Drama Spiritual Ramadan di Pasar Dadakan: Cingunguk pun Serupa Kurma Premium yang Terbang!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Senin 02 Mar 2026, 09:19 WIB
Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)

Ilustrasi Pasar dadakan puasa Ramadan (Sumber: ayobandung.com)

Setelah sahur, puasa hari pertama biasanya masih penuh wibawa. Biar pun lungse, tapi masih kuat berjalan kaki. Hari kedua jalan mulai goyah, lutut mulai menampakkan usia; tapi tenang aja masih normal, kok.

Hari ketiga berpuasa? Kepala pening, penglihatan ganda, dan semua benda kecil cokelat mendadak terlihat seperti kurma premium impor Madinah.

Termasuk cingunguk. “Cingunguk" adalah istilah dalam bahasa Sunda yang merujuk pada serangga kecoa (Inggris: cockroach).

Biasanya, kata ini digunakan dalam percakapan sehari-hari di wilayah Jawa Barat. Dalam bahasa Sunda yang sedikit lebih halus atau umum, kecoa juga sering disebut sebagai panyeuseup.

Iya, itu lho, serangga kecil yang beterbangan sore-sore kayak nggak punya beban hidup. Di mata orang normal: serangga. Di mata orang puasa jam setengah lima sore lewat pasar dadakan Ramadan: kurma diskon beli dua gratis satu.

Dan di situlah perjalanan drama spiritual sekaligus psikologis gue dimulai.

Puasa Biofilik atau Nekrofilik

Pasar dadakan Ramadan di Bandung itu fenomena sosial yang kalau diteliti pakai perspektif Erich Fromm bisa jadi disertasi. Dari jam tiga sore, jalanan yang biasanya cuma macet biasa jadi macet penuh godaan. Kolak berjejer. Gorengan bertumpuk. Martabak telor mengilap kayak masa depan yang menjanjikan. Uap bakso naik perlahan, menggoda iman.

Gue jalan pelan, kepala mulai cenat-cenut. Lambung udah bunyi kayak knalpot racing. Tiba-tiba ada yang terbang lewat depan mata. Cingunguk.

Tapi karena gula darah gue lagi turun dan imajinasi lagi liar, itu cingunguk kelihatan kayak kurma Ajwa slow motion. Mata gue kudap-kedip. “Astaghfirullah… itu serangga atau sunnah? Kok mirip Kurma Premium!”

Di momen itulah gue sadar, puasa bukan cuma soal nahan lapar. Ini soal pertarungan orientasi hidup. Dan entah kenapa, Fromm muncul di kepala gue kayak dosen tamu tak diundang. Erich Fromm, seorang Psikolog Sosial ngomong soal dua orientasi dasar manusia: biofilia dan nekrofilia.

Biofilia itu cinta pada kehidupan. Cinta pada pertumbuhan, proses, yang hidup, yang organik. Nekrofilia bukan berarti suka kuburan ya, santai. Itu kecenderungan mencintai yang mati, kaku, mekanis, penuh kontrol, bahkan destruktif.

Dan percaya atau nggak, pasar Ramadan itu medan tempur dua orientasi itu.

Di satu sisi, ada biofilia: orang-orang masak dengan cinta, berbagi takjil, senyum-senyum someah, anak kecil lari-larian, aroma makanan yang hangat dan hidup. Ada kebersamaan, ada harapan, ada denyut kehidupan.

Di sisi lain, ada potensi nekrofilia: nafsu konsumtif, beli berlebihan, kalap kayak besok kiamat, semua harus diborong walaupun ujung-ujungnya basi di kulkas. Makanan yang tadinya simbol kehidupan berubah jadi objek mati yang ditumpuk demi kepuasan sesaat.

Dan gue? Lagi berdiri di tengah, sambil ngeliatin cingunguk yang berubah jadi kurma.

Kepala makin pening. Mata mulai kayak kamera 2009, blur dan goyang. Gue ngeliat gorengan. Satu bala-bala berubah jadi lima. Combro kayak manggil-manggil nama gue.

“Mang Ukon, lima ribu dapet empat, sok lah” kata ibu penjual.

Di telinga orang waras itu cuma promo biasa. Tapi di telinga gue itu kayak bisikan eksistensial: “Ambil… kuasai… jangan sampai orang lain lebih dulu…”

Nah, di situ gue ngerasa ada dorongan aneh. Bukan cuma lapar, tapi pengen punya. Pengen beli banyak. Pengen nimbun. Seolah dengan punya makanan itu, gue merasa aman.

Fromm bilang, dalam masyarakat modern kita sering terjebak dalam orientasi “having” daripada “being”. Kita lebih fokus pada memiliki daripada menjadi. Puasa seharusnya melatih “being”—menjadi sabar, menjadi sadar, menjadi empatik. Tapi pasar dadakan bisa dengan cepat menggeser kita ke mode “having”: punya kolak, punya es buah, punya gorengan satu plastik penuh.

Dan yang lucunya, pas udah adzan, kita makan tiga biji doang. Sisanya? Masuk kulkas. Besok lembek. Lusa dibuang.

Itu momen nekrofilik kecil: mengubah yang hidup dan hangat jadi benda mati yang tak bermakna.

Gue lanjut jalan. Ada stand kurma. Nah ini ujian sesungguhnya. Tumpukan kurma cokelat mengilap. Tapi karena mata gue udah semi-halusinasi, gue jadi curiga sama semua yang kecil dan cokelat.

“Ini kurma beneran kan, bukan cingunguk yang disamak?” tanya gue dalam hati.

Gue ketawa sendiri. Orang sebelah nengok, mungkin mikir, “Ini orang kurang gula atau kurang piknik?”

Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)
Buah kurma. (Sumber: Unsplash | Foto: Rauf Alvi)

Puasa yang Direfleksi

Tapi di balik kelucuan itu, ada kesadaran kecil yang muncul. Puasa bikin kita rapuh. Lapar bikin kita sadar betapa tergantungnya kita sama hal-hal fisik. Dan di situ kita diuji: apakah kita cuma makhluk yang dikendalikan dorongan biologis? Atau kita bisa memilih sikap?

Fromm percaya manusia punya kebebasan untuk memilih orientasi hidupnya. Kita bisa condong ke biofilia—cinta, kepedulian, pertumbuhan atau ke nekrofilia—kontrol, keserakahan, penghancuran.

Dan pasar Ramadan itu kayak laboratorium sosial mini. Ada yang beli secukupnya, ada yang borong kayak mau buka cabang warung. Ada yang berbagi takjil gratis, ada yang ngeluh karena harga naik seribu perak.

Gue mulai refleksi: selama ini gue puasa buat apa?

Kalau cuma buat nahan lapar sampai magrib lalu balas dendam ke meja makan, itu mah cuma mindahin jadwal makan. Nggak ada transformasi diri gitu. Puasa hanya drama spiritual aja deh!

Biofilia dalam konteks puasa mungkin berarti menghargai proses lapar itu sendiri. Merasakannya. Menghayatinya. Membiarkan lapar membuka empati ke yang tiap hari nggak punya pilihan selain lapar. Itu orientasi ke kehidupan (biofilia)—ke relasi, ke kepedulian.

Sedangkan kalau puasa cuma jadi ajang kontrol diri yang kaku, penuh amarah, gampang emosi karena “gue lagi puasa ya!”, itu malah bisa jadi bentuk nekrofilia emosional. Hati jadi dingin. Wajah jutek. Sedikit-sedikit marah.

Padahal lapar harusnya melembutkan, bukan mengeraskan.

Tiba-tiba ada anak kecil di depan gue, narik tangan ibunya.

“Mah, itu lucu banget kurmanya kecil-kecil terbang!”

Gue langsung nengok. Itu cingunguk lagi.

Ibunya ketawa, “Itu mah serangga, atuh.”

Gue pengen nyeletuk, “Tenang, Dek. Om juga tadi hampir beli.”

Di situ gue sadar, dalam kondisi lapar dan pening, persepsi bisa bias. Sangat rawan terjadi yang namanya noise. Kita melihat apa yang kita inginkan. Cingunguk serupa kurma. Diskon jadi kebutuhan. Nafsu jadi dalil.

Secara psikologi sosial, kondisi fisiologis memang memengaruhi cara kita memaknai dunia. Tapi Fromm mengingatkan, kita bukan cuma makhluk biologis. Kita juga makhluk eksistensial. Kita bisa pisan melakukan refleksi.

Dan refleksi itu datang justru di tengah pening kepala.

Gue berhenti sebentar. Tarik napas. Lihat sekeliling. Orang-orang ketawa. Pedagang sibuk. Bau makanan campur aduk. Ada kehidupan di mana-mana. Ada energi.

Tiba-tiba gue ngerasa hangat.

Pasar dadakan ini bukan cuma soal jual beli. Ini tentang komunitas. Tentang orang-orang yang berusaha cari rezeki. Tentang keluarga yang nunggu buka bareng. Tentang tradisi yang bikin kota terasa hidup.

Itulah biofilia dalam bentuk sosial: keterhubungan.

Kalau gue cuma fokus ke “apa yang bisa gue makan”, gue kehilangan itu. Tapi kalau gue lihat lebih luas, gue jadi bagian dari kehidupan yang lebih besar.

Adzan magrib akhirnya berkumandang. Suaranya kayak soundtrack film setelah adegan tegang panjang. Gue buka puasa cuma dengan air putih dan satu kurma—yang udah gue pastikan 100% bukan cingunguk.

Rasanya? Surga.

Dan di situ gue sadar sesuatu yang simpel tapi dalem: yang bikin nikmat bukan jumlahnya, tapi kesadarannya.

Baca Juga: Akhir Ramadan, Lebaran, dan (Sy)awal Harapan: Tema Ayo Netizen Maret 2026

Hikmah Berpuasa

Gue jadi mikir, mungkin biofilia itu bukan soal hidup spektakuler. Tapi soal hadir penuh di momen kecil. Menikmati seteguk air setelah haus seharian. Tersenyum ke penjual takjil. Nggak kalap walaupun bisa.

Puasa ngajarin kita untuk nggak langsung menuruti dorongan. Untuk kasih jeda antara ingin dan bertindak. Di jeda itu, ada kebebasan. Dan di kebebasan itu, kita bisa memilih orientasi hidup.

Mau jadi orang yang hidupnya cuma reaktif, dikuasai nafsu, serakah, kaku?

Atau jadi orang yang sadar, terhubung, hangat, dan bertumbuh?

Sekarang tiap lewat pasar dadakan, gue masih tergoda. Kepala kadang masih pening. Cingunguk kadang masih kelihatan kayak kurma kalau udah mepet adzan.

Tapi bedanya, sekarang gue bisa ketawa sambil sadar, “Oh ini cuma persepsi lapar, bukan wahyu.”

Dan mungkin, kesadaran kecil itu yang bikin kita pelan-pelan bergeser dari orientasi nekrofilik ke biofilik.

Dari sekadar ingin punya, jadi ingin memahami.

Dari sekadar kenyang, jadi ingin tumbuh.

Karena pada akhirnya, Ramadan bukan cuma soal menahan (imsakun) tidak makan dan minum. Tapi soal menghidupkan hati yang mungkin selama ini terlalu sibuk, terlalu kaku, terlalu fokus pada benda.

Dan kalau suatu hari nanti gue lagi kalap beli gorengan satu plastik penuh, semoga ada suara kecil dalam kepala yang bilang: “Eh, pilih yang hidup atuh. Ulah jadi plastik. Cingunguk wae bisa salah kaprah jadi kurma.”

Dan gue cuma bisa ketawa, sambil minum air pelan-pelan, menikmati fakta bahwa ternyata—di tengah pening kepala dan godaan pasar—gue masih punya pilihan untuk mencintai kehidupan.

Nah kalau itu mah, nikmatnya beda. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Beranda 09 Mei 2026, 19:04

Anton Solihin, Pengumpul ‘Runtah’ Budaya yang Menjaga Batu Api Selama 27 Tahun

Perpustakaan Batu Api di Jatinangor bertahan selama puluhan tahun lewat ribuan koleksi buku, arsip, dan dedikasi Anton Solihin menjaga ruang literasi alternatif.

Pendiri Perpustakaan Batu Api, Anton Solihin, duduk di tengah tumpukan buku koleksi pribadinya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 17:10

Menjaga Mimpi di Tengah Efisiensi: Peran Rumah BUMN di Masa Anggaran Ketat

Di sinilah cerita tentang ekosistem pemberdayaan UMKM yang belum sempurna bermula.

A. Radinal Pramudha Sirat CEO Rumah BUMN Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Biz 09 Mei 2026, 12:46

Inklusi di Atas Kain: Batik Difabel Cimahi dan Kriya yang Istimewa

Di sinilah, di Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat.

Nurdin (di kursi roda), penyandang polio, pertama kali datang ke GHD pada 2020. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 22:35

Ketika Persija, Persib, dan Persis Bantu Korban Tragedi Trowek

Tiga tim sepak bola beda kota menggelar laga segitiga yang seru di Lapangan Ikada. Hasil keuntungan pertandingan disumbangkan untuk korban kecelakaan KA yang mengenaskan di Trowek, Jawa Barat.

Pemandangan mengenaskan kecelakaan kereta api di Trowek, Tasikmalaya, Jawa Barat pada 28 Mei 1959. (Sumber: Harian Umum)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 21:06

Desa Kasturi, Tempat Tumbuh Mangga Kasturi 

Di Jawa Barat, sedikitnya ada dua nama geografis Kasturi.

Buah kasturi (Mangifera casturi) sudah tidak dikenali lagi di Jawa Barat, tapi abadi dalam toponim Desa Kasturi yang terdapat di Kabupaten Majalengka dan di Kabupaten Kuningan. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: T Bachtiar)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 19:32

Sepatu Berlubang untuk Mengukir Masa Depan

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi--yang ada proses bertahan yang selalu harus terus diperjuangkan untuk terus bertahan sebagai manusia dan juga menjadi masyarakat Kota Bandung yang lebih baik.

Pendidikan adalah senjata utama untuk keluar dari kemiskinan struktural. (Sumber: Pexels | Foto: Partiu Kenai)
Linimasa 08 Mei 2026, 17:40

Tanaman Pemangsa Serangga Ini Dibudidayakan di Rumah Pemuda Bandung

Seorang pemuda di Dayeuhkolot sukses membudidayakan tanaman karnivora hingga meraup omzet belasan juta rupiah.

Tanaman pemangsa hewan Venus flytrap yang dibudiayakan Khoerul Anwar di Dayeuhkolot. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:20

Bandung dan Mereka yang Pulang dalam Lelah

Di balik gemerlap dan ramainya Bandung, ada banyak orang yang tetap kembali bangun esok pagi meski lelah terus menjadi bagian dari hidup mereka—agar kota dan kehidupan mereka tetap berjalan.

ekanan hidup di kota membuat banyak masyarakat terus berjalan, meski lelah perlahan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. (Sumber: Freepik)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 17:08

Merawat Kebersamaan, Meraih Kebahagiaan

Kebahagiaan sejati tidak hanya diukur dari pencapaian materi, justru dari kemampuan manusia menemukan makna hidup, menjaga keseimbangan batin, membangun hubungan yang sehat dengan Tuhan, diri sendiri

Sejumlah siswa Al Irsyad Satya Islamic School mengikuti tadarus Al-Quran di Masjid Al-Irsyad pada Kamis, 21 Maret 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 08 Mei 2026, 13:38

Jelajah Citarum, Sungai Pemberi Kehidupan Bagi Masyarakat

Di balik pencemaran dan banjir, Sungai Citarum masih menjadi sumber penghidupan masyarakat di sepanjang DAS.

Sungai Citarum jadi sumber kehidupan masyarakat di sekitarnya. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 13:34

Berangkat Ke Bandung : D'Renced Tampil Memberikan Suasana Jernih tapi Berisik

Bandung, bukan tanpa alasan band Pop Punk asal Majalengka (D'Renced) memilih kota ini untuk memperluas jangkauan gerakan perlawanan yang dibalut karya musik bergenre pop punk.

Live performance debut single D'Renced at Waroeng Bako Bandung. (Foto: Moga Yudha melalui Screenshoot Video)
Wisata & Kuliner 08 Mei 2026, 13:13

Tamasya ke Karang Resik Tasikmalaya, Wisata Keluarga dengan Sejarah Tersembunyi

Panduan wisata Karang Resik Tasikmalaya, taman hiburan keluarga yang berdiri di lokasi sejarah Agresi Militer Belanda 1947.

Wisata Karang Resik Tasikmalaya. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 12:34

Kesabaran Pedagang Pasar Baleendah dan ‘Lautan Sampah’ yang Tiada Akhir

Persoalan “lautan sampah” yang menimbulkan bau tak sedap ini bukan persoalan Pasar Baleendah saja.

Tumpukan sampah di kawasan Jalan Siliwangi, Kecamatan Baleendah, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, pada Kamis, 5 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 09:55

Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami.

Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 08 Mei 2026, 08:35

Tentang Angka dan Ketakberhinggaan dalam Pelestarian Cagar Budaya

Katanya, hidup ini adalah tentang angka. Lantas, bagaimana dengan cagar budaya? Berapa angka yang akan kita sematkan pada warisan budaya kebendaan ini?

Salah satu gedung cagar budaya di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 07 Mei 2026, 20:32

Strategi Monel Gaet Konsumen Hijab, Andalkan Uniqueness Warna dan Diskon Agresif di Event Fashion

Hijab tak lagi hanya sekedar kebutuhan dalam hal berpakaian. Hijab kini bertransformasi jadi bagian ekspresi gaya hingga pembuktian identitas pada wanita muslim.

Band hijab Monel mengandalkan strategi diskon besar beserta eksplorasi beragam warna yang ditampilkan pada etalasenya supaya menarik atensi pengunjung. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 19:59

Lembang 1994-1997: Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Bagian 2)

Lembang tahun 1994 merujuk pada satu kata, “Hening”.

Kawasan Situ Umar masa kolonial, terlihat Gunung Burangrang di kejauhan. Kawasan Situ Umar kini berganti menjadi wisata selfie floating market Lembang. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 07 Mei 2026, 18:12

Tamasya Taman Bunga Cianjur, 35 Hektar Lanskap Dunia dalam Satu Kawasan Puncak

Taman Bunga Nusantara di Cianjur menawarkan taman tematik dunia, tiket sekitar Rp50 ribu, dan strategi kunjungan agar bisa menjelajah 35 hektar tanpa kelelahan.

Taman Bunga Nusantara Cianjur.
Bandung 07 Mei 2026, 17:52

Bukan Lagi Kaku, Batik Kini Jadi Tren Lifestyle Praktis Lewat Desain One Set

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja.

Eksistensi batik kini telah bertransformasi, dan tidak lagi sekadar kain tradisional kaku yang pemakaiannya terbatas pada acara-acara sakral atau formal saja. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 07 Mei 2026, 17:30

Pekerja Swasta adalah Petarung Sejati

Banyak masyarakat yang bekerja di sektor swasta untuk mendapatkan penghidupan dengan penuh kesabaran dan pengorbanan supaya bisa bertahan hidup di Kota Bandung.

Pekerja menyelkesaikan produksi tas di salah satu pabrik produksi di Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)