Banjir Cikapundung 1919 Rendam Braga Gegara Deforestasi Lereng Bandung

4 menit baca
Restu Nugraha Sauqi
Ditulis oleh Restu Nugraha Sauqi diterbitkan
Ilustrasi babjir di Braga tahun 1940.
Ilustrasi babjir di Braga tahun 1940.

AYOBANDUNG.ID - Bandung pada awal 1919 bukan Bandung yang kita kenal sekarang. Belum ada flyover, apalagi mal. Tapi cuaca tetap punya tabiat serupa: murung, mendung, dan kadang murka. Di ujung Maret tahun itu, Bandung bukan cuma jadi kota hujan, tapi juga kota duka.

Langit kota mulai berubah kelabu sejak Februari. Awan seperti tak mau bubar. Matahari, kalau pun muncul, hanya sebentar—ibarat tamu yang enggan duduk. Hujan rintik turun hampir setiap hari. Bragaweg, atau Jalan Braga sekarang, selalu basah. Orang-orang berjalan cepat, kadang berjinjit, menghindari becek atau cipratan roda delman.

Lalu, pada 29 Maret 1919, hujan deras mengguyur tanpa jeda sejak tengah hari. Menjelang sore, warga mulai merasa ada yang tak biasa. Sekitar pukul 16.00 WIB, Sungai Cikapundung mengamuk.

Jalan Braga, atau yang oleh orang Belanda kala itu disebut Bragaweg, menjadi titik awal dari kekacauan. Sekitar pukul empat sore, air berwarna cokelat kental menyusup ke gang-gang dan pelataran toko. Lumpur, ranting pohon, serpihan kayu, bahkan puing-puing rumah ikut terbawa arus deras. Orang-orang yang biasa menikmati kopi dan roti hangat di warung Belanda, kini berlarian menyelamatkan barang berharga.

De Preangerbode, koran berbahasa Belanda yang terbit di Hindia Belanda, menurunkan laporan panjang pada edisi esok harinya. Dengan judul Bandjir-misere yang secara harfiah berarti “Derita Banjir”, mereka melukiskan situasi dengan nada getir:

“Banjir menyebabkan kesengsaraan besar di sekitar Bragaweg. Orang-orang melihat potongan-potongan kayu dan ranting hanyut, bagian rumah, serta barang-barang rumah tangga lainnya.”

Laporan itu menyebutkan bahwa kawasan Braga dan sekitarnya bukan satu-satunya wilayah yang tergenang. Semakin ke selatan, seperti Regol dan Lengkong, kondisinya bahkan lebih parah. Air yang mengalir deras dari utara membawa serta kerusakan.

Di Desa Suniaraja, 16 rumah dilaporkan roboh dan rata dengan tanah. Tak jauh dari sana, kolam renang Cihampelas yang biasanya menjadi tempat bersantai kaum elite, ikut terendam dan berubah warna menjadi cokelat pekat.

Di kawasan Karees dan Cikudapateuh, 88 rumah tercatat tergenang. Banyak warga kehilangan tempat tinggal. Mereka mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Ada yang mengungsi ke rumah kerabat, ada pula yang hanya menggelar tikar seadanya di emperan bangunan yang tak tergenang.

Sungai Cikapundung zaman baheula. (Sumber: KITLV)
Sungai Cikapundung zaman baheula. (Sumber: KITLV)

Tuduhan Deforestasi di Balik Banjir

Tak hanya banjir yang jadi masalah. Di kawasan utara Bandung, sekitar Cihampelas dan Lembangweg, longsor besar terjadi pada hari yang sama. Tanah dari lereng gunung turun menimpa jalur pipa dan saluran air. Akibatnya, perusahaan listrik Bandungsche Electriciteits Maatschappij (BEM) yang menjadi penyedia listrik utama kota Bandung tak bisa beroperasi. Sejak pukul enam sore, kota Bandung tenggelam dalam gelap.

“Untuk mempercepat perbaikan listrik, perusahaan menerjunkan 60 orang teknisi. Menurut perhitungan, pasokan listrik baru bisa normal dalam waktu sebulan. Hal ini karena banyak longsor di sekitar pembangkit listrik, jumlahnya mencapai puluhan, terutama di sepanjang sungai," tulis koran Nederlandsch-Indie.

Dengan listrik padam dan banjir melumpuhkan jalan utama, Bandung benar-benar lumpuh. Apalagi tidak ada radio atau televisi saat itu. Semua informasi mengandalkan kabar angin, koran, dan suara tetangga. Warga hanya bisa menyalakan lilin, berdoa agar hujan segera berhenti, dan berharap air surut.

Soal korban jiwa, ada perbedaan versi. Baik De Preangerbode maupun Nederlandsch-Indie mencatat adanya tiga korban jiwa. Seorang pria dilaporkan hanyut di belakang Pabrik Conversen. Dua anak kecil hilang di balik Gedung De Vries. Namun polisi kolonial membantah hal ini. Mereka menyebut bahwa selama banjir tidak ada korban tewas.

Tapi masyarakat tak mudah percaya. Warga mengaku melihat tubuh hanyut terbawa arus. Teriakan minta tolong dari balik genangan juga terdengar. Tapi dalam kekacauan seperti itu, siapa yang sempat mencatat nama dan angka?

Yang tak terbantahkan, dan dicatat secara tegas oleh koran-koran Belanda kala itu, adalah penyebab utama dari bencana ini: deforestasi.

“Kami tidak yakin banjir seperti ini pernah terjadi di kawasan ini dalam beberapa tahun terakhir. Kasus ini terlihat dari fakta bahwa kemarin malam debit air mencapai 187 milimeter per jam. Tapi meskipun hujan deras, akibat penggundulan hutan di pegunungan sekitar juga menyebabkan banjir,” tulis De Preangerbode.

Hutan-hutan yang semestinya menjadi penyangga air di bagian utara Bandung sudah lama digunduli. Perkebunan dan vila-vila yang dibangun di lereng-lereng bukit telah mengikis daya serap tanah. Tak ada lagi akar pepohonan yang mampu menahan air hujan deras. Maka ketika hujan mengguyur tanpa ampun, tanah tak sanggup menyerap, air langsung meluncur ke bawah, membawa bencana bagi kota.

Banjir besar ini bukan sekadar kejadian alam. Ia adalah hasil dari serangkaian keputusan manusia. Pembangunan tanpa kontrol, penggundulan hutan tanpa reboisasi, dan ketamakan manusia yang ingin menikmati kota tanpa menjaga alam sekitarnya.

Bandung kini tumbuh makin besar, makin bising, makin panas. Tapi pegunungan utara—yang seharusnya jadi sabuk hijau kota—semakin digerogoti. Izin-izin perumahan, hotel, dan vila bermunculan terutama di Kawasan Bandung Utara (KBU). Nama-nama baru seperti Dago Resort, Maribaya Hill, hingga kompleks perumahan di Cimenyan berdiri di atas lereng yang dulu ditumbuhi hutan.

Bukannya reforestasi, betonisasi jadi kata kunci. Pohon-pohon tua diganti paving block dan jalan aspal. Ruang terbuka hijau jadi lahan investasi. Pemerintah kerap berdalih pembangunan sudah sesuai aturan, tapi fakta di lapangan berkata lain. Air hujan yang dulu tertahan di akar kini langsung meluncur ke bawah. Dan setiap musim hujan, Kota Bandung kembali bersiap dengan berita rutin: banjir.

Seabad lebih telah berlalu. Tapi sejarah itu terasa akrab. Setiap musim hujan, Bandung masih berhadapan dengan banjir. Sungai Cikapundung yang dulu mengamuk, kini hanya tinggal beberapa meter dari pusat-pusat keramaian. Tapi kalau kita lupa pada sejarah 1919, sungai itu bisa bangkit lagi dari tidurnya.

Dan seperti kata pepatah lama: yang tidak belajar dari sejarah, akan mengulangnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)