Dialog Lintas Iman, Dialog Rakyat

4 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Petani di Kebun (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Petani di Kebun (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Ada sayup-sayup kabar angin, konon bicara agama-agama itu hanya milik orang-orang yang perutnya sudah kenyang. Di antara sinis dan nyinyir, tapi sepertinya kita mesti akui bersama bahwa komentar itu memang ada benarnya. Apalagi kalau selintingan tersebut datang dari mereka yang berada di tepian, rasa-rasanya harus diterima sebagai kritik yang tajam.

Satu dua warga menaruh curiga. Dari seberang jalan, mata mereka celik memandangi kita, “Mengapa ada orang yang masih punya waktu dan tenaga untuk bicara soal agama?”. Bagi mereka percakapan seperti itu bukan hanya terlalu langitan, tapi tampak menari-menari enteng-entengan penuh kelakar tawa.

Kita mungkin malah bangga, menganggap diri open minded. Tapi pernahkah kita merenung kalau gaya ini justru bisa membangun tembok kelas? Idealisme kita justru berpotensi memantik kecemburuan sosial.

Gelagat kita, style kota, imaji well-educated. Gelang-gelang, kain adat, dan gantungan kunci, entah dieksotiskan atau kasih kesan kalau kita cukup dekat dengan tradisi. Bahasa nginggris berbelit-belit penuh kode yang menyekat. Gelas kopi kekinian, earphone, dan gawai ongkang-ongkang. Bagi mereka ini bukan diskursus tapi tontonan yang asing.

Dialog lintas iman urusan mereka nu geus nyalsé, orang-orang yang sudah beres dengan masalah ekonominya, begitu celotehan itu seketika menyambarku. Badanku lemas, tertunduk tak bisa menimpali. Aku mengakui keterbatasanku yang ini.

Di mata petani yang tanahnya terancam proyek tambang, buruh pabrik tekstil yang digaji rendah, atau orang muda pengangguran di kampung pinggiran kota, punya mimpi yang sama sekali berbeda. Menyangkut soal perut, harga diri, dan ruang hidup. Bukan sebatas hidup rukun di tengah perbedaan.

Di sinilah pentingnya membawa lensa kemiskinan ke dalam percakapan lintas iman. Elitisme tidak hanya soal siapa yang punya rumah megah dan rekening gendut. Elitisme juga bisa muncul dari isu yang dipilih, cara isu itu dibawa, dan bagaimana ia didaratkan dalam kehidupan warga. Dialog bisa tampak indah di atas panggung, tapi barangkali kosong di lapangan jika tidak menyentuh keresahan riil warga.

Contoh yang sering luput, kelompok yang dulu kadung distempel “intoleran”. Mudah bagi kita menganggap mereka hanya haus kuasa atau sempit pandangan. Tetapi jika dilihat lebih dekat, banyak di antara mereka justru rentan secara ekonomi. Mereka mungkin dominan secara religius, jumlahnya besar, dan simbolnya kuat. Tapi marginal dalam akses pendidikan, lapangan kerja, atau kesejahteraan yang layak.

Ketika kecemburuan ekonomi berkelindan dengan identitas agama, api konflik bisa cepat menyala. Maka, menyederhanakan masalah mereka sebagai soal kebencian atas nama agama semata adalah bentuk buta kelas yang sangat jelas.

Itulah sebabnya, dialog lintas iman tidak boleh berhenti pada bahasa formal agama. Ia harus menyeberang ke soal-soal kesejahteraan ekonomi, keadilan ekologi, paradigma warga, hingga kedaulatan agama rakyat itu sendiri.

Membicarakan 'agama rakyat' memang tidak seperti membicarakan 'agama formal'. (Sumber: Pexels/Ismail saja)
Membicarakan 'agama rakyat' memang tidak seperti membicarakan 'agama formal'. (Sumber: Pexels/Ismail saja)

Sebab agama, di akar rumput, bukan sekadar sistem doktrin atau institusi resmi. Ia menubuh dalam praktik hidup sehari-hari. Agamanya nelayan yang menjaring ikan dengan jampi, agamanya buruh pabrik yang bekerja tanpa dapat THR, agamanya driver ojol yang mengutuk nasibnya, dan agamanya orang miskin kota yang mencari nasi kotak di kenduri tetangganya.

Narasi lintas iman yang selama ini dominan sering terjebak pada kategori-kategori modern yang kaku. Ada agama sebagai identitas, ada pemuka yang representatif, ada organisasi yang bisa deklarasi, dan ada kitab yang bisa jadi quotes. Padahal agama juga bisa hadir sebagai ritual kecil, tradisi keluarga, atau praktik sosial yang tak selalu tercatat di buku-buku kita.

Kalau kita memaksa hanya agama formal yang berhak masuk dialog, maka yang terpinggirkan adalah mayoritas warga. Sebab merekalah yang beragama dalam bentuk hidup, tidak ikut bendera tertentu, tidak mudah dikategorikan dalam kolom-kolom yang baku.

Warga bukan sekadar objek “pemberdayaan” atau “pembinaan”, melainkan sumber pengetahuan dan pembebasan itu sendiri. Mereka punya cara, bahasa, dan gaya hidup yang kaya makna. Dialog lintas iman di akar rumput harus berangkat dari sana. Dari bahasa warga, dari cerita sehari-hari, dari luka yang mereka alami, juga dari mimpi yang mereka kehendaki. 

Maka dari itu mari kita bayangkan ulang. Dialog lintas iman bukan ruang steril yang hanya mengundang para tokoh agama resmi. Ia bisa hadir di warung kopi, di ladang, di pabrik, atau bahkan di titik kumpul ojek online. Topiknya bukan hanya tentang toleransi abstrak, tetapi juga tentang petani dan harga tengkulak, tentang RT yang warganya beda afiliasi ormas, tentang orang muda di pos ronda yang gelisah mencari nafkah.

Di titik inilah, lintas iman bekerja sebagai proyek keadilan. Ia berhubungan dengan masalah perut, dengan bumi, dengan musik jedag-jedug. Ia berpihak pada mereka yang selama ini dipinggirkan oleh negara dan institusi agama formal, pada mereka yang beragama tanpa nama. Ia tidak menunggu warga untuk “diberadabkan” lebih dulu, tetapi justru mengakui bahwa dalam keseharian mereka sudah ada praktik agama, budaya, dan kemanusiaan yang layak diakui.

Dialog lintas iman yang go lokal tidak mencari definisi besar, melainkan menyelami detail kecil. Soal kuota internet untuk anak-anak sekolah daring, soal solidaritas kelompok nelayan saling bantu saat badai, soal nenek dan cucuk yang beda menghidupi adat.

Jika kita jujur, mungkin justru wargalah yang sudah lebih dulu menjalankan dialog lintas iman dengan cara mereka sendiri. Yang perlu kita lakukan adalah mendengar, belajar, lalu mendukung agar ruang-ruang itu tumbuh. Dengan begitu, dialog lintas iman tidak lagi jadi urusan dan mandat intelektual-praktisi, melainkan urusan kita semua. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 31 Agu 2026, 16:28

Sejarah Nama Bulan (Bagian 2)

Dua belas bulan yang kita kenal hari ini ternyata menyimpan jejak perubahan zaman, kekuasaan, dan cara manusia menata waktu.

Februa atau Lupercalia, suatu festival penyucian di Romawi Kuno. (Sumber: Wikimedia Commons)
Beranda 31 Agu 2026, 16:20

PLN Nusantara Power UP Cirata Overhaul Unit 5 dan 6 Demi Keandalan Pasokan Listrik

PLN Nusantara Power UP Cirata melakukan overhaul Unit 5 dan 6 PLTA Cirata untuk menjaga keandalan pasokan listrik pelanggan.

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat keandalan PLTA Cirata melalui overhaul Unit 5 dan Unit 6 demi pelayanan listrik pelanggan.
Beranda 31 Agu 2026, 16:13

Hari Pelanggan Nasional, PLN NP UP Cirata Perkuat Sinergi dengan Masyarakat Desa Ciroyom

PLN Nusantara Power UP Cirata memperkuat sinergi dengan masyarakat melalui Milangkala Desa Ciroyom ke-171 di Hari Pelanggan Nasional.

PLN Nusantara Power UP Cirata berpartisipasi dalam Milangkala Desa Ciroyom ke-171 sebagai wujud sinergi bersama masyarakat dan lingkungan.
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 14:24

Rijsttafel Hidangan Perpaduan Belanda dan Nusantara di Priangan

Nikmati kelezatan Rijsttafel, tradisi kuliner unik era kolonial di Priangan. Perpaduan harmonis antara kemewahan rasa Belanda dan autentisitas rempah Nusantara dalam satu meja

Keluarga C.H. Japing dalam sebuah acara rijsttafel bersama Bibi Jet dan Paman Jan Breeman di Bandung. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Christoffel Hendrik)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 13:01

Medsos, Buku, dan Rindu

Algoritma semakin pandai mengenali, harusnya semakin pandai mengenali diri sendiri. Termasuk waktu berhenti pada satu video, apa dirasakan setelah menontonnya, dan nilai apa yang diambil hikmahnya.

Kaligrafi nama Nabi Muhammad berbentuk hati (Sumber: ayobandung.com)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 11:09

Ketika Rumput Habis, Bagaimana Mitigasi Pakan Ternak?

Berharap agar Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi (KDM) membuat program massal sistem mitigasi bencana untuk hewan ternak maupun hewan liar.

Ilustrasi kondisi ternak rakyat ketika musim kemarau ekstrim. (Sumber: dikreasi denganvGemini | Foto: Totok Siswantara)
Beranda 31 Agu 2026, 10:30

Pernah Jadi Pintu Masuk Ratusan Ribu Wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara Kini Bangkit Lagi

Dulu jadi pintu gerbang ratusan ribu wisman ke Bandung, Bandara Husein Sastranegara sempat mati suri akibat pandemi dan pencabutan status internasional.

Suasana bandara saat pesawat jet komersial Garuda Indonesia mendarat perdana di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Jumat 14 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 09:14

Manajemen Dapur Umum dan Menu Ideal untuk Korban Bencana Alam

Perencanaan dan pemilihan lokasi dapur umum harus bebas dari risiko bencana susulan.

Ilustrasi aktivitas dapur umum untuk korban bencana alam. (Sumber: by AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 31 Agu 2026, 08:13

Sisi Lain Sang Jenderal: Menelusuri Makna Filosofis dan Tradisi di Balik Kuliner Favorit Soeharto

Kegemaran kuliner Presiden ke-2 RI, Soeharto, tidak lepas dari perjalanan hidupnya yang berakar di Desa Kemusuk.

Momen Presiden Soeharto dan Ibu Tien memotong tumpeng saat merayakan HUT pernikahan di Jalan Cendana, Jakarta, Juni 1986, disaksikan ibu mertua dan Sumitro Djoyohadkusumo. (Sumber: ANRI, Setneg 634)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 20:52

Ketika Seniman Memilih untuk Tidak Diam, Jangan Biarkan Kezaliman Menjadi Kelaziman

Ketika kezaliman menjadi kelaziman, diam bukan lagi netral. Manifesto Seniman Bandung adalah ajakan untuk bersuara—bukan sekadar nyinyir dari kejauhan.

Aliansi Bandung Ngagoak mengadakan aksi ekspresi seni di Kebun Seni Jalan Tamansari 56 Bandung. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 18:14

Menciptakan Kembali Televisi Pendidikan

Televisi pendidikan sebagai proyek nasional pun sudah seharusnya menjadi keputusan pemerintah.

Ilustrasi televisi. (Sumber: Pexels | Foto: Nothing Ahead)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 16:45

Cerita Tomakur Milik KWT Desa Nagarawangi Terpilih untuk Pendaftaran Legalitas Merek

Tomakur milik KWT Desa Nagarawangi terpilih mendapat pendampingan pendaftaran merek melalui program KKN UNINUS untuk memperkuat legalitas dan identitas produk UMKM.

Sosialisasi dan Pendampingan Proses Pendaftaran HKI (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 14:11

Kedaulatan di Atas Meja Makan: Diplomasi Kuliner Sukarno pada Konferensi Asia Afrika (KAA) 1955 di Bandung

Sukarno menegaskan visi bahwa "kemerdekaan dimulai dari lidah"—sebuah manifestasi dari prinsip Berdikari (Berdiri di Atas Kaki Sendiri).

Momen jamuan makan malam resmi pada Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Hotel Savoy Homann, Bandung, pada 19 April 1955. (Sumber foto: Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 12:04

Sehat untuk Semua, Warga Desa Nagarawangi Ikuti CKG dan Edukasi Pertolongan Pertama

Warga Nagarawangi mengikuti CKG dan edukasi kesehatan, mulai dari pertolongan pertama dalam situasi darurat hingga kesehatan psikologis anak dan remaja bersama Puskesmas Rancakalong.

Kegiatan Pelaksanaan Program "Sehat  untuk Semua Warga Desa Nagarawangi" (KKN UNINUS Kel.5&6) (Sumber: Tim Medkominfo KKN UNINUS Kel.5&6 | Foto: Deni & Julian)
Ayo Netizen 30 Agu 2026, 09:59

Budaya Mengaji di Tengah Kota

Di tengah modernitas dan dinamisnya kehidupan perkotaan. Masih ada ruang di sudut perkotaan untuk mempertemukan anak-anak dengan kehidupan sosial dan agamanya.

Mengaji di kalangan anak-anak menjadi memori yang begitu melekat. Melihat aktivitas tersebut masih berjalan di area perkotaan menjadi fenomena yang menarik untuk dibahas. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Sejarah 29 Agu 2026, 10:47

Jejak K.F. Holle, Tokoh Kolonial yang Membawa Perubahan Pertanian di Garut

K.F. Holle meninggalkan jejak panjang di Cikajang, Garut, dari perkebunan teh, pertanian, hingga pengembangan domba Garut.

Monumen K.F. Holle di perkebunan teh Giriawas, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 28 Agu 2026, 22:17

Dobrak Stigma 'Bandung Coret', FKB 2026 Boyong Kuliner Legendaris demi Gaet Wisatawan hingga Gen Z

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong kuliner legendaris seperti Perkedel Bondon ke Gedebage, langkah gerilya untuk gaet wisatawan dan Gen Z.

Festival Kuliner Bandung (FKB) 2026 memboyong berbagai kuliner legendaris Bandung dan Jawa Barat. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Biz 28 Agu 2026, 19:12

Lipat demi Lipat, Dimsum Inmons Menyusun Resep Paten dari Gang Sempit Cicadas

Kisah Dimsum Inmons, UMKM kuliner asal gang sempit Cicadas, yang menyeimbangkan kanal digital dengan kekuatan penjualan konvensional.

Ani Andriyani, pemilik Dimsum Inmons, UMKM asal Kota Bandung, (12/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 18:08

Menerapkan Pompa Submersible Tenaga Surya untuk Atasi Karhutla

Kebakaran hutan dan lahan ( Karhutla ) di berbagai wilayah dihadang masalah klasik yakni titik api jauh dari sumber air dan listrik.

Ilustrasi penggunaan sistem pompa untuk atasi karhutla (Sumber: dibuat dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 28 Agu 2026, 17:38

Alibasah Sentot Abdullah Mustafa Prawirodirdjo Menumpas Kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832

Kisah heroik Alibasah Sentot Prawirodirdjo saat memimpin pasukan menumpas kerusuhan China di Karawang pada Mei 1832. Analisis sejarah mendalam tentang strategi dan dampaknya bagi kolonial.

Alibasah Sentot Prawirodirdjo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: G.L. Kepper: Wapenfeiten van het Nederlandsch-Indisch leger)