Memberikan Bantuan Cuma-Cuma malah Membentuk Mental 'Effortless'

5 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Masyarakat mengunjungi KDM untuk meminta bantuan dan menyampaikan keluhan. (Sumber: Tiktok | Kang Dedi Mulyadi)
Masyarakat mengunjungi KDM untuk meminta bantuan dan menyampaikan keluhan. (Sumber: Tiktok | Kang Dedi Mulyadi)

Memberikan bantuan kepada orang lain adalah sikap yang mulia. Hal ini juga sudah termaktub dalam sebuah hadits bahwa "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Bukhari dan Muslim)".

Namun memberikan bantuan secara cuma-cuma, apalagi dalam bentuk uang justru akan menimbulkan masalah baru. Alih-alih yang mendapatkan bantuan bisa mandiri dengan dana yang diberikan, justru mayoritas akan memunculkan sikap ketergantungan pada setiap individu.

Selain itu individu lain akan memandang bahwa semua orang wajib dibantu oleh yang bersangkutan. Ujungnya akan menimbulkan rasa iri karena tidak semua individu mendapatkan keistimewaan yang sama. Mengutip ucapan Ustad Felix Siauw dalam akun youtubenya

Setiap bantuan yang bersifat effortless itu datang, itu merenggut orang untuk effort dalam sesuatu. Kalau menurut pepatah, jika engkau memberikan bantuan kepada seorang satu kali maka ia akan berterimakasih. Kalau engkau kasih orang dua kali dia akan merasa biasa. Kalau engkau kasih orang tiga kali dia akan expecting. Kalau engkau kasih orang empat kali dia mulai merasa bahwa ini adalah sesuatu yang seharusnya. Kalau engkau kasih orang lima kali dia akan muai marah jika kamu tidak memberikan sesuatu padanya.

Pandangan tersebut bukan sekedar teori tapi sudah bermanifestasi menjadi tindakan yang dinormalisasi. Bagaimana saya pernah mengalami sendiri fenomena ini.

Dulu saya bekerja di klinik yang pemiliknya sering memberikan bantuan sembako di saat Covid-19 melanda. Pemilik klinik memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat mulai dari tukang parkir, tukang becak, hansip, tukang sampah, tukang rongsok dan sejumlah warga yang terlihat membutuhkan bantuan.

Bantuan terus berlangsung selama tiga tahun, hanya saja segmentasinya berkurang disesuaikan dengan anggaran yang ada. Awalnya bantuan terdiri dari 30 orang kemudian berkurang menjadi 15 orang.

Sebelum memberikan bantuan kepada 15 orang yang sudah disaring berdasarkan prioritas kebutuhan, pemilik memberikan pesan bahwa orang-orang tersebut dilarang menyebarluaskan berita pemberian sembako tersebut kepada orang lain.

Hal ini dilakukan agar 15 orang sebelumnya yang juga mendapat bantuan tidak akan merasa iri, tidak akan merasa kecewa, dan tidak banyak mempertanyakan "Kenapa dia mendapat bantuan, sementara saya tidak".

Hal yang sudah diantisipasi untuk tidak terjadi pada kenyataannya tetap terjadi. Ada salah satu orang yang tidak ada dalam daftar bantuan tapi beliau datang menanyakan sembako untuk dirinya. Setelah dijelaskan satu dan lain hal, bapak tersebut tidak terima dan bersikap sedikit tidak ramah.

"Neng mana sembako kanggo bapak ? naha nu sanes dipasihan ai bapa henteu? Neng teu kenging pilih kasih ai masihan bantuan teh, wartoskeun kanu gaduh, omat teu kenging kitu nya neng".

Beberapa kasus lain yang terjadi di Indonesia menjadi relevan ketika bantuan secara cuma-cuma justru membentuk sikap dan mental effortless.

Beberapa kasus serupa pernah terjadi dan viral di media sosial, contohnya saat Gus Miftah terkesan mengolok-olok penjual es dengan mengatakan kata-kata kasar.

Menurut saya kasus ini bermula dari branding yang dibuat oleh Gus Miftah sendiri, di mana dalam setiap acara pengajian yang digelarnya, beliau kerap memborong jualan para pedagang yang sedang mengais rezeki di antara perkumpulan orang-orang yang sedang mengaji.

Meski niatnya baik tapi secara tidak langsung tindakan yang dilakukan oleh Gus Miftah turut mengubah pola pikir para pedagang, bahwa Gus Miftah adalah seorang dermawan.

Jauh sebelum berusaha untuk menjajakan minuman kepada para pengunjung, perilaku effortless sudah terlebih dahulu terbentuk dan para pedagang memiliki harapan yang tinggi bahwa jualannya akan diborong Gus Miftah tanpa harus punya usaha yang keras.

Kasus serupa juga terjadi pada Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, setiap kepeduliannya terhadap masyarakat sering disalah artikan. Betul, pemerintah memang punya kewajiban untuk membantu masyarakatnya tapi melalui konten bantuan yang sering dipublikasikan oleh KDM, justru membawa berbagai macam lapisan masyarakat yang sebetulnya tidak terlalu urgensi untuk mendapat bantuan.

Dengan kata lain tidak adanya filterisasi antara masyarakat yang benar-benar membutuhkan atau masyarakat yang memanfaatkan situasi dan kondisi.

Salah satu masyarakat yang meminta bantuan pembayaran seragam kepada KDM (Sumber: Instagram | viralno.1)
Salah satu masyarakat yang meminta bantuan pembayaran seragam kepada KDM (Sumber: Instagram | viralno.1)

Saya pernah melihat cuplikan berita tentang KDM yang berbicara dengan seorang ibu yang menggendong anak dengan dalih minta bantuan untuk pelunasan seragam anaknya yang belum selesai.

Padahal jika dilihat dari penampilan luarnya ibu tersebut terlihat mampu, karena memiliki alis yang disulam, wajah yang terawat dan glowing, giginya menggunakan behel, juga mengenakan beberapa perhiasan seperti kalung.

Ibu Irma yang tidak amanah saat diberikan bantuan sebanyak 40 juta (Sumber: Redaksi AyoBandung.com)
Ibu Irma yang tidak amanah saat diberikan bantuan sebanyak 40 juta (Sumber: Redaksi AyoBandung.com)

Kasus lain terjadi ketika seorang ibu menyalahgunakan bantuan yang diberikan KDM yang seharusnya digunakan untuk melunasi hutang justru dibelikan motor dan sejumlah perhiasan. Bantuan yang diberikan bukan dalam jumlah sedikit tapi 40 juta.

Berawal dari cerita haru akan ibu tersebut yang berhutang kepada tetangganya untuk membayar biaya pemakaman orang tuanya sebanyak 3.5 juta. KDM memberikan 40 juta dengan harapan uangnya dibayarkan hutang dan sisanya disimpan untuk menambah biaya beli rumah. Namun hal yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Terakhir berita yang saya lihat sebelum kebijakan donasi 1000 rupiah dikeluarkan yaitu ketika KDM ramai didatangi masyarakat dari berbagai kota di luar Jawa Barat untuk menyampaikan keluhan perihal tunggakan BPJS, perihal pengangguran, pengaduan hukum dan pendidikan. Dalam video tersebut KDM juga menyinggung soal kebijakan barunya.

Rereongan warga yang sarebu-sarebu dikumpulin. Nah itu tujuannya long seperti ini, dikumpulinnya di RT/RW atau di desa, terserah.

Dana yang dikumpulkan memiliki tujuan untuk membantu kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan, terutama yang bersifat darurat dan mendesak.

Bagi saya kebijakan ini bertentangan dengan UUD NRI 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2 yang menyatakan "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya". Sementara pada UUD NRI 1945 Pasal 28H ayat 1 dan Pasal 34 ayat 3 menegaskan "Setiap warga negara berhak atas pelayanan kesehatan dan negara wajib menyediakannya".

Sudah jelas bahwa biaya pendidikan dan kesehatan sudah menjadi kewajiban pemerintah setempat untuk memenuhi setiap hak warga negaranya. Pada akhirnya masyarakat yang kembali didesak untuk menolong dirinya sendiri.

Sepertinya pungutan pajak tidak cukup memenuhi kebutuhan negara karena seringnya di korupsi oleh para pejabat. Dan masyarakat kembali memikul beban dengan kebijakan donasi uang 1000/hari.

Melalui kasus di atas terlihat jelas bahwa bantuan yang diberikan secara cuma-cuma tanpa usaha yang jelas, justru membuat kemandirian masyarakat hilang dan ketergantungan masyarakat akan bantuan makin meningkat.

Bantuan uang secara tunai memang menjadi hak bagi pemberi bantuan hanya saja justru bantuan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan. Masyarakat berpotensi memanfaatkan situasi, menyalahgunakan bantuan, dan jika uang yang diberikan habis maka selanjutnya mental "Ingin dibantu" kembali hadir dan akan terus berulang siklusnya seperti itu.

Padahal yang harus menjadi pembenahan dari pemerintah bagi masyarakat bukanlah sepenuhnya bantuan uang tapi lebih penting membuka lowongan pekerjaan.

Melalui pekerjaan masyarakat bisa memiliki aktivitas dan mengurangi angka kriminalitas, melalui pekerjaan masyarakat bisa memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melalui pekerjaan masyarakat bisa berdaya dan memiliki kemandirian berpikir dan bertindak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:03

Jejak Tersembunyi di Balik Gereja Sidang Kristus Sukabumi

Gereja Sidang Kristus merupakan salah satu bangunan bersejarah yang ada di pusat kota Sukabumi.

Tampak depan Gereja Sidang Kristus Kota Sukabumi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Kepadalisna)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 18:44

Inspirasi Pajajaran sebagai Warisan yang Menunggu Diingat Kembali

Kerajaan Pajajaran banyak meninggalkan sejarah di masa Nusantara, tapi sayangnya ingatan kolektif tentang inspirasi Pajajaran bagi masa kini mulai terlupakan.

Kirab budaya di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Selasa 19 Agustus 2025. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 17:05

Menikmati Matahari Terbit di Lawang Angin

Lawang Angin Garut menawarkan panorama matahari terbit, Gunung Cikuray, kabut pegunungan, dan potensi wisata yang belum tergarap.

Sunset di Lawang Angin, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 16:33

Mandala Koran Legendaris yang Mewarnai Sejarah Pers Jawa Barat

Pada masanya, Harian Mandala merupakan salah satu surat kabar paling berpengaruh di Jawa Barat.

Sampul depan Harian Umum MANDALA edisi 13 Juli 1976, terbitan 50 tahun silam yang menjadi salah satu saksi perjalanan pers di Jawa Barat. (Sumber: Foto dan koleksi koran lawas milik Kin Sanubary)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 15:12

Teruslah Membaca meskipun Dianggap Tidak Berguna

Membaca saja tidak cukup, kita harus memahami isi, konteks, dan pesan yang ingin disampaikan dalam buku atau tulisan tersebut.

Seseorang sedang membaca buku. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 14:43

Di Balik MPLS Masih Adakah Pendidikan untuk Semua?

MPLS sudah dilaksanakan namun yang menjadi sorotan adalah masih ada sekolah yang menerima murid kurang dari kebutuhan

Anggota Komunitas Badut Necis (Badut Nyentrik Bandung Cimahi Sauyunan) MPLS di SD Negeri Cibeber. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 12:56

Bagaimana Teknologi Pengenal Plat Nomor Mengubah Wajah Transportasi Modern?

Teknologi License Plate Recognition (LPR) memungkinkan kamera dan AI mengenali plat nomor kendaraan secara otomatis untuk mendukung transportasi yang lebih aman, efisien, dan cerdas.

LPR (License Plate Recognition) atau disebut juga dengan ANPR (Automatic Number Plate Recognition) adalah salah satu aplikasi cctv untuk mengenali plat nomor kendaraan. (Sumber: ilmiteknik.co.id)
Wisata & Kuliner 16 Jul 2026, 11:48

Panduan Berkunjung ke Pulau Komodo: Cara ke Labuan Bajo, Pink Beach, dan Pulau Padar

Panduan lengkap Taman Nasional Komodo mulai dari harga tiket, aplikasi SiOra, Pulau Padar, Pink Beach, Manta Point, hingga pilihan tour terbaik.

Pulau Komodo. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 11:09

Bobotoh Layak Menuntut Persib Lebih daripada Sekadar Juara

Klab besar di dunia hampir tidak pernah mendefinisikan dirinya hanya melalui jumlah piala yang mereka koleksi.

Bobotoh Persib sedang berkonvoi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Lukman Hidayat/Magang)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 08:00

Ci Manuk, Sungai Suci Penuh Do’a untuk Kekuatan Jiwa

Ci Manuk itu bukan berasal dari kata "manuk" yang berarti burung, tapi berasal dari kata "manu", dari bahasa Sanskerta.

Bandar Dermayu, tertulis dalam peta abad ke-16. Peta ini merupakan potongan dari Nova tabula insularum Javae, Sumatrae, Borneonis et aliarum Malaccam usque, 1598. (Sumber: Istimewa)