Jamet Tetaplah Menyala!

3 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Pemandangan Rumah Rakyat dari Balik Jendela Kereta Lokal Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Pemandangan Rumah Rakyat dari Balik Jendela Kereta Lokal Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Pernah kan kita jalan-jalan di kampung atau pinggiran kota, lalu entah pikiran mulai mengoceh sendiri, serasa jijik dan ingin menyingkir. Ada yang janggal, nggak srek.

Lampu warna-warni berkedip, knalpot menggelegar, body kit dicat menyala. Motor bukan lagi sekadar kendaraan. Ia cermin ekspresi diri, cara pemiliknya menegaskan keberadaan.

Sama halnya dengan pakaian yang dikenakan. Baju yang mencolok, aksesoris yang penuh, kadang KW, dan warna yang kontras. Tampak berlebihan bagi mata orang luar, tapi bagi pemiliknya itu adalah visual yang menunjukkan identitas, keberanian, bahkan otonomi atas tubuh.

Di sinilah kita melihat rakyat tidak hanya “menghias” diri, tapi menciptakan citra yang menandai eksistensi mereka, berbeda dari orang lain, dan menuntut pengakuan yang menarik.

Kadang semua ini bukan tentang mereka, tapi soal keluarga, saudara, tetangga, dan orang-orang sekitar.

Semua sangat jelas dan akrab. Tapi tetap selera kita seolah-olah yang paling estetik. Gengsi!

Puluhan bangunan berdiri di atas rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Puluhan bangunan berdiri di atas rel kereta api rute Cikudapateuh-Ciwidey yang sudah tidak aktif. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ruang sekitar juga ikut berbicara. Gang sempit yang dihiasi LED, pagar rumah dicat dengan warna silau, mural kecil di tembok. Orang-orang mengambil alih ruang yang mereka punya, mengubahnya dengan sengaja menjadi profil yang nyentrik. Kita boleh saja tidak suka, tapi di matanya, ini seni yang menyenangkan. Menolak definisi populer tentang “kumuh”.

Musik dan hiburan pun sama. Di tengah jalan hidup yang berat, utang, dan rutinitas yang melelahkan, rakyat mencari kesenangan instan. Remix lagu dangdut, karaoke yang jedag-jedug, atau suara speaker yang keras, semua cocok untuk melepaskan tekanan dan beban. Berisik adalah bahasa pikiran, sarana menambah energi, dan interupsi bagi dunia yang mengekang.

Begitu juga dengan jajanan yang disajikan. Gorengan berminyak, seblak super pedas, minuman manis giung, jajanan yang dihias penuh warna. Gurih-gurih imitasi, semua tampak tidak sehat bagi pengamat luar yang banyak duit, tapi bagi warga itu adalah sensasi sensorik sosial. Setiap rasa yang menggigit, pedas, manis, atau tampilan yang mencolok adalah cara hadiah buat lidah dan mata. Kenikmatan hidup yang masih mungkin dijangkau.

Obrolan dan bercanda kesannya menjengkelkan. Bahasa kadang campur aduk, Sunda, Indonesia, Inggris. Belum lagi typo, huruf besar kecil tak jelas, emoji menumpuk, tanda baca berantakan. Kata-kata kasar vulgar bisa meluncur tiba-tiba, tapi selalu dibungkus tawa atau plesetan. Dari gosip, olok-olok, sampai komentar nyeleneh tentang kehidupan sehari-hari, semua mengalir bebas, absurd dan lucu.

Kalau diperhatikan secara menyeluruh, semua tindakan ini punya pola yang sama. Rakyat ingin tampil menonjol, ingin dikenal dan diakui, tapi sayangnya akses terhadap simbol kelas atas sangat terbatas.

Modifikasi yang hurung (menyala) adalah cara mengambil kontrol atas diri, benda, dan ruang yang mereka miliki, sekaligus meluapkan kreativitas yang tidak bisa disalurkan di ruang formal atau elit.

Ini adalah bentuk ekspresi simbolik. Mereka menandai eksistensi dan menentang norma estetika kelas atas. Meski murahan dan rendahan melanggeng jadi stigma yang melekat pada rakyat.

Kebudayaan mereka adalah tidak pernah mau dimengerti sebagai proyeksi diri, medium untuk mengekspresikan hasrat, dan keinginan yang tidak bisa dipenuhi secara langsung. Kita mestinya sadar bahwa modifikasi ini adalah strategi kala ketimpangan jelas terjadi, cara meniru simbol elite dengan sumber daya terbatas menghasilkan dunia yang nyentrik.

Apa yang bagi orang luar tampak lebay, norak, atau kampungan, bagi mereka adalah siasat kecil yang menjadikan kehidupan sehari-hari lebih bermakna, berani, dan manusiawi. Jamet tetaplah menyala!

Satu hal yang bisa kita pelajari, jangan terlalu memaksakan diri untuk berlaga jadi orang ‘ada’. Membumilah, sebab rakyat sudah lama lepas dari jerat busuk itu. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Jun 2026, 20:12

Kembang Tanpa Dedaunan

Menjaga kondisi hawa atau cuaca di Kota Bandung agar tidak menjadi lebih panas di tahun-tahun berikiutnya sesuai dengan tema hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2026.

The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 19:02

Menilik Perbedaan Gaya Komunikasi Website dan Instagram pada Kampanye Perusahaan Telekomunikasi

Kampanye “Nyalakan Semangat Indonesia” dari Telkomsel menunjukkan bagaimana perbedaan karakter website dan Instagram dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan yang sama secara efektif kepada audiens.

Ilustrasi.
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 18:33

Kopi Ajaib dari Tanah Priangan: Kejayaan dan Keruntuhan Kopi Priangan (1808–1875)

artikel ini membahas mengenai kopi preanger yang melawati beberapa zaman kepengurusan gubernur jendral hindia belanda.

Perkebunan kopi arabica yang masih eksis sampai saat ini di Loa, Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Junior Fajar Rimbawan)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 18:11

Turunkan Tensi, Naikkan Empati

Turunkan tensi, naikkan empati, dan kuatkan ikhtiar. Karena hidup tidak berubah oleh harapan semata, tetapi oleh usaha yang nyata.

Sejumlah siswa MI Al-Mujtahidin membawa sampah hasil dari sedekah sampah dan disetorkan ke Bank Sampah Produktif Cidadap Berseri, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, (11/11/2022). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 17:26

Jejak dan Pengaruh Kesenian Barat dalam Perkembangan Seni Modern Indonesia

Menjelajahi jejak seni modern di Indonesia melalui pengaruh datangnya bangsa Eropa ke Indonesia.

Seniman Raden Saleh yang melukis dengan gaya lukis Eropa sebagai pelopor seni modern di Indonesia.  (Sumber: wikimedia.org)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 17:24

Itinerary Bali Seminggu: Jelajah Selatan, Tengah, Timur, hingga Utara Pulau Dewata

Rencana liburan Bali 7 hari lengkap dari Uluwatu, Nusa Penida, Ubud, Kintamani hingga Karangasem. Cocok untuk first timer dan wisata keluarga.

Bali. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 17:08

Politik Populer vs Tata Kelola: Birokrasi yang Tergerus

Fenomena ini membuat politik terasa seperti panggung hiburan, di mana popularitas dan viralitas menjadi kompas utama kala tersesat dan tak tahu arah.

Ilustrasi kata politik. (Sumber: Pexels | Foto: Tara Winstead)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 16:16

Manik Maya, Ibu Bumi dan Bapak Langit

Acara Ngertakeun Bumi Lamba sendiri adalah sebuah ritual sakral yang diselenggarakan di Hutan Tangkuban Parahu.

Saya (penulis) bersama kawan-kawan pecinta budaya Lembang dalam acara ngertakeun bumi lamba 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 16:03

Tamansari Menjadi Saksi: Mahasiswa Bandung Melawan Pembredelan Pers 1994

Di Bandung, Jalan Tamansari menjadi saksi perlawanan mahasiswa terhadap kebijakan yang dianggap membungkam kebebasan berekspresi.

Halaman muka Harian Umum MANDALA memuat berita utama unjuk rasa mahasiswa Bandung warnai pembredelan tiga media cetak ibu kota: Tempo, Editor dan Detik. (Sumber: Koleksi dan foto Kin Sanubary)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 15:48

Mengapa Dasar Cekungan Bandung Datar?

Inilah proses yang menyebabkan dasar Cekungan Bandung menjadi datar.

Permukaan dasar Cekungan Bandung yang datar. (Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 12:46

Bukan Sekadar Rongsokan, Besi Tua Damri Jatinangor

Deru mesin tua DAMRI pernah mengantar ribuan mahasiswa menuju mimpi mereka.

Armada DAMRI generasi lama yang terparkir di Depo DAMRI Gedebage (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Naufal Farras)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 11:39

Literasi, Fabel, dan Al-Razi

Rasanya asyik sekali ketika menemukan bacaan yang penuh dengan hikmah.

Aa Akil bergaya dengan buku Serunya Dunia Fabel, karya Kelas V Al-Razi SD Islam Al-Amanah, penerbit Dandelion Publisher,  cetakan pertama Mei 2026, editor Utrujah Alesha. (Sumber: Istimewa | Foto: IBN GHIFARIE)
Wisata & Kuliner 25 Jun 2026, 11:23

Panduan Berkunjung ke Museum Geologi Bandung: Menjelajahi 4,5 Miliar Tahun Sejarah Bumi dengan Tiket Rp5.000

Museum Geologi Bandung menyimpan lebih dari 250.000 koleksi batuan dan 60.000 fosil. Simak harga tiket, koleksi unggulan, dan panduan berkunjung.

Museum Geologi Bandung. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Biz 25 Jun 2026, 10:34

Kembara Niaga Dama Kara Menjadi Satu-satunya UMKM Kelas 4 di Bandung

UMKM yang ada di kelas itu memang langka, tetapi bagaimana cara sampai di sana?

Salah satu sudut toko Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 09:56

Batujajar dan Militer: 'Mesra' sejak Masa Kolonial

Menilik secara historis bagaimana Batujajar dan militer hidup secara berdampingan sejak masa kolonial.

Jembatan Batujajar pada tahun 1925 (Sumber: KITLV)
Beranda 25 Jun 2026, 09:11

Kimung, Anak Ujungberung yang Tak Pernah Meninggalkan Musik

Kimung tak pernah benar-benar meninggalkan musik. Dari Burgerkill, Ujungberung Rebels, hingga Karinding Attacks, ia terus merawat kultur musik dari Bandung.

Di Atap Class, Kimung terus merawat arsip, pengetahuan, dan regenerasi komunitas kreatif lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:47

Budaya Self-reward dan Hubungannya dengan Konsumerisme Gen Z

Self-reward yang awalnya bertujuan sebagai bentuk apresiasi diri setelah mencapai target atau melewati masa sulit sering kali berubah menjadi alasan untuk berbelanja secara berlebihan.

Ilustrasi belanja. (Sumber: Pexels | Foto: Max Fischer)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 08:34

Unjuk Rasa Mahasiswa, Sinar Asta Cita dan Suguhan Humor Segar

Jika segala aspek masalah ketenagakerjaan bisa ditangani dengan baik, niscaya 60 persen masalah bangsa ini kelar.

Unjuk rasa mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 24 Jun 2026, 20:36

Kualitas Dulu, Narasi Kemudian: Dama Kara dan Mengapa Karyanya Istimewa

Kualitas harus bicara lebih dulu, sebelum cerita apa pun menyusulnya. Begitulah prinsip Dama Kara.

Nurdini Prihastiti, founder sekaligus pemilik Dama Kara di Jalan Gandapura, Kota Bandung, (23/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 20:02

Opini Publik terhadap Pemberitaan Media mengenai Peluncuran Smartphone

Analisis terhadap penulisan peluncuran smartphone terbaru pada sebuah acara teknologi tahunan, dan penggunaan kata kunci yang konsisten oleh media

Ilustrasi penggunaan smartphone yang mencerminkan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap perangkat mobile dengan teknologi terkini. 23/06/2026 (Sumber: Muhammad Aswan Hilman | Foto: Muhammad Aswan Hilman)