. Banyak warga kehilangan tempat tinggal. Mereka mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang mengungsi ke rumah kerabat, ada pula yang hanya menggelar tikar seadanya di emperan bangunan yang tak tergenang.

Sungai Cikapundung zaman baheula. (Sumber: KITLV)
Sungai Cikapundung zaman baheula. (Sumber: KITLV)

Tuduhan Deforestasi di Balik Banjir

Tak hanya banjir yang jadi masalah. Di kawasan utara Bandung, sekitar Cihampelas dan Lembangweg, longsor besar terjadi pada hari yang sama. Tanah dari lereng gunung turun menimpa jalur pipa dan saluran air. Akibatnya, perusahaan listrik Bandungsche Electriciteits Maatschappij (BEM) yang menjadi penyedia listrik utama kota Bandung tak bisa beroperasi. Sejak pukul enam sore, kota Bandung tenggelam dalam gelap.

“Untuk mempercepat perbaikan listrik, perusahaan menerjunkan 60 orang teknisi. Menurut perhitungan, pasokan listrik baru bisa normal dalam waktu sebulan. Hal ini karena banyak longsor di sekitar pembangkit listrik, jumlahnya mencapai puluhan, terutama di sepanjang sungai," tulis koran Nederlandsch-Indie.

Dengan listrik padam dan banjir melumpuhkan jalan utama, Bandung benar-benar lumpuh. Apalagi tidak ada radio atau televisi saat itu. Semua informasi mengandalkan kabar angin, koran, dan suara tetangga. Warga hanya bisa menyalakan lilin, berdoa agar hujan segera berhenti, dan berharap air surut.

Soal korban jiwa, ada perbedaan versi. Baik De Preangerbode maupun Nederlandsch-Indie mencatat adanya tiga korban jiwa. Seorang pria dilaporkan hanyut di belakang Pabrik Conversen. Dua anak kecil hilang di balik Gedung De Vries. Namun polisi kolonial membantah hal ini. Mereka menyebut bahwa selama banjir tidak ada korban tewas.

Tapi masyarakat tak mudah percaya. Warga mengaku melihat tubuh hanyut terbawa arus. Teriakan minta tolong dari balik genangan juga terdengar. Tapi dalam kekacauan seperti itu, siapa yang sempat mencatat nama dan angka?

Yang tak terbantahkan, dan dicatat secara tegas oleh koran-koran Belanda kala itu, adalah penyebab utama dari bencana ini: deforestasi.

“Kami tidak yakin banjir seperti ini pernah terjadi di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir. Kasus ini terlihat dari fakta bahwa kemarin malam debit air mencapai 187 milimeter per jam. Tapi meskipun hujan deras, akibat penggundulan hutan di pegunungan sekitar juga menyebabkan banjir,” tulis De Preangerbode.

Hutan-hutan yang semestinya menjadi penyangga air di bagian utara Bandung sudah lama digunduli. Perkebunan dan vila-vila yang dibangun di lereng-lereng bukit telah mengikis daya serap tanah. Tak ada lagi akar pepohonan yang mampu menahan air hujan deras. Maka ketika hujan mengguyur tanpa ampun, tanah tak sanggup menyerap, air langsung meluncur ke bawah, membawa bencana bagi kota.

Banjir besar ini bukan sekadar kejadian alam. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan manusia. Pembangunan tanpa kontrol, penggundulan hutan tanpa reboisasi, dan ketamakan manusia yang ingin menikmati kota tanpa menjaga alam sekitarnya.

Bandung kini tumbuh makin besar, makin bising, makin panas. Tapi pegunungan utara—yang seharusnya jadi sabuk hijau kota—semakin digerogoti. Izin-izin perumahan, hotel, dan vila bermunculan terutama di Kawasan Bandung Utara (KBU). Nama-nama baru seperti Dago Resort, Maribaya Hill, hingga kompleks perumahan di Cimenyan berdiri di atas lereng yang dulu ditumbuhi hutan.

Bukannya reforestasi, betonisasi jadi kata kunci. Pohon-pohon tua diganti paving block dan jalan aspal. Ruang terbuka hijau jadi lahan investasi. Pemerintah kerap berdalih pembangunan sudah sesuai aturan, tapi fakta di lapangan berkata lain. Air hujan yang dulu tertahan di akar kini langsung meluncur ke bawah. Dan setiap musim hujan, Kota Bandung kembali bersiap dengan berita rutin: banjir.

Seabad lebih telah berlalu. Tapi sejarah itu terasa akrab. Setiap musim hujan, Bandung masih berhadapan dengan banjir. Sungai Cikapundung yang dulu mengamuk, kini hanya tinggal beberapa meter dari pusat-pusat keramaian. Tapi kalau kita lupa pada sejarah 1919, sungai itu bisa bangkit lagi dari tidurnya.

Dan seperti kata pepatah lama: yang tidak belajar dari sejarah, akan mengulangnya.

News Update

Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 15:16

Fariz R.M. Mengasah Bermusiknya di Bandung

Pernah tinggal dan memulai menajamkan karier bermusiknya di Kota Bandung pada awal tahun 1980-an.

Fariz R.M. - Musik Rasta. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 13:51

TikTok, Trotoar, dan Eksistensi

Ihwal kreativitas digital memang layak dirayakan, tetapi ruang publik tetap menyimpan fungsi sosial yang tak bisa sepenuhnya dapat digantikan oleh layar.

Konten kreator TikTok bernyanyi secara daring menggunakan smartphone (telepon pintar) di Jalan Babakan Siliwangi, Kota Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 12:16

Strategi Industri Kuliner Jabar Menyiasati Kelangkaan Plastik Akibat Konflik Iran–Israel

Kenaikan harga dan kelangkaan plastik akibat konflik Iran–Israel memengaruhi UMKM kuliner di Jawa Barat.

Ilustrasi bahan plastik. (Sumber: Pixels | Foto: Castorly Stock)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 10:43

Bandung dan Hasrat yang Disublimasi: Membaca Fenomena Nongkrong sebagai Pelarian Psikis

Menuliskan budaya nongkrong di Kota Bandung dalam kacamata Sigmund Freud.

Salah satu suasana kafe di Kota Bandung (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Haifa Rukanta)
Sejarah 16 Apr 2026, 10:42

Hikayat Cadas Pangeran, Jejak Derita Pribumi Sepanjang Jalan Raya Daendels

Cadas Pangeran jadi saksi kerja paksa era Daendels, ribuan rakyat tewas demi proyek Jalan Raya Pos di Jawa Barat.

Jalan di Cadas Pangeran antara tahun 1910-1930-an. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 08:54

Dengan Puisi Bandung Menghias Sanggul Ibu Pertiwi

Bandung sangat pantas dinobatkan sebagai kota puisi, atau setidaknya kota yang sangat puitis.

Ilustrasi dengan Puisi Bandung menghias sanggul Ibu Pertiwi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 20:00

Artemis II: Kepulangan Empat Astronot dan Langkah Menuju Misi Bulan Berikutnya

Kelanjutan kisah 4 astronot dengan Kesuksesan misi Artemis II, yang menjadi dasar evaluasi bagi misi berikutnya, yakni Artemis III dalam program eksplorasi Bulan, oleh NASA.

Empat astronot Artemis II berhasil mendarat di Samudra Pasifik, lepas pantai San Diego, setelah menyelesaikan misi mengelilingi Bulan. (Sumber: NASA)
Ayo Netizen 15 Apr 2026, 19:22

Belajar Membaca Jalanan Bandung dari Dalam Angkot

Angkot di Bandung bertahan tanpa sistem yang jelas. Banyak pengguna beralih ke transportasi umum daring karena kepastian layanan, namun kondisi ini justru turut memperparah kemacetan.

Sejak lama, angkot menjadi bagian dari keseharian mobilitas warga Kota Bandung, meski kini perannya mulai tergeser oleh moda transportasi umum daring. (Foto: Irfan Alfaritsi/ayobandung.com)