Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

7 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)
Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)

Setelah sahur, puasa hari pertama biasanya masih penuh wibawa. Biar pun lungse, tapi masih kuat berjalan kaki. Hari kedua jalan mulai goyah, lutut mulai menampakkan usia; tapi tenang aja masih normal, kok.

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Termasuk cingunguk. “Cingunguk" adalah istilah dalam bahasa Sunda yang merujuk pada serangga kecoa (Inggris: cockroach).

Biasanya, kata ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di wilayah Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda yang sedikit lebih halus atau umum, kecoa juga sering disebut sebagai panyeuseup.

Iya, itu lho, serangga kecil yang beterbangan sore-sore kayak nggak punya beban hidup. Di mata orang normal: serangga. Di mata orang puasa jam setengah lima sore lewat pasar dadakan Ramadan: kurma diskon beli dua gratis satu.

Dan di situlah perjalanan drama spiritual sekaligus psikologis gue dimulai.

Puasa Biofilik atau Nekrofilik

Pasar dadakan Ramadan di Bandung itu fenomena sosial yang kalau diteliti pakai perspektif Erich Fromm bisa jadi disertasi. Dari jam tiga sore, jalanan yang biasanya cuma macet biasa jadi macet penuh godaan. Kolak berjejer. Gorengan bertumpuk. Martabak telor mengilap kayak masa depan yang menjanjikan. Uap bakso naik perlahan, menggoda iman.

Gue jalan pelan, kepala mulai cenat-cenut. Lambung udah bunyi kayak knalpot racing. Tiba-tiba ada yang terbang lewat depan mata. Cingunguk.

Tapi karena gula darah gue lagi turun dan imajinasi lagi liar, itu cingunguk kelihatan kayak kurma Ajwa slow motion. Mata gue kudap-kedip. “Astaghfirullah… itu serangga atau sunnah? Kok mirip Kurma Premium!”

Di momen itulah gue sadar, puasa bukan cuma soal nahan lapar. Ini soal pertarungan orientasi hidup. Dan entah kenapa, Fromm muncul di kepala gue kayak dosen tamu tak diundang. Erich Fromm, seorang Psikolog Sosial ngomong soal dua orientasi dasar manusia: biofilia dan nekrofilia.

Biofilia itu cinta pada kehidupan. Cinta pada pertumbuhan, proses, yang hidup, yang organik. Nekrofilia bukan berarti suka kuburan ya, santai. Itu kecenderungan mencintai yang mati, kaku, mekanis, penuh kontrol, bahkan destruktif.

Dan percaya atau nggak, pasar Ramadan itu medan tempur dua orientasi itu.

Di satu sisi, ada biofilia: orang-orang masak dengan cinta, berbagi takjil, senyum-senyum someah, anak kecil lari-larian, aroma makanan yang hangat dan hidup. Ada kebersamaan, ada harapan, ada denyut kehidupan.

Di sisi lain, ada potensi nekrofilia: nafsu konsumtif, beli berlebihan, kalap kayak besok kiamat, semua harus diborong walaupun ujung-ujungnya basi di kulkas. Makanan yang tadinya simbol kehidupan berubah jadi objek mati yang ditumpuk demi kepuasan sesaat.

Dan gue? Lagi berdiri di tengah, sambil ngeliatin cingunguk yang berubah jadi kurma.

Kepala makin pening. Mata mulai kayak kamera 2009, blur dan goyang. Gue ngeliat gorengan. Satu bala-bala berubah jadi lima. Combro kayak manggil-manggil nama gue.

“Mang Ukon, lima ribu dapet empat, sok lah” kata ibu penjual.

Di telinga orang waras itu cuma promo biasa. Tapi di telinga gue itu kayak bisikan eksistensial: “Ambil… kuasai… jangan sampai orang lain lebih dulu…”

Nah, di situ gue ngerasa ada dorongan aneh. Bukan cuma lapar, tapi pengen punya. Pengen beli banyak. Pengen nimbun. Seolah dengan punya makanan itu, gue merasa aman.

Fromm bilang, dalam masyarakat modern kita sering terjebak dalam orientasi “having” daripada “being”. Kita lebih fokus pada memiliki daripada menjadi. Puasa seharusnya melatih “being”—menjadi sabar, menjadi sadar, menjadi empatik. Tapi pasar dadakan bisa dengan cepat menggeser kita ke mode “having”: punya kolak, punya es buah, punya gorengan satu plastik penuh.

Dan yang lucunya, pas udah adzan, kita makan tiga biji doang. Sisanya? Masuk kulkas. Besok lembek. Lusa dibuang.

Itu momen nekrofilik kecil: mengubah yang hidup dan hangat jadi benda mati yang tak bermakna.

Gue lanjut jalan. Ada stand kurma. Nah ini ujian sesungguhnya. Tumpukan kurma cokelat mengilap. Tapi karena mata gue udah semi-halusinasi, gue jadi curiga sama semua yang kecil dan cokelat.

“Ini kurma beneran kan, bukan cingunguk yang disamak?” tanya gue dalam hati.

Gue ketawa sendiri. Orang sebelah nengok, mungkin mikir, “Ini orang kurang gula atau kurang piknik?”

Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)

Puasa yang Direfleksi

Tapi di balik kelucuan itu, ada kesadaran kecil yang muncul. Puasa bikin kita rapuh. Lapar bikin kita sadar betapa tergantungnya kita sama hal-hal fisik. Dan di situ kita diuji: apakah kita cuma makhluk yang dikendalikan dorongan biologis? Atau kita bisa memilih sikap?

Fromm percaya manusia punya kebebasan untuk memilih orientasi hidupnya. Kita bisa condong ke biofilia—cinta, kepedulian, pertumbuhan atau ke nekrofilia—kontrol, keserakahan, penghancuran.

Dan pasar Ramadan itu kayak laboratorium sosial mini. Ada yang beli secukupnya, ada yang borong kayak mau buka cabang warung. Ada yang berbagi takjil gratis, ada yang ngeluh karena harga naik seribu perak.

Gue mulai refleksi: selama ini gue puasa buat apa?

Kalau cuma buat nahan lapar sampai magrib lalu balas dendam ke meja makan, itu mah cuma mindahin jadwal makan. Nggak ada transformasi diri gitu. Puasa hanya drama spiritual aja deh!

Biofilia dalam konteks puasa mungkin berarti menghargai proses lapar itu sendiri. Merasakannya. Menghayatinya. Membiarkan lapar membuka empati ke yang tiap hari nggak punya pilihan selain lapar. Itu orientasi ke kehidupan (biofilia)—ke relasi, ke kepedulian.

Sedangkan kalau puasa cuma jadi ajang kontrol diri yang kaku, penuh amarah, gampang emosi karena “gue lagi puasa ya!”, itu malah bisa jadi bentuk nekrofilia emosional. Hati jadi dingin. Wajah jutek. Sedikit-sedikit marah.

Padahal lapar harusnya melembutkan, bukan mengeraskan.

Tiba-tiba ada anak kecil di depan gue, narik tangan ibunya.

“Mah, itu lucu banget kurmanya kecil-kecil terbang!”

Gue langsung nengok. Itu cingunguk lagi.

Ibunya ketawa, “Itu mah serangga, atuh.”

Gue pengen nyeletuk, “Tenang, Dek. Om juga tadi hampir beli.”

Di situ gue sadar, dalam kondisi lapar dan pening, persepsi bisa bias. Sangat rawan terjadi yang namanya noise. Kita melihat apa yang kita inginkan. Cingunguk serupa kurma. Diskon jadi kebutuhan. Nafsu jadi dalil.

Secara psikologi sosial, kondisi fisiologis memang memengaruhi cara kita memaknai dunia. Tapi Fromm mengingatkan, kita bukan cuma makhluk biologis. Kita juga makhluk eksistensial. Kita bisa pisan melakukan refleksi.

Dan refleksi itu datang justru di tengah pening kepala.

Gue berhenti sebentar. Tarik napas. Lihat sekeliling. Orang-orang ketawa. Pedagang sibuk. Bau makanan campur aduk. Ada kehidupan di mana-mana. Ada energi.

Tiba-tiba gue ngerasa hangat.

Pasar dadakan ini bukan cuma soal jual beli. Ini tentang komunitas. Tentang orang-orang yang berusaha cari rezeki. Tentang keluarga yang nunggu buka bareng. Tentang tradisi yang bikin kota terasa hidup.

Itulah biofilia dalam bentuk sosial: keterhubungan.

Kalau gue cuma fokus ke “apa yang bisa gue makan”, gue kehilangan itu. Tapi kalau gue lihat lebih luas, gue jadi bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Adzan magrib akhirnya berkumandang. Suaranya kayak soundtrack film setelah adegan tegang panjang. Gue buka puasa cuma dengan air putih dan satu kurma—yang udah gue pastikan 100% bukan cingunguk.

Rasanya? Surga.

Dan di situ gue sadar sesuatu yang simpel tapi dalem: yang bikin nikmat bukan jumlahnya, tapi kesadarannya.

Baca Juga: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Hikmah Berpuasa

Gue jadi mikir, mungkin biofilia itu bukan soal hidup spektakuler. Tapi soal hadir penuh di momen kecil. Menikmati seteguk air setelah haus seharian. Tersenyum ke penjual takjil. Nggak kalap walaupun bisa.

Puasa ngajarin kita untuk nggak langsung menuruti dorongan. Untuk kasih jeda antara ingin dan bertindak. Di jeda itu, ada kebebasan. Dan di kebebasan itu, kita bisa memilih orientasi hidup.

Mau jadi orang yang hidupnya cuma reaktif, dikuasai nafsu, serakah, kaku?

Atau jadi orang yang sadar, terhubung, hangat, dan bertumbuh?

Sekarang tiap lewat pasar dadakan, gue masih tergoda. Kepala kadang masih pening. Cingunguk kadang masih kelihatan kayak kurma kalau udah mepet adzan.

Tapi bedanya, sekarang gue bisa ketawa sambil sadar, “Oh ini cuma persepsi lapar, bukan wahyu.”

Dan mungkin, kesadaran kecil itu yang bikin kita pelan-pelan bergeser dari orientasi nekrofilik ke biofilik.

Dari sekadar ingin punya, jadi ingin memahami.

Dari sekadar kenyang, jadi ingin tumbuh.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan cuma soal menahan (imsakun) tidak makan dan minum. Tapi soal menghidupkan hati yang mungkin selama ini terlalu sibuk, terlalu kaku, terlalu fokus pada benda.

Dan kalau suatu hari nanti gue lagi kalap beli gorengan satu plastik penuh, semoga ada suara kecil dalam kepala yang bilang: “Eh, pilih yang hidup atuh. Ulah jadi plastik. Cingunguk wae bisa salah kaprah jadi kurma.”

Dan gue cuma bisa ketawa, sambil minum air pelan-pelan, menikmati fakta bahwa ternyata—di tengah pening kepala dan godaan pasar—gue masih punya pilihan untuk mencintai kehidupan.

Nah kalau itu mah, nikmatnya beda. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jul 2026, 12:52

Krisis Naluri Sastra dalam Episteme Demokrasi

Kenapa sastra harus bicara, ketika sumber ekologi mulai menjadi investasi politik.

Tak muat dalam rak, sejumlah buku disimpan dalam dus di Perpustakaan Batu Api di Jatinangor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)