Ambang Sakral: Modal Awal Memahami Agama di Mata Eliade

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Matahari, Pohon, dan Sawah di Baleendah, Kabupaten Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Matahari, Pohon, dan Sawah di Baleendah, Kabupaten Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Di sore hari, kita duduk di di kebun belakang rumah. Angin lembut menyusup di sela-sela daun, membelai kulit kita, hangat sekaligus dinginnya. Debu menari di cahaya matahari yang mulai merendah, bayangan panjang membelah halaman, seolah setiap benda berdiri di antara dunia nyata dan mimpi.

Kita menatapnya sejenak, membiarkan pikiran melayang bebas, menangkap sesuatu yang tidak bisa dipegang tapi terasa penuh makna. 

Ada tenang. Ada bimbang. Ada senang. Burung terakhir berkicau, suaranya bercampur dengan laju jauh kendaraan di sana. Irama yang membuat kita sadar, ada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Pengalaman Basah

Ingat kapan terakhir kita benar-benar berhenti sejenak dan menyadari waktu? Kita pasti pernah terperangkap di tengah heningnya malam. Dengungan kulkas atau layar TV yang menyala setengah redup. Detak jam dinding, blubuk suara air galon, atau notifikasi ponsel yang bergetar. Semua hadir seolah sengaja disusun dunia untuk kita saksikan.

Kita termenung, menyeruput teh hangat, membiarkan mata dan pikiran bermain dengan bayangan yang bergerak perlahan. Ada rasa nyaman tapi juga bingung, kita berdiri di antara dunia nyata dan sesuatu yang lain.

Kapan terakhir kita berdiri di ambang waktu seperti itu? Rasanya seperti membuka album foto lama, menyentuh halaman-halaman yang hampir pudar. Harumnya seperti mencium aroma kertas dan debu yang menempel di buku-buku zaman sekolah dulu, melihat tulisan yang kini hanya tersisa dalam ingatan. Getarannya seperti kita keluar bioskop di jam terakhir, menyaksikan halaman parkir yang sudah kosong, hanya lampu jalan yang menjulang.

Inilah momen-momen liminal, di mana kita seolah melayang antara nyata dan khayal. Intensi begitu tinggi menyadari keberadaan kita sendiri. Inilah modal awal kita untuk memahami agama lewat mata Eliade.

Agama Adalah Agama

Seandainya kita menengok sejarah pemikiran agama abad ke-20, nama Mircea Eliade (1907-1986) pasti selalu muncul sebagai salah satu tokoh sentralnya. Ia bukan sekadar ahli, tetapi seorang pengamat yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan mendasar.

Apa itu agama? Dari mana ia datang, dan mengapa ia begitu penting bagi manusia?

Berangkat dari kritik terhadap teori-teori agama sebelumnya. Freud, Durkheim, dan Marx, Eliade menolak pandangan yang menyatakan agama sebagai produk psikologi, masyarakat, atau ekonomi. Bagi Eliade, agama bukan efek samping dari realitas lain.

Ia adalah sebab, sebuah energi otonom yang menggerakkan manusia, membentuk cara kita hidup, berpikir, dan memahami dunia.

Metodologinya pun unik. Alih-alih menempelkan satu teori tunggal, Eliade memilih pendekatan fenomenologi. Ia adalah cara mengenal suatu agama secara mendalam, kemudian membandingkannya dengan yang lain untuk menemukan pola-pola universal. Dengan cara ini, kita bisa melihat benang merah di antara ritual, mitos, dan pengalaman religius manusia dari berbagai belahan dunia, tanpa mengurangi keunikan masing-masing.

Yang Sakral dan Yang Profan

Salah satu konsep yang paling terkenal dari Eliade adalah pemisahan dunia manusia menjadi dua wilayah. Yang Sakral dan Yang Profan.

Yang Sakral adalah wilayah yang luar biasa, supernatural, penuh kekuatan yang tak bisa direduksi, yang meninggalkan bekas dalam hati manusia. Ia adalah realitas yang mengagumkan, menakutkan, sekaligus indah, yang membuat manusia tersentuh oleh sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Yang Profan, sebaliknya, adalah keseharian yang biasa, acak, bahkan kadang membosankan. Rutinitas, benda-benda biasa, dan kegiatan sehari-hari berada di ranah ini.

Jalan Sepi Tengah Malam, Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)
Jalan Sepi Tengah Malam, Kota Bandung (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Arfi Pandu Dinata)

Bagi Eliade, pengalaman religius selalu berpusat pada The Numinous, istilah yang dipinjam dari Rudolf Otto, yaitu perasaan yang muncul saat manusia bertemu Yang Sakral. Perasaan ini bukan sekadar kagum, ia membangkitkan emosi terdalam. Keterpukauan, ketakutan, dan kekaguman yang luar biasa. Saat seseorang berdoa, melakukan ritual, atau menatap benda suci, mereka menyentuh realitas abadi yang sama, yang menghubungkan manusia dengan alam semesta dan dengan sesuatu yang tak terbatas.

Dalam masyarakat arkhais, yang hidup ribuan tahun lalu, perjumpaan dengan Yang Sakral bukanlah pengalaman teoritis semata, tetapi diwujudkan dalam ritual, mitos, dan simbol.

Mitos menjadi semacam narasi yang menuntun manusia memahami dunia. Simbol muncul dari dunia Profan, yang lalu disentuh oleh Sakral sehingga memperoleh makna baru. Misalnya, sebuah gunung atau sungai bukan sekadar geografis. Ia bisa menjadi titik pusat dunia (axis mundi), penghubung antara Yang Sakral dan Profan, tempat manusia bisa merasakan harmoni kosmik.

Eliade menjelaskan fenomena ini melalui apa yang disebut hierophany, yaitu “penampakan Yang Sakral.”

Benda, tempat, atau waktu tertentu bisa menjadi sakral ketika disentuh oleh pengalaman religius. Hal ini membentuk cara pandang masyarakat arkhais tentang dunia.

Lebih jauh, Eliade menekankan bahwa simbol dan mitos bekerja dengan analogi. Objek biasa bisa diberi makna baru ketika disentuh Yang Sakral, misal pohon, batu, atau air. Ia memiliki karakter ganda. Pada satu sisi ia tetap benda sehari-hari, pada sisi lain ia sarat makna religius. Proses ini disebut dialektika Sakral, di mana paradoks dan kontradiksi menjadi sumber kekuatan pengalaman religius.

Dalam bukunya yang terkenal, The Myths of the Eternal Return: Or, Cosmos, and History (1949), Eliade menunjukkan pola pemikiran masyarakat arkhais yang mendasar. Ialah dorongan untuk kembali ke titik nirwaktu, ke masa penciptaan dunia, ke keadaan awal yang sempurna. Siklus waktu bukan linear, melainkan berulang. Di sini mitos dan ritual memungkinkan manusia mengulang sejarah kosmik, mereset kehidupan sosial, dan menegaskan keteraturan alam semesta.

Kritik

Namun, meski menakjubkan, pemikiran Eliade tidak lepas dari kritik. Secara teologis, ia dianggap berangkat dari latar belakang Kristen, bahkan beberapa pihak menilai ia semacam misionaris terselubung. Hal ini membuat objektivitas teorinya dipertanyakan, terutama ketika ia mengklaim menemukan pola universal dalam pengalaman religius.

Dari sisi historis, Eliade berupaya menyusun teori global tentang agama, mirip kritik yang dulu ditujukan kepada Frazer. Sayangnya, pendekatannya kadang terlalu menyamaratakan simbol atau mitos, sehingga beberapa elemen budaya atau praktik religius tertentu tidak cocok dengan klasifikasi yang ia buat.

Selain itu, kritik konseptual menyoroti ambisinya yang sangat luas untuk membangun teori global. Dengan mencoba melihat pola umum di seluruh agama, Eliade kadang kehilangan detail spesifik yang memberi warna lokal dan unik pada tiap tradisi. Pendekatan fenomenologisnya kuat, tapi perhatian mendalam pada satu agama atau masyarakat bisa jadi lebih bermanfaat untuk memahami keragaman pengalaman religius.

Baca Juga: Yang Bisa Kita Pelajari dari Ajaran (Penghayat) Kepercayaan

Refleksi

Di antara suara malam dan sinar senja, kita menyadari bahwa hidup selalu bergerak di ambang, antara nyata dan tak terlihat, antara bising dan hening. Momen-momen kecil itu, membuka ruang bagi keheningan yang bermakna.

Dari titik inilah kita bisa menyentuh yang sakral. Bukan sebagai konsep abstrak, tapi sebagai pengalaman yang menempel di tubuh, pikiran, dan perasaan sendiri. Eliade mengingatkan kita bahwa agama muncul dari kesadaran semacam ini. Dari cara kita hadir, memperhatikan, dan memberi makna pada dunia sekitar. Sekian.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 16 Okt 2026, 20:03

KDM dan Tantangan Mengubah Empati Menjadi Kebijakan

Pemimpin dengan skor empati tinggi bisa berhasil ketika mereka membangun institusi yang mampu menerjemahkan empati menjadi kebijakan yang bermakna.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, yang akrab disapa KDM. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 18:00

Pengalaman Memandu SMP Atirah Makassar #1

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin.

Pengalaman memandu siswa kelas 8 dari SMP Atirah, Bukit Baruga, Makassar, pada tanggal 5 Oktober hingga 9 Oktober kemarin. (Sumber: Malia Nur Alifa)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:57

Ketika Foto Menjadi Saksi Sejarah: Ray Bachtiar dan Perjalanan Dunia Visual

Fotografi menyimpan jejak sejarah dan ingatan bangsa. Talkshow “Jejak Visual” mengulas evolusi fotografi dan videografi bersama Ray Bachtiar Dradjat di Museum Mandiri, Kota Tua Jakarta.

Praktisi fotografi Ray Bachtiar Dradjat menjadi narasumber talkshow “Jejak Visual: Evolusi Fotografi dan Videografi”. (Sumber: Ray Bachtiar Dradjat)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 16:42

Menelusuri Jejak Benny Soebardja, Sang Godfather Rock Progresif Indonesia

Buku Benny Soebardja: The Progressive Years karya Zuhair Alyafie mengulas perjalanan Benny Soebardja dan perannya dalam membentuk sejarah rock progresif Indonesia.

Benny Soebardja: Perjalanan Sang Godfather Rock Progresif Indonesia (Sumber: Zuhair Alyafie)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 15:21

Peran Bank Perekonomian Rakyat Mencegah Jerat Rentenir di Bandung

Tujuan utama perbankan daerah bukan hanya menghimpun dana dan menyalurkan kredit. Keberadaannya menjaga martabat ekonomi keluarga di Bandung.

Ilustrasi pentingnya peran Bank Perekonomian Rakyat di Kota Bandung. (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 13:58

Cerita Perjalanan Menuju Palimanan dan Belajar Keberanian dari Lapak Baca Buku Gratis Cirebon

Kegiatan membuka lapak untuk membaca buku gratis mulai hadir di beberapa kota untuk meningkatkan minat literasi, begitu juga dengan Kota Cirebon.

Baca Buku Gratis di Alun-Alun Palimanan Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 11:07

Jalur Banjaran–Pangalengan Seringkali Padat: Mengapa Kemacetan Terjadi?

Kemacetan di jalur Banjaran–Pangalengan menjadi perhatian karena jalur ini digunakan oleh warga untuk beraktivitas sehari-hari sekaligus menjadi akses menuju kawasan wisata.

Dokumentasi kemacetan di daerah Pasar Banjaran.
Ayo Netizen 16 Okt 2026, 10:07

SKS: Kebiasaan Buruk atau Mekanisme Bertahan Mahasiswa?

Tugas menumpuk dan tenggat mendekat membuat mahasiswa begadang demi menyelesaikan pekerjaan. Apakah SKS sekadar kebiasaan buruk atau cara bertahan di tengah tuntutan akademik?

night study (Sumber: pexels.com | Foto: Bikram Bezbaruah)
Bandung 15 Okt 2026, 19:59

Industri Hiburan Bandung Masih Bergelora, Playlist Rewind 2026 Jadi Bukti Eksistensi Kota Musik

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026.

Kota Bandung tak pernah kehilangan taji sebagai barometer industri hiburan dan kiblat festival musik Tanah Air. Denyut kreatifitas itu kini kembali terbukti lewat hadirnya Playlist Rewind 2026. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 17:57

Para Insinyur Planologi, Arsitektur dan Sipil Terkemuka Yang Terlibat Pembangunan Kota Bandung dan Cimahi (Bagian 1)

Kisah insinyur planologi, arsitektur dan sipil terkemuka dalam membangun Bandung dan Cimahi. Temukan jejak sejarah, inovasi tata kota dan mahakarya ikonis mereka di sini!

Lukisan cat air Gedung Sate (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2)
Bandung 15 Okt 2026, 16:41

Menolak Lupa Rasa Rumah, 11 Tahun Warung Kopi Imah Babaturan Merawat Hangatnya Bandung

Tepat pada 15 Oktober 2026, warung kopi dan rumah makan, yakni Warung Kopi Imah Babaturan yang bersemayam di jantung Kota Bandung ini merayakan hari jadinya yang ke-11.

Pemilik Warung Kopi Imah Babaturan, yakni Mohammad Nurul Hudha dan sang istri, Anggia Bonyta. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:48

Relasi Santri dengan Indonesia

Refleksi Hari Santri Nasional 2026: menelusuri jejak Resolusi Jihad, peran ulama, dan perjuangan santri dalam mempertahankan kemerdekaan serta menjaga hubungan santri dan negara.

Relasi Santri dengan Indonesia (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:09

Ketika Pertemanan Punya Target Harian: Terhubung atau Sekadar Menjaga Api Streak TikTok?

Pernah takut api streak TikTok dengan teman terputus? Kebiasaan ini bisa menjaga komunikasi, tetapi juga terasa seperti kewajiban harian. Apakah kita benar-benar terhubung atau sekadar menjaga angka?

Fitur api streak TikTok bisa menjadi cara menyenangkan untuk menjaga komunikasi.
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 15:03

Pardoks 'Tidak Ada Bukti' dalam Kasus Pelecehan Seksual di Unpas

Data menunjukkan bahwa laporan palsu -- atau bahkan fitnah -- dalam kasus kekerasan dan pelecehan seksual di kampus sangat rendah, sementara underreporting sangat tinggi. Apa artinya?

Aksi mahasiswa Universitas Pasundan (Unpas) Bandung terkait dugaan kekerasan seksual oleh oknum dosen. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 15 Okt 2026, 12:03

Mengenal Emma Poeradiredja dan Jejak Politik Perempuan Sunda

Emma Peoradiredja, seorang tokoh perempuan sunda yang membukakan jalan berpolitik untuk perempuan di tanah sunda

Emma Poeradiredja
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 22:06

Bandung dan Cirebon Sama-Sama Minim Penerangan Lampu Jalanan

Penerangan jalan umum di wilayah Jawa Barat masih sangat minim perhatian sehingga kondisi ini bisa mengakibatkan potensi kecelakaan bagi pengguna kendaraan.

Penerangan Jalan Ahmad Yani-Pantura Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 18:01

Menyeret Emak dan Bapak Ke Pengadilan

Banyak Lansia atau orang tua yang disidangkan oleh anak kandungnya di pengadilan yang semestinya tidak terjadi peristiwa nirempati tersebut

Ruang sidang bukan tempat membalas budi orang tua. Utamakan musyawarah dan kasih sayang. (Sumber: Ilustrasi oleh Gemini AI)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 16:45

Penertiban PKL: Apakah Menuju Bandung yang lebih Ramah dengan Pejalan Kaki?

Beberapa waktu ke belakang Bandung sedang melakukan penertiban PKL di Jalan Kiaracondong dan Cihapit tentunya harapannnya pejalan kaki mendapatkan haknya kembali.

Ilustrasi Penertiban PKL. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 14:52

Momentum Memerdekakan Guru

Menjadi anomali bahwa profesi guru mendapatkan tuntutan, tetapi dalam kehidupannya masih di bawah dari harapan.

Ilustrasi guru dan siswa di ruang kelas sekolah. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 14 Okt 2026, 13:49

Proyeksi JPO UIN Bandung: Realisasi atau Ilusi?

Sebuah kritik dan saran kepada birokrasi UIN Bandung terkait usulan pengadaan JPO di depan gerbang kampus yang berhadapan langsung dengan Jalan A.H. Nasution.

Lanskap Jalan A.H Nasution di jam aktifitas. (Sumber: Dipotret dengan ponsel pribadi. | Foto: Rifki Ahmad Ma'ruf)