Memberikan Bantuan Cuma-Cuma malah Membentuk Mental 'Effortless'

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Rabu 08 Okt 2025, 13:27 WIB
Masyarakat mengunjungi KDM untuk meminta bantuan dan menyampaikan keluhan. (Sumber: Tiktok | Kang Dedi Mulyadi)

Masyarakat mengunjungi KDM untuk meminta bantuan dan menyampaikan keluhan. (Sumber: Tiktok | Kang Dedi Mulyadi)

Memberikan bantuan kepada orang lain adalah sikap yang mulia. Hal ini juga sudah termaktub dalam sebuah hadits bahwa "Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah. (HR. Bukhari dan Muslim)".

Namun memberikan bantuan secara cuma-cuma, apalagi dalam bentuk uang justru akan menimbulkan masalah baru. Alih-alih yang mendapatkan bantuan bisa mandiri dengan dana yang diberikan, justru mayoritas akan memunculkan sikap ketergantungan pada setiap individu.

Selain itu individu lain akan memandang bahwa semua orang wajib dibantu oleh yang bersangkutan. Ujungnya akan menimbulkan rasa iri karena tidak semua individu mendapatkan keistimewaan yang sama. Mengutip ucapan Ustad Felix Siauw dalam akun youtubenya

Setiap bantuan yang bersifat effortless itu datang, itu merenggut orang untuk effort dalam sesuatu. Kalau menurut pepatah, jika engkau memberikan bantuan kepada seorang satu kali maka ia akan berterimakasih. Kalau engkau kasih orang dua kali dia akan merasa biasa. Kalau engkau kasih orang tiga kali dia akan expecting. Kalau engkau kasih orang empat kali dia mulai merasa bahwa ini adalah sesuatu yang seharusnya. Kalau engkau kasih orang lima kali dia akan muai marah jika kamu tidak memberikan sesuatu padanya.

Pandangan tersebut bukan sekedar teori tapi sudah bermanifestasi menjadi tindakan yang dinormalisasi. Bagaimana saya pernah mengalami sendiri fenomena ini.

Dulu saya bekerja di klinik yang pemiliknya sering memberikan bantuan sembako di saat Covid-19 melanda. Pemilik klinik memberikan sejumlah bantuan kepada masyarakat mulai dari tukang parkir, tukang becak, hansip, tukang sampah, tukang rongsok dan sejumlah warga yang terlihat membutuhkan bantuan.

Bantuan terus berlangsung selama tiga tahun, hanya saja segmentasinya berkurang disesuaikan dengan anggaran yang ada. Awalnya bantuan terdiri dari 30 orang kemudian berkurang menjadi 15 orang.

Sebelum memberikan bantuan kepada 15 orang yang sudah disaring berdasarkan prioritas kebutuhan, pemilik memberikan pesan bahwa orang-orang tersebut dilarang menyebarluaskan berita pemberian sembako tersebut kepada orang lain.

Hal ini dilakukan agar 15 orang sebelumnya yang juga mendapat bantuan tidak akan merasa iri, tidak akan merasa kecewa, dan tidak banyak mempertanyakan "Kenapa dia mendapat bantuan, sementara saya tidak".

Hal yang sudah diantisipasi untuk tidak terjadi pada kenyataannya tetap terjadi. Ada salah satu orang yang tidak ada dalam daftar bantuan tapi beliau datang menanyakan sembako untuk dirinya. Setelah dijelaskan satu dan lain hal, bapak tersebut tidak terima dan bersikap sedikit tidak ramah.

"Neng mana sembako kanggo bapak ? naha nu sanes dipasihan ai bapa henteu? Neng teu kenging pilih kasih ai masihan bantuan teh, wartoskeun kanu gaduh, omat teu kenging kitu nya neng".

Beberapa kasus lain yang terjadi di Indonesia menjadi relevan ketika bantuan secara cuma-cuma justru membentuk sikap dan mental effortless.

Beberapa kasus serupa pernah terjadi dan viral di media sosial, contohnya saat Gus Miftah terkesan mengolok-olok penjual es dengan mengatakan kata-kata kasar.

Menurut saya kasus ini bermula dari branding yang dibuat oleh Gus Miftah sendiri, di mana dalam setiap acara pengajian yang digelarnya, beliau kerap memborong jualan para pedagang yang sedang mengais rezeki di antara perkumpulan orang-orang yang sedang mengaji.

Meski niatnya baik tapi secara tidak langsung tindakan yang dilakukan oleh Gus Miftah turut mengubah pola pikir para pedagang, bahwa Gus Miftah adalah seorang dermawan.

Jauh sebelum berusaha untuk menjajakan minuman kepada para pengunjung, perilaku effortless sudah terlebih dahulu terbentuk dan para pedagang memiliki harapan yang tinggi bahwa jualannya akan diborong Gus Miftah tanpa harus punya usaha yang keras.

Kasus serupa juga terjadi pada Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi, setiap kepeduliannya terhadap masyarakat sering disalah artikan. Betul, pemerintah memang punya kewajiban untuk membantu masyarakatnya tapi melalui konten bantuan yang sering dipublikasikan oleh KDM, justru membawa berbagai macam lapisan masyarakat yang sebetulnya tidak terlalu urgensi untuk mendapat bantuan.

Dengan kata lain tidak adanya filterisasi antara masyarakat yang benar-benar membutuhkan atau masyarakat yang memanfaatkan situasi dan kondisi.

Salah satu masyarakat yang meminta bantuan pembayaran seragam kepada KDM (Sumber: Instagram | viralno.1)
Salah satu masyarakat yang meminta bantuan pembayaran seragam kepada KDM (Sumber: Instagram | viralno.1)

Saya pernah melihat cuplikan berita tentang KDM yang berbicara dengan seorang ibu yang menggendong anak dengan dalih minta bantuan untuk pelunasan seragam anaknya yang belum selesai.

Padahal jika dilihat dari penampilan luarnya ibu tersebut terlihat mampu, karena memiliki alis yang disulam, wajah yang terawat dan glowing, giginya menggunakan behel, juga mengenakan beberapa perhiasan seperti kalung.

Ibu Irma yang tidak amanah saat diberikan bantuan sebanyak 40 juta (Sumber: Redaksi AyoBandung.com)
Ibu Irma yang tidak amanah saat diberikan bantuan sebanyak 40 juta (Sumber: Redaksi AyoBandung.com)

Kasus lain terjadi ketika seorang ibu menyalahgunakan bantuan yang diberikan KDM yang seharusnya digunakan untuk melunasi hutang justru dibelikan motor dan sejumlah perhiasan. Bantuan yang diberikan bukan dalam jumlah sedikit tapi 40 juta.

Berawal dari cerita haru akan ibu tersebut yang berhutang kepada tetangganya untuk membayar biaya pemakaman orang tuanya sebanyak 3.5 juta. KDM memberikan 40 juta dengan harapan uangnya dibayarkan hutang dan sisanya disimpan untuk menambah biaya beli rumah. Namun hal yang terjadi ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.

Terakhir berita yang saya lihat sebelum kebijakan donasi 1000 rupiah dikeluarkan yaitu ketika KDM ramai didatangi masyarakat dari berbagai kota di luar Jawa Barat untuk menyampaikan keluhan perihal tunggakan BPJS, perihal pengangguran, pengaduan hukum dan pendidikan. Dalam video tersebut KDM juga menyinggung soal kebijakan barunya.

Rereongan warga yang sarebu-sarebu dikumpulin. Nah itu tujuannya long seperti ini, dikumpulinnya di RT/RW atau di desa, terserah.

Dana yang dikumpulkan memiliki tujuan untuk membantu kebutuhan masyarakat di bidang pendidikan dan kesehatan, terutama yang bersifat darurat dan mendesak.

Bagi saya kebijakan ini bertentangan dengan UUD NRI 1945 Pasal 31 ayat 1 dan 2 yang menyatakan "Setiap warga negara berhak mendapat pendidikan dan pemerintah wajib membiayainya". Sementara pada UUD NRI 1945 Pasal 28H ayat 1 dan Pasal 34 ayat 3 menegaskan "Setiap warga negara berhak atas pelayanan kesehatan dan negara wajib menyediakannya".

Sudah jelas bahwa biaya pendidikan dan kesehatan sudah menjadi kewajiban pemerintah setempat untuk memenuhi setiap hak warga negaranya. Pada akhirnya masyarakat yang kembali didesak untuk menolong dirinya sendiri.

Sepertinya pungutan pajak tidak cukup memenuhi kebutuhan negara karena seringnya di korupsi oleh para pejabat. Dan masyarakat kembali memikul beban dengan kebijakan donasi uang 1000/hari.

Melalui kasus di atas terlihat jelas bahwa bantuan yang diberikan secara cuma-cuma tanpa usaha yang jelas, justru membuat kemandirian masyarakat hilang dan ketergantungan masyarakat akan bantuan makin meningkat.

Bantuan uang secara tunai memang menjadi hak bagi pemberi bantuan hanya saja justru bantuan tersebut tidak menyentuh akar permasalahan. Masyarakat berpotensi memanfaatkan situasi, menyalahgunakan bantuan, dan jika uang yang diberikan habis maka selanjutnya mental "Ingin dibantu" kembali hadir dan akan terus berulang siklusnya seperti itu.

Padahal yang harus menjadi pembenahan dari pemerintah bagi masyarakat bukanlah sepenuhnya bantuan uang tapi lebih penting membuka lowongan pekerjaan.

Melalui pekerjaan masyarakat bisa memiliki aktivitas dan mengurangi angka kriminalitas, melalui pekerjaan masyarakat bisa memiliki uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan melalui pekerjaan masyarakat bisa berdaya dan memiliki kemandirian berpikir dan bertindak. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 13 Jan 2026, 19:48 WIB

Kenapa Americano Jadi Favorit Baru Anak Muda? Ini Manfaatnya!

Americano lagi viral karena rasanya ringan, dan kalorinya rendah.
Ini dia manfaat dari kopi Americano yang perlu kamu ketahui! (Sumber: Freepik)
Ayo Jelajah 13 Jan 2026, 18:47 WIB

Riwayat Bandung Tiris, saat Hawa Dingin Kepung Kota Cekungan

Letak geografis Bandung membuat udara dingin mudah terperangkap dan menciptakan sensasi sejuk hingga menggigil sejak dulu.
Ilustrasi cuaca dingin Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan al Faritsi)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Profesi dan Hobi Harus Seimbang: Seorang Guru SMA Membuktikan Ambisinya

Guru SMA Lisda Nurul Romdani sukses menaklukkan maraton dan trail run (35 km) di tengah jadwal padat, membuktikan ambisi, mental, dan konsistensi.
Lisda Nurul Romdani seorang guru SMA membuktikan hobinya sebanding dengan rutinitas mengajar saat mengikuti Half Marathon Pocari Sweat Run 2024 di Bandung. (Sumber: @lisdaanr | Foto: @fotoyu_official Pocari Sweet RUN 2024)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 18:04 WIB

Kekurangan Vitamin D, Masalah Nutrisi Anak yang Masih Mengakar di Indonesia

Kekurangan vitamin D masih cukup sering ditemukan pada anak usia sekolah dan dapat berdampak pada kesehatan tulang dan gigi.
Ilustrasi kekurangan vitamin D masih menjadi masalah nutrisi yang cukup umum pada anak dan remaja, termasuk di Bandung. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 17:19 WIB

Resolusi 2026 Warga Bandung: Berharap Transportasi Umum yang Lebih Terintegrasi

Keluhan warga Bandung mengenai transportasi umum yang dinilai belum efisien dan kurang terintegrasi.
Suasana metro jabar trans dipenuhi penggunana di sore hari sepulang kerja (03/12/2025). (Sumber: Pribadi | Foto: M. Kamal Natanegara)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 16:18 WIB

Penyairan Masa Kini: Bahasa yang Mencari Rumah Baru

Penyair masa kini menjaga kedalaman di tengah riuh digital, merawat bahasa, melampaui klise, dan menghadirkan ruang hening saat dunia bergerak terlalu cepat.
Puisi mencari napas baru, sementara penyair menjaga jantung bahasanya. (Sumber: Pixnio/Bicanski)
Ayo Biz 13 Jan 2026, 16:06 WIB

Gen Z dari Scrolling ke Running, Gaya Hidup Baru yang Menggerakkan Pasar Kebugaran

Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru.
Ilustrasi. Gen Z Indonesia mulai menjadikan olahraga dan aktivitas fisik sebagai bagian dari keseharian, bahkan sebagai identitas sosial baru. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 14:34 WIB

'Doom Spending' dan Generasi yang Menyerah Membeli Masa Depan

Mengapa anak muda memilih "kebahagiaan kecil" yang mahal saat impian besar seperti rumah makin mustahil dicapai gaji UMR.
Ilustrasi dompet kosong. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 13:13 WIB

Bandung Makin Macet, Transportasi Umum Bisakah Jadi Penolong?

Kesenjangan Pusat Kota yang Diperhatikan dan Pinggiran Kota yang Terlupakan
Halte Cicaheum, Kota Bandung, yang sudah mulai usang dan banyak tumpukan sampah di belakang bangku, (3/12/25). (Sumber: AyoBandung.id | Foto: Putriana Basar)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 11:37 WIB

Chopper: Sejarah dan Makna Desain Mesin Kebebasan Roda Dua

Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an.
Chopper pertama kali muncul di Amerika Serikat pada akhir 1950-an hingga 1960-an. (Sumber: Pexels | Foto: Rachel Claire)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 10:19 WIB

Tren Coffee Shop Jadi Markas Mahasiswa Bandung 'Ngebut Tugas' Menjelang UAS

Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Coffee shop menjadi tempat favorit bagi para mahasiswa menjelang Ujian Akhir Semester (UAS) yang banyak tugas.
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 09:34 WIB

Menjadi Mahasiswa IKIP Bandung (Bagian Dua)

Di sekitar kampus IKIP Bandung (UPI), Jalan Setiabudhi dulu berjajar penjual pisang Lembang.
Villa Isola di UPI Bandung (dahulu IKIP Bandung). (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 13 Jan 2026, 07:50 WIB

Ngopi, Duduk, dan Biarkan Pikiran Bernapas

Bagi Kopi menawarkan ruang sederhana dan hangat di tengah malam yang tenang.
Sederhana saja, secangkir kopi dan ketenangan di Bagi Kopi. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 20:01 WIB

Pentingnya Pengesahan RUU Perampasan Aset sebagai Upaya Memperkuat Sistem Tata Kelola Pemerintahan

RUU Perampasan Aset hadir sebagai instrumen yang dapat menutup celah tindak korupsi.
Ilustrasi kriminalitas. (Sumber: Pexels | Foto: Kindel Media)
Ayo Jelajah 12 Jan 2026, 19:17 WIB

Hikayat Perburuan Komplotan Komunis Bandung, Priangan dalam Kepungan Polisi Kolonial

Operasi besar polisi kolonial memburu komplotan komunis di Bandung dan Priangan pada 1927 yang membuat kota hidup dalam kecurigaan.
Berita tentang dugaan plot komunis di Bandung di koran De Avondpost edisi 19 Oktober 1927.
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 18:47 WIB

Menyelami Riuhnya Ekspresi Seniman Bandung: Dari Ruang Kreatif Hingga Panggung Kontemporer

Di balik hiruk-pikuk jalan dan lalu lintasnya, Bandung tak pernah kehabisan nada, warna, dan kisah. Kota ini bukan sekadar pusat kuliner dan fashion, tetapi juga menjadi ruang ekspresi generasi seni.
Suasana pembukaan Pasar Seni ITB. (Sumber: fsrd,itb)
Ayo Biz 12 Jan 2026, 18:27 WIB

Rumah Pertama Jadi Mimpi Jauh, 65 Pesimis Gen Z Pesimis Mampu Membeli

Memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z.
Ilustrasi memiliki rumah pertama kini menjadi salah satu tujuan terbesar sekaligus tantangan tersendiri bagi generasi muda, terutama Gen Z. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 17:26 WIB

Tumbler Dan Gejala Sosial Baru

gejala sosial tentang gaya hidup membeli tumbler
Tumbler. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 12 Jan 2026, 16:49 WIB

Hafal Daftar Cicilan, tapi Lupa Impian

Gen Z sering dianggap generasi manja, padahal banyak dari mereka yang memikul beban finansial keluarga di pundaknya.
Ilustrasi cicilan. (Sumber: Pexels | Foto: Anna Shvets)